Adab Majelis Ilmu

Tsabit bin Qais, yang syahid dalam Perang Yamamah, ternyata sahabat yang rajin menuntut ilmu. Karena pen-dengarannya kurang, ia sering berusaha berada di barisan depan majlis (karena itu juga, ia selalu bersuara keras). Ia pernah menangis ketika merasa larangan bersuara keras ditujukan untuk dirinya.

Pada suatu Jumat, Nabi saw. mengadakan majelis di Shuffah, di beranda masjid. Orang-orang duduk di sekitar Nabi. Tsabit datang terlambat. Ia berusaha mendekati Nabi karena kelebihan cintanya kepada Nabi dan karena kekurangan pendengarannya. Sebagian memberi tempat kepadanya supaya Tsabit dapat Iewat. Sebagian lagi sengaja menyempitkan tempat duduk sehingga Tsabit tertahan.

Tsabit berulang-ulang minta izin dan menyatakan alasannya mengapa ia harus berada di depan. Ketika orang yang menahan itu tetap di tempatnya, terjadilah sedikit kegaduhan. Nabi saw. kemudian memerintahkan para penghalang itu untuk berdiri. “Qum, ya Fulan, Qum ya Fulan.”

Sebagian di antara mereka, kaum munafik, menunjukkan keengganan mereka. Wajah-wajah mereka menjadi masam. Mereka berkata, “Bukankah menurut kalian sahabat kalian itu (yakni Rasulullah) sangat adil? Demi Allah, ia berbuat tidak adil. Ia membiarkan mereka merebut tempat agar dekat dengan Nabi mereka. Lalu ia menyuruh orang-orang untuk berdiri dan mempersilakan duduk mereka yang terlambat datang.”

Waktu itu turunlah ayat (QS. Al-Mujadillah [58] :11):

يايُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَحُوا فِ الْمَجْلِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشرُوا فَانْشُرُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أوتُوا الْعِلْمَ دَرَحْةٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kamu, lapangkanlah tempat dalam majelis, maka lapangkanlah, nanti Allah akan memberikan kelapangan kepada kamu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, hendaklah kamu berdiri. Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui akan apa apa yang kamu kerjakan (Tafsir Majma ‘al-Bayan 5:2 5 2, Tafsir al-Fakhr al-Razi 29:269-270).”

Begitu besarnya perhatian Al-Quran pada majelis sehingga ayat-ayat turun khusus untuk mengatur etika majelis.

Menurut ayat ini, misalnya, etika majelis menjadi syarat diangkatnya derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Dalam QS An-Nur 62, salah satu tanda orang beriman adalah menjalankan etika majelis. Dalam QS An-Nur 63, mengabaikan etika masjlis adalah tanda orang munafik.

Apabila sahabat berkumpul bersama dalam satu majelis, mereka tidak akan keluar sebelum meminta izin terlebih dahulu kepada Nabi saw., pemimpin majelis. Supaya tidak mengganggu, mereka memberi isyarat dengan jari tangannya.

Tetapi, orang-orang munafik yang tidak tahan duduk berlama-lama dalam majelis ilmu, meninggalkan tempat secara diam-diam. Allah menyebut mereka “orang-orang yang melanggar perintah Rasul” (Tafsir Al-Durr al-Mantsur 6:231; Tafsir al-Fakhr al-Razi 24:39). Allah mengabadikan perilaku kedua kelompok ini dalam ayat-ayat berikut.

إنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُوْنَكَ أُولَبِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأَذَنْ لِمَنْ شِئتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ الله اِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمُ لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرَةٍ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمُ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ialah orang yang percaya kepada Allah dan Rasulnya, dan apabila mereka berada dalam urusan bersama, mereka tidak pergi begitu saja sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu, itulah orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila mereka meminta izin kepadamu karena beberapa keperluan mereka, berikanlah izin kepada siapa saja yang engkau kehendaki dan mohonkan ampunan Allah bagi mereka. Sesungguhnya Allah itu Pengampun dan Penyayang.

Janganlah kamu memanggil Rasul seperti panggilan di antara sesama kamu. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang pergi berangsur-angsur di antara kamu dengan diam-diam. Hendaklah berhati-hati dengan orang-orang yang melanggar peintah Rasul akan ujian yang menimpa mereka dan siksa pedih yang menimpa mereka (An-Nur [24]: 62-63). JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *