
Ada suatu hadits yang saya ambil dari kitab Kanzul ‘Ummal, yaitu nomor 23.662. Seperti anda ketahui, ada berbagai macam susunan hadits. Ada hadits yang disusun berdasarkan bab atau berdasarkan topik yang biasanya disebut dengan al-jami’, misalnya Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan sebagainya. Ada juga hadits yang disusun oleh ahli hadits berdasarkan rawi’nya. Kitab hadits seperti itu disebut dengan musnad, misalnya Musnad Ahmad, yang disusun oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Ada juga hadits yang disusun dengan mengurutkan dari huruf alif sampai ya’ berdasarkan awal hadits itu. Misalnya. Al-Jami’ Al- Shaghir yang disusun oleh Jalaluddin Al-Suyuthi. Jadi, kalau Anda ingin mencari hadits tentang ilmu, maka carilah pada huruf ‘ain, dan sebagainya.
Oleh Al-Muttaqi Al-Hindi (orang India), hadits dari kitab Al-Jami’ Al-Shaghir itu disusun kembali berdasarkan topik dan tidak berdasarkan urutan huruf. Kitab itu kemudian ia kumpulkan menjadi beberapa jilid tebal-tebal, dan ia beri nama kitab Kanzul’Ummal atau Perbendaharaan Orang-Orang yang Beramal. Hadits-hadits dalam kitabnya itu, Kanzul ‘Ummal, diberi nomor sampai puluhan ribu.
Hadits yang segera kita bicarakan di sini diambil dari kitab Kanzul ‘Ummal, akan tetapi Anda juga dapat memeriksanya dalam kitab Al-Jami’ Al-Shaghir, pada huruf ‘ain. Rasulullah Saw. yang mulia bersabda, “Ilmu itu seperti perbendaharaan yang sangat berharga. Kuncinya adalah bertanya. Bertanyalah kalian, mudah-mudahan Allah merahmati kalian; karena dalam bertanya itu, ada empat kategori orang yang diberi pahala. Orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengarnya, dan orang yang menggemari mereka.”
Anda bayangkan, Rasulullah Saw. waktu itu berkata kepada para sahabatnya bahwa beliau ingin menjelaskan ilmu-ilmu agama dengan menyuruh mereka bertanya. Hadits ini juga menegaskan pahala proses pencarian ilmu pengetahuan. Ilmu itu dimulai dengan bertanya. Malahan orang sering menyamakan dan membedakan antara filsafat dengan ilmu (sains). Persamaannya, kedua-duanya dimulai dengan bertanya, sedangkan perbedaannya ialah bahwa sains dimulai dengan pertanyaan dan diakhiri dengan pertanyaan. Sedangkan filsafat dimulai dengan pertanyaan dan diakhiri dengan pertanyaan yang lebih besar.
Ada sebuah buku yang menjelaskan bagaimana cara membaca buku yang baik supaya memperoleh pengetahuan dari buku itu. Langkah pertama, lihatlah daftar isi buku itu sehingga Anda mendapat gambaran tentang buku itu. Kedua, mulailah Anda bertanya dengan memerhatikan bab per bab, karena dengan bertanya Anda berkonsentrasi pada isi buku itu, dan segera tertarik untuk memperoleh jawaban. Ketiga, Anda membacanya dengan tujuan menjawab pertanyaan itu. Terakhir, melihat kembali catatan yang Anda baca.
Orang yang pintar biasanya selalu mempertanyakan sesuatu, dan orang yang bodoh itu selalu menerima. Anak kecil itu sebetulnya memiliki kecenderungan untuk bertanya, dan sering-kali pertanyaannya sangat bebas. Kalau sudah besar, kita mulai berpikir apakah ada yang harus kita tanyakan atau tidak, tetapi anak kecil tidak berpikiran seperti itu. Tidak jarang, orangtua membentak anak kecil itu. Padahal, dengan bertanya, perben-daharaan ilmu pengetahuan akan terbuka bagi mereka. Bahkan, ada peneliti yang mengatakan bahwa seandainya jiwa bertanya anak kecil itu bisa dipertahankan sampai dewasa, hampir dapat dipastikan bahwa semua orang akan menjadi ilmuwan.
Oleh karena itu, kita memahami mengapa Nabi yang mulia menganjurkan kita untuk bertanya, dan mudah-mudahkan Allah akan menurunkan rahmat-Nya. Bertanya adalah kunci pembuka perbendaharaan ilmu pengetahuan.
Ada baiknya juga kalau kita mendidik anak-anak dengan sistem bertanya. Kalau saya ingin mengajarkan anak saya dalam pengajian kecil di rumah, saya mulai dengan bertanya. Ketika ingin menjelaskan kata fasiq dan Mukmin yang terdapat dalam Al-Quran, misalnya, saya mulai dengan pertanyaan. Mereka akan menjawab sesuai dengan pengetahuan mereka.
Jadi, sebetulnya cara mengajar yang paling baik ialah mengajar yang dimulai dengan pertanyaan. Sang guru membawa suatu benda, kemudian bertanya kepada anak-anaknya, “Tahukah kalian, benda apakah ini?” Kemudian anak- anak mendiskusikan benda itu, sampai mereka menemukan sendiri apa hakikat benda itu.
Itulah metode paling baik, yang juga pernah ditatarkan kepada guru-guru di sekolah. Pada waktu itu, saya sebagai seorang guru pernah mendapatkan penataran itu. Akan tetapi setelah itu, para guru kembali lagi kepada metode mengajar yang lama. Mengapa hal itu bisa terjadi? Mungkin kita ini belum sampai kepada tahap sebagai bangsa yang selalu bertanya. Kita adalah bangsa yang tukang menjawab. Dalam parlemen, ada hak yang disebut sebagai “hak bertanya”, akan tetapi hak itu hampir tidak pernah dipakai dalam parlemen.
Dahulu, para filsuf sering mengajarkan filsafat dengan proses tanya jawab. Sampai sekarang pun filsuf sering mengambil metode Socrates, untuk mengajarkan filsafat dengan metode tanya jawab. Al-Quran pun seringkali memulai ayat-ayatnya dengan suatu pertanyaan. Misalnya, “Tahukan kamu orang-orang yang mendustakan agama?” (QS. Al-Ma’un [107]: 1). “Bertanya seorang penanya tentang azab yang akan tiba,” (QS. Al-Ma’arij [70]: 1).
Dalam bahasa Arab, bertanya itu disebut dengan istifham, yang berarti mencari pemahaman. Memang, itulah tujuan bertanya yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Proses riset atau penelitian adalah proses bertanya yang lebih terdisiplin. Akan tetapi, proses bertanya kita sering tidak terdisiplin untuk menjawab pertanyaan itu. Misalnya, kalau kita bertanya, “Apakah bagus kalau membeli baju di pinggir jalan?” Lalu kita mencoba membeli baju satu atau dua kali di pinggir jalan. Hasilnya semuanya jelek. Lalu kita mengambil kesimpulan bahwa tidak bagus membeli baju di pinggir jalan. Menurut prinsip riset, kesimpulan itu tidak benar, karena hal itu menjawab pertanyaan yang tidak terdisiplin.
Kalau kita perhatikan hadits Rasulullah Saw. ini, kita dapat mengetahui bahwa beliau sangat menghargai usaha-usaha riset. Orang-orang yang terlibat dalam riset itu pun semuanya mendapatkan pahala. Kalau kita mencermati hadits ini, seharusnya negara-negara Islam adalah negara yang dipenuhi dengan lembaga riset karena semua orang terlibat di dalamnya. Orang yang mencintai riset mendapatkan pahala, dan orang yang mendengar laporan riset mendapat pahala. Yang menarik perhatian, kata Ziauddin Sardar, bahwa perkembangan riset yang paling terbelakang berada di negara-negara Islam.
Riset itu tidak harus pergi ke lapangan. Riset bisa dilakukan pada sebuah buku. Misalnya, memelajari tarikh secara mendalam. Tentunya, kita harus mempertanyakan apa yang ada di dalam tarikh itu, kemudian kita melakukan studi mendalam atau yang dinamakan studi kritis. Masalahnya, hal ini pun tidak banyak disenangi orang. Padahal, setiap kali kita menemui tokoh dalam tarikh, kita akan menemukan hal-hal baru yang bisa dipertanyakan.
Menurut ajaran Rasulullah Saw., orang yang selalu bertanya harus dihargai, harus kita bantu; atau kalau tidak, kita menjadi penggemarnya. Saya ingin mengulangi hadits tersebut. “Ilmu itu bagaikan peti perbendaharaan yang sangat berharga dan kuncinya adalah bertanya. Banyaklah kamu bertanya semoga Allah merahmati kamu. Dalam bertanya ada empat orang yang akan diberi pahala, yaitu yang bertanya, yang mengajar, yang mendengarkan, dan yang menggemarinya.”
Karena bertanya itu diperintahkan, Islam pun mengatur beberapa cara bertanya. Pertama, kita disuruh bertanya yang baik. Rasulullah Saw. bersabda, “Pertanyaan yang baik itu sudah setengahnya dari ilmu pengetahuan.” Bahkan, orang Barat mengatakan bahwa bertanya yang baik sudah merupakan setengah jawaban. Karena itu, rumuskanlah pertanyaan itu dengan kalimat-kalimat yang jelas.
Kedua, jangan bertanya sesuatu untuk mengganggu. Saya akan menunjukkan ucapan Imam Ali kepada seseorang yang bertanya kepadanya. Suatu saat, beliau berkata dalam khutbahnya, “Bertanyalah kalian kepadaku. Demi Allah, tidaklah kamu bertanya tentang sesuatu sarnpai hari Kiamat kecuali akan aku berikan jawabannya kepada kamu.” Lalu Ibn Al-Kawa’ bertanya, “Ya Amirul Mukminin, apa adz-dzariyatu dzarwa?” Imam Ali menjawab, “Celaka kamu, bertanyalah untuk memahami dan janganlah kamu bertanya untuk mengganggu.”
Sebenarnya, orang bodoh yang selalu bertanya dan mau belajar sama nilainya dengan orang yang berilmu. Sebaliknya, orang berilmu yang sembrono dalam menjawab pertanyaan, sama kualitasnya dengan orang bodoh yang mengganggu dalam pertanyaan itu. Kita sering bertanya dalam suatu majelis bukan untuk memahami, akan tetapi untuk mengetes mubaligh; atau kadang-kadang untuk memojokkan, dan kalau bisa mubaligh itu ditangkap polisi karena pertanyaan kita. Pertanyaan seperti itu, kata Imam Ali, bukanlah pertanyaan untuk mengetahui, tetapi pertanyaan untuk mengganggu.
Kasus Bani Israil misalnya, ketika disuruh menyembelih sapi, mereka bertanya dengan pertanyaan yang banyak, sehingga persyaratan sapi yang harus disembelih menjadi semakin sulit. Padahal, kalau Bani Israil itu tidak terlalu banyak bertanya, tentunya mereka akan lebih mudah mencari sapi itu.
Dengan kata lain, aturan yang ketiga itu, jangan menanyakan sesuatu yang akibatnya akan menyulitkan kita. Dalam agama, ada beberapa hal yang tidak dijelaskan, bukan berarti lupa. Akan tetapi, agar kita bebas melakukan hal tersebut. Dalam ushul fiqih, hal itu disebut al-bara’ah al-ashliyyah. Rasulullah Saw. bersabda, “Tinggalkanlah aku dengan apa yang aku tinggalkan kepada kamu, karena binasanya orang yang sebelum kamu karena banyaknya mereka bertanya dan ikhtilaf kepada Nabi mereka. Apabila aku perintahkan kepada kamu sesuatu, lakukanlah semampu kamu dan jika aku larang melakukan sesuatu, tinggalkanlah itu.”
Akhirnya, marilah kita ingat kembali pesan hadits di awal, yaitu bahwa ilmu itu adalah peti perbendaharaan yang berharga dan kunci pembukanya adalah bertanya. Maka, bertanyalah, mudah-mudahan Allah merahmati kita dengan pertanyaan tersebut. Bukankah dalam bertanya itu akan ada empat orang yang diberi pahala, yaitu orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengar dan orang yang menggemarinya? JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).