INSAN KAMIL: MANUSIA SEIMBANG

Barat menyebut Timur sebagai “negeri pagi,” negeri matahari terbit. Barat menyebut dirinya “negeri petang,” negeri matahari tenggelam. Pagi mencerminkan saat berakhirnya kegelapan dan terbitnya cahaya. Memang, dari Timurlah datang agama-agama besar dunia. Dari Timur dimulai pencerahan ruhani. Karena itu, para penulis Barat, ketika menceritakan pertemuan mereka dengan Timur, menyebut dunia Timur secara romantis—Morgenlande. Negeri pagi seringkali dilukiskan sebagai negeri yang penuh pesona ruhani, ketika orang-orang yang sudah mengalami pencerahan ruhani mengalami transformasi jasmani yang menakjubkan.

Buku Honigsberger, Fruchte aus dem Morgenlande, terbit 1851, adalah contoh klasik. Buku ini mengisahkan manusia-manusia luar biasa dari Timur. Salah seorang di antaranya adalah Haridas. Ia terkenal sebagai faqir (fakir)—secara material miskin, tetapi secara spiritual kaya. Untuk menguji apakah ia betul- betul fakir atau hanya penipu ulung, Raja Runjeet Singh menguburkannya hidup-hidup selama empat puluh hari. Kuburannya dijaga ketat agar tidak terjadi kelicikan. Selama berada dalam ujian itu, kuburannya digali dua kali. Setiap kali digali, mereka menemukan Haridas masih berada dalam posisinya semula. la dibungkus kain kafan yang dilak. Telinga, lubang hidung, dan lubang dubur ditutup dengan lilin. Setelah empat puluh hari, kuburnya digali. Kain kafannya dibuka. Lilin ditanggalkan. Tiba-tiba tubuh fakir itu menggeliat. Matanya terbuka. Bibirnya bergerak, “Do you believe me now?”

Johann Martin Honigsberger, yang melaporkan peristiwa ini, adalah dokter. Ia dibesarkan dalam tradisi sains yang “mencurigai” hal-hal seperti itu. la tampaknya tidak mengada-ada. Keterangannya diperkuat oleh dokter terkenal dari Inggris, James Braid. Orang yang pertama kali menciptakan istilah hypnotis ini melaporkan peristiwa yang sama dalam bukunya Observations on Trance or Human Hibernation.

Kisah ini juga diceritakan oleh Michael Murphy, salah seorang pendiri Esalen Institute. Selama lebih dari tiga puluh tahun, ia meneliti lebih dari 3000 sumber, berkenaan dengan apa yang disebutnya sebagai extraordinary physical, mental, and spiritual capacities. Ia menegaskan bahwa kita hanya menggunakan sebagian saja dari kapasitas yang kita miliki. Kita sebetulnya mempunyai potensi untuk mengembangkan diri kita “lebih dahsyat” dari apa yang kita lakukan sekarang. Proses pengembangan ini tidak ada batasnya. Kita memiliki kemampuan transformatif untuk menjadi apa saja.

Seperti alam semesta, manusia selalu berubah. Bahkan, menurut Ibn ‘Arabî, manusia adalah mikrokosmos yang menggabungkan semua alam dalam makrokosmos. Manusia adalah alam shaghîr; dan alam semesta adalah insân kabîr. Pada makrokosmos terdapat tiga tingkat alam: ruhani, khayali, dan jasmani. Pada manusia, ketiga alam ini diwakili oleh ruh, nafs, dan jism (tubuh). Tingkatan alam ini menunjukkan sejauh mana ia menyerap cahaya Tuhan. Ruh adalah bagian yang paling terang, dan jism adalah bagian yang paling gelap. Nafs (diri) adalah jembatan yang menghubungkan jism dan ruh.

Setiap orang mempunyai nafs yang berbeda. Ada nafs yang lebih dekat dengan ruh; dan ada nafs yang sangat jauh dari ruh. Pada sebagian orang, nafsnya bersinar dan bergerak menaik menuju wujud yang hakiki, yakni Tuhan. Pada sebagian orang lagi, nafs-nya sangat gelap dan bergerak turun menjauhi Tuhan, menuju ketiadaan. Nafs adalah barzakh yang selalu berubah.

Manusia dapat mengembangkan dirinya dengan menyerap sifat-sifat Allah, mengambil akhlak Allah. Karena akhlak Allah ini ditunjukkan kepada kita dalam nama-nama-Nya yang agung, maka takhalluq bi akhlaq Allah adalah juga takhalluq bi asma’ Allah. Setiap orang sudah menyerap akhlak Allah sampai tingkat tertentu. Allah bersifat Mahasayang (ar-Rahmân), dan setiap makhluk di alam semesta ini menyerap sebagian kecil dari rahmaniah Tuhan. Sebuah hadis mengatakan bahwa Allah menjatuhkan seperseratus dari kasih-Nya pada alam semesta. Dengan seperseratus dari kasih-Nya itu, makhluk saling berbagi kasih sayang sesama mereka. Dengan sebagian dari seperseratus kasih-Nya itu, seekor induk binatang buas memelihara anaknya.

Manusia yang ingin berangkat dari alam jasmaninya harus meningkatkan rasa cintanya kepada sesama makhluk. Ia harus menyerap kasih Tuhan lebih banyak. Jadi, menurut Ibn Arabî, akhlak bukanlah sesuatu yang kita “pakaikan” dalam diri kita. Akhlak adalah sifat Tuhan yang kita “serap” dan kemudian mengubah kita secara ontologis. Setiap kali kita menyerap asma Allah, esensi kemanusiaan kita berubah. Kita mengalami transformasi.

Dalam bahasa Arab, transformasi disebut sebagai taqallub. Kata ini berasal dari qalb. Menurut Ibn ‘Arabi, qalb adalah tempat perubahan. Qalb adalah ‘arsy Tuhan. Inilah tempat manusia menyimpan asma Allah. Fakhrus-Râzî dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib, melukiskan peranan hati itu dengan indah. Ketika ia menjelaskan kalimat isti’âdzah, ia menggambarkan seakan-akan Tuhan berkata, “Wahai manusia, Aku menciptakan surga untukmu. Tetapi, sebelum engkau masuk ke situ, Aku usir dahulu setan darinya. Tempat-Ku dalam dirimu adalah qalb. Tetapi, apakah telah kau bersihkan setan dari dalamnya, sebelum Aku masuk ke situ?”

Mengusir setan dari qalb berarti meninggalkan kegelapan. Memasukkan Tuhan ke dalamnya berarti mencerahinya dengan asma Tuhan, takhalluq bi asma’ Allah. Asma Allah itu banyak dan bertingkat-tingkat. Bukan tempatnya. kita menguraikannya di sini. Secara singkat, menurut Ibn ‘Arabî, manusia yang ingin meningkatkan dirinya harus menyerap asma Allah itu dengan petunjuk syariat. Ia harus melihat contoh yang diberikan oleh para rasul. Para rasul adalah manusia yang sudah secara intensif menyerap asma Allah secara seimbang, dalam proporsi yang tepat. Para rasul, dan juga kekasih-kekasih Tuhan yang seperti mereka adalah insan kamil.

Dari Ibn ‘Arabî, para filosof dan mistikus Islam mengambil dan memperluas pengertian insan kamil. Dari Ibn ‘Arabi juga Muthahhari memulai pembahasannya tentang Manusia Sempurna. Berbeda dengan Ibn ‘Arabi, Muthahhari menyatakan bahwa ia meninjau insan kamil menurut pandangan Al-Quran, bukan menurut pandangan sufi. Tetapi, sama seperti Ibn ‘Arabi, Muthahhari melihat insan kamil sebagai manusia yang mengembangkan nilai-nilai Islam (atau, menurut Ibn ‘Arabi, sekadar mengingatkan Anda, asma Allah) secara seimbang.

Ia mengkritik berbagai mazhab yang hanya menggarisbawahi satu nilai saja, dengan mengesampingkan nilai yang lain. Mazhab yang paling banyak menjadi sasaran kritiknya adalah mazhab sufi, mazhab yang dianut, antara lain, oleh Ibn ‘Arabî. Ia mengkritik sikap sufi yang mencemoohkan intelek (akal). Ibn ‘Arabi, misalnya, menyebut akal dalam arti harfiahnya sebagai “ikatan,” “belenggu.” Bagi Muthahhari, akal sama sekali tidak menghalangi pencerahan ruhani. Akal bahkan membantunya. Ia menganggap orang yang memisahkan intelek dari agama, akal dari iman, sebagai orang yang mengikuti paham Kristen. Islam adalah agama yang menempatkan akal dalam posisi yang sangat penting. Tidak ada pencerahan ruhani yang sejati bila tidak dapat diuji secara akliah.

Muthahhari juga mengkritik penafian diri yang berlebihan. Ia mengingatkan kita untuk membedakan antara dua macam diri. Ada diri yang harus kita matikan, tetapi ada juga diri yang harus kita kembangkan. Para sufi, kata Muthahhari, membunuh keduanya. Ia mengutip contoh-contoh penafian diri, yang dalam kalangan sufi disebut malámát. Penafian diri seperti itu bukan saja menjatuhkan martabat kemanusiaan, tetapi juga bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam.

Sebenarnya Muthahhari tidak menolak pandangan sufi secara keseluruhan. la hanya mengkritik ekstremitas di dalamnya, seperti diperlihatkan dalam malâmât. Karena, insan kamil adalah manusia yang mengembangkan semua kualitas yang baik itu secara seimbang. Kualitas itu boleh jadi cinta kasih, intelek, keberanian, kejujuran, atau kreativitas. Manusia yang hanya mengembangkan cinta saja dengan mengesampingkan intelek bukan insan kamil. Ia adalah sufi yang ekstrem. Manusia yang memuja akal secara berlebihan juga bukan insan kamil. Ia adalah filosof yang kering. Manusia yang mengagungkan keberanian saja untuk mencapai kekuasaan juga bukan insan kamil. Ia adalah monster yang menakutkan. Manusia yang tahan dikubur empat puluh hari tetapi sangat terbelakang dalam pengetahuan bukan insan kamil. Ia hanyalah fakir, yang menarik dalam memberikan tontonan, bukan tuntunan.

Insan kamil, setelah Rasulullah Saw, dicontohkan pada diri ‘Ali bin Abî Thâlib. Inilah manusia yang berbicara kepada emas dan perak dalam kekuasannya, “Hai Putih, hai Kuning. Tipulah orang selain aku.” Tetapi inilah juga manusia yang hampir tidak henti-hentinya terjun di medan pertempuran. la melukiskan para pengikutnya—yang meniru perilakunya—sebagai “ruhban bil-lail usud bin-nahar,” para pendeta di malam hari dan singa-singa di siang hari. Kumpulan pembicaraannya, Nahj al-Balaghah, bukan saja penunjuk jalan bagi para ‘arifin, tetapi juga perbendaharaan yang luas bagi para filosof. Air matanya jatuh karena melihat penderitaan seorang perempuan. Dan darah berjatuhan dari pedangnya ketika ia memenggal kepala musuhnya dalam berduel. Dalam dirinya, cinta kasih dan keberanian berpadu. Ia telah mentransformasikan dirinya sehingga berhasil mengembangkan kemampuan fisikal, mental, dan spiritual yang menakjubkan. Ia adalah sufi, sekaligus filosof. Ia adalah pecinta, sekaligus pembunuh. Ia adalah fakir, sekaligus raja. Imam Syafi’î diriwayatkan berkata tentang ‘Alî, “Apa yang harus kukatakan tentang seorang manusia yang menggabungkan tiga sifat dengan tiga sifat lagi? Gabungan yang tidak aku dapatkan pada manusia lain: kedermawanan dengan kemiskinan, keberanian dengan kebijakan, pengetahuan dengan keberhasilan bertindak.”

‘Alî mencerminkan perpaduan nilai yang proporsional. Nâshiruddîn ath-Thûsî menyebutnya i’tidâl. Orang-orang Stoik, yang mengilhami etika Platonis dan Aristotelian menyebutnya antakoluthia. Michael Murphy, peneliti yang kita sebutkan dalam awal pengantar ini, menyebutnya integral development. Yang terakhir ini, pada akhir penelitiannya, menyimpulkan bahwa kita semua memiliki potensi untuk sampai pada apa yang dicapai ‘Alî. Kita dapat memanfaatkan praktik-praktik yang dilakukan orang-orang sebelum kita. Tetapi, apa pun praktik yang kita jalankan, kita harus memperhitungkan Dia Yang Mahagaib. Dalam bahasa Ibn ‘Arabî, sekali lagi, kita harus berpegang pada petunjuk-Nya, yang ditampakkan pada asma-Nya. Kita menggarisbawahi kesimpulan Murphy, dalam The Future of Human Body: Explorations into the Further Evolution of Human Nature (1992): “Only practices that enchance our psychological and somatic functioning while making special ‘drafts upon the Unseen’ are likely to facilitate a balanced growth of our greater capacities.” Dalam meningkatkan fungsi ruhani dan jasmani, hanya praktik yang memperhitungkan secara khusus “Yang Mahagaib” sajalah yang mungkin mempermudah perkembangan seimbang dari kemampuan kita yang lebih besar. Alhamdulillah, pada akhirnya, apa yang ditemukan Ibn ‘Arabî lewat tasawuf, Muthahharî dari kajian Al-Quran, dan Murphy lewat penelitian ilmiah, sampai pada kesimpulan yang sama: kebergantungan kita kepada Allah.  JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

Malam Jumat, 22 Jumadilakhir 1413

Masyhad, bi jiwar marqad al-Imam al-Ridha as.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *