Ramadhan Bulan Pengkhidmatan

“Wahai manusia, barangsiapa di antara kalian memberi makanan untuk berbuka kepada orang-orang Mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampun atas dosa-dosa yang lalu,” (sahabat-sahabat bertanya), “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian?” Rasulullah Saw. meneruskan, “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebutir kurma atau seteguk air. Tuhan akan memberikan pahala yang sama kepada orang yang melakukan kebaikan yang kecil, karena tidak dapat melakukan kebaikan yang lebih besar.”

“Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya pada bulan ini, ia akan berhasil melewati shirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang- orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) pada bulan ini, Allah akan meringankan permeriksaan-Nya di Hari Kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya pada bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ketika ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim. di bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan silaturahmi pada bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan pada bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat- Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.”

Inilah sebagian dari khutbah Rasulullah Saw. menyambut bulan Ramadhan. Beliau bukan saja menganjurkan kita untuk mengisi Ramadhan dengan ibadah ritual, seperti puasa, membaca Al-Quran, istighfar, shalat-shalat sunnat, dan zikir- zikir lainnya. Beliau juga menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan rahmat, bulan kasih sayang. Sebagaimana beliau diutus untuk menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam, para pengikutnya diperintahkan untuk menaburkan kasih sayang kepada semua orang. Beliau menyuruh kita untuk menyambungkan silaturahmi dan kasih sayang, agar Allah pun menyambut kita dengan kasih-Nya ketika kita berjumpa dengan-Nya.

Ketika Nabi Yusuf as. menjadi menteri logistik, yang berhasil menyelamatkan ekonomi negara dari defisit bersar, ia berpuasa hampir setiap hari. Ketika orang bertanya kepadanya mengapa, ia menjawab pendek, “Aku takut kenyang dan melupakan orang yang lapar.” Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata, “Adapun sebab diperintahkannya puasa ialah untuk mempersamakan orang kaya dan orang miskin. Demikian itu karena orang kaya tidak pernah merasakan sentuhan lapar. Dengan sentuhan lapar mereka akan mampu menyayangi orang miskin. Jika orang kaya menginginkan sesuatu ia mampu memperolehnya. Maka Allah bermaksud untuk menyamakan makhluknya agar orang kaya pun merasakan pedihnya rasa lapar; supaya ia mempunyai hati yang lembut pada orang yang lemah dan menyayangi orang lapar,” (Biharul Anwar, 96:371; Man la Yahdhurul Faqih, 2:43).

Untuk mengingatkan kita akan salah satu sebab mengapa kita diperintahkan puasa, Nabi Saw. mengajarakan kita untuk melazimkan sebuah doa, yang saya sebut sebagai “doa sosial”. Beliau bersabda, “Barangsiapa membaca doa ini pada bulan Ramadhan setelah selesai shalat wajib, Allah akan mengampuni dosa-dosanya sampai Hari Kiamat; ‘Ya Allah, masukkan kebahagiaan pada para penghuni kubur. Ya Allah, kayakan semua orang yang fakir. Ya Allah, kenyangkan semua orang yang lapar. Ya Allah, beri pakaian semua orang yang telanjang. Ya Allah, tunaikan utang semua. orang yang berutang, Ya Allah, lepaskan kesulitan dari orang yang menderita. Ya Allah, kembalikan semua orang yang terasing. Ya Allah, bebaskan semua orang yang tertawan. Ya Allah, perbaikilah semua urusan kaum muslim yang rusak. Ya Allah, sembuhkan semua orang yang sakit. Ya Allah, tutuplah kefakiran kami dengan kekayaan-Mu. Ya Allah, ubahlah keadaan kami yang jelek dengan kebaikan keadaan- Mu. Ya Allah, tunaikan utang kami dan kayakan kami dari kefakiran; sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu,” (Mafatih Al- Jinan, 238, yang mengutipnya dari Al-Misbah dan Al-Balad Al- Amin).

Bahagiakan Sesama Manusia

Doa Nabi Saw. pada bulan Ramadhan tersebut memperinci apa yang dapat kita lakukan untuk menjadikan bulan suci ini sebagai bulan kasih sayang. Pertama, kita memasukkan kebahagiaan pada para penghuni kubur. Di dalam Islam, persaudaraan dan pertalian kasih sayang bukan hanya berlaku di antara penghuni dunia ini saja. Silaturahmi melintas ruang dan waktu. Kematian hanyalah perpindahan dari satu episode kehidupan kepada episode kehidupan yang lain. Mereka yang sudah meninggal hidup di alam lain dan memperoleh manfaat dari kebaikan saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia. Anda dapat menyampaikan doa yang tulus bagi mereka atau membacakan istighfar. Tetapi kebaktian yang paling besar untuk mereka adalah membahagiakannya dengan membahagiakan orang yang masih hidup di sekitar Anda.

Rasulullah Saw. bersabda, “Pada suatu hari, Isa putra Maryam melawati sebuah kubur; penghuninya sedang diazab. Pada suatu hari tahun berikutnya, ia melawati kubur yang sama; dan penghuninya tidak lagi disiksa. Isa as. berkata kepada Tuhan, ‘Ya Allah, tahun yang lalu aku lewat kuburan ini dan penghuninya disiksa.’ Allah menyampaikan wahyu kepadanya, ‘Wahai Ruh Allah, orang ini sekarang punya anak yang saleh. Ia memperbaiki jalan, melindungi anak yatim. Aku ampuni dosa penghuni kubur itu karena amal saleh yang dilakukan anaknya’,” (Al-Wasail, 1:32).

Beliau pun bersabda di hadapan para sahabatnya, “Berikan hadiah kepada orang-orang yang sudah meninggal di antara kalian!” Para sahabatnya bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana kami memberikan hadiah kepada orang yang sudah mati?” Nabi Saw. menjawab, “Dengan sedekah dan doa.” Lanjutnya, “Sesungguhnya, arwah kaum Mukmin datang ke langit dunia di depan kampung dan rumah mereka pada hari Jumat. Semua arwah itu memanggil dengan suara yang menyedihkan seraya merintih, ‘Wahai keluargaku, wahai anak-anakkku, wahai ayah-bundakau dan karib kerabatku, kasihanilah kami dengan apa yang pernah kami miliki. Celakalah dan beratlah tanggung jawab kami dengan apa yang pernah kami miliki itu sedangkan manfaatnya bagi orang selain kami. Sayangilah kami, semoga Allah menyayangi kalian. Setiap orang di antara mereka memanggil keluarganya, ‘Sayangilah kami dengan satu dirham atau makanan atau pakaian, mudah-mudahan Allah memberikan kepada kalian pakaian surga”.”

Lalu, Nabi Saw. menangis dan kami pun menangis bersamanya. Beliau tidak sanggup meneruskan pembicaraannya karena derasnya tangisan. Kemudian beliau berucap, “Mereka itulah saudara kamu dalam agama. Mereka telah menjadi tanah dan tulang belulang setelah segala kesenangan dan kenikmatan di dunia. Mereka menyesali dirinya seraya berkata, ‘Ah, jika sekiranya kami dahulu membelanjakan apa yang kami miliki dalam ketaatan kepada Allah dan keridhaannya sekarang ini, kami tidak akan memerlukan bantuan kalian. Para arwah itu pun kembali dengan penuh penyesalan dan kesedihan, seraya berseru, ‘Segerakan sedekah kepada orang yang sudah meninggal dunia’.”

Pada bulan Ramadhan, masukkan kebahagiaan kepada hati orangtua, karib kerabat, sahabat, atau orang-orang tercinta yang sudah mendahului kita pergi ke alam baqa’ dengan menyebarkan kasih sayang kepada sesama mahluk Tuhan yang hidup di dunia bersama kita. Dengan itu, kita sekaligus melaksanakan paruh kedua dari ajaran Islam, yaitu memasukkan kebahagiaan ke dalam hati sesama manusia. (Seluruh ajaran Islam itu dapat disingkat dalam dua kalimat, yaitu menyembah Allah untuk membuat-Nya ridha dan berkhidmat kepada makhluk-Nya untuk membuatnya bahagia). Simaklah sabda-sabda suci tentang perkhidmatan berikut ini.

Rasulullah Saw. menasihati sepupu yang sangat dicintainya, “Hai Ali, ada empat hal yang sekiranya orang melakukannya, Tuhan akan membangunkan baginya rumah di surga, (yaitu) melindungi anak yatim, menyayangi orang yang lemah, menyantuni kedua orangtua, dan mengasihi budak atau anak buahnya. Hai Ali, barangsiapa yang mencukupi kebutuhan seorang anak yatim dengan hartanya sampai ia memperoleh kecukupan, wajib baginya surga. Hai Ali, barangsiapa menyentuhkan tangannya kepada kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, Allah berikan kepadanya untuk setiap lembar rambut yang disentuhnya cahaya pada Hari Kiamat.” (Al-Khishal, 1:223).

Dari Imam Al-Baqir diriwayatkan sebuah hadits. “Ada empat hal yang sekiranya semuanya berada dalam diri seorang Mukmin, Tuhan akan tempatkan dia pada tempat yang paling tinggi pada kamar di atas semua kamar di tempat yang paling mulia: (1) melindungi anak yatim, memerhatikannya, dan bertindak sebagai orangtuanya; (2) menyayangi orang kecil, membantunya, dan mencukupi keperluannya; (3) memberikan belanja kepada kedua orangtuanya, menyayanginya, berbakti kepadanya, dan tidak membuatnya berduka cita; (4) tidak berbuat zalim kepada bawahannya, membantunya dalam hal memberatkannya, dan tidak membebaninya dengan apa yang tidak mampu dipikulnya,” (TSaw.ab Al-Amal, 133).

Disabdakan pula, “Barangsiapa yang membangun sebuah tempat di tepi jalan buat para musafir yang tidak punya bekal, Tuhan akan tempatlkan dia pada Hari Kiamat di atas tempat tinggi yang terdiri dari mutiara dan permata. Wajahnya memancarkan cahaya yang menyinari semua, sehingga cahaya itu sampai kepada Ibrahim kekasih Tuhan di kubahnya. Semua penghuni akhirat berkata, ‘Ini salah seorang di antara para malaikat yang tidak pernah aku lihat seperti itu sebelumnya. Karena syafaat dia, empat puluh orang masuk ke surga. Barangsiapa yang memberikan pertolongan kepada saudaranya, yang tidak mengungkapkan permohonan tolongnya maka baginya pahala tujuh puluh orang syahid. Barangsiapa yang menggali sumur dan mengalirkan airnya untuk memenuhi kebutuhan kaum Muslim, baginya pahala semua orang yang berwudhu karena air itu dan melakukan shalat; dan baginya pahala membebaskan budak belian sebanyak bilangan rambut manusia, binatang, atau burung yang minum airnya,” (Al-Wasail, 11:562).

Abân bin Taghlab berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang hak Mukmin atas Mukmin lagi. Ia bersabda bahwa hak Mukmin atas Mukmin lebih besar dari itu kalau aku kabarkan kepada kalian, kalian akan menolaknya. Apabila seorang Mukmin keluar dari kuburnya, keluar jugalah satu sosok seperti dia dari kuburnya. Sosok itu berkata kepadanya, ‘Semoga Allah membahagiakan kamu dengan kebaikan. Ia membimbingnya dengan tidak henti-hentinya menggembirakan dia seperti yang ia katakan. Apabila melewati bencana ia berkata, ‘Ini bukan untuk kamu.’ Apabila melewati kebaikan ia berkata, ‘Ini untuk kamu.’ Tidak henti-hentinya sosok itu menyertai dia, menenteramkannya dari apa yang ia takutkan, membahagiakannya dengan apa yang ia suka sampai ia berhenti bersamanya di hadapan Allah Azza wa Jalla. Ketika ia diperintahkan masuk surga, sosok itu berkata kepadanya, ‘Berbahagialah, karena Allah Swt. memerintahkan kamu masuk surga.’ Orang Mukmin itu bertanya, ‘Siapakah Engkau? Semoga Allah menyayangimu. Engkau menenteramkan aku ketika aku ketakutan dan membelaku di hadapan pengadilan Tuhan.’ Sosok itu menjawab, ‘Aku adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam hati saudara-saudara kamu di dunia. Aku diciptakan dari rasa bahagia itu untuk membahagiakan kamu hari ini dan menenteramkan kamu dari ketakutan kamu’,” (Al- Kafi 2:152; Al-Wasail, 11:573).

Muhammad Zakaria Kandhahlawi menurunkan hadits-hadits shahih dari Bukhari berkenaan dengan pengkhidmatan pada bulan Ramadhan. Saya mengutipnya dari buku Laleh Bakhtiar, Ramadhan: Motivating Believers to Action. Uraian Kandhahlawi mengakhiri tulisan ini, “Umar bin Khathab meriwayatkan kalau Rasulullah Saw. bersabda bahwa setiap masa ada lima ratus orang pilihan Tuhan yang memperoleh kecintaan Tuhan dan ada empat puluh orang suci. Jika salah seorang di antara mereka mati, yang lain menggantikan tempatnya. Para sahabat bertanya tentang keistimewaan mereka. Rasulullah Saw. bersabda, ‘Mereka memaafkan orang yang berbuat zalim, membalas orang yang berbuat buruk kepada manusia dengan kebaikan dan karena kecintaannya kepada sesama manusia mereka bagikan rezeki mereka untuk fakir miskin’.”

Di dalam hadits lain, disebutkan bahwa siapa pun yang memberi makan kepada orang yang lapar, memberikan pakaian kepada orang yang telanjang, dan memberikan perlindungan kepada orang yang berpergian, sesungguhnya Allah akan menyelamatkan dia dari ketakutan pada Hari Kiamat. Yahya Garmaki suka memberi Sufyan Ats-Tsauri seribu dirham setiap bulan untuk itu. Sufyan suka bersujud di hadapan Allah seraya berdoa, “Ya Allah, Yahya telah memenuhi keperluan duniaku; melalui kasih sayang-Mu yang agung, penuhilah keperluannya pada Hari Kiamat nanti.’ Setelah kematian Yahya, beberapa orang melihat dia dalam mimpinya dan menanyakan apa yang dialaminya pada Hari Akhir. Ia menjawab, “Melalui doa Sufyan, aku telah mendapat ampunan Allah ….”.

Dalam salah satu hadits disebutkan bahwa para malaikat memohonkan keberkahan dicurahkan kepada orang yang memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang puasa dari rezekinya yang halal. Pada malam Qadar, Jibril menyalaminnya. Tanda salam dari Jibril itu adalah hati menjadi lembut dan air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *