
Jika kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, dia seorang raksasa sejarah. Ia berjuang meningkatkan tahap ruhaniah dan moral suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban karena panas dan gersang gurun. Dia berhasil lebih sempurna dari pembaharu mana pun; belum pernah ada orang yang begitu berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya seperti dia,” tulis Will Durant.” “Dia datang seperti sepercik sinar dari langit, jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang membakar angkasa sejak Delhi hingga Granada,” ujar Thomas Carlyle.
Dengan sejumlah informasi yang mereka miliki, Durant dan Carlyle berusaha melukiskan kebesaran Rasulullah Saw. Mereka tidak pernah berjumpa dengan Nabi yang mulia. Mereka tidak pernah melihat wajah atau mendengar suaranya. Mereka bahkan tidak beriman kepada apa yang dibawa Nabi Saw. Mereka hanya menyaksikan lewat lembaran-lembaran sejarah yang sampai kepada mereka. Mana mungkin mereka berhasil mengungkapkan kebesarannya?
Pada zaman Khalifah Umar bin Khathab, seorang Yahudi datang menemui Khalifah, “Ceritakan kepadaku akhlak Rasul kalian?” Umar tidak sanggup memenuhi permintaannya. Dia menyuruh Yahudi itu menemui Bilal. Bilal pun tidak mampu. Akhirnya Yahudi itu sampai kepada Ali bin Abi Thalib. Bukankah Ali mengenalnya sejak kecil? Bukankah dia sering tidur bersama Rasulullah Saw, sehingga dia pernah berkata, “Aku masih merasakan harumnya tubuh Nabi Saw?” Bukankah Ali hampir selalu menyertainya ke mana pun beliau pergi? Bukankah Nabi Saw, berkata tentang Ali, “Sesungguhnya Ali dariku dan aku dari Ali. Dia dibuat dari tanahku sendiri?” Ali bertanya kepada Yahudi itu, “Lukiskan keindahan dunia ini, dan akan aku gambarkan kepada Anda tentang akhlak Nabi Saw.” Lelaki itu berkata, “Tidak mudah bagiku.” Ali menukas, “Engkau tidak mampu melukiskan keindahan dunia, padahal Allah telah menyaksikan betapa kecilnya dunia ketika berkata, Katakan, Keindahan dunia itu kecil’ (QS 4: 77). Bagaimana mungkin aku menggambarkan akhlak Rasulullah Saw, padahal Allah bersaksi bahwa akhlaknya itu agung (Sesungguhnya engkau berada pada akhlak yang agung [QS 68:4]).
Ali, sahabat setia yang mengenal Nabi Saw. lebih dari dirinya, tidak sanggup melukiskan akhlak Nabi Saw. Bagaimana kalau kita tanya Aisyah, Ummul Mukminin, istri yang mendampingi Nabi Saw. selama sembilan tahun. Ketika Sa’d bin Hisyam bertanya kepadanya tentang akhlak Rasulullah Saw, Aisyah balik bertanya, “Apakah kamu membaca Al- Quran?” “Tentu saja,” jawab Sa’d. “Akhlaknya Al-Quran.” Ketika Aisyah didesak lagi untuk memerincinya, dia menyuruh orang untuk membaca sepuluh ayat Al-Mu’minun.
Melukiskan akhlak Rasulullah Saw. dengan seluruh Al-Quran juga bukan pekerjaan yang mudah. Al-Quran adalah Kalam Allah. Seandainya semua samudra dijadikan tinta dan semua pepohonan dijadikan kalam, maka semuanya akan habis sebelum selesai menuliskan kalimah Allah. Nabi Saw. adalah personifikasi Al-Quran. Nabi Saw. adalah Al-Quran yang berjalan.
Kadang-kadang bila para sahabat ditanya tentang Rasulullah Saw.. mereka hanya sanggup menceritakan fragmen-fragmen dari kehidupannya, yang mereka rasakan paling mengesankan dalam pengalamannya bersama Nabi yang mulia. Ketika Abdullah bin Umar dan dua kawannya menemui Aisyah dan memintanya bercerita tentang Nabi Saw, Aisyah menarik napas panjang. Kemudian dia menangis seraya berkata lirih, “Ah, semua perilakunya memesonakan.” Abdullah mendesak lagi, “Ceritakan kepada kami yang paling memesonakan dari semua yang pernah Anda saksikan.” Barulah Aisyah menceritakan sepotong kisah indah bersama Rasulullah Saw:
Pada suatu malam, ketika dia tidur bersamaku dan kulitnya sudah bersentuhan dengan kulitku, dia berkata, “Ya Aisyah, izinkan aku beribadah kepada Tuhanku.” Aku berkata, “Aku sesungguhnya senang merapat denganmu, tetapi aku juga senang melihatmu beribadah kepada Tuhanmu.” Dia bangkit mengambil air, lalu berwudhu. Ketika berdiri shalat, kudengar dia terisak-isak menangis. Kemudian dia duduk membaca Al-Quran, juga sambil menangis sehingga air matanya membasahi janggutnya. Ketika dia berbaring, air mata mengalir lewat pipinya membasahi bumi di bawahnya. Pada waktu fajar, Bilal datang dan masih melihat Nabi Saw. menangis, “Mengapa Anda menangis padahal telah Allah ampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang kemudian?” tanya Bilal. “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur. Aku menangis karena malam tadi turun ayat Ali Imrån 190-191. Celakalah orang yang membaca ayat ini dan tidak memikirkannya.”
Untuk Aisyah, seluruh perilaku Rasul memesonakan. Dia mengutip ketika Nabi Saw., Junjungan Alam, manusia paling mulia, meminta izin kepadanya untuk beribadah pada tengah malam. Untuk Aisyah, istri Nabi, pada permintaan izin itu terkandung penghormatan, perhatian, dan kemesraan. Apalagi yang lebih indah yang diperoleh seorang istri dari suaminya selain itu?
Untuk Abdullah Al-Bajali, saat yang paling indah ialah ketika ia mendatangi majelis Nabi Saw. Karena datang terlambat, tempat pun sudah penuh. Dia selalu mencari-cari tempat duduk. Nabi yang mulia membuka gamisnya. Dengan tangannya sendiri, Nabi melipat baju itu, lalu mengantarkannya kepada Abdullah. “Jadikan ini tikar untuk tempat dudukmu,” kata Rasulullah Saw. Abdullah tidak mendudukinya. Dia mencium baju Nabi Saw. dengan air mata yang berlinang, “Ya Rasulullah, semoga Allah memuliakanmu sebagaimana Anda telah memuliakanku.” Dengan tersenyum Nabi Saw. berkata, “Bila datang kepada kalian orang yang mulia dari satu kaum, muliakanlah dia. Peristiwa itu adalah penggalan kehidupan Nabi Saw. yang tidak akan terlupakan. Bukankah di dalamnya terkandung penghormatan, perhatian, dan kasih sayang seorang sahabat terhadap sahabatnya?
Pada Perjanjian Hudaibiyah, Urwah Al-Tsaqafi mewakili kaum Quraisy untuk berunding dengan Rasulullah Saw. Dia terpesona bagaimana para sahabat memperlakukan Nabi Saw. Ketika beliau berwudhu, orang-orang memperebutkan bekas air wudhunya. Ketika Nabi meludah, orang-orang memperebutkan air ludahnya. Ketika rambut Nabi jatuh, orang-orang berdesakan untuk mengambil rambutnya. Ketika Urwah kembali kepada kaumnya, dia berkata, “Hai orang Quraisy, aku pernah mendatangi Kisra di kerajaannya. Aku pernah menemui Kaisar di keratonnya. Aku pernah melihat Najasyi di istananya. Belum pernah aku melihat orang memperlakukan rajanya seperti sahabat-sahabat Muhammad memperlakukan Muhammad.”
Urwah betul. Bila Rasulullah Saw. datang ke sebuah tempat, manusia berbondong-bondong menemuinya. Mereka berdesakan untuk sekadar mencium tangannya. Perempuan-perempuan membawa anak-anak mereka, lalu meminta Nabi Saw. mengusapkan jari-jemarinya pada wajah anak-anak itu sambil mendoakan mereka. Pada suatu hari di musim panas, Nabi Saw. mendatangi rumah Anas bin Malik. Ia berbaring di situ dan tertidur. Ummu Sulaim melihat butir-butir keringat mengalir dari wajahnya yang agung. Dia pun mengambil gelas dan berusaha menampung keringatnya. Nabi yang mulia terbangun. “Ya Ummu Sulaim, apa yang engkau lakukan?” tanya Rasulullah Saw. “Saya sedang mengumpulkan keringat Anda. Saya ingin menjadikannya wewangian kami yang paling harum dan mengharapkan keberkahannya untuk anak-anak kami”
Hanya untuk mencium tubuhnya, tidak jarang sahabat mencari-cari akal. Seperti yang dilakukan oleh Sawad bin Ghazyah dalam Perang Badar. Ketika Nabi Saw. sedang meluruskan barisan, Sawad maju ke depan. Rasulullah Saw. memukul perutnya dengan anak panah, “Lurus dalam barisan, hai Sawad.” Sawad memprotes, “Ya Rasulullah, Anda menyakitiku, padahal Allah telah mengutusmu dengan membawa kebenaran dan keadilan. Aku ingin menuntut qishash.” Para sahabat yang lain berteriak, “Hai, engkau mau menuntut balas dari Rasulullah Saw?” Nabi Saw. menyingkapkan perutnya, “Balaslah!” Sawad memeluk tubuh Nabi Saw. dan menciuminya. Rasul yang mulia bertanya, “Hai Sawad, apa yang mendorongmu untuk melakukan ini?” Sawad berkata, “Ya Rasulullah, sudah terjadi apa yang engkau saksikan. Ingin sekali pada akhir pertemuanku denganmu, kulitku menyentuh kulitmu. Berilah aku syafaat pada Hari Kiamat.” Nabi Saw. kemudian mendoakan kebaikan kepadanya.”
Nabi Muhammad Saw, adalah pemimpin yang ditaati karena cinta. Namun, itu bukan berarti Nabi tidak berwibawa. Dengarkan cerita Usamah bin Syarik berikut ini, “Bila kami duduk mendengarkan Rasulullah Saw., kami tidak sanggup mengangkat kepala kami; seakan-akan di atas kepala kami bertengger burung-burung.” Al-Barra bin Azib berkata, “Aku bermaksud bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang satu urusan, tetapi aku menangguhkannya sampai dua tahun karena segan akan wibawanya Pernah seorang dusun menemui Nabi Saw. Tubuhnya bergetar sehingga Nabi Saw. berusaha menenangkannya. “Tenangkan dirimu,” kata Rasulullah Saw, “aku manusia biasa dan suka makan daging juga.” Dia berwibawa, bukan karena menggunakan kekerasan, kekuasaan, atau kekayaan. Dia berwibawa karena dicintai oleh umatnya.
Pergaulan Rasulullah Saw. dengan Sahabatnya
Kita sudah mendengar kisah Rasulullah Saw. dari Aisyah dan sahabat- sahabat yang lain. Sekarang dengarkan kisah seseorang yang pernah menjadi khadam Rasulullah Saw. selama bertahun-tahun, yakni Anas bin Malik:
Aku menjadi pelayan Rasulullah Saw. selama sepuluh tahun. Belum pernah dia mengecamku, belum pernah memukulku satu pukulan pun, tidak pernah membentakku atau bermuka masam kepadaku. Bila aku malas melakukan apa yang diperintahkannya, dia tidak memakiku. Bila salah seorang di antara keluarganya mengecamku, dia berkata, “Biarkan dia!” Pernah aku berpura-pura untuk satu keperluan dan menolak perintahnya. Aku berkata, “Tidak mau pergi. Padahal dalam hatiku aku berniat pergi seperti yang diperintahkan Rasulullah Saw. Ketika aku keluar, aku menemukan anak-anak sedang bermain di pasar. Aku berada bersama mereka. Tiba-tiba Rasulullah Saw. memegang kepalaku dari belakang. Dia tersenyum dan berkata, “Hai Anas, pergilah ke tempat yang aku perintahkan. “Baik, ya Rasulullah,” kataku sambil segera pergi.
Anas juga bercerita bagaimana Rasulullah Saw. menyuruh kaum Muslim untuk memperlakukan pembantunya dengan baik. Mereka harus makan makanan yang sama dengan apa yang dimakan tuan mereka. Mereka tidak boleh dipermalukan atau dipanggil dengan panggilan yang tercela. Pada bulan puasa, para majikan diminta untuk meringankan pekerjaan para pembantunya. Menurut Anas, Rasulullah Saw. sering kali melayani para pelayan Madinah. Pada waktu dini hari, pada musim dingin, para khadam sering datang membawa air dari majikan mereka. Mereka meminta Rasulullah Saw, memasukkan tangannya ke dalam air itu. Nabi Saw. juga tidak jarang mengantarkan budak-budak untuk memenuhi keperluan mereka, bahkan perempuan-perempuan tua yang sudah pikun.
Pada suatu hari, para sahabat menemukan Nabi Saw. sedang memperbaiki sandal anak yatim; dan pada hari yang lain, sedang menjahit pakaian kumal milik perempuan tua yang miskin. Nabi mengumpulkan sebagian sahabatnya yang miskin di sudut masjidnya. Dia membagi bagikan makanan sedikit yang dipunyainya untuk mereka, sehingga dia sendiri tidak pernah makan kenyang selama tiga hari berturut-turut. Di antara penghuni sudut masjid itu adalah Abu Hurairah, perantau dari Daus yang bekerja sebagai pelayan dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Dengarkan penggalan kisah Nabi Saw. yang diceritakan Abu Hurairah kepada kita:
Ada perempuan hitam yang pekerjaannya menyapu masjid. Pada suatu hari, Nabi Saw. tidak menemukan perempuan itu. Nabi Saw. menanyakan ihwalnya. Para sahabat mengatakan bahwa ia sudah. mati. Ketika Nabi menegur mereka mengapa ia tidak diberi tahu, sahabat-sahabat mengatakan bahwa perempuan itu hanyalah orang kecil. Kata Nabi Saw, “Tunjukkan aku kuburannya. Di atas kuburan perempuan itu, Nabi melakukan shalat untuknya.
Abu Hurairah baru saja bercerita tentang perhatian Nabi Saw. kepada sahabatnya, bahkan kepada orang yang dipandang remeh oleh masyarakat. Mari kita dengarkan kisah Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Waktu itu Nabi Saw, baru pulang dari Tabuk. Dia melihat tangan Sa’ad yang menghitam dan melepuh. “Kenapa tanganmu?” tanya Rasulullah Saw. “Karena diakibatkan oleh palu dan sekop besi yang aku gunakan untuk mencari nafkah untuk keluarga yang menjadi tanggunganku.” Rasulullah Saw. mengambil tangan itu dan menciumnya, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka.” Lihatlah, Rasulullah Saw, yang tangannya diperebutkan untuk dicium, sekarang mencium tangan yang kasar. Begitulah Rasulullah Saw. memperlakukan sahabat-sahabatnya.
Pergaulan Rasulullah Saw. dengan Tetangganya
Bagaimana Nabi Saw. memperlakukan tetangganya? Kita tahu bahwa dia pernah diperlakukan tetangganya dengan buruk. Ketika paman yang dicintainya, Abu Thalib, dan istri kinasihnya, Khadijah, wafat, Nabi Saw. berhari-hari tinggal di rumahnya. Ketika Nabi keluar, tetangganya menghamparkan duri-duri di depan rumahnya. Nabi Saw, hanya berkata, “Beginikah kalian bertetangga, hai suku Quraisy? Ada di antara tetangganya itu yang sering menyiram kepala Nabi Saw. yang mulia dengan air kotor setiap kali Nabi Saw. melewati rumahnya. Ketika Nabi Saw. lewat lagi di tempat yang sama, tidak dia dapatkan semburan air kotor. Nabi Saw. menanyakan ke mana tetangga perempuan itu. Ketika dijawab dia sakit, Nabi pun datang menjenguknya.
Abu Hurairah bercerita:
Seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw. mengadukan perilaku tetangganya yang jelek. Rasulullah Saw. berkata, “Pergilah dan bersabarlah.” Orang itu mengadu kepada Nabi Saw. sampai tiga kali, dan Nabi Saw. menjawab hal yang sama. Masih menurut Abu Hurairah, pada suatu hari seseorang berkata, “Ya Rasulullah, si Fulanah banyak melakukan shalat, sedekah, dan puasa. Hanya saja dia menyakiti tetangganya dengan lidahnya.” Rasulullah Saw. berkata, “Perempuan itu di neraka.” Lelaki itu meneruskan pertanyaannya, “Fulanah yang lain sedikit shalatnya, sedikit puasanya, dan sedikit sedekahnya, tetapi dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasul yang mulia berkata, “Perempuan ini di surga.”
Ketika Rasulullah Saw. ditanya tentang hak tetangga, dia berkata, “Tolonglah dia ketika meminta tolong kepadamu. Berilah pinjaman ketika dia meminjam kepadamu. Kunjungilah dia bila sakit. Ucapkan selamat bila dia memperoleh kebaikan. Sampaikan takziyah bila dia mendapat kemalangan. Antarkan jenazahnya bila dia mati. Janganlah kamu tinggikan bangunanmu sehingga menghalangi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya. Jangan- lah kamu sakiti tetanggamu dengan bau masakanmu kecuali engkau berikan sebagian kepadanya. Jika engkau membeli buah-buahan, berikanlah sebagian kepadanya. Jika engkau tidak memberinya, masukkan rasa bahagia ke dalam hatinya. Janganlah anakmu keluar membawa makanan yang membuat anaknya kecewa.”
Pergaulan Rasulullah Saw. dengan Keluarganya
Sebelumnya sudah kita kutipkan kisah Aisyah berkenaan dengan akhlak suaminya. Inilah kisah Aisyah yang lain, “Hampir setiap kali Rasulullah Saw. akan keluar rumah, beliau menyebut Khadijah seraya memujinya. Sehingga, pada suatu hari, ketika beliau menyebutnya lagi, timbul rasa cemburuku, dan kukatakan kepadanya, ‘Bukankah ia hanya seorang wanita tua, sedangkan Allah telah memberimu pengganti yang lebih baik daripada dia?’ Mendengar itu, Rasulullah Saw. kelihatan amat marah, sehingga bagian depan rambutnya bergetar karenanya. Lalu beliau berkata, “Tidak, demi Allah! Aku tidak mendapat pengganti yang lebih baik daripada dia! Dia beriman kepadaku ketika orang-orang lain masih dalam kekafir- an. Dia menaruh kepercayaan kepadaku ketika orang-orang lain mendustakanku. Dia membantuku dengan harta ketika tidak se- orang pun selain dia bersedia memberiku sesuatu. Dan Allah telah menganugerahkan keturunanku darinya, dan tidak dari istri-istriku yang lain.”
Carlyle melukiskan peristiwa itu dengan kata-katanya, “Dia tidak pernah melupakan Khadijah yang baik ini. Lama sesudah itu Aisyah istrinya yang muda dan cerdas, seorang wanitayang menonjol di antara kaum Muslim karena semua perilakunya sepanjang hidupnya-pada suatu hari menanyainya, ‘Bukankah aku lebih baik daripada Khadijah? Ia janda, sudah tua dan sudah kehilangan kecantikannya. Apakah engkau lebih mencintaiku daripada dia?’ “Tidak, demi Allah!’ jawab Muhammad, ‘Ia beriman kepadaku ketika tidak ada orang lain yang memercayaiku. Di seluruh dunia, waktu itu, aku hanya mempunyai seorang sahabat. Itulah dia, Khadijah. Tampaknya ia hidup dengan pasangan nikahnya ini dalam suasana yang penuh kasih sayang, kedamaian, dan ketenteraman. Dia mencintainya dengan tulus dan hanya dia semata-mata yang dicintainya.”
Mengenai kehidupan Rasulullah Saw. dengan Ahli Baitnya, marilah kita dengarkan penuturan para periwayat hadis. Kita mulai dengan pengantar dari H.M.H. Al-Husaini:
1. Pengantar
Kehidupan Rasulullah Saw. dengan para istri beliau pada umumnya serasi dan dalam suasana saling pengertian. Namun, sebagai wanita kadang-kadang di antara mereka ada yang berulah sehingga agak mengganggu ketenangan pikiran dan perasaan beliau sebagai suami. Kejadian seperti itu adalah wajar di dalam kehidupan rumah tangga, dan pada akhirnya dapat teratasi dengan baik berkat kebijaksanaan Rasulullah Saw. Menurut kenyataan, beberapa “letupan” yang terjadi sama sekali tidak mengurangi kesetiaan dan keimanan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, beberapa kejadian yang agak memprihatinkan beliau itu mengundang hikmah yang dapat diambil oleh umatnya sebagai contoh dan pelajaran mengenai bagaimana seorang suami mengatasi masalah kekeluargaan atas dasar keimanan dan ketakwaan.
Jauh lebih serasi dan lebih mesra lagi pergaulan Rasulullah Saw. dengan para anggota Ahli Baitnya. Yang kami maksud dengan “Ahli Bait” ialah keluarga yang terdekat hubungannya dengan beliau, baik menurut garis silsilah maupun menurut garis kekerabatan. Mereka itu ialah suami-istri, Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dan Siti Fathimah Az- Zahra r.a., beserta dua putranya, Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhumâ. Kecintaan dan kasih sayang Rasulullah Saw. kepada mereka sungguh amat mendalam. Beliau bangga dan mencintai mereka bukan semata-mata karena mereka itu darah-daging beliau, melainkan juga karena mereka sangat besar ketakwaannya kepada Allah Swt. dan amat patuh kepada Rasul-Nya. Tidak sedikit riwayat yang menerangkan betapa besar perhatian dan curahan kasih sayang beliau kepada mereka, yang melebihi kasih sayang beliau kepada istri-istrinya. Suka- duka mereka adalah suka-duka beliau dan sebaliknya.
Di antara berbagai riwayat yang menunjukkan besarnya cinta kasih Rasulullah Saw. kepada para Ahli Baitnya ialah riwayat yang berasal dari Tsuban yang diketengahkan oleh Al-Thabari. Bahwasanya tiap Rasulullah Saw. hendak berangkat ke medan perang atau hendak bepergian jauh, beliau selalu memerlukan datang ke tempat kediaman putrinya, Siti Fathimah r.a., lebih dulu untuk mengucapkan selamat tinggal dan meninggalkan pesan atau nasihat. Demikian pula setiap beliau pulang dari medan perang atau dari perjalanan jauh, setelah menunaikan shalat sunnah dua rakaat di masjid, beliau langsung singgah di rumah putrinya. Sesudah itu, barulah beliau menuju tempat kediamannya sendiri dan bertemu dengan para istrinya.
2. Rasulullah Saw. Mencium Fathimah
Kata Aisyah, “Tidak pernah aku melihat seorang pun yang paling mirip keadaannya dengan Rasulullah Saw. dalam cara berdiri dan cara duduknya seperti Fathimah, putri Rasulullah Saw. Bila dia datang, Nabi Saw. segera berdiri menyambutnya, menciumnya, dan mendudukkannya di tempat duduknya. Begitu seringnya Rasulullah mencium Fathimah sehingga Aisyah pernah menegurnya. Nabi yang mulia menjawab, “Ya Aisyah, kalau aku merindukan surga, aku akan mencium Fathimah.” Nabi Saw. mengungkapkan kecintaannya kepada putrinya di hadapan para sahabatnya. Berulang-ulang dia berkata, “Sesungguhnya Fathimah belahan nyawaku. Siapa yang menyakitinya, dia menyakitiku. Siapa yang membuatnya marah, dia membuatku marah.”
3. Pergaulan Rasulullah dengan Hasan dan Husain
Ibn Abbas bercerita, “Pada suatu hari, ketika kami berkumpul bersama Nabi Saw, datanglah Fathimah dalam keadaan menangis. Rasulullah Saw. menyambutnya seraya berkata, ‘Biarlah Bapakmu jadi tebusanmu, mengapa engkau menangis?’ Fathimah menjawab, ‘Hasan dan Husain keluar rumah dan aku tidak tahu di mana mereka. Rasulullah Saw. berkata, *Janganlah menangis karena Pencipta mereka lebih sayang kepada mereka daripada engkau dan aku. Nabi lalu mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, peliharalah dan selamatkanlah mereka. Jibril pun turun dan berkata, ‘Hai Muhammad, janganlah berduka. Mereka berada di perkampungan Bani Najar. Keduanya tertidur. Allah telah mengutus malaikat untuk menjaganya. Kemudian Nabi beserta sahabatnya berangkat menuju perkampungan itu. Mereka mendapati keduanya tidur berpelukan dan malaikat menaungi mereka dengan kedua sayapnya. Nabi Saw. mengambil mereka dan memeluknya sampai keduanya terbangun dari tidurnya. Dia meletakkan Hasan di bahu kanannya dan Husain di bahu kirinya. Abu Bakar berkata, “Ya Rasulullah, berikan salah seorang anak itu kepadaku supaya aku memikulnya. Rasulullah bersabda, ‘Alangkah indahnya kendaraan mereka dan alangkah indahnya para penunggangnya: Ketika sampai di masjid, Nabi berdiri dengan Hasan dan Husain masih berada di kedua bahunya dan berkata, “Wahai kaum Muslim, maukah aku tunjukkan kepada kalian orang yang paling baik kakek dan neneknya?” Mereka berkata, “Tentu, ya Rasulullah Nabi berkata, ‘Hasan dan Husain. Kakek mereka Rasulullah Saw, penutup para rasul, dan nenek mereka Khadijah binti Khuwailid, penghulu wanita di surga.”
Nabi Saw. pernah memanjangkan sujud pada waktu shalat Isya, sehingga orang-orang menyangka Nabi memperpanjang shalatnya karena wahyu. Nabi Saw. menjelaskan, “Tidak, bukan karena itu. Anakku menunggangi punggungku. Aku tidak ingin menyegerakan sujudku sebelum dia memenuhi hajatnya. Ketika Rasulullah berkhutbah, dia melihat Hasan dan Husain berlari dengan memakai pakaian merah. Nabi Saw, turun dari mimbarnya lalu memangku keduanya dan meletakkannya di hadapannya. Dia berdoa, “Ya Allah, aku mencintai keduanya. Cintailah orang yang mencintai mereka.” Suatu ketika, Al-Aqra bin Habis melihat Nabi Saw. mencium Hasan. Dia heran dan berkata, “Aku mempunyai sepuluh orang anak. Tidak seorang pun aku cium” Nabi Saw. bersabda, “Allah tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia.” JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).