Kami Tidak Perlu Bantuanmu

Nabi Muhammad Saw. diriwayatkan pernah berkata, “Serahkan suatu masa ketika engkau berkeliling menawarkan sedekahmu. Orang-orang miskin akan menolaknya seraya berkata, ‘Hari ini kami tidak perlu bantuanmu. Yang kami perlukan darahmu”’.

Endang Saefuddin Anshari pernah menerjemahkan hadis ini secara puitis. Bersama sajak-sajak Rendra dan lagu-lagu Iwan Fals, puisi Endang ini layak dibaca. Semuanya mengungkapkan hal yang sama: Kini sudah sangat mendesak bagi kita untuk menggalakkan solidaritas sosial. Keterlambatan kita akan berakibat fatal. Tidakkah kita menangkap pandangan tajam dari mata orang-orang yang frustrasi ̶ karena tidak mendapat pekerjaan, kehilangan usaha kecil akibat tergilas persaingan yang ganas, tidak diterima di lembaga-lembaga pendidikan, atau harus merelakan rumah dan tanahnya tergusur proses pembangunan?

Kemiskinan tidak dengan sendirinya menimbulkan keresahan. Kemiskinan meresahkan bila secara kontras berhadapan dengan kemewahan. Bila semua orang makan singkong, Anda tidak resah. Bila Anda makan gaplek, sedangkan kawan Anda secara mencolok makan hamburger di depan Anda, maka Anda tidak normal kalau Anda tidak resah. Seorang dosen pernah mengeluh. Setelah belajar keras di luar negeri dan mengabdi di almamaternya selama bertahun-tahun, dia hanya mendapat gaji Rp 350.000 sebulan. Adiknya tidak secerdas dia, tetapi berhasil menjadi pilot, dibayar tujuh juta rupiah, dua puluh kali gajinya. Ada sarjana yang bertahun-tahun menganggur, sementara di sampingnya ada orang-orang yang memegang puluhan jabatan sekaligus.

Para ilmuwan sosial menyebut situasi seperti disebutkan tadi sebagai deprivasi (deprivation). Deprivasi selalu menimbulkan keresahan sosial (social unrest), yang pada gilirannya menimbulkan disintegrasi sosial. Daniel Lerner sering dianggap sebagai kampiun modernisasi. Lerner membayangkan peran media massa yang membimbing masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Teknologi modern mengubah desa menjadi kota dan kemiskinan menjadi kemakmuran. Sepuluh tahun kemudian, sejak menulis buku itu, dia merevisi teorinya. “Media massa,” kata Lerner, “telah meningkatkan ekspektasi orang-orang miskin.” Lewat media, orang-orang miskin menyaksikan kehidupan yang memesonakan mereka. Mereka ingin meniru kehidupan seperti itu. Pemerintah tidak berhasil memenuhi ekspektasi ini. Akibatnya, mereka frustrasi. Ketika frustrasi merata, pemerintah negara Dunia Ketiga diancam ketidakstabilan. Untuk menjamin stabilitas, diperlukan kekuasaan militer. Secara singkat, menurut Lerner, pembangunan tidak berjalan semulus seperti yang dia duga.

Tentu saja, banyak orang mengkritik teori Lerner. Dia sebetulnya hanya mengingatkan kita bahwa menonton kemakmuran saja ̶ lewat media atau secara langsung ̶ menimbulkan deprivasi. Deprivasi tentu saja bukan kesalahan pemerintah, bukan masalah kelemahan strategi pembangunan. Deprivasi adalah masalah persepsi. Orang merasa tidak diberi peluang yang sama. Mereka melihat orang-orang beruntung sebagai raksasa yang setiap saat akan memakan mereka. Mereka seakan-akan mendengar orang-orang sukses berteriak di depan mereka seperti dilukiskan Iwan Fals dalam nyanyiannya, Bento: Wajahku ganteng/banyak simpanan / sekali lirik oke sajalah/bisnisku menjagal/jagal apa saja / yang penting aku senang aku menang / persetan orang susah karena aku / yang penting asyik / sekali lagi asyik.

Karena itu, Anda boleh mengejar sukses dalam bisnis Anda. Anda boleh menjadi konglomerat, tetapi Anda harus memperhatikan persepsi orang tentang Anda. Deprivasi tidak akan muncul bila orang lemah melihat orang kuat sebagai pelindung; bila mereka melihat kekayaan Anda sebagai aset mereka juga; bila mereka melihat seluruh struktur masyarakat sebagai keluarga besar yang saling mengukuhkan. Salah satu karakteristik menonjol dari manajemen Jepang adalah memperlakukan korporasi sebagai keluarga besar. Salah satu sebab yang memungkinkan Taiwan muncul sebagai negara industri baru di Asia ialah kebijakan yang mengharuskan proses manufakturing dilakukan sebagai kerja sama antara perusahaan besar dan perusahaan kecil.

Akan tetapi, kerja sama di antara pihak-pihak yang tidak seimbang tentu bukan kerja sama, kata sebagian kritisi. Itu namanya eksploitasi. Pandangan ini benar bila kerja sama itu tidak dilandasi oleh pandangan bahwa kehadiran pihak yang lemah itu menguntungkan. Dalam jangka lama, mengeksploitasi pihak yang lemah itu akan melemahkan pelaku eksploitasi juga. Menguntungkan yang-lemah akan meneguhkan yang-kuat.

Pandangan bahwa membantu yang—lemah sebenarnya meneguhkan yang—kuat, itu kita sebut sebagai solidaritas. Bantuan yang kita berikan sebetulnya bukan anugerah, tetapi harga yang harus kita bayar demi kerja sama yang saling menguntungkan.

Pada kehidupan sosial yang makro, uluran tangan pihak yang beruntung dalam menolong yang tidak beruntung akan memperkukuh integritas sosial. Sebaliknya, acuh tak acuh atas penderitaan orang lain akan berbalik menjadi bumerang. Seperti kata Nabi Muhammad, suatu saat orang tidak lagi mau menerima bantuan kita; mereka meminta darah kita.

Ibarat kurban, mengungkapkan kesediaan orang kaya untuk memakan daging yang sama dengan fakir miskin adalah lambang solidaritas. Solidaritas memang berpangkal pada mentalitas, pada persepsi bahwa membantu yang  lemah sebenarnya memperkuat diri kita sendiri. Kalau begitu, pertanyaan kita yang paling mendasar ialah apakah kesadaran seperti itu sudah kita miliki? JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *