
Bulan Oktober adalah bulan Sumpah Pemuda. Para pemuda dipestakan, disanjung, diimbau, dan tentu saja… diberi petunjuk. Berita-berita dalam surat kabar berkisar umumnya tentang pesta pemuda; begitu pula komentar para pejabat dan penulis opini. Sebuah berita kecil, masih tentang pemuda, muncul tanpa komentar. Di kota kecil Sumedang, seorang pedagang kecil—kita menyebutnya pedagang asongan—digilas bis sampai tiga kali. Pemuda ini, masih kecil, berusia empat belas tahun, adalah pelajar Sekolah Teknik. Pada waktu libur atau waktu di luar jam pelajarannya, ia mencari nafkah untuk membiayai sekolahnya. Kabarnya, ia tinggal di rumah saudaranya, karena kedua orangtuanya bercerai. Berita kecil tentang orang kecil di sebuah kota kecil di tengah-tengah berita besar tentang orang-orang besar di kota-kota besar.
Masih untung berita itu dapat muncul di surat kabar. Saya kira banyak peristiwa yang sama tidak berhasil disuratkabarkan. Salah satu syarat laik berita adalah prominence. Yang patut dikisahkan adalah yang besar-besar saja. Mana yang dianggap besar tentu saja bergantung pada persepsi khalayak pembacanya dan pengelola surat kabarnya. Bila khalayak itu pemilik mobil, tentu berita yang besar-besar berkaitan dengan mobil. Bila khalayaknya khusus wanita, tentu tokoh-tokoh wanita atau perkembangan modelah yang dianggap besar. Bila khalayaknya umum, seperti surat kabar Gala, maka yang besar adalah yang umumnya dianggap besar.
Adakah surat kabar atau majalah yang khalayaknya khusus orang-orang kecil? Pada zaman spesialisasi seperti sekarang ini, adakah media yang mengkhususkan diri melaporkan peristiwa-peristiwa besar di kalangan orang kecil? Jumlah orang kecil banyak, tetapi mereka tidak sanggup berlangganan surat kabar. Karena itu, suara mereka tidak pernah diperhatikan oleh media massa. Pers sekarang banyak bergantung pada dunia bisnis, sehingga pengusaha kini lebih mempengaruhi pers daripada penguasa.
Pedagang asongan yang berusia muda itu adalah seorang di antara ribuan bahkan jutaan pejuang kecil yang berusaha hidup dalam kemandirian. Ia mewakili generasi produktif yang berusaha mengembangkan kerja keras dan entrepreneurship. la tewas—tidak, menurut saya, ia syahid—dalam perjuangannya. Ia digilas bis. Jutaan kawannya yang lain gugur digilas tank-tank baja modernisasi atau birokrasi. Mereka tentu saja menjerit, tetapi jeritannya hilang dalam kebisingan tank-tank baja itu. Adakah media yang bersedia menjadi pengeras suara buat mereka? JR —wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).