APAKAH KEBAHAGIAAN ITU?

“Seorang anak muda yang gagah menderita begitu banyak musibah sehingga ia hampir-hampir putus asa. Ia mengeluhkan tenggorokannya yang kering dan hidupnya yang miskin. Ia mengadu kepada ayahnya dan memohon izinnya untuk melakukan perjalanan agar dengan kekuatannya sendiri ia bisa berhasil mencapai keinginannya.

Kalau tidak diperlihatkan, sia-sia segala keutamaan dan keahlian:

Mereka lemparkan cendana ke dalam api dan menghancurkan Wewangian.

Sang ayah berkata: “Anakku! Lepaskan dari pikiranmu gagasan yang tidak berguna ini. Tutupkan jubah ketenangan ke bawah kaki kepuasan: sebagaimana dikatakan orang arif, “kebahagiaan tidak dicapai dengan jerih payah; kebahagiaan diperoleh dengan mengurangi keinginan.”

Tidak seorangpun meraih keberuntungan dengan tangan yang kuat.

Menaburkan celup kepada orang buta tidaklah bermanfaat  

Sekiranya kamu punya dua ratus kemuliaan pada setiap helai rambutmu.

Musibah buruk tidak akan mengubah suratan tanganmu.

Mungkinkah pemuda gagah yang bernasib buruk beruntung?

Jika, betapapun kuatnya takdir perkasa menjatuhkan pentung?

Sang anak menjawab: Ayahku, keuntungan safar berlipat ganda: mencerahkan jiwa, memberi manfaat, melihat hal-hal yang indah, mendengarkan keajaiban dan berbahagia melewati negeri-negeri baru, berhubungan dengan sahabat, memperoleh kedudukan, menambah kekayaan dan keuntungan, serta alat untuk memperoleh persahabatan dan membuktikan berbagai keberuntungan;

Sebagaimana para sufi pernah-berkata kamu berkutat di warung dan rumahmu

Hai orang yang dungu, kamu tidak bakal jadi manusia.

Berangkatlah dengan ceria, mengembara di seluruh dunia

Sebelum kamu meninggalkan duniamu

Sang ayah menjawab, “Duhai anakku memang benar besar manfaat perjalanan yang sudah kamu sebut. Tetapi hanya lima jenis orang yang memperoleh manfaat dalam perjalanan. Orang pertama, pedagang kaya, yang karena memiliki kekayaan dan kemewahan, budak-budak yang rajin dan budak-budak perempuan yang cantik, serta pelayan yang berani, menikmati semua kemewahan dunia. Setiap hari ia berada dalam kota dan setiap malam di tempat penginapan, serta setiap saat dalam kenikmatan.

Di gunung dan rimba atau di sahara orang kaya tidak sengsara

Kemanapun ia pergi kemah dipancangkan dan tempat tidur dihamparkan

Tetapi dia yang tidak punya harta tak juga punya mitra

Bahkan di negeri sendiri, tak ada yang berbakti atau memberi

Orang kedua adalah orang yang berilmu, yang fasih berbicara dan pandai berbahasa. Kemana pun dia pergi, semua orang bersegera berkhidmat kepadanya dan memuliakannya.

Orang bijak bagai emas murn yang cemerlang

Kemanapun ia datang ilai dan harganya tidak berkurang

Tetapi orang besar yang bodoh mendapat kemuliaan

Hanya di negeri tempat ia dilahirkan

Orang ketiga adalah orang yang cantik jelita. Karena. kecantikannya hati semua orang terpaut kepadanya. Bergaul dengannya dianggap orang banyak sebagai keberuntungan, dan perkhidmatan kepadanya dikira sebagai penghormatan. Sering dikatakan bahwa sedikit kecantikan lebih baik dari banyak kekayaan, wajah yang indah adalah obat bagi hati yang menderita dan kunci bagi pintu yang tak terbuka.

Biarkan kecantikan pergi kemana saja, karena kehormatan akan datang menjelangnya

Walaupun orang tuanya dengan murka mengusirnya dari rumahnya

Suatu hari di tengah lembaran Al-Quran kutemukan bulu burung merak

Aku berkata, “Tempat ini tidak layak bagimu karena nilainya jauh di atasmu”

‘Diam!’ jawabnya, “karena setiap orang yang mengenakan pesona keindahan

ke manapun ia pergi sebagai kewajiban.

Jika seorang anak punya keramahan dan kecantikan menghormatinya

Jangan pedulikan betapa masamnya sang tuan

Dialah mutiara yang jika kulitnya dicampakkan

Siapapun akan mengambilnya tanpa pedulikan

Orang keempat adalah orang yang memiliki suara bagus, yang dengan tenggorokan nabi Daud, menahan air untuk tidak mengalir menghalang burung untuk tidak terbang, dan dengan keindahannya, memesona hati setiap orang dan semua orang ingin bersahabat dengannya

Pendengaranku terpaku kepada lagu

Siapa dia yang ‘kan memetik senar harpa

Betapa perkasanya suara yang lembut mendayu

Yang menyentuh telinga sahabat sebelum subuh berlalu

Membuatnya bahagia karena suara, lebih karena rupa

Yang ini menggembirakan indra, yang itu jwa

Orang kelima adalah orang yang punya keterampilan, yang memperoleh penghasilan dengan karya tangannya, sehingga perilakunya tidak terganggu karena urusan makanannya. Seorang bijak pernah berkata:

Sekiranya penduduk kota mengusirnya

Seorang perajut kapas takkan menderita karenanya:

Tapi jika seorang penguasa jatuh dari tahtanya la akan kelaparan di tempat tidurnya

Sifat-sifat yang sudah aku sebutkan adalah alat untuk memperoleh hiburan dalam perjalanan dan sebab yang manis untuk memperoleh kebahagiaan. Orang yang tidak memiliki apa yang aku sebutkan akan memasuki dunia dengan harapan hampa. Orang tidak akan mendengarkan lagi namanya dan melihat sedikitpun jejak yang ditinggalkannya.

Kisah Sa’di itu mengungkapkan dengan sangat indah makna kebahagiaan sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan orang. Cerita Sa’di tentang orang-orang bahagia adalah cerita kita semua sepanjang masa. Berbahagialah orang kaya karena ia dapat mengubah penjara menjadi surga. Berbahagialah orang berilmu karena ia dapat membuat duka menjadi suka. Berbahagialah orang jelita karena di mana-mana ia merebut cinta. Berbahagialah para biduan karena di mana-mana ia menjadi pujaan. Berbahagialah orang yang punya keterampilan, karena di mana pun ia bekerja, ia selalu

sempat punya… sambilan!

Kebahagiaan memang sudah menjadi pokok bahasan para sastrawan, agamawan, dan para filusuf sejak berabad-abad.

Kebahagiaan (Ingr. Happiness, Jer. Glück, Lat. Felicitas, Yun. Eutychia, Eudaimonia. Ar. Falah, Sa’adah) dalam berbagai bahasa Eropa dan Arab menunjukkan keberuntungan, peluang baik, dan kejadian yang baik. Dalam bahasa Cina, xing fu, kebahagian terdiri dari gabungan kata “beruntung” dengan “nasib baik. Saya pikir tema pertama dalam wacana filsafat sejak zaman Yunani adalah kebahagiaan. Ketika manusia dari berbagai bangsa, mengalihkan perhatiannya dari persoalan sehari-hari kepada persoalan kehidupan, yang pertama menarik perhatiannya adalah persoalan kebahagiaan.

Dalam benak setiap orang, sejak anak kecil sampai orang dewasa, sejak orang awam sampai filusuf, ada gambaran tentang kebahagiaan.

Suruh anak-anak menggambarkan orang bahagia, maka mereka akan melukis seorang lelaki yang bertubuh besar, tersenyum besar, di depan rumah besar, di samping mobil besar. Tetapi orang dewasa (beneran, bukan hanya umur) akan berpikir bahwa gambaran itu tidak seluruhnya benar. Apa yang digambarkan anak itu menunjukkan kebahagiaan; ia hanya menunjukkan kekayaan. Tidak semua orang yang bertubuh besar bahagia. Bahkan ada banyak orang bertubuh besar menderita, sehingga mereka berusaha mencari obat untuk melangsingkan tubuh. Tidak semua orang yang tersenyum besar juga bahagia; karena ada banyak orang (sebagian di antara mereka pelawak dan artis) yang menyembunyikan derita di balik ketawa lebarnya. Tidak semua orang yang tinggal di rumah besar bahagia. Banyak di antara mereka yang justru menderita karena tinggal di rumah besar itu.

Para filusuf, seperti pernah kita jumpai pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, berbeda-beda dalam mendefinsikan kebahagiaan. Ada di antara mereka yang menggambarkan kebahagiaan seperti apa yang dilukiskan anak itu. Filusuf besar seperti Aristoteles melihat kebahagiaan jauh di atas itu. Kebahagiaan dalam bentuk kesenangan jasmaniah -seperti makan, bersenang-senang- tidak membedakan kita dari makhluk Tuhan lainnya. Manusia tentu melihat kebahagiaan jauh di atas kesenangan-kesenangan fisik.

Sebagian filusuf bahkan menetapkan kebahagiaan sebagai landasan moral. Baik buruknya suatu tindakan diukur sejauh mana tindakan itu membawa kita pada kebahagiaan. Jika makan membuat kita bahagia, makan itu menjadi perbuatan baik. Jika makan banyak membuat kita sakit perut dan menderita, makan banyak menjadi perbuatan buruk. Kaum hedonis-seperti Aristippus dan Epicurus dan utilitarian – Bentham dan J.S Mills – berada di sini.

Di seberang lainnya ada filusuf yang mengatakan bahwa perbuatan baik dan buruk tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan, karena ada tindakan yang membuat kita bahagia tetapi disepakati tidak bermoral. Mungkin koruptor berbahagia ketika mengambil hak rakyat, tetapi hanya orang gila yang mengatakan “Karena korupsi membuat bahagia, maka korupsi adalah perbuatan baik. Menurut kelompok filusuf yang ini, perbuatan baik adalah tuntutan etis untuk menjalankan kewajiban, walaupun kewajiban itu membuat kita menderita. Tetapi, kita bertanya mengapa orang memilih berbuat baik kalau jelas-jelas tidak mendatangkan kebahagiaan. Immmanuel Kant dan para pengikutnya yang berada di sini sulit untuk menjawab pertanyaan ini.      

Untuk menyelesaikan perbedaan pendapat ini, kita harus menuntaskan dulu persoalan tentang apa yang dimaksud dengan kebahagiaan. John Kekes, dalam Encyclopedia of Ethics menulis:

Sebagai langkah pertama, kita dapat mengidentifikasi bagian yang inti dan disepakati tentang apa yang kita pahami sebagai kebahagiaan, jika rujukannya adalah hidup secara keseluruhan. Dalam pengertian ini, orang yang memiliki kebahagiaan, puas dengan kehidupannya; mereka ingin melanjutkan hidup seperti itu; jika ditanya, mereka akan berkata bahwa segalanya berlangsung baik bagi mereka; keinginan mereka yang paling penting terpuaskan; mereka melakukan dan mempunyai banyak hal yang mereka inginkan; mereka sering kali mengalami kegembiraan, keriangan, dan kesenangan; hidup mereka tidak terbagi, karena secara keseluruhan keadaan mereka persis seperti yang mereka inginkan; mereka tidak menderita konflik batin yang asasi; mereka tidak menderita depresi, kecemasan, atau frustrasi; mereka tidak menyesal atas keputusan yang telah mereka ambil; mereka juga tidak terus menerus atau sering kali marah, kecewa, irihati, merasa bersalah, malu, atau cemburu.

Berdasarkan gambaran tersebut, kebahagiaan tampak kepada kita dalam dua bentuk: episode dan sikap. Sebagai episode, kebahagiaan adalah kumpulan dari kejadian-kejadian yang memuaskan kita. Seperti kisah sinetron, hidup kita terdiri dari episode-episode yang membuat kita bahagia dan episode-episode yang membuat kita menderita. Episode bahagia adalah kepuasan yang berasal dari apa yang kita miliki dan apa ‘yang kita lakukan Apa yang dikisahkan Sadi tentang orang yang layak melakukan perjalanan adalah episode-episode kebahagiaan. Kita bahagia karena kita punya mobil, rumah, deposito, istri yang cantik (kekayaan material), atau hubungan baik, penghormatan, pengetahuan (kekayaan nonmaterial). Kita juga bisa bahagia karena kita makan yang enak, menonton hiburan, berwisata (tindakan fisik) atau berpikir, merenung, mengapresiasi keindahan alam (tindakan intelektual).

Kedua, sebagai sikap, kebahagiaan adalah makna rangkaian episode itu dari segi keseluruhan hidup kita. Masih ingatkah Anda dengan kisah Solon yang diceritakan Aristoteles kepada kita. Kita hanya bisa mengetahui hidup itu bahagia atau tidak setelah kehidupan

ini berakhir. Jika kita melihat berbagai episode – tidak selalu tampak bahagia- dan menilai seluruh episode itu dari keseluruhan hidup kita dengan perasaan rida, kita bahagia.

Kembali kepada kebahagian sebagai episode. Kita bahagia karena kita memiliki dan melakukan semua yang kita inginkan. Semua yang kita inginkan? Tidak selalu. Kita merasa tidak semua yang kita inginkan membuat kita bahagia. Kita bisa bahagia dengan meninggalkan keinginan yang tidak begitu perlu, yang pemuasannya terlalu singkat. Tetapi ada keinginan yang begitu penting sehingga kita tidak bahagia kalau kita tidak bisa memiliki dan melakukannya. Kalau begitu kebahagiaan adalah mempunyai dan melakukan semua hal penting yang kita inginkan. Anehnya, kita menemukan orang yang berusaha bahagia hanya dengan mengejar satu saja yang ia inginkan. Untuk itu, ia mengabaikan keinginan-keinginan lainnya. Ada orang yang mengejar kekayaan saja, dan meninggalkan hal-hal lain yang diinginkan seperti hubungan keluarga yang harmonis, keindahan, ketenangan batin.

Lebih aneh lagi, kita menemukan ada tindakan yang kita ingink tetapi tidak membuat kita bahagia. Kita ingin membalas dendam, bunuh diri, menjalankan kewajiban dengan mengorbankan diri sendiri, atau berkhidmat kepada orang lain dengan mengorbankan kebahagiaan sendiri. Di samping itu, kita juga menyadari bahwa untuk mencapai kebahagiaan seringkali kita harus meninggalkan sebagian pemilikan atau perbuatan yang tidak kita inginkan. Seorang perempuan merasa bahagia dengan mengorbankan karier yang diinginkannya hanya karena ia ingin mempunyai anak. Saya bahagia dengan melakukan ibadah haji, walau pun saya tidak menggunakan ongkos haji untuk kawin lagi (yang sebenarnya saya inginkan). Jadi selama kita hidup kita harus memilih mana yang ingin kita punyai dan kita lakukan. Pemilihan mana keinginan yang penting dan tidak penting melibatkan aspek sikap- kita harus menilai berbagai episode kebahagiaan dari perspektif kehidupan secara keseluruhan.

Marilah kita kenang lagi kisah Sadi. Kita tentu ingin kaya,” cantik, pandai, bersuara bagus dan sebagainya. Kita harus memilih mana keinginan yang harus kita puaskan supaya kita bahagia. Buat kebanyakan kita, tidak mungkin kita memperoleh itu semua. Keinginan-keinginan yang sudah kita pilih itu harus kita cocokkan dengan satu keinginan akhir kita, yang memengaruhi kehidupan kita secara keseluruhan.

Sekarang ini, di hadapan saya ada banyak keinginan: punya rumah luas, punya sekolah buat orang miskin, punya istri lagi; atau membawa semua anggota keluarga naik haji, melanjutkan studi lagi dalam psikologi agama, atau beristirahat dari segala kesibukan. Saya harus mengatur dan memilih mana yang harus saya punyai dan mana yang harus saya lakukan. Saya memilih untuk mempunyai sekolah buat anak miskin dan membawa semua anggota keluarga naik haji. Semua pilihan itu dan menentukan kebahagiaan hidup saya secara keseluruhan. Keinginan tunggal itu ialah saya ingin kembali kepada Tuhan yang Mahakasih dengan membanggakan di hadapan Dia apa yang sudah saya sumbangkan untuk membahagiakan hamba-hambaNya.

Kata para filusuf, saya bergerak dari keinginan tahap pertama (first-order wants), ke keinginan yang mengatur (regulative wants), sampai ke keinginan yang meliputi keseluruhan hidup saya (overall wants). Tetapi apakah memuaskan keinginan sesuai dengan urutan itu dengan sendirinya membuat hidupku bahagia? Bagaimana kita menentukan bahwa seorang itu bahagia atau tidak.

Ada dua ukuran. Pertama, kita menggunakan ukuran standar untuk menguji apakah pengakuan dia bahwa dia bahagia itu benar atau salah. Kedua, kita bertanya kepadanya dengan pendek apakah dia bahagia atau tidak, setelah dia melakukan pilihan-pilihan yang telah kita jelaskan di atas. Yang pertama melahirkan apa yang kita sebut sebagai kebahagiaan objektif (objective happiness). Yang kedua membawa kita pada kebahagiaan subjektif (subjective happiness).

Pada posisi pertama, kita menemukan pembahasan kebahagiaan objektif dalam pemikiran Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Saya menambahkan Al-Ghazali dalam Kimiya al Sa’adah (Kimia Kebahagiaan). Pada posisi kedua, kita dapat menyebut Hobbes, Hume, dan Mills serta kaum emotivis, eksistensialis, dan egois.

Walhasil, menurut kelompok pertama, kita dapat menilai apakah pernyataan seorang itu bahagia atau tidak dengan mencocokkannya pada sebuah standar. Standar itu bisa merujuk pada aturan agama, seperti yang dilakukan oleh Al-Ghazali dan Thomas Aquinas; atau pada pembuktian yang menunjukkan bahwa pengakuan dia bahwa dia bahagia itu salah.

Si Fulan punya uang banyak. Ia menghabiskan waktunya untuk berpesta pora. Ia tidak pernah sakit. Ia mengaku: Aku bahagia. Benarkah dia? Menurut ukuran agama, orang itu tidak bahagia; karena pada hari akhirat dia pasti masuk neraka. Menurut ukuran rasional, ia juga tidak bahagia karena dalam tempo lama, ia akan kehilangan hartanya, kesehatannya, dan kesenangannya.

Menurut para ilmuwan, ukuran objektif yang sangat logis ini agak sulit diterapkan untuk penelitian ilmiah. Mereka lebih senang menggunakan ukuran kebahagiaan yang subjektif (subjective well-being). Konsep ini mudah dioperasionalisasikan dalam penelitian. Berdasarkan konsep ini kita dapat memperbandingkan antara tingkat kebahagiaan yang satu dengan yang lainnya. Kita juga dapat meneliti variabel apa saja yang memengaruhi kebahagiaan. Karena kita menanyakan kebahagiaan langsung kepada yang bersangkutan, kita harus memikirkan apa saja yang harus kita tanyakan. Kebahagiaan itu terdiri dari apa saja. Dengan itulah, kita dapat mengukur kebahagiaan. JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *