
Hasad atau dengki memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar. (Mizan Al-Hikmah 180)
Jauhilah olehmu hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar. (Kanzul ‘Ummal, hadis no. 39)
Janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu memutuskan persaudaraan, janganlah saling membenci, jangan saling menjauhi, jadilah kamu semua hamba Allah yang bersaudara.
(HR Bukhari dan Muslim, Ihya’ ‘Ulumuddin)
Untuk memahami hadis-hadis itu, saya kira ada baiknya saya berikan sebagian definisi hasad. Imam Al-Ghazali mengatakan: “Hasad ialah bila engkau melihat nikmat orang lain kemudian engkau membenci nikmat yang diperoleh orang lain itu, dan setelah itu engkau menginginkan nikmat itu menghilang dari orang tersebut.”
Jadi, manakala engkau melihat nikmat pada orang lain, misalnya, ilmu, kekayaan, kehormatan di tengah masyarakat atau kedudukan. Kemudian kau benci nikmat itu pada orang lain, dan berusaha atau ingin sekali nikmat itu hilang darinya. Itu namanya hasad.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Turmudzi, dari Zubayr, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Akan datang kepada kalian penyakit umat sebelum kalian, yaitu rasa dengki dan benci. Sesungguhnya dengki itu menggunduli― maksudnya bukan menggunduli rambut―agama. Demi Yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah kamu masuk surga sebelum kamu beriman; dan tidaklah kamu masuk surga sebelum kami saling mencinta” (hadis no. 3.940).
Rusaknya agama itu karena hasud, dengki, dan kesombongan (hadis no. 3.939).
Iblis pernah berkata kepada bala tentaranya, “Sebarkanlah di antara mereka hasud dan kezaliman, karena kedua dosanya menandingi kemusyrikan.”
Janganlah sebagian kamu dengki kepada sebagian yang lain karena kekufuran berasal dari kedengkian.
Riwayat ini agak panjang, di sini hanya dikutip sebagian. Dahulu Iblis kufur kepada Allah sampai dia tidak mau bersujud kepada Adam a.s. karena kedengkiannya.
Jadi yang menyebabkan Iblis menjadi kafir adalah perasaan dengkinya. Sampai ada riwayat lain yang mengatakan bahwa dosa pertama yang ada di langit adalah al-hasad, yaitu ketika Qabil membunuh Habil karena rasa hasad-nya. Sebab kurban Habil diterima dan kurban Qabil tidak, sehingga Qabil membunuh Habil. Dan kalau sifat hasad itu diderita oleh ulama, maka ulama itu masuk ke neraka tanpa hisab.
Imam Al-Ghazali mengatakan bahwasanya hasad ada dua macam. Pertama, jika engkau melihat nikmat pada orang lain, kemudian engkau membencinya dan ingin menghilangkan nikmat itu pada orang tersebut. Kedua, engkau melihat nikmat orang lain itu, dan tidak menginginkan nikmat itu hilang, juga tidak membenci orang tersebut yang memiliki nikmat seperti itu. Hanya saja engkau berharap agar engkau memperoleh nikmat yang sama seperti dia.
Misalnya, kita melihat tetangga kita membeli televisi baru. Kita tidak ingin agar orang itu kehilangan televisinya. Kita tidak ingin juga membenci dia karena dia punya televisi, tetapi kita ingin menandingi dia untuk sama-sama punya televisi.
Definisi yang kedua sering kali dikacaukan dengan definisi yang pertama, yang disebut hasad. Al-Ghazali mengatakan bahwa sebaiknya untuk definisi kedua itu disebut dengan ghibthah atau munafasah. Kemudian Al-Ghazali mengatakan bahwa yang pertama sudah pasti haram, sedangkan yang kedua, yang disebut dengan ghibthah atau persaingan, ada yang haram, ada pula yang hukumnya sunnah. Ada yang mubah, bahkan ada pula yang hukumnya wajib. Ia mengatakan, “Kalau orang lain sangat taat beribadah, kita boleh iri ̶ dengan pengertian yang kedua ̶ kepadanya. Tidak benci kepada orang itu dan tidak menginginkan agar orang itu tidak menjadi ahli ibadah. Akan tetapi kita menginginkan diri kita sendiri menjadi seperti dia. Itu namanya munafasah.
Dalam Al-Quran, kita diperintahkan untuk bersikap seperti itu, sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt.:
Dan hendaknya kamu bersaing untuk memperoleh ampunan Tuhanmu…. (QS 3: 133)
Iri hati dalam hal seperti itu diperbolehkan. Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw. yang mulia bersabda: “Tidak boleh hasud kecuali dalam dua hal. Yaitu kalau ada orang mempunyai harta kemudian ia nafkahkan hartanya di jalan Allah. Dia peroleh harta itu dengan cara yang halal juga.”
Iri terhadap orang seperti itu boleh, tetapi bukan dalam pengertian yang pertama, namun dalam pengertian yang kedua ̶ yaitu ghibthah atau munafasah.
Anda jangan terkecoh pada pernyataan hadis tersebut, yang membolehkan iri hati seperti itu; kemudian Anda salah mengerti kemudian hadis itu dipakai untuk membenarkan perasaan Anda kepada orang-orang kaya, kepada orang-orang yang berilmu: Karena hasad yang dimaksudkan oleh Rasulullah yang mulia dalam hadis itu bukan hasad yang sebenarnya, tetapi hasad dalam pengertian ghibthah.
Sering kali kalau kita menemukan hadis yang kira-kira dapat membenarkan tindakan kita, maka hadis itu kemudian kita jadikan dalil pembenar buat tindakan kita. Misalnya kita tidak boleh melakukan ghibah, tidak boleh membicarakan orang lain, tapi ada juga hadis yang membolehkan kita melakukan ghibah dalam hal tertentu. Kita mesti memerhatikan betul hadis itu sehingga kita tidak terkecoh.
Hasad adalah penyakit hati yang sangat besar bahayanya. Pertama, bahaya yang menggerogoti fisik manusia, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Orang hasud itu adalah orang yang terus-menerus sakit, meskipun tubuhnya kelihatan sehat.”
Oleh karena itu, orang yang iri hati terhadap nikmat orang lain sering kali tersiksa oleh perbuatannya sendiri. Ia menderita terus-menerus, padahal orang yang dia hasudi selalu merasakan kebahagiaan. Semakin bahagia orang yang dia hasudi, maka dirinya semakin menderita. Memang begitulah kemalangan orang yang berbuat hasud. Ia menyiksa dirinya sendiri. Dale Carnegie mengatakan, “Demi kesehatan Anda sendiri, lupakan saja mereka itu. Jangan pikirkan kenikmatan orang lain, tapi pikirkanlah kenikmatan dirimu sendiri. Jika tidak, Anda akan terus-menerus tersiksa dan luka itu sukar disembuhkan.”
Walhasil, sehatnya tubuh adalah karena sedikitnya rasa hasud yang menempel pada diri kita. Hal ini dibenarkan oleh dunia kedokteran modern. Selain itu, kondisi seperti itu merupakan penyebab timbulnya penyakit kanker. Jadi, bila Anda memendam iri hati terhadap orang lain, sebenarnya Anda telah memelihara suatu penyakit, dan penyakit itu sukar disembuhkan. Dan yang bisa menyembuhkan hanyalah diri Anda sendiri.
Ada seorang ulama yang mengatakan, “Hasad itu kalau terlalu lama kita simpan di dalam hati, dia akan berkembang, bercabang dan tumbuh subur, serta sukar dihilangkan, karena akar-akarnya sudah merambah ke seluruh tubuh. Oleh karena itu hilangkanlah sifat hasad itu ketika Anda masih muda. Kalau sampai tua ternyata Anda masih menyimpan sifat hasad itu, maka ia amat sulit untuk dihilangkan, karena hasad telah tumbuh subur berkat siraman yang dilakukan sewaktu Anda masih muda.”
Ulama tersebut kemudian menyebutkan sebuah definisi hasad yang menurut saya lebih sempurna dibanding definisi yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali, “Hasud ialah membenci nikmat pada orang lain baik nikmat itu nikmat yang sebenarnya maupun nikmat yang hanya ada menurut persepsi kita.”
Bisa saja kita menduga bahwa orang lain punya nikmat, misalnya mempunyai istri yang cantik menurut pandangan kita, lalu kita iri hati kepadanya. Kemudian kita berharap agar istrinya cepat mati. Padahal sebetulnya istrinya tidak cantik. Kecantikan itu hanya menurut persepsi kita. Atau kita iri hati kepada orang yang kita anggap mempunyai ilmu yang banyak, padahal sebetulnya orang itu tidak ada ilmunya. Akan tetapi karena kita yang bodoh, maka kita menduga bahwa orang itu memiliki ilmu yang amat banyak. Sering kali kita mendengki sesuatu yang hanya ada menurut persepsi kita, walaupun sebenarnya hal itu tidak ada sama sekali.
Bahaya lain yang timbul akibat rasa hasad ini, seperti yang disebutkan dalam hadis, ialah memakan amal kebaikan, amal saleh kita, dan merusak agama kita. Shalat, haji, amal-amal saleh kita yang lain akan dimakan oleh sifat hasad itu, seperti api yang memakan kayu bakar. Pada akhirnya merugi betul orang-orang yang hasud itu. Bukankah ada sebuah hadis yang menyebutkan bahwa di Hari Kiamat nanti ada orang yang ditimbang seluruh amal baiknya. Kemudian datang orang mengadu yang mengatakan bahwa orang ini pernah dengki kepada saya, dan dia harus membayar kedengkiannya itu. Sampai setelah seluruh amal salehnya habis, orang yang mengadu masih juga banyak dan tidak ada lagi yang bisa dia bayarkan. Akhirnya kejelekan orang yang mengadu itu dipindahkan kepada timbangan orang yang melakukan hasad.
Itulah kerugian yang paling besar, kata Rasulullah Saw. Itulah orang yang bangkrut di Hari Kiamat. Salah satu hal yang membuatnya bangkrut ialah perasaan dengki, perasaan iri hati karena orang lain ia rasakan lebih baik dari dirinya, atau memperoleh nikmat yang tidak dia miliki. Dan pada gilirannya, orang yang hasad ini akan memandang bahwa Allah Swt. tidak adil.
Memang, orang yang hasud itu tidak bisa melihat keadilan Ilahi. Ketika orang lain mendapatkan nikmat, ia menganggap bahwa Allah Swt. tidak adil. Walaupun dia tidak menyebutkan hal itu, tetapi karena sifat hasudnya, dia berpikir mengapa orang lain bisa begitu dan saya tidak. Dia sebetulnya sedang mempersoalkan keadilan llahi, padahal salah satu ajaran Al-Quran menganjurkan kita agar ridha terhadap pembagian yang dilakukan oleh Allah Swt. Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Ridhalah kamu pada pembagian yang diberikan oleh Allah kepadamu niscaya kamu akan menjadi orang yang paling kaya.”
Orang yang hasud tidak pernah ridha dengan pemberian sebesar apa pun. Karena itu kedengkiannya akan merusak bahkan menghancurkan imannya.
Itulah bahaya sifat hasud. Selain merusak tubuh pelakunya, ia juga merusak imannya. Ada sebuah syair yang mengatakan:
Aku heran melihat orang-orang
yang meraung-raung karena musibah
yang menimpa dirinya.
Tetapi dia tidak menangis sedikit pun
ketika musibah itu terjadi
pada agamanya.
Orang yang hasud itu tidak meraung-raung
pada musibah yang menimpa tubuhnya
maupun agamanya,
padahal hasud yang ia lakukan
memakan keduanya.
Oleh karena itu akan amat berbahaya bila sifat hasud ini kita pelihara dalam hati kita. Ada bermacam-macam sebab dan ada pula bermacam-macam obat untuk menawarkan sifat hasud itu. Di antaranya. Pertama, Anda harus mencintai dar menyayangi orang yang Anda hasudi itu. Dengan menunjuk kan rasa sayang Anda, berarti Anda telah berusaha menyembuhkan penyakit pada diri Anda. Kedua, usahakan untuk menghormati dia dan paksakan diri Anda untuk menyebarkan kebaikannya. Biasanya orang yang iri hati itu selalu memfitnah orang yang ia dengki dan menyebarkan kejelekannya, baik kejelekan yang sebenarnya maupun kejelekan yang ada menurut persepsinya. Akan tetapi upaya seperti ini akan sangat sulit kalau kita sudah tua. Dan akan mudah dilakukan manakala kita masih muda. Ketiga, yakinkanlah diri Anda, ingatkan selalu diri Anda bahwa orang yang Anda dengki itu adalah makhluk Allah dan dia berhak untuk memperoleh rahmat dan anugerah-Nya, sama seperti Anda memperoleh anugerah dan karunia-Nya. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).