
Dalam Biharul Anwar, juz 96 halaman 255, tertulis sebuah hadits yang sangat popular, “Berpuasalah kamu agar kamu menjadi sehat.” Menurut para ulama, apabila ada ayat-ayat Al-Quran atau hadits yang menyebutkan satu kata, kita harus mengartikannya secara umum dan tidak boleh membatasi secara, khusus kecuali ada dalil yang menegaskannya. Saya ingin memberikan contoh, yaitu pada Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah Swt. berfirman, “Kutiba ‘alaikum as-shyâm; diwajibkan atas kamu berpuasa.” Kata “kamu” di situ bersifat umum, boleh buat laki-laki dan perempuan. Artinya, kita tidak boleh membatasi puasa hanya bagi laki-laki saja kecuali ada keterangan. Tidak ada keterangan pula bahwa puasa hanya dikhususkan untuk laki-laki saja.
Dalam Surah Al-Isra’ ayat 82 misalnya, “Kami turunkan dalam Al-Quran sesuatu yang dapat menjadi obat bagi kaum Mukminin dan merupakan kasih sayang Allah kepada kaum Mukminin.” Ayat ini bermaksud, kalau kita sudah merasa sakit yang luar biasa pada bagian-bagian tubuh tertentu, semakin dokter jauh, obat-obatan tidak ada, bacakanlah ayat tersebut dan sentuhkan tangan kita pada tempat yang sakit. Praktik pengobatan semacam ini pernah dilakukan Rasulullah Saw., sehingga tidak terlarang bagi kita untuk melakukannya.
Kesimpulannya, Al-Quran itu adalah obat. Waktu saya menyampaikan hal ini di Malaysia, ada hadirin yang berkata, “Itukan untuk penyakit batin.” Lalu, saya katakan, “Dari mana keterangannya kalau itu hanya khusus untuk penyakit batin?” Sesungguhnya, makna “obat” dalam ayat tersebut harus diartikan secara umum. Al-Quran bisa kita jadikan obat, baik untuk penyakit lahir maupun untuk penyakit batin. Al-Quran hanya dikhususkan untuk penyakit batin apabila ada keterangannya. Dalam Surah Yunus ayat 57 misalnya, Allah Swt. berfirman, “Dia menjadi obat untuk penyakit di dalam hati.” Nah, kalau ayat ini khusus untuk penyakit hati. Akan tetapi, ayat sebelumnya berlaku umum.
Kembali kepada hadits, “Puasalah supaya kamu sehat.” Sehat apa? Tentunya sehat jasmani maupun ruhani. Kalau kita berpuasa, Allah Swt. akan menganugerahkan kepada kita kesehatan jasmani dan kesehatan ruhani. Kita tidak boleh mengartikan hadits ini, bahwa puasa hanya menyehatkan ruhani saja sedangkan jasmani tidak; atau puasa itu hanya menyehatkan jasmani saja, sedangkan ruhani tidak.
Saya pernah memiliki buku kecil yang ditulis oleh dua orang, bapak dan anak. Bapaknya berusia seratus tahun lebih dan anaknya berusia sekitar 85 tahun. Dalam buku ini, terpampang pula foto mereka berdua, keduanya terlihat sehat. Apa resepnya sehingga mereka bisa panjang umur? Ternyata, keduanya gemar menjalankan puasa. Mereka mempraktikkan puasa sepanjang hidupnya, sehingga kesehatan tubuhnya senantiasa terjaga. Dari mana mereka belajar hal ini? Mereka belajar dari bintang. Pada tahap-tahap tertentu, biasanya binatang melakukan puasa. Ular misalnya, sebelum berganti kulit, ia terlebih dahulu melakukan puasa selama berbulan-bulan. Harimau pun demikian, ia mampu memelihara kekuatannya dengan puasa, yang lamanya bisa berminggu-minggu.
Binatang-binatang itu tidak hanya puasa pada bulan Ramadhan saja, walaupun ada ayat yang menyebutkan, “Siapa yang menyaksikan bulan Ramadhan hendaklah dia puasa,” (QS. Al- Baqarah [2]: 185). Biasanya, binatang-binatang yang menjalani hidupnya dengan puasa, akan berusia panjang. Jadi, kalau kita rajin puasa Senin dan Kamis, insya Allah tubuh kita akan sehat. Kita memiliki harapan hidup lebih panjang dibandingkan dengan orang-orang yang jarang berpuasa.
Saya termasuk orang yang paling jarang puasa. Alasannya, saya ini menderita penyakit maag. Kalau tidak puasa, dan telat makan, mata saya langsung sudah berkunang-kunang. Beberapa waktu yang lalu, saya coba melaksanakan puasa sunnat, padahal saya mau pergi ke Jakarta. Ternyata, saya bisa bertahan sampai lewat siang, belum keluar keringat. Mungkin karena kasih sayang Allah itu meliputi langit dan bumi, apalagi bagi orang berpuasa. Jadi ketika saya dalam pesawat, seperti biasa ada orang yang menyajikan permen. Karena biasa, saya ambil dua. Langsung saya nikmati. Setelah dua permen itu habis, saya baru teringat kalau saya sedang puasa. Untungnya, ada hadits yang menunjukkan bahwa orang yang berpuasa kemudian ia makan karena lupa, hal itu tidak dihitung batal. Semua ahli fikih pun sepakat kalau makan saat berpuasa karena lupa, tidak membatalkan puasa. Lumayan, puasa saya tidak batal dan energi bertambah.
Di Jakarta saya memberikan ceramah sampai jam lima sore. Di mimbar sudah disediakan minum. Sedikit-sedikit saya minum, luar biasa karena ini baru pertama terjadi, minuman itu habis. Akhirnya tambah lagi, saya minum lagi. Sampai menjelang Maghrib saya baru ingat kalau saya sedang puasa.
Sebagaimana orang-orang yang menderita maag, saya pun susah buang air. Kalau menggosok gigi, saya muntah karena ada gas yang keluar melalui tenggorokan. Akan tetapi, waktu saya puasa itu, semuanya berjalan lancar. Jadi, “Berpuasalah supaya kamu lebih sehat.”
Secara fisik, puasa telah terbukti mampu menyehatkan kita. Tentunya, puasa di sini adalah dalam arti puasa yang benar menurut ajaran Islam, bukan puasa yang terus menerus tidak makan. Orang yang berusia seratus tahun itu puasanya bukan tidak makan sama sekali. Mereka puasa menurut aturan agama. Dalam periode tertentu dia makan. Dia mengutamakan makanan tumbuhan untuk berbuka. Sekarang diketahui bahwa alat pencernaan ini sering kita paksa untuk bekerja keras, untuk mengolah makanan yang tidak hentinya masuk ke dalam tubuh. Padahal, dalam satu kali makanan saja, diperlukan periode pencernaan empat jam. Jadi kalau kita sarapan, selama empat jam ke depan pencernaan kita bekerja. Sayangnya, kebanyakan dari kita, sebelum habis empat jam, perut sudah diisi kembali. Dimulai lagi proses pengolahan berikutnya. Akibatnya, dalam dua puluh empat jam, tubuh kita tidak berhenti bekerja untuk mengolah makanan. Sistem pencernaan kita pun terus “dipaksa” untuk mengolah makanan. Sebagaimana mesin-mesin alam lainnya, kalau dipaksa bekerja terlalu keras, mesin itu akan cepat rusak.
Puasa mengistirahatkan alat pencernaan kita untuk waktu yang cukup lama. Walaupun begitu, seringkali ketika kita berbuka puasa, pencernaan dipaksa bekerja secara lebih keras lagi. Hal ini bisa berbahaya. Karena itu, kita harus perlahan-lahan menyuruh pencernaan bekerja. Makanan yang mengandung energi tetapi tidak terlalu sulit untuk dicerna adalah manis- manisan. Boleh jadi, inilah hikmahnya mengapa kita dianjurkan, bahkan disunnahkan, untuk mengonsumsi korma atau yang manis-manis ketika berbuka puasa. Jenis makanan itu bisa mengenyangkan dan tidak memerlukan proses pencernaan yang lama.
Ada banyak penyakit fisik yang bisa disembuhkan dengan cepat melalui puasa, salah satunya adalah darah tinggi. Jadi puasa dapat menyembuhkan penyakit jasmani. Di Rusia telah dikembangkan metode puasa untuk membantu proses penyembuhan orang-orang yang mempunyai penyakit mental. Terbukti, puasa dapat menyembuhkan penyakit mental atau gangguan kejiwaan, misalnya tahap yang paling ringan, sebutlah, influenzanya gangguan kejiwaan, neurosis atau stres. Anda mudah tersinggung, mudah marah, itu adalah gangguan kejiwaan. Gelisah, tidak bisa tidur, kadang-kadang disertai gejala-gejala fisik, seperti jantung berdebar, badan dan tangan keluar keringat. Yang paling menganggu ialah sulit tidur. Atau kalau tidur, mimpinya selalu menakutkan. Itu adalah gangguan kejiwaan yang ringan. Jika sudah berat, seseorang bisa menjadi sangat agresif. Ia bisa mengamuk tanpa alasan yang jelas. Ia pun bisa menyaksikan pemandangan-pemandangan yang tidak bisa disaksikan orang lain, atau mendengar bisikan-bisikan yang tidak didengar oleh orang di sekitarnya.
Kalau Anda merasa “sedikit cerdas”, gejala kecil kejiwaan itu dianggap sebagai tanda kesucian: bahwa dirinya adalah seorang wali, bisa melihat alam gaib dan melihat muka setan. Itulah sebabnya, sampai sekarang, banyak orang berlomba-lomba menjadi wali dengan belajar sedikit gila. Di negeri antah berantah ada seorang anak muda yang merasa setiap kali dibacakan doa tawasul, seluruh Imam datang. Rasulullah Saw. dan orang-orang suci mendatanginya. Keluarganya merasa senang karena anaknya didatangi para Imam. Saya mengajak anak itu berbicara, karena saya tahu kalau dia mengalami gangguan kejiwaan. Saya menganggapnya begitu, keluarganya menganggapnya orang suci. Jadi, di Indonesia ini banyak orang gila dianggap orang suci. Kalau di Amerika sebaliknya, banyak orang suci dianggap orang gila. Kedua-duanya jelas keliru.
Kalau Anda mengalami gangguan jiwa, seperti stres, cemas, sukar tidur, mudah tersinggung, mudah marah, untuk mengobati semua gejala itu Anda dapat menjalankan puasa sebagaimana yang dicontohkan Nabi Saw. Puasa membantu proses penyembuhan penyakit mental. Sebagaimana telah saya sebutkan, beberapa rumah sakit mental di Rusia, memanfaatkan metode berpuasa, periode-periode atau cara-cara puasa, untuk menyembuhkan para penderita penyakit jiwa.
Selanjutnya, puasa pun dapat membantu kesehatan ruhani atau kesehatan spiritual. Menurut tasawuf, tubuh kita ini terdiri dari tiga bagian. Bagian paling luar disebut nafs. Jadi fisik kita adalah nafs. Itulah yang dikenai kematian. Kullu nafsin dzâiqatul maût. Pada bagian tengah ada yang disebut qalb, yang dalam istilah modern kita sebut mind. Dan, pada bagian terdalam adalah ruh.
Kesehatan juga bisa meliputi kesehatan tubuh, kesehatan jiwa, dan kesehatan ruh. Praktik puasa dapat menyehatkan ketiga-tiganya. “Shummu tashihhu; berpuasalah kamu supaya kamu sehat.”
Apa tanda-tanda orang yang sehat ruhani? Apa pula tanda-tanda orang yang sakit ruhani? Orang yang sehat ruhani misalnya mudah tersentuh dengan ayat-ayat Al-Quran. Mudah bergetar hatinya apabila disebut asma’ Allah. Orang yang sehat ruhaninya akan mudah mendengar nasihat, untuk kemudian mengikuti nasihat itu sepenuh hati. Sebaliknya, orang yang sakit ruhaninya, akan mudah tersinggung manakala mendengarkan nasihat. Jadi, kalau ada di antara Anda yang tersinggung dengan ucapan saya ketika saya memberikan nasihat ini, berhati-hatilah, boleh jadi Anda menderita penyakit ruhani. Penyakit ruhani itu sulit disembuhkan, karena sulit mencari dokternya. Kalau gatal-gatal, kita pergi ke apotek membeli salep. Kalau batuk-batuk, kita tinggal membeli OBH. Jadi, untuk hal-hal yang fisik mudah dicarikan obatnya. Untuk penyakit mental pun ada dokternya. Namun, untuk penyakit ruhani hampir tidak ada dokternya. Karena dokternya pun seringkali menderita penyakit ruhani juga. Jadi agak sulit penyembuhannya. Puasa adalah salah satu teknik untuk menyembuhkan penyakit ruhani.
Apa tanda-tanda orang terkena penyakit ruhani? Di antaranya adalah malas beribadah. Membaca Al-Quran satu lembar saja rasanya lama sekali, bagaikan membaca Al-Quran satu juz. Itu penyakit ruhani. Rasulullah Saw. menyebutnya jumudul ‘ain atau “mata yang beku”.
Tanda lainnya adalah sulit merasakan penderitaan orang-orang disekitarnya. Kalau itu tandanya, mungkin sekarang saya termasuk yang agak sehat ruhani. Ketika mendengar cerita anak saya, saya sempat menangis sendirian. Ceritanya, di Bandung ini ada seorang tukang becak yang berusia di atas enam puluh tahun. Beliau membawa penumpang dengan bawaan barangnya yang berat-berat. Setelah mengangkut, dia kembali lagi ke terminal. Ternyata, di sana, ada lagi orang yang minta bantuan dia. Karena ini berhubungan dengan duit, akhirnya dia menarik becak lagi. Bayangkan, dalam umur setua itu, ia masih menarik becak. Setelah kembali lagi ke terminal, dia pun beristirahat di dalam becaknya, dan ternyata, itulah istirahatnya yang terakhir, istirahat untuk selama-lamanya. Dia beristirahat dalam penuh kedamaian. Saya katakan kepada anak saya bahwa dia syahid, karena masih berjuang untuk mencari nafkah pada usia yang sudah tua. Ceritanya yang lebih mengharukan lagi terjadi pada malam harinya, saat para abang becak temannya berkumpul, dan membacakan Yâsîn di tempat syahidnya. Bagi saya, peristiwa ini sangat mengharukan.
Kisah ini mengingatkan saya pada Undang-Undang Dasar 1945 yang sedang diperbaiki. Di sana disebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar diperlihara oleh negara. Sebagai ilustrasi, kalau Anda berjalan di kota Berlin jam sepuluhan pagi, Anda akan menyaksikan banyak orang tua membawa anjing naik bus keliling kota. Mereka kemudian singgah di kebun-kebun dan di taman-taman kota untuk menikmati masa tuanya. Pemerintah setempat menjamin kehidupan mereka. Tidak peduli apakah mereka bekerja untuk pemerintah atau swasta, atau bahkan tidak bekerja sekalipun. Semua, pada akhir hayatnya, mendapatkan bantuan yang memadai dari pemerintah.
Di Indonesia, orang-orang tua seperti itu, tukang becak yang sudah enam puluh tahun, masih harus mengayuh becaknya. Sekarang kita mendengar pajak kita akan dinaikkan lagi lebih tinggi lagi. Satu prestasi pemerintah yang menakjubkan adalah menaikkan pajak dan harga-harga. Untuk apa pajak itu? Untuk menjamin kita, menjamin keamanan kita, dan menjamin masa tua kita. Sayangnya, setelah kita membayar pajak, pemerintah tidak pernah memberikan jaminan. Kalau saya katakan “jangan bayar pajak!” saya pasti ditangkap karena melanggar undang-undang.
Akan tetapi, sekiranya ada yang tidak mau membayar pajak, hal tersebut masih masuk akal karena pemerintah tidak mengembalikan pajak itu kepada kita. Akibatnya, meninggallah tukang becak yang berusia tua itu dan meninggalnya pun di atas becaknya.
Orang yang masih bisa terharu karena penderitaan orang lain adalah orang yang sehat secara ruhaniah. Karena itu, orang yang tidak bisa terharu dengan penderitaan orang lain harus hati-hati. Orang yang berdarah dingin, yang tidak bisa merasakan derita orang lain, adalah orang yang mengalami gangguan ruhaniah. Orang yang memendam rasa dengki yang berkepanjangan, yang berusaha untuk menjatuhkan orang lain yang didengkinya, disinyalir menderita penyakit ruhaniah juga. Secara ruhaniah, ruhnya itu sudah tidak karuan lagi karena gangguan penyakitnya. Orang yang menderita penyakit ruhaniah, hatinya akan sulit menerima pancaran cahaya Ilahi. Mengapa? Karena hatinya, sebagaimana disebutkan dalam QS Muthaffifîn [83]: 14, “Bal râna ala qulûbihim.” (Artinya), “Tetapi sudah kotorlah hati mereka karena apa-apa yang mereka lakukan.”
Sesungguhnya, puasa akan membersihkan dan menyehatkan ruhani kita. Benar sabda Rasulullah Saw. bahwa puasa dapat menyehatkan kita, jasmani maupun ruhani. Itulah sebabnya, Abu Muhammad Al-Askari berkata, bahwa salah satu sebab diwajibkan puasa, adalah agar orang kaya bisa merasakan penderitaan orang miskin, sehingga ia memiliki rasa simpati yang mendalam kepada kaum dhuafa’ di sekitarnya. Artinya, agar ruhaninya senantiasa sehat. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).