
Pada suatu hari, seorang kiai muda dari Pesantren Lirboyo datang menemui saya dengan membawa sebuah buku tebal yang berisi renungan-renungan sufistik. Kiai itu tak pernah menempuh pendidikan formal, ia hanya masuk pesantren.
Buku yang dibawanya diketik sendiri melalui mesin tik yang tampaknya dibuat di Jerman sebelum Perang Dunia II. Setelah berbincang dengannya, saya menyadari bahwa kiai ini luar biasa. Ia banyak menggunakan istilah-istilah, bukan saja dalam bahasa Arab, tetapi juga dalam bahasa Inggris modern.
Saya tertarik untuk mengetahui di mana dan bagaimana ia belajar. Ia bercerita bahwa ia pernah belajar kepada salah seorang ulama, yang di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dianggap sebagai seorang sufi. Ketika ia berguru pada ulama itu, ia selalu diberi tugas untuk memandikan kuda pak kiai. Ia melakukannya dengan penuh gembira karena ia pernah mendengar cerita tentang seorang santri yang juga diperintahkan untuk mencuci kuda Syaikh Khalil di Bangkalan. Santri yang suka memandikan kuda itu lalu menjadi ulama besar dan mendirikan Nahdlatul Ulama. Namanya KH. Hasyim Asy’ari.
Cerita-cerita itu menunjukkan kepada kita bahwa mereka yang lebih banyak berkhidmat kepada kiainya daripada belajar, ternyata memperoleh ilmu yang luar biasa dan pengetahuan yang sangat tinggi. Hal ini juga mengingatkan saya kepada salah seorang kiai di Purwakarta yang mengaku bahwa ketika ia nyantri, ia jarang menghafal kitab. Ia sering tidak hadir karena selalu dipanggil untuk memijat kiainya. Setelah ia keluar dari pesantren, ia malah berhasil mendirikan pesantrennya sendiri.
Para santri di atas mendapatkan pelajaran pertama mereka dalam Islam, yaitu khidmat. Perkhidmatan tidak bisa diajarkan melalui lisan, tapi harus dengan praktik. Bila kita belajar tasawuf kepada para sufi zaman dahulu, pelajaran pertama yang kita dapatkan bukanlah dengan duduk di kursi dan memegang kertas, tetapi dengan membersihkan lantai dan toilet.
Kita terbiasa untuk menggerakkan telunjuk kita pada setiap orang dengan sejumlah perintah tertentu. Kita sering menggunakan telunjuk kita untuk menyuruh orang berkhidmat kepada kita, bukan untuk berkhidmat kepada mereka. Kita terbiasa dikhidmati. Oleh karena itu, semestinya kita belajar tentang khidmat langsung di dalam praktiknya.
Perkhidmatan dalam Al-Quran. Di dalam Al-Quran, khidmat seringkali disebut dengan istilah jihad dan dilakukan dengan dua hal: bi amwalikum wa anfusikum, dengan harta dan jiwa kita. Di dalam konteks ini, Al-Quran selalu menyebutkan kata amwalikum (hartamu) sebelum anfusikum (jiwamu). Al-Quran mengajarkan kita untuk berkhidmat dengan harta sebelum dengan jiwa. Banyak di antara kita yang sering rela mengorbankan nyawa, tetapi tidak rela mengorbankan hartanya. Manusia sering mengorbankan kesehatannya, tubuhnya, bahkan jiwanya demi harta.
Oleh karena itu, perkhidmatan dengan harta di dalam Islam lebih didahulukan daripada perkhidmatan dengan jiwa. Contoh perkhidmatan dengan harta yang merupakan salah satu rukun Islam adalah mengeluarkan zakat. Ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan karakteristik orang takwa selalu menyebut perihal zakat atau infak di jalan Allah sebagai salah satu cirinya. Surat Al-Baqarah ayat 2-4 menyebutkan ciri-ciri orang takwa sebagai orang yang mengimani yang gaib, menegakkan salat, mengeluarkan infak, dan mengimani kitab-kitab terdahulu.
Kemudian dalam surat Ali Imran ayat 133-135, Allah berfirman: Bersegeralah kamu kepada ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang takwa, yaitu mereka yang menginfakkan hartanya, baik dalam suka dan duka; yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Sesungguhnya Tuhan mencintai orang-orang yang berbuat baik. Dan orang-orang yang apabila berbuat keji dan menganiaya diri sendiri, mereka cepat ingat kepada Allah dan memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Kemudian mereka tidak mengulangi perbuatan dosanya itu padahal mereka mengetahuinya.
Tanda-tanda orang takwa juga disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 177: Bukanlah kebajikan itu kamu menghadap ke Timur dan ke Barat, tetapi yang disebut kebajikan itu ialah kamu beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada karib kerabat yang dekat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil, peminta-minta, dan yang memerdekakan hamba sahaya dan mengerjakan salat, mengeluarkan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila mereka berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan dan penderitaan, dan orang-orang yang tabah di dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang takwa.
Surat Ali Imran ayat 92 menyebutkan infak akan sesuatu yang dicintai sebagai syarat untuk mencapai kebajikan. Ayat tersebut berbunyi: Kamu belum berbuat kebajikan sebelum kamu menginfakkan apa yang kamu cintai. Kemudian dalam surat Al-Dzariyat ayat 15-19, Tuhan berfirman: Sesungguhnya orang-orang takwa itu akan ditempatkan di surga yang mempunyai mata air-mata air. Mereka mengambil apa yang mereka kehendaki yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Inilah orang-orang yang dahulunya suka berbuat baik; pada malam hari mereka sedikit mempergunakan waktunya untuk berbaring dan kalau telah sampai waktu sahur mereka merintih membaca istighfar; dan yang dalam hartanya ada hak bagi orang miskin yang berkekurangan.
Dari ayat-ayat di atas, kita lihat bahwa menginfakkan harta selalu disebut sebagai ciri orang takwa. Sementara mengerjakan salat sebagai karakteristik orang takwa tidak selalu disebutkan dalam ayat-ayat itu.
Ketika turun ayat: Kamu belum berbuat baik sebelum kamu menginfakkan apa yang kamu cintai (QS. Ali Imran: 92), seorang sahabat Nabi bernama Thalhah menjadi amat gelisah. Ia sibuk memikirkan hartanya yang paling ia cintai. Ia ingat bahwa ia amat menyukai kebun miliknya yang terletak di samping masjid Nabi. Ia sering melihat Nabi berbaring di kebun itu sebelum pergi ke masjid. Ia kemudian datang menemui Nabi dan berkata, “Ya Rasulallah, tak ada harga yang paling saya cintai selain kebun di samping masjid ini. Sekarang saya infakkan kebun ini di jalan Allah setelah saya mendengar ayat 92 surat Ali Imran.”
Setelah mendengar ayat itu, sebaiknyakita juga sudah dapat memikirkan harta apa yang paling kita cintai. Setelah itu, kita harus menginfakkan harta yang paling kita cintai itu. Karena bila kita tidak melakukannya, kita belum mencapai kebajikan.
Surat Muhammad ayat 36-37 berbunyi: “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu supaya memberikan semuanya, niscaya kamu akan kikir dan Dia akan mengeluarkan kedengkianmu.”
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, berkenaan dengan ayat ini disebutkan: “Sesungguhnya Allah Swt tahu bahwa kalau kau mengeluarkan rezekimu, pada saat yang sama kau mengeluarkan penyakit-penyakit batinmu, di antaranya kedengkian, iri hati, egoisme, dan mementingkan diri sendiri. Dengan kebiasaan mengeluarkan harta, akan keluar juga kedengkianmu.” Para psikoterapis mengetahui ada banyak sekali gangguan jiwa, seperti kegelisahan, keresahan, dan stres yang berkepanjangan, yang bermula dari perbuatan kita yang selalu mementingkan diri kita sendiri; menghendaki orang lain berperilaku seperti yang kita kehendaki dan menginginkan dunia berjalan seperti yang kita atur. Kita menjadi sangat menderita bila sesuatu yang kita inginkan itu tidak terjadi. Yang selalu kita pikirkan adalah keinginan-keinginan ego kita.
Untuk menghilangkan ego, kita harus melakukan latihan-latihan. Di antara latihan itu adalah mengeluarkan harta. Harta adalah sesuatu yang selalu kita inginkan. Kita hanya bisa belajar untuk menaklukkan keinginan-keinginan kita dengan mengeluarkan harta yang kita cintai.
Dalam surat Al-Taubah ayat 102, Tuhan memerintahkan Nabi saw: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Rasulullah saw pernah bercerita tentang orang-orang yang telah mencapai derajat yang tinggi. Sekiranya salah seorang di antara mereka mati, Tuhan akan menggantikannya dengan orang yang sama seperti mereka. Menurut Rasulullah saw, karena orang-orang inilah Allah menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, menghidupkan dan mematikan, serta membuat sehat dan sakit. Kalau mereka datang di satu tempat, Allah akan selamatkan tempat itu dari tujuh puluh bencana.
Setelah itu, Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian bagaimana mereka mencapai derajat yang setinggi itu? Mereka mencapainya bukan karena banyaknya salat dan haji; mereka mencapai derajat itu karena dua hal. Pertama, al-sakhâwah (kedermawanan) dan kedua, al-nasîhatul lil muslimîn (hatinya bersih dan tulus terhadap sesama muslim).” Dua hal inilah yang mengantarkan orang kepada tingkat yang lebih tinggi.
Kedermawanan dan kebersihan hati memang memiliki keterkaitan. Kalau orang sudah dermawan, insya Allah, hatinya pun bersih. Seperti disebutkan dalam surat Muhammad ayat 36-37 di atas, bila kita mengeluarkan harta kita, Tuhan juga akan menghilangkan penyakit-penyakit hati kita. Kebakhilan merupakan ungkapan egoisme. Orang yang bakhil adalah orang yang tidak mau berbagi dengan orang lain dan ingin memiliki sesuatu hal hanya untuk dirinya sendiri.
Sebuah cerita klasik dari Cina mengisahkan tentang delapan manusia biasa yang kemudian diangkat menjadi dewa. Mereka menjadi dewa karena perkhidmatan mereka yang luar biasa kepada sesama manusia. Salah seorang di antaranya menjadi dewa karena ia berkhidmat kepada orang lain meskipun hatinya terus menerus disakiti. Sementara seorang yang lain diangkat menjadi dewa karena perkhidmatannya kepada orang tua dengan melwati berbagai macam ujian dan halangan.
Hadis Tentang Perkhidmatan. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman,“ Semua makhluk adalah keluargaKu. Dan di antara makhlukmakhluk itu yang paling Aku cintai adalah mereka yang paling santun dan sayang terhadap hamba-hamba-Ku yang lain, serta senang memenuhi keperluan mereka.” Dalam hadis ini disebutkan bahwa manusia yang paling Allah cintai adalah manusia yang paling banyak berkhidmat kepada sesama manusia.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda,“Semua makhluk adalah anggota keluarga Allah. Dan makhluk yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling berguna bagi seluruh anggota keluarga-Nya dan sering memasukkan rasa bahagia kepada mereka.”
Hadis lain menyebutkan Nabi SAW mengatakan jika seseorang tersenyum ketika berjumpa dengan saudaranya yang lain, Allah akan menghitung senyumnya itu sebagai kebaikan. Kalau seseorang menyingkirkan rasa sedih dari hati saudaranya yang lain, tindakan itu juga Allah hitung sebagai kebaikan. Dan tidaklah Allah disembah dengan cara yang lebih dicintai-Nya seperti memasukkan rasa bahagia kepada hati orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Memenuhi keperluan seorang mukmin lebih Allah cintai daripada melakukan dua puluh kali haji dan pada setiap hajinya menginfakkan ratusan ribu dirham atau dinar.”
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menyebutkan, “Jika seorang Muslim berjalan memenuhi keperluan sesama Muslim, itu lebih baik baginya daripada melakukan tujuh puluh kali thawaf di Baitullah.”
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW berkata,“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba. Di antara hamba-hamba itu, ada sebagian manusia yang Allah ciptakan untuk melayani keperluan manusia yang lain. Kepadanya manusia berlindung untuk memenuhi keperluannya. Mereka itulah yang akan memperoleh kedamaian pada hari kiamat nanti.”
Nabi juga bersabda, “Ada orang-orang yang Allah berikan harta kepada mereka supaya mereka membagikan harta tersebut kepada hamba-hamba Allah yang lain. Dan kalau mereka tidak membagikannya, Allah akan ambil harta itu dan dipindahkan kepada orang lain yang bisa membagikan hartanya kepada sesama manusia.”
Hadis-hadis itu mengingatkan saya kepada teman saya, seorang ustad di Bandung. Orangnya sederhana dan pekerjaannya berjualan tembakau di pinggir jalan. Ia mengajarkan kepada saya sebuah doa yang sederhana, tetapi bagi saya luar biasa.
Doa itu berbunyi: “Ya Allah, buatlah aku lelah dalam membagi-bagikan harta-Mu, bukan lelah karena mencari harta-Mu.”
Nabi Muhammad SAW menyebut setiap perkhidmatan kita kepada orang lain sebagai sedekah. Nabi juga menyebutkan apabila seseorang tersenyum melihat wajah saudaranya untuk membahagiakan hatinya, ia telah bersedekah. Menyingkirkan duri di tengah jalan dan memenuhi keperluan orang yang kesusahan dihitung sebagai sedekah. Demikian pula dengan mengambil air yang diperuntukkan bagi orang lain. Segala bentuk perkhidmatan kita kepada sesama manusia dihitung Tuhan sebagai sedekah. Inilah cara yang lebih bisa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
Sebuah cerita sufi mengisahkan kejadian pada zaman Nabi Musa a.s. Waktu itu, Bani Israil mengundang Tuhan makan malam. Undangan itu disampaikan Nabi Musa kepada Tuhan, dan Tuhan menyanggupinya. Bani Israil pun mempersiapkan pesta dan memasak hidangan untuk menjamu Tuhan. Seorang miskin dari jauh mencium bau makanan dan ia datang menghampiri sumber bau itu. Dalam ke adaan lapar, ia meminta sedikit makanan kepada para juru masak. Juru masak menolaknya karena mereka sibuk mempersiapkan makanan untuk Tuhan. Tibalah waktu makan malam. Namun, setelah lama mereka menunggu, ternyata Tuhan tidak juga datang. Esoknya, dengan perasaan kesal, Nabi Musa a.s. mengadu kepada Tuhan, mempertanyakan mengapa Tuhan tidak datang. Tuhan menjawab, “Aku akan datang sekiranya engkau berikan makanan pada orang miskin itu. Dengan memberikan makanan kepadanya, se benarnya engkau sudah memberikan makanan kepada-Ku.”
Cerita tersebut sebenarnya sesuai dengan sebuah hadis qudsi berikut ini: Pada hari kiamat nanti, Allah akan berkata kepada hamba-hambanya, “Hai hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar, engkau tidak memberi makan pada-Ku. Dahulu Aku sakit, engkau tidak menjenguk-Ku. Dahulu Aku telanjang, engkau tidak memberi pakaian pada-Ku.” Kemudian hamba-hamba-Nya bertanya “Tuhan, bagaimana mungkin aku melakukan itu semua, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam?” Allah menjawab,”Dahulu ada hamba-Ku yang sakit, sekiranya kau jenguk dia, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, sekiranya kau beri makanan pada dia, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-Ku yang telanjang, sekiranya kau berikan pakaian kepadanya, engkau akan temukan Aku di situ.”
Ibnu Arabi menjadikan hal ini sebagai pembahasan yang lengkap sebanyak satu jilid dalam kitabnya, “Al-Futuhat Al-Makkiyyah”. Dalam pembahasan tentang penampakan Tuhan di bumi, ia menyebutkan bahwa kita bisa menemukan Tuhan melalui perkhidmatan kepada sesama hamba-Nya. Kita adalah hamba-hamba Allah dan kita adalah anggota keluarga Allah. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).