
Tidak mungkin orang dapat mengerjakan pekerjaan dengan baik bila ia tidak memiliki ilmunya. Sebagaimana Islam mengecam ilmu tanpa amal, Islam juga melarang beramal tanpa ilmu. Di antara wasiat Nabi Saw. kepada Ibn Mas’ud, “Hai Ibn Mas’ud, jika kamu melakukan pekerjaan, lakukanlah dengan ilmu dan akal. Jauhilah pekerjaan yang kamu lakukan tanpa pengaturan dan pengetahuan, karena Allah Swt. berfirman: Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali (Makarim Al-Akhlaq).
“Pengaturan” dalam hadis itu disebut tadbir. Mungkin terjemahan yang paling tepat sekarang adalah manajemen. Amal saleh-menurut Sunnah-harus dilakukan dengan manajemen yang baik. ‘Ali bin Abi Thalib a.s. menyimpulkannya dengan kalimat pendek: Man så’a tadbiruh, ta’ajjala tadmiruh (siapa yang jelek pengaturannya, akan cepat kehancurannya). Ketika Nabi Saw. hijrah, ia melakukan perencanaan yang baik. Abu Bakar disuruh mencari kendaraan. “Ali diperintahkan berbaring di ranjang Nabi. Asma binti Abu Bakar ditugaskan mengantarkan makanan ke gua di malam hari. Ada juga pemuda yang tugasnya menjadi pencari informasi untuk mengawasi gerak-gerik kaum Quraisy. Nabi Saw. juga pemimpin militer, yang selalu mempersiapkan strategi sebelum bertempur. Baca tulisan Afzalur Rahman, “Muhammad as a Unique Military Leader”. Tanpa koordinasi, boleh jadi kita melakukan pekerjaan yang bagus pada satu masa. Tetapi pekerjaan sesudahnya merusak hasil pekerjaan kita sebelumnya. Kita mengurai benang setelah memintalnya.
Bermanfaat Sosial. Amal saleh bertingkat-tingkat. Membaca Al-Quran secara terus-menerus adalah amal saleh, tetapi membacakan Al-Quran kepada orang lain lebih saleh lagi. Makin banyak orang memperoleh manfaat dari suatu perbuatan, makin tinggi nilai amal salehnya. Ibn Qayyim menyebutkan empat macam amal saleh yang paling utama. Salah satu di antaranya ialah pekerjaan yang memberikan manfaat sosial. Ia membedakan antara ahli ibadah dan ahli manfaat. Yang pertama hanya memberikan manfaat kepada dirinya saja. Yang kedua memberikan manfaat kepada orang lain.
Karena itu, orang berilmu lebih tinggi derajatnya dari orang yang beribadah saja. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya para malaikat tidak henti-hentinya berdoa buat orang yang meng- ajarkan kebaikan kepada manusia.”
Mencari dan mengajarkan ilmu dipandang sebagai amal saleh yang utama, kerena besar manfaatnya bagi orang banyak. Contoh-contoh lain dapat Anda tambahkan. Memberi beasiswa kepada anak-anak tidak mampu sebesar tiga juta rupiah lebih utama dari melakukan umrah sunat. Menyumbang guru atau ustad yang mengajar umat Islam lebih tinggi pahalanya daripada membaca wirid sepanjang malam.
Ahli ibadah ketika mati, terputus amalnya. Ahli manfaat ketika mati, berlanjut amalnya. Rasulullah Saw. bersabda: “Manusia yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amal yang paling disukai Allah ialah memasukkan kebahagiaan kepada orang Islam, menghilangkan kesusahannnya, atau membayarkan utangnya, atau mengenyangkan rasa laparnya. Sekiranya aku berjalan memenuhi keperluan saudaraku orang Islam, tentu itu lebih aku sukai daripada iktikaf di mesjid ini satu bulan …. Barang siapa berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya orang Islam sampai ia berhasi memperkuatnya (memberdayakannya), Allah akan memperkuat kaki-kakinya pada hari ketika kaki- kaki yang lain tergelincir” (Kanz Al-Ummál, 15: 917).
JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).