Uang

Kali ini saya punya dua macam berita untuk Anda. Keduanya berkenaan dengan orang yang keluar atau dikeluarkan dari penjara. Keduanya juga berkenaan dengan uang. Betapa berartinya duit dalam menentukan suka dan dukanya anak manusia. Berita pertama adalah berita buruk. Eddy Tansil berhasil keluar dari Cipinang dengan membagikan duit ala kadarnya. Cukup rata-rata 100 ribu rupiah seorang. Orang-orang berteriak, “Cuma segitukah harga para pejabat kita?” Dalam kasus Tansil, kelebihan duit dapat mengubah petugas menjadi pembantu, musuh menjadi kawan, sel tahanan menjadi kamar hotel, dan penjara menjadi surga.

 

Berita kedua berita baik. Seorang ibu di Karawang ditangkap karena merampas kalung ibu yang lain. Ia dijebloskan ke tempat tahanan dalam keadaan mengenaskan. Tiga orang anak ditinggalkannya di rumah tanpa orang tua atau wali. Seorang di antaranya bayi yang masih menyusu. Ketika diinterogasi mengapa ia melakukan penjambretan, ia menjawab, “Terpaksa.” Ia harus membayar biaya EBTANAS anaknya dan bunga pinjaman dari rentenir. Ia pernah meminjam beberapa rupiah untuk menutup perutnya dan perut anak-anaknya.

 

Kepedihan ibu yang malang ini sampai ke telinga ibu-ibu di Jakarta. Mereka tersentuh. Mereka mengumpulkan dana, membebaskan ibu itu dari tahanan. Mereka mengangkat anak-anaknya sebagai anak asuh. Lihat, bagaimana duit telah mengubah kehidupan sama sekali. Duit mempertemukan kembali ibu dan anak-anaknya, menyelamatkan bayi dari kematian, dan memberikan pendidikan kepada anak-anak lainnya. Uang memang perkasa. Sejak uang diciptakan, kita tidak tahu sejauh mana uang telah membentuk dan mengubah sejarah manusia. Para ahli ekonomi menyebut empat fungsi uang.

 

Pertama, uang telah digunakan sebagai alat tukar. Saya bisa menjual tanah saya dan dengan uang itu saya pergi naik haji. Kalau tak ada uang, sangat sulit menukar tanah dengan haji.

 

Kedua, uang telah dipakai sebagai ukuran nilai. Mana yang lebih tinggi nilainya: mubaligh nasional atau mubaligh lokal. Lihat saja berapa mereka dibayar dengan uang. Dahulu uang hanya digunakan untuk menilai barang: sawah, rumah, ranjang, gedung. Sekarang uang digunakan untuk menilai hal yang abstrak: cinta, ilmu, martabat, dan terakhir sekali—dalam kasus Eddy Tansil—keadilan. Dahulu orang berkata, Anda bisa membeli seks, tetapi tidak cinta; Anda bisa membeli buku hukum, tetapi tidak hakim. Sekarang kedua-duanya bisa Anda beli.

 

Ketiga, uang dapat dipakai sebagai alat menyimpan nilai. Uang dapat ditabung dan digunakan untuk masa depan. Gaji yang saya peroleh hari ini tidak usah saya habiskan semua. Sebagian saya simpan untuk jaminan masa tua saya. Di sini, hasil kerja hari ini dipergunakan untuk esok hari. Pada fungsi keempat, uang justru dinikmati hari ini, padahal kerjanya baru dilakukan nanti. Dengan adanya sistem kredit, uang dipakai sebagai ukuran pembayaran yang ditangguhkan.

 

Uang sudah dikenal—dalam berbagai fungsinya—sejak zaman Rasulullah saw. Uang telah dipakai sebagai alat tukar, ukuran nilai, tabungan, dan kredit. Namun, Nabi saw. berulang kali mengingatkan sahabatnya agar tidak menjadikan uang sebagai alat untuk menilai kemuliaan orang. Standar nilai untuk itu hanyalah amal salih. Beliau bersabda, “Tersungkurlah hamba dinar, dirham, sandang, dan pakaian. Bila ia diberi, ia suka. Bila tidak diberi, ia berduka.” (Shahih al-Bukhari). Celakalah orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada uang. Uang tidak boleh menentukan nilai manusia. Manusialah yang harus menentukan nilai uang. Celakalah orang yang diperbudak uang, tetapi berbahagialah orang yang memperbudaknya.

 

Peristiwa berikut ini menggambarkan bagaimana seharusnya pandangan Muslim terhadap uang. Bercerita ‘A’isyah r.a.: Seorang pengemis berhenti di depan ‘Ali bin Abî Thâlib. Ia berkata kepada Hasan atau Husayn, “Pergilah kepada ibumu. Katakan kepadanya bahwa aku meninggalkan enam dirham. Ambillah satu dirham.” Ia pergi dan kembali. “Ibu berkata, ‘Sesungguhnya engkau meninggalkan uang itu untuk membeli tepung.” ‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Belum sampai keimanan seseorang pada tingkat ketulusan sebelum ia menjadikan apa yang berada di tangan Tuhan lebih diandalkan dari apa yang ada di tangannya. Katakan kepadanya agar dibawa kepadaku enam dirham.” Fathimah r.a. mengirimkan enam dirham itu dan ‘Ali memberikannya kepada pengemis.

 

Tak lama setelah itu, lewatlah seorang lelaki yang mau menjual untanya. ‘Ali bertanya, “Berapa mau kamu jual unta itu?” Ia menjawab, “Seratus empat puluh dirham.” Kata ‘Ali, “Ikatlah unta itu di sini. Aku akan menyampaikan kepadamu harganya nanti.” Ia meninggalkan unta itu pada ‘Ali dan pergi. Lalu datanglah lelaki yang lain. Ia bertanya, “Punya siapa unta ini?” Kata ‘Ali, “Punyaku.” Ia bertanya, “Kamu mau menjualnya?” Lelaki itu mengambil unta itu dan membayarnya dua ratus dirham. ‘Ali memberikan 140 dirham kepada pemilik unta yang pertama dan 60 dirham kepada istrinya. Fatimah bertanya, “Apa ini?” ‘Ali berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah kepada kita melalui lisan Nabi-Nya dalam al-An’am 160: Barangsiapa yang membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat kebaikan itu… (Kanz al-‘Ummål: 16976).

 

Jadi, manakah yang lebih besar nilainya: uang yang diberikan Eddy Tansil atau uang yang diberikan ibu-ibu di Jakarta untuk menolong seorang ibu di Karawang? Anda sedang membandingkan sumur yang rendah dan langit yang tinggi. Yang satu mengisahkan budak-budak uang, yang lain menggambarkan hamba-hamba Tuhan. Yang pertama terhempas dalam kehinaan, yang kedua terbang ke ‘arasy Sang Mahamulia. JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *