
Pada suatu hari, ketika Ali bin Abi Thalib k.w. hendak melakukan Shalat, tubuhnya bergetar dan pucat pasi. “Apa yang terjadi, ya Amirul Mukminin,” kata salah seorang sahabatnya. Ali menjawab, “Telah datang waktu shalat. Inilah waktu amanah yang telah ditawarkan oleh Allah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi mereka menolaknya dan berguncang karenanya.” Ucapan Ali bin Abi Thalib mengacu kepada Al-Quran (QS 33: 72),
Sesungguhnya Kami tawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi mereka menolak memikulnya dan berguncang karenanya. Dan manusia memikulnya. Sesungguhnya ia mempunyai kecenderungan untuk berbuat zalim dan bodoh.
Shalat, yang diperintahkan oleh Allah dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj, adalah salah satu amanah ilahiah. Para ulama mufassirin menyebutkan bermacam-macam makna amanah, yaitu kepemimpinan ilahiah, khilafah takwîniyyah, syariat Islam, kalimah lâ ilâha illallah, amanah, dan perjanjian di antara sesama manusia, dan sebagainya.
Apabila semua pendapat itu digabungkan, maka yang disebut amanah ialah apa saja yang dibebankan oleh Allah kepada manusia untuk dilaksanakan. Dalam ajaran Al-Quran, manusia adalah makhluk memikul beban (mukallaf). Pembebanan ̶ atau taklif ̶ meliputi hak dan kewajiban. Setiap beban yang kita terima menyebabkan kita harus melaksanakan kewajiban, tetapi pada saat yang sama memiliki hak istimewa. Pada setiap amanah, ada pahala (bila dilaksanakan) dan dosa (bila diabaikan).
Kata amânah mempunyai akar kata yang sama dengan kata îmân dan âman; sehingga mu’min berarti yang beriman, yang mendatangkan keamanan; juga yang memberi dan yang menerima amânah. Salah satu nama Allah adalah Al-Mu’min, sebab Dia-lah yang memberikan rasa aman, iman, dan amanah. Orang yang beriman disebut juga al-mu’min karena ia menerima rasa aman, iman, dan amanah. Bila orang tidak menjalankan amanah, ia dianggap tidak beriman dan tidak akan memberikan rasa aman, baik untuk dirinya maupun untuk masyarakat sekitarnya. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Lâ îmâna li man lâ amânatailah.” Tidak beriman orang yang tidak ada amanahnya.
Orang yang setia pada amanahnya ̶ atau mukmin yang melaksanakan amanahnya dengan baik ̶ disebut nashâhah. Kesetiaan memenuhi amanah disebut nashihah (yang sering salah diterjemahkan menjadi nasihat). Orang yang berkhianat terhadap amanah yang dipikulnya disebut ghasyâsyah. Nabi Muhammad Saw. hanya membagi manusia itu menjadi dua kelompok: nashâhah dan ghasyasyah,
“Orang-orang beriman itu satu sama lainnya menjadi nashâhah dan saling mencintai, walaupun badan-badan dan tempat tinggal mereka saling berjauhan. Orang-orang durhaka itu satu sama lain ghasyâsyah dan saling berkhianat, walaupun badan-badan dan tempat tinggal mereka saling berdekatan.”
Karena itu, dalam pandangan Islam, agama tidak lain daripada kesetiaan melaksanakan amanah yang dipikulnya. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Sesungguhnya agama itu al-nashihah (kesetiaan, bukan diterjemahkan nasihat seperti sering dilakukan orang).” Sahabat-sahabatnya bertanya, “Kepada siapa kesetiaan itu harus diberikan, ya Rasulullah?” Nabi Saw. menjawab, “Kepada Allah, Kitab- Nya, Rasul-Nya, para pemimpin Islam, dan keseluruhan umat Islam.”
Kesetiaan kepada Allah
Apakah amanah yang dibebankan kepada kita sehubungan dengan hubungan kita dengan Allah? Pertama, tauhid. Tauhid artinya pengakuan bahwa hanya Allah-lah yang harus disembah, hanya Allah-lah yang berhak mengatur kehidupan kita, hanya Allah-lah yang harus menjadi tujuan akhir hidup kita. Pelanggaran terhadap ini disebut syirik. Syirik adalah pengkhianatan terhadap Allah. Orang- orang musyrik adalah ghasyasyah.
Anda setia pada kalimah Allahu Akbar bila Anda hanya membesarkan Allah. Anda berkhianat kepada-Nya bila Anda membesarkan jabatan, kedudukan, kekayaan, golongan, atau bahkan diri Anda sendiri. Puncak kesetiaan kepada Allah adalah kesediaan mati untuk Dia. “Mati adalah tanda kecintaan yang sejati,” ujar para ahli makrifat.
Kesetiaan kepada Kitab Allah
Anda setia kepada Kitab Suci bila Anda memuliakannya, membacanya dengan penuh penghormatan, memahami kandungan maknanya, dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Anda berkhianat kepada Kitab Suci bila Anda meremehkannya, tidak pernah membacanya, tidak berupaya mempelajari artinya, dan tidak pula mewujudkannya dalam perilaku Anda.
Kaum Muslim di Indonesia sudah setia kepada Al-Quran ketika mereka menyelenggarakan MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) dengan mengerahkan dana dan daya untuknya. Mereka mulai berkhianat bila mereka meninggalkan firman Tuhan itu dalam kehidupan bermasyarakat. Dr. Muhammad Iqbal pernah berseru kepada saudara-saudaranya yang mengabaikan Al-Quran,
Wahai Muslim
Hidupmu tidak kau dasari
Dengan kebijakan Qurani
Kitab pangkal hayatmu Kitab sumber kekuatanmu
Tidak sampai kepadamu
Kecuali ketika maut hampir merenggutmu
Lalu dibacakan Al-Quran di atas kepalamu
Alangkah anehnya
Kitab yang diturunkan untuk mendatangkan kekuatan
Sekarang dibacakan untuk mengantarkan kematian.
Ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah, Aisyah menjawab singkat, “Akhlaknya akhlak Al-Quran.” Sepatutnya para pengikutnya menggunakan Al-Quran untuk menjadi kriteria baik-buruk tingkah lakunya, untuk menjadi pedoman dalam mengambil keputusan. Sayangnya, betapa sering orang mengumandangkan ayat-ayat suci, tetapi pada waktu yang lain ia melanggar ayat-ayat itu dengan ketenangan dan kekhidmatan yang sama ketika membaca ayat-ayat itu. Suaranya Al-Quran, tetapi akhlaknya berpola pada sesuatu di luar Al-Quran.
Termasuk mengkhianati Al-Quran adalah mencoba menundukkan Al-Quran pada kepentingan pribadi, golongan, atau kepentingan-kepentingan duniawi lainnya. Al-Quran dijadikan pemberi legitimasi pada hawa nafsunya atau dijadikan tameng untuk membela kezaliman yang dilakukannya. Perilaku seperti itu disebut para ulama sebagai tahrif.
Kesetiaan kepada Rasulullah Saw.
Kesetiaan kepada Rasulullah Saw. ditunjukkan dengan mengimaninya, memuliakannya, mendukungnya, dan mengikuti cahaya yang dibawanya (QS7: 157). Termasuk menghormatinya ialah membacakan shalawat untuknya, menziarahi makamnya, menghormati tempat-tempat dan waktu-waktu bersejarah dalam kehidupannya, mengikuti dua pusaka yang ditinggalkannya, yakni Al-Quran dan keluarganya. Paling utama dari semua itu tentu saja adalah menjalankan Sunnahnya yang sahih.
Anda mengkhianati Rasulullah Saw. bila Anda mengabaikan ajaran dan Sunnahnya, bila Anda enggan bershalawat untuknya, bila Anda menghancurkan tempat-tempat bersejarah yang menjadi tonggak-tonggak penting dari kehidupannya. Sebagian orang Arab dahulu juga pernah berkhianat kepada Rasulullah Saw. ketika mereka membantai keluarga Nabi yang sangat disayanginya. Sebagian kaum Muslim sekarang juga berkhianat ketika mereka mengabaikan keluarga Nabi yang suci dan beralih kepada orang-orang yang tidak layak sebagai rujukan mereka.
Kesetiaan kepada para Pemimpin Islam dan Masyarakat Islam
Bila kesetiaan kepada Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya adalah landasan ideal, maka kesetiaan kepada para pemimpin Islam dan masyarakat Islam adalah landasan operasional. Masyarakat Islam tidak akan terwujud tanpa kepemimpinan yang diakui dan dipatuhi. Anda termasuk ghasyâsyah bila Anda tidak mau mematuhi pemimpin yang adil, bila Anda menzalimi sesama kaum Muslim, bila Anda menghancurkan persatuan dan persaudaraan di antara mereka. Termasuk mengkhianati umat Islam bila Anda menyebarkan fitnah, cacian, atau tuduhan-tuduhan keji kepada sesama Muslim. Salah satu bentuk kesetiaan Muslim terhadap saudaranya ialah berusaha menutupi aib saudaranya itu. “Barang siapa menutup aib saudaranya, Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat nanti,” ujar Nabi Saw. yang mulia. Karena itu, terlarang seorang Muslim menggelari saudaranya dengan gelaran-gelaran yang tercela. JR
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).