
Dalam rangkaian ayat tentang puasa, terungkap dalam Surah Al-Baqarah, mulai dari ayat 183, 184, -dan 185, sampai ayat 187 terselip satu ayat, yaitu ayat 186, yang tidak berbicara tentang puasa. Akan tetapi, setelah itu pada ayat 187, Allah Swt. berbicara lagi tentang puasa. Seolah-olah ayat 186 ini “disisipkan” di antara ayat tentang puasa.
Allah Swt. berfirman, “Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran,” (QS. Al-Baqarah [2]: 186).
Menurut para ahli tafsir, ada lebih dari enam ribu ayat Al-Quran, akan tetapi hanya dalam ayat ini Allah Swt. menyebut diri-Nya sampai tujuh kali. Allah menyebut kata “Aku” di sini sampai tujuh kali. Pada saat yang sama, ayat ini menunjukkan Allah menyebut hamba-Nya juga tujuh kali. Mari kita lihat, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Jadi, Allah menyebut diri-Nya tujuh kali dan menyebut hamba-Nya tujuh kali juga. Untuk doa saja Allah menyebut tiga kali. Dakwah artinya doa atau seruan, atau panggilan. Berdoa artinya memanggil. Di sini, Tuhan menggambarkan doa sebagai panggilan dari seorang hamba kepada diri-Nya.
Dalam ayat tentang doa ini, karena merupakan hubungan antara Allah dengan hamba-Nya, maka Allah menyebut dirinya tujuh kali dan menyebut hamba-Nya juga tujuh kali. Dalam dialog ini, seakan-akan kita meletakkan diri kita dalam posisi yang sama dengan Allah Swt. Atau, dari kasih sayang-Nya yang luas, Allah merendahkan diri-Nya sampai pada posisi yang sama agar bisa berdialog dengan hamba-Nya. Dialog seperti ini terjadi dalam doa. Hal ini menunjukkan betapa dekatnya Allah dengan hamba-Nya itu.
Ayat ini juga menyebutkan, kalau doa kita ingin diijabah, mintalah dan berimanlah kepada-Nya. Doa hanya akan diijabah apabila kita beriman kepada Allah. Masih dalam ayat ini, disebutkan pula bahwa doa itu harus mengikuti prosedur atau tatacara yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya, “Agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Ada sebuah hadits dari Imam Ja’far Ash-Shâdiq tentang doa. Beliau bersabda, “Doa itu bisa menolak qadha, bisa menolak ketentuan Allah setelah ditetapkan seteguh-teguhnya. Maka, perbanyaklah oleh kamu berdoa, karena doa itu adalah kunci dari segala kasih sayang. Doa adalah keberuntungan untuk segala keperluan. Tidaklah diperoleh apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan doa. Tidak ada sebuah pintu yang sering diketuk, kecuali hampir-hampir pintu segera dibukakan kepada pengetuknya.”
Doa Mengubah Qadha
Menurut hadits ini, salah satu manfaat dari doa adalah mengubah ketentuan Allah Swt. Di antara ketentuan Allah, misalnya, adalah apabila kita bertengkar atau memutuskan silaturahmi, maka kita akan mendapatkan bencana. Bencana itu bisa kita tolak dengan doa, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang mempercepat datangnya bencana.”
Sudah menjadi ketentuan Allah juga bahwa orang yang sel-sel otaknya sulit mengalami perkembangan pada masa kecilnya, akan mengalami kesulitan belajar, apalagi kalau dengan situasi seperti itu diperparah dengan kekurangan gizi yang memadai. Besar kemungkinan, orang itu akan mengalami kesulitan dalam belajar, kecuali kalau ia berdoa. Sekali lagi, doa itu bisa mengubah qadha, bisa mengubah ketentuan Allah Swt.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, dikatakan bahwa rencana tidak dapat mengubah qadha, hanya doalah yang dapat mengubahnya. Jadi, andaikan kita sudah memiliki rencana yang bagus, akan tetapi jika Allah sudah menetapkan ketentuan yang buruk untuk kita, rencana itu tidak akan berpengaruh apa-apa, kecuali kalau kita berdoa.
Hal ini juga menentukan bahwa ternyata takdir kita itu adalah “hasil” interaksi antara kita dengan Allah Swt. Mungkin inilah “rahasia” mengapa dalam ayat tersebut Allah menyebut diri-Nya dan hamba-Nya sampai tujuh kali. Melalui doa pula dibentuklah aneka peristiwa di alam semesta ini.
Saya teringat kepada seorang kyai NU dari Madura. Biasanya, seluruh anak kyai itu menjadi kyai lagi. Satu saat seseorang menceritakan tentang kyai itu kepada saya. Kemudian, ia bertanya di mana dahulu saya nyantri, pesantren mana tempat saya belajar, dan siapa kyai yang saya ikuti. Saya tidak menjawab semua pertanyaan itu, karena saya tidak pernah masuk pesantren, dalam artian menuntut ilmu secara khusus di sana. Lalu, kyai itu mengangguk-angguk sambil berkata, “Kalau sekarang Anda bisa mengaji, pastilah karena doa ayah Anda dahulu.” Artinya, menurut ketentuan Allah, kalau tidak masuk pesantren tentu tidak bisa membaca kitab kuning. Itu sudah menjadi ketentuan yang berlaku umum. Kalau tidak mengikuti pelajaran bahasa Inggris, kita tidak akan bisa ngomong dalam bahasa Inggris. Masih kata kyai itu kepada saya, “Pastilah saya juga tidak bisa membaca kitab kuning kalau tidak masuk pesantren.” Kalau ternyata saya bisa membaca kitab kuning—katanya—pastilah itu karena doa. Beliau menuding ayah saya sebagai pembawa berkah dalam hidup saya karena doa-doanya.
Saya mengangguk karena merasa apa yang saya sampaikan benar adanya. Lalu, dia bercerita tentang seorang kyai Madura yang memiliki banyak anak. Semua anak-anaknya—baik yang laki-laki maupun yang perempuan—menjadi kyai lagi. Katanya, setiap selesai shalat, Pak Kyai itu selalu mendoakan anaknya satu per satu. Jadi, doa dialah yang kemudian mengubah qadha.
Dalam berdoa kita dilarang berputus asa. Kita pun dianjurkan untuk terus menerus berdoa. Bagaimana kalau ternyata doa kita tidak diijabah? Boleh jadi, kita sering menyaksikan bahwa setelah berdoa, qadha kita tidak berubah-ubah. Pernah seseorang bertanya kepada saya, “Pak Ustadz, saya ini sudah menjalankan puasa sebaik-baiknya, melakukan shalat malam, menjalankan cara-cara berdoa sebagaimana yang diajarkan Ustadz, tetapi sampai sekarang Allah belum juga memenuhi doa-doa saya. Mengapa doa saya tidak diijabah?”
Mengapa Doa Tidak Diijabah?
Menurut ayat di awal, setidaknya ada dua syarat supaya doa kita diijabah Allah Swt. Pertama, kita harus menunjukkan doa kita kepada Allah. Kedua, doa tersebut harus disertai dengan keimanan. Boleh jadi, saya berdoa kepada Allah, akan tetapi—kerena begitu inginnya khusyuk—kita malah memusyrikkan segala macam tawasul, sehingga doa kita tidak diijabah-Nya.
Mungkin saja kita sudah beriman kepada Allah, akan tetapi doa kita tetap tidak diijabah. Orang seperti ini pernah datang kepada Imam Ali. Saat itu, ia mengadu kepada Imam mengapa doanya tidak pernah diijabah. Lalu, Imam Ali menjawab, “Doa kamu tidak diijabah karena hati kamu itu berkhianat (melaku- kan pengkhianatan) dengan delapan macam pengkhianatan, Allah pun tidak mengijabah doa-doa kalian, karena kalian mengkhianati-Nya dengan delapan pengkhianatan.”
Dalam Al-Quran, ada ayat yang mengingatkan kita untuk tidak melakukan pengkhianatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hati yang mengandung bibit-bibit pengkhianatan akan menutup pintu-pintu ijabahnya doa. Hati itu bisa mengetuk Tuhan, akan tetapi pintu itu tidak akan terbuka.
“Sesungguhnya, hati kamu berkhianat dengan delapan hal (di sini hanya disebutkan dua saja). Yang pertama, kalian itu sudah mengenal Allah, sudah tahu tentang Allah, tetapi kalian tidak memenuhi hak-Nya atas kalian. Kalian tidak memenuhi kewajiban yang Allah bebankan kepada kalian. Maka, pengetahuan kalian tentang Allah itu tidak ada manfaatnya sama sekali. Yang kedua, sesungguhnya kalian mengaku beriman kepada Rasul-Nya, akan tetapi kalian menentang sunnahnya, kalian matikan syariatnya, maka di mana buah dari iman kalian itu?”
Jadi, pengkhianatan yang kedua adalah ketika kita menentang sunnah Rasulullah Saw. Saya ingin mengingatkan kembali bahwa yang disebut dengan sunnah adalah apa yang beliau ajarkan kepada kita, baik melalui ucapannya maupun melalui contoh perbuatannya, juga melalui ketentuan-ketentuannya walaupun beliau tidak melakukannya tetapi beliau mengajarkannya.
Nabi Saw. tidak selalu memberikan contoh untuk sunnah itu dengan melakukannya, seperti ketika beliau bersabda, “Carilah ilmu sampai ke negeri Cina.” Kalau sekarang ada orang yang belajar sampai ke Cina, kita jangan mengatakan bid’ah karena tidak ada contohnya dari Nabi Saw. dengan pergi ke Cina. Memang, beliau tidak mencontohkannya, akan tetapi beliau mengajarkannya lewat perkataan. Jadi, yang disebut sunnah tidak harus selalu dicontohkan sebelumnya oleh Nabi Saw.
Tahlilan itu pun tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. sepanjang yang saya ketahui, akan tetapi beliau pernah mengajarkan kepada kita untuk berzikir dalam jamaah agar kita ikut memasukkan ketenangan dan ketenteraman ke dalam hati orang-orang yang berzikir tersebut. Karena alasan itulah, kita ingin menenteramkan orang yang mendapat musibah dengan melakukan tahlilan.
Yang disebut bid’ah adalah setiap perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah Saw. Salah satu ajaran beliau yang mulia adalah mengisi Ramadhan dengan menyayangi anak-anak yatim, dengan membantu orang-orang miskin, menggembirakan orang-orang yang sedang menderita dan terkena musibah. Kalau kita mengisi Ramadhan dengan pesta, dalam bentuk berbuka puasa bersama dengan orang-orang yang kenyang perutnya, sebagaimana banyak dilakukan di Jakarta dan sekitarnya sekarang ini, itu bid’ah hukumnya. Kalau setiap hari saya memenuhi undangan buka puasa bersama, maka Ramadhan ini bukan lagi bulan puasa tetapi bulan pesta. Karena, rata-rata yang diundang dalam pesta itu umumnya orang-orang yang kenyang perutnya. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada pesta yang paling dibenci Allah, tidak ada pesta yang mengundang laknat Allah, kecuali pesta yang hanya mengundang orang-orang yang kenyang perutnya dan membiarkan orang-orang yang lapar.”
Jadi sekarang, kalau saya diundang makan bersama, saya suka bertanya dulu, apakah ada orang-orang miskin atau anak yatim piatu yang dihadirkan dalam buka puasa tersebut. Memang, kita ini semua lapar, akan tetapi lapar kita itu karena berpuasa. Yang dibutuhkan untuk hadir adalah adalah orang yang laparnya abadi, dalam arti laparnya tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, tetapi pada sebelas bulan lainnya. Nah, untuk mengikuti sunnah Rasulullah Saw. kita harus mulai mendekati kaum fukara dan masâkin, terlebih pada bulan Ramadhan. Insya Allah, dengan mengikuti sunnah-sunnah beliau tersebut, doa kita akan cepat diijabah. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).