
Saya pernah membaca sebuah buku. Dalam buku ini diceritakan bahwa orang-orang Islam di dunia sekarang ini, menjalankan agamanya itu lebih sulit dari orang-orang Islam pada zaman dahulu. Zaman sahabat dulu, mereka hanya menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sekarang, orang Islam itu harus menjalankan perintah Allah, Rasul-Nya, dan perintah para ulama. Kadang-kadang, rumusan para ulama tentang fikih—yang sering kita sebut syariah—lebih bertele-tele dibandingkan dahulu. Jadi, kalau kita berbicara tentang syariat, kita akan menemukan banyak keanehan dan juga kesulitan- kesulitannya, hukum-hukum yang sering tidak terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.
Dalam puasa syariat menurut Al-Quran, yang membatalkan saum itu hanya ada tiga, yaitu makan, minum, dan hubungan seks. Itu saja yang membatalkan puasa. Akan tetapi, para ulama kemudian menambahkan hal-hal yang lainnya. Misal, ada yang menambahkan kalau muntah itu membatalkan puasa, memasukkan kepala ke bawah air itu juga membatalkan puasa. Kalau kita sedang masak, lalu mencicipinya, batal atau tidak? Kalau mencicipinya sampai tenggorokan, itu batal katanya. Kalau tidak sampai tenggorokan itu tidak batal.
Karena ahli fikih terlalu memerhatikan hal-hal seperti itu, akhirnya mereka lupa kepada puasa Tarekat, yang justru harus lebih kita perhatikan. Saya ingin bacakan hadits-hadits tentang keutamaan puasa. Kita tahu betapa mulianya menjalankan ibadah puasa itu. Misalnya, tidurnya orang yang berpuasa, Allah catat sebagai ibadah, napasnya menjadi tasbih, doanya diijabah, dan amalnya dilipatgandakan. Ketika orang yang berpuasa itu berbuka, ia memperoleh doa yang tidak akan pernah ditolak oleh Allah Swt. Orang yang berpuasa pun akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya. Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang berpuasa terus menerus dihitung dalam keadaan beribadah kepada Allah, walaupun ia tidur di atas ranjangnya.” Jadi, kita tahu betapa mulianya orang yang berpuasa itu.
Dalam hadits lain disebutkan, “Kalau seseorang yang tengah berpuasa menghadiri sebuah jamuan makan dari orang-orang yang tidak berpuasa…,” kita bisa bayangkan, pada saat-saat seperti itu, tentunya hidung kita akan mencium makanan itu lebih. harum dibandingkan orang yang tidak berpuasa. Pada saat itu, kata Rasulullah, kalau dia mampu mempertahankan puasanya, seluruh anggota badannya akan bertasbih dan seluruh malaikat akan membacakan shalawat baginya, dan seluruh shalawat itu menjadi istighfar baginya. Akan tetapi—kata Rasulullah—ada banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu, selain lapar dan dahaga. Ada juga orang yang shalat malam pada bulan Ramadhan, akan tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari shalat malamnya itu, selain rasa lelah dan ngantuk saja. Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Betapa banyak orang yang lapar saja dan betapa sedikitnya orang yang benar-benar berpuasa.” Jadi, ada beberapa perbuatan yang dapat menghancurkan puasa kita. Boleh jadi, secara fikih p puasa kita sah, selama memenuhi syarat-syarat syariatnya. Namun, apabila kita melanggar pesan moral (tarekat) puasa, kita kehilangan seluruh kemuliaan puasa tersebut, kita kehilangan doa yang diijabah oleh Allah Swt., kita pun kehilangan tidur yang dihitung sebagai amal ibadah.
Yang kita bicarakan dalam puasa tarekat atau saum tarekat adalah saum yang berusaha memelihara kesucian diri kita, sehingga kita tidak kehilangan seluruh pahala dan kemuliaan puasa yang kita jalani. Dalam sebuah hadits, Nabi Saw. bersabda, “Seseorang yang berpuasa dihitung dalam keadaan ibadah kepada Allah walaupun dia tidur di atas ranjang sepanjang ia tidak mempergunjingkan seorang Muslim pun.” Artinya, ketika dia mempergunjingkan seorang Muslim, hilanglah seluruh keutamaan puasa yang ada pada dirinya. Puasa tarekat adalah bagaimana kita menjaga lidah dari membicarakan kejelekan, sehingga tidak menghapuskan keutamaan puasa kita; bagaimana kita menjaga telinga supaya tidak ikut mendengarkan keburukan yang dapat menghapuskan seluruh keutamaan ibadah kita. Ketika kita menyakiti hati seorang Muslim—dengan perbuatan atau dengan ucapan—kita bisa termasuk ke dalam golongan orang yang disebutkan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya, orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknat mereka di dunia dan di akhirat, dan Allah siapkan bagi mereka azab yang sangat menghinakan. Begitu juga laknat Allah di dunia dan di akhirat ditimpakan kepada orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin, baik laki-laki maupun perempuan dengan menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak mereka lakukan. Sesungguhnya, ia sudah memikul dosa berbuat fitnah yang keji dan melakukan dosa yang nyata,” (QS. Al-Ahzab [33]: 57-58).
Tarekat Puasa
Sebetulnya, tarekat puasa ditegakkan di atas upaya agar kita tidak merusakkan amal ibadah puasa kita, antara lain, dengan menyakiti hati sesama manusia, terutama tidak menyakiti kaum Mukminin dan Mukminat yang disebutkan dalam Surah Al- Ahzab di atas. Pada bulan Ramadhan, pada zaman Nabi Saw., seorang perempuan memaki-maki pembantunya (budaknya). Kemudian, Rasulullah Saw. memanggil perempuan tersebut dan menyediakan makanan untuknya. “Makanlah kamu.” lalu, kata perempuan itu, “Aku sedang berpuasa ya Rasulullah.” Nabi Saw. menjawab, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa, tetapi kamu menyakiti sesama hamba Allah.” Jadi, memaki-maki pada bulan Ramadhan itu menghilangkan seluruh keutamaan puasa kita.
Dalam penafsiran Surah Al-Ahzab tersebut, yang dimaksud menyakiti Allah adalah membuat Allah murka. Saya pernah mendapatkan cerita dari istri saya, istri saya menerimanya dari anaknya, dan anaknya menerima cerita itu dari tetangganya. Itu silsilah sanadnya. Katanya, di suatu tempat di kota Bandung, ada seorang ustadz yang memberikan pengajian. Ibu-ibu jamaah pengajian itu terpingkal-pingkal. Mereka senang betul mendengarkan pengajian itu, karena sang ustadz membacakan ayat-ayat Al-Quran dengan berbagai lagu sambil mempermainkannya. Dia membaca Al-Fatihah dengan lagu “Manuk Dadali”. Lalu, tiba-tiba speaker di masjid itu mengeluarkan suara yang tidak dikenal oleh semua orang yang hadir. “Ustadz, ke sini kamu!” Suara itu sangat keras, dan seluruh jamaah dicekam dalam ketakutan. Lari juga tidak bisa. Lalu, setelah itu pengajian dihentikan dan diselidiki barangkali di sekitar itu ada orang yang iseng menakut-nakuti. Sekarang, ibu-ibu itu tidak ingin lagi hadir dalam pengajian sang ustadz, karena takut ada suara aneh lagi yang datang. Mungkin, ini perwujudan dari “menyakiti” Allah, yaitu mempermainkan ayat-ayat Allah sebagai hiburan. Orang yang menyakiti Allah dengan cara seperti itu, akan dilaknat oleh Allah di dunia dan di akhirat.
Sedangkan yang termasuk menyakiti Rasulullah Saw., misalnya, dengan menjadikan beliau sebagai olok-olok dan sebagai bahan permainan, termasuk pula memanggil beliau seperti memanggil sesama kita. Di dalam Al-Quran disebutkan, “Janganlah kamu memanggil Nabi sebagaimana kamu memangil sesama kamu. Nanti terhapus amal-amal kamu dan kamu tidak merasakannya.”
Saya pernah membaca sebuah tafsir mutakhir Al-Amstål. Dalam tafsir itu disebutkan bahwa perbuatan yang termasuk menyakiti Allah dan Rasul-Nya adalah menyakiti hati kekasih Allah. Akan tetapi, kekasih Allah itu Dia sembunyikan di dunia ini. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan kekasih-kekasih Allah, wali-wali Allah itu disembunyikan di tengah-tengah manusia. Mengapa? Agar manusia berhati-hati untuk tidak merendahkan manusia mana pun. Agar kita berhati-hati untuk tidak menyakiti hati seorang pun, karena boleh jadi dia itu seorang wali Allah. Dalam hadits qudsi pula, Allah Swt. berfirman, “Sudah menyatakan perang kepada-Ku orang-orang yang menyakiti hamba-Ku yang Mukmin.”
Termasuk menyakiti Allah dan Rasul-Nya adalah menyakiti hati fakir miskin, kerena mereka termasuk kelompok orang yang dicintai Rasulullah Saw. Kepada ‘Aisyah, beliau berpesan, “Cintailah orang-orang miskin supaya Allah dekat kepadamu pada Hari Kiamat nanti.” Itulah sebabnya, kalau Nabi Saw. ditanya, “Di mana kami bisa temukan engkau ya Rasulullah?” Beliau akan menjawab, “Carilah aku di tengah-tengah orang miskin diantara kamu.”
Masih dalam hadits qudsi, Allah Swt. berfirman, “Katakan kepada orang-orang yang zalim, jangan datang ke tempat peribadahan-Ku, karena setiap kali dia menyebut nama-Ku, Aku melaknat dia.” Kalau ada orang zalim datang ke masjid pada bulan Ramadhan untuk shalat Tarawih misalnya, setiap kali ia menyebut nama Allah, setiap itu pula Allah melaknatnya. Jadi, semakin banyak ia berdoa pada bulan Ramadhan, semakin banyak pula ia memperoleh laknat Allah Swt.
“Orang-orang yang menyakiti seorang Mukmin dengan menyebarkan fitnah tentang perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang Mukmin tersebut, dia memikul dosa besar karena menyebarkan fitnah, dan dia melakukan dosa yang nyata.” Jadi, pada bulan Ramadhan, kita harus berjuang ekstra dalam menjaga setiap tindakan dan perkataan, jangan sampai kita menghina atau menuduh saudara kita dengan sesuatu yang tidak diperbuatnya. Termasuk ke dalamnya adalah perintah untuk menjaga pendengaran untuk tidak menyimak berita-berita semacam itu.
Indra Batiniah dalam Puasa
Sekarang, kita akan membicarakan tentang mengendalikan indera batiniah kita. Indra batiniah itu terdiri atas quwwah mufakkirah (kemampuan berpikir kita), itu kan termasuk bagian dari batin kita. Mata yang melihat tetapi batin yang berpikir. Dahulu, saya pernah menulis sebuah artikel yang didasarkan pada sebuah buku kecil. Buku itu membicarakan betapa dahsyatnya kekuatan berpikir. Bahwa kita bisa seperti sekarang ini, karena berawal dari pikiran. Kalau kita berpikir bahwa kita ini orang malang, selalu mendapatkan kesialan, insya Allah kita akan selalu mendapatkan kesialan dalam hidup. Dalam teori pendidikan, ada yang disebut Theory of Labelling. Kalau kepada anak akan terpengaruh juga oleh perkataan orangtuanya itu. Akhirnya, ia betul-betul menjadi bodoh. Itu semua terjadi karena kekuatan berpikir. Ada yang disebut self-fulfilling prophecy, ramalan yang dipenuhi sendiri. Misalnya, semalam kita bermimpi buang hajat, siangnya kita berpikir bahwa kalau mimpi buang hajat akan memperoleh kecelakaan. Dengan berpikir semacam itu, sepanjang hari kita akan dihantui pikiran bahwa kita akan mendapatkan celaka, dan insya Allah, hari itu juga kita akan tertimpa musibah. Di daerah lain, mimpi buang hajat itu, artinya akan mendapatkan rezeki. Kalau kita berpikir seperti itu, setiap kali kita mimpi BAB kita akan berpikir mendapat rezeki. Mungkin hari itu juga kita memperoleh uang. Kekuatan berpikir harus kita kendalikan, karena dia bisa menciptakan kenyataan. Boleh jadi, kenyataannya bukan kenyataan yang kita kehendaki.
Pada bulan Ramadhan, gunakanlah daya pikir kita hanya untuk tafakur. Kalau tidak dipakai untuk itu, kita akan berpikir yang macam-macam. Sebaiknya, kita pun harus berusaha mencari hal-hal positif yang dapat kita pikirkan. Misalnya memikirkan tentang ilmu. Dengan memikirkan ilmu, kita bisa sehat dan pintar. Akan tetapi, kalau yang dipikirkannya itu kedendaman, kemarahan, atau aneka kekecewaan, maka kita akan mengalami sakit. Berpikir yang semacam itu tidak dihitung sebagai tafakur. Tafakur bisa mendatangkan ilmu dan mendekatkan kita kepada Allah Swt. Tafakur yang mendekatkan kita kepada Allah disebut sebagai tadzakur. Tafakur menghasilkan ilmu, tadzakur menghasilkan hikmah, kearifan, dan kebijaksanaan. Arti sebenarnya dari tadzakur adalah mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang kita saksikan di dunia ini.
Dalam puasa tarekat, kita harus mampu mengendalikan diri, kita harus melawan bisiskan-bisikan setan. Bagaimana kita tahu ada bisikan setan atau tidak? Bisikan setan adalah aneka dorongan untuk memenuhi hawa nafsu. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa di antara bisikan setan itu adalah yang selalu menakut-nakuti kita dengan kemiskinan. Setan selalu membisikkan kepada kita untuk tidak bersedekah atau memberi bantuan, dan mendorong kita melakukan aneka maksiat dan kekejian. Jadi, kalau kita punya rencana untuk melakukan maksiat, maka itu adalah bisikan setan.
Ada cerita menarik dari Al-Fakhrurazi dalam Tafsir Mafâtih Al-Ghaib. Dia bercerita tentang seorang jamaah yang hadir dalam sebuah pengajian. Dia mendengar dari ustadznya, kalau kita akan bersedekah, tujuh puluh setan akan bergelantungan di tangan kita, menahan kita untuk tidak bersedekah, atau sekurangnya menangguhkan sedekah kita sampai hari yang tidak bisa ditentukan. Jadi, orang yang tetap bisa bersedekah, dia mengalahkan tujuh puluh setan. Jamaah itu pun merasa tertantang. Dia segera pulang ke rumah. Dia berjanji kepada ustadznya bahwa ia akan bersedekah dengan satu karung gandum. Tidak lama kemudian, ia kembali lagi ke pengajian, tetapi dia tidak membawa sekarung gandum yang dijanjikannya itu.
“Apa yang terjadi?” tanya ustadz.
“Tadi saya sudah berniat, saya bawa satu karung gandum untuk saya sedekahkan dengan niat untuk mengalahkan tujuh puluh setan yang bergelantungan di tangan saya. Tiba-tiba di pintu rumah, istri saya datang dan marah-marah, ‘Mengapa kita harus bersedekah sekarang ini, bukankah kita juga punya banyak keperluan”?” jawabnya.
Rupanya, orang ini bisa mengalahkan tujuh puluh setan, akan tetapi ia tidak bisa mengalahkan “induk” dari semuanya.
Yang harus kita hindari juga menggunakan pikiran kita adalah berburuk sangka kepada Allah Swt. Berburuk sangka (su’udzhan) kepada Allah itu misalnya, dengan mengatakan bahwa Allah tidak sayang lagi kepada kita, atau “mengapa Allah berikan musibah itu kepadaku,” dan sebagainya. Allah Swt. berfirman dalam hadits qudsi, “Aku akan menyesuaikan diri- Ku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” Jadi, kalau kita berpikir bahwa Allah akan mendatangkan kecelakan kepada kita, pasti kecelakaan yang kita dugakan itu akan terjadi. Kalau kita memikirkan Tuhan dengan kasih sayang-Nya, bahwa sepanjang hidup Allah tidak pernah menghentikan rahmat- Nya kepada kita, maka kita akan memperoleh kebahagiaan dan limpahan kasih sayang dari-Nya.
Su’udzan yang paling banyak adalah su’udzan kepada saudara sendiri; kepada umat Islam. Kita lebih mudah berburuk sangka kepada saudara sendiri daripada kepada musuh-musuh Islam. Kita masih diperbolehkan berburuk sangka, tetapi hanya dalam tiga hal. Pertama, berburuk sangka kepada orang-orang yang memusuhi Islam. Kalau dia menyampaikan berita, kita harus mencurigai berita tersebut. Berburuk sangka terhadap ustadz itu haram hukumnya, dan itu termasuk yang dilaknat oleh Allah Swt., baik di dunia maupun di akhirat.
Su’udzan yang kedua adalah dalam ilmu hadits. Jadi, kalau ada orang yang meriwayatkan hadits, kita jangan langsung percaya akan validitas hadits tersebut. Kita harus meneliti kredibilitas dan kepribadian orang yang bersangkutan. Sebab, kalau kita langsung berprasangka baik kepada periwayat hadits, nanti orang akan dengan seenaknya berdusta atas nama Rasulullah Saw. Di Baghdad dulu, ada orang yang sangat saleh, malam hari ia shalat tahajud, siang hari ia berpuasa. Setelah shalat Subuh, ia menyampaikan hadits-hadits Nabi kepada jamaah. Ketika meninggal dunia, orang menemukan bahwa dia membuat sedikitnya tiga puluh ribu hadits palsu. Dia pernah dikritik, “Mengapa kamu berdusta kepada Nabi, ‘Barangsiapa yang berdusta dengan mengatasnamakan aku, siapkanlah tempat duduknya di neraka”.” Lalu, orang itu menjawab, “Aku tidak berdusta kepada Nabi, aku berdusta untuk Nabi supaya orang-orang menjadi taat beribadah.” Hadits-hadits itu bisa tersebar luas karena orang terlalu berbaik sangka kepadanya. Kalau hadits palsu itu beredar, berarti kita menjalankan agama yang palsu. Kita menganggap sesuatu itu sunnah Nabi, padahal itu sunnah palsu. Di Indonesia ini menyebar banyak sekali hadits palsu. Karena itu, su’udzan kedua yang diperbolehkan adalah su’udzan kepada periwayatan hadits.
Yang ketiga, kita boleh berburuk sangka bahkan dianjurkan dalam urusan keuangan. Jadi, kalau ada orang menyimpan amanah orang lain dalam urusan uang, dalam urusan amanah, kita tidak boleh langsung percaya, harus kita periksa. Asumsinya, kita takut terjadi penyelewengan. Sebab, kalau kita berbaik sangka kepada semua orang yang menyimpan uang, dan tidak kita mintai pertanggung-jawabannya, kacaulah kita. Rusaknya umat ini adalah karena kita terlalu berbaik sangka kepada orang-orang yang kita titipi zakat, infak, sedekah, dan sebagainya tanpa pernah meminta transparansi dan pertanggungjawaban. Akibatnya, harta umat digunakan untuk kepentingan diri dan kelompoknya. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).