
Aceng bangun agak terlambat. Dia mengecek apakah ada berita menarik lewat komputer kecil di kamarnya. Komputer memberikan daftar judul berita-berita ekonomi, yang memang menjadi perhatian Aceng. Dia memilih berita tentang bursa saham. Dia menggerutu karena perubahan di pasar saham terjadi jauh dari perkiraannya. Sambil menikmati makan pagi, dia menyaksikan kampanye presiden di Amerika Serikat lewat pesawat televisi yang berantena parabola. Dia tidak menyenangi salah seorang calon presiden, karena program proteksinya mengancam perusahaannya. Dia kemudian mengubah channel dan mendapatkan fashion show dari stasiun Prancis. Segera dia memindahkannya ke stasiun yang lain. Bila istrinya mengetahui siaran itu, ia harus mengeluarkan biaya ekstra yang tidak sedikit di boutique langganan istrinya. Untunglah sang istri sedang sibuk berkonsultasi tentang tambahan lemak pada perutnya dengan pusat informasi kesehatan, lewat jaringan telekomunikasi satelit yang disebut telemedicine.
“Tak ada berita yang menarik,” ujar Aceng. Dia masuk lagi ke kamarnya dan mengadakan rapat dengan rekan-rekan sekerjanya melalui teleconferencing (konferensi dengan telepon). Sementara itu, Acil, anaknya yang pertama, sedang belajar intelegensi buatan dengan PC (Komputer Privat) di kamarnya. Seperti biasa si bungsu asyik bermain videogame.
Rumah Aceng adalah rumah elektronik. Hampir seluruh kegiatan keluarga itu menggunakan alat-alat elektronik. Dari rumah itu, setiap orang dapat berhubungan dengan seluruh tempat di dunia. Interaksi sosial mereka sudah melintasi ruang dan waktu. Alat-alat elektronik, khususnya teknologi komunikasi, telah mengubah pola perilaku mereka.
Adegan ini diambil dari sebuah rumah orang Indonesia pada Abad XXI. Kita sekarang sedang bergerak menuju ke situ. Kita tengah menyaksikan dan sekaligus terlibat dalam revolusi global umat manusia. “Kita sedang berubah. Bukan saja dalam lembaga- lembaga kita, dalam kendaraan yang kita beli, dalam baju yang kita pakai, tetapi juga dalam perilaku kita sebagai manusia. Premis pokok dari Revolusi Komunikasi ialah bahwa ledakan komunikasi mutakhir—komputer, satelit, tape, disk, microprocessor, dan jasa radio serta telepon baru—tampaknya sedang mengubah karakteristik lingkungan manusia. “Seperti sudah kita alami berkali- kali dalam sejarah kita, kita tengah menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan,” tulis Frederick Williams dalam The Communications Revolution.
Williams menyebut perubahan itu sebagai revolusi, karena percepatannya yang makin lama makin tinggi. Manusia yang pertama muncul kira-kira 36.000 tahun yang lalu. Diperlukan waktu dua belas ribu tahun sesudah itu untuk menemukan cara melukis pada dinding gua. Tidak ada penemuan teknologi komunikasi selama 18.000 tahun lagi. Pada 4.000 SM ditemukan tulisan yang pertama. Pada 1.000 SM manusia mengenal abjad untuk pertama kali. Percetakan ditemukan pada 1453 M. Mulai tahun 1900 M terjadilah runtunan penemuan komunikasi yang menakjubkan. Selama 90 tahun terakhir ini, manusia telah menciptakan teknologi komunikasi yang jauh lebih banyak dari apa yang diciptakannya selama 360 abad sebelumnya. Perubahan masih terus berlangsung dengan akselerasi eksponensial. Apa yang bakal terjadi pada perilaku manusia menghadapi revolusi dahsyat ini?
Karakteristik Masyarakat Pascamodern
Banyak nama diberikan pada masyarakat yang akan datang: pascaindustri, teknetronik, informasi, dan pascamodem. Apa pun namanya, masyarakat yang akan datang ditandai dengan dominasi teknologi komunikasi. Sebagian besar pekerjaan terletak pada sektor informasi. Sebagaimana sumber daya alam pada zaman pertanian dan modal pada zaman industri, maka informasi adalah kekayaan dan kekuasaan pada zaman pascamodern. Dunia sedang bergulat dalam masa transisi menuju ekonomi jasa.
Teknologi komunikasi menghilangkan batas ruang dan waktu. Peristiwa yang terjadi di seluruh dunia mempengaruhi reaksi kita. Kita ikut terharu menyaksikan mayat-mayat yang tertimpa reruntuhan gempa bumi di Iran. Kita merasakan ketegangan ketika menyaksikan pertarungan keras dan berimbang antara kesebalasan Belanda dan Inggris di Italia. Kita terpanaskan ketika melihat Madonna berdesah dan berjingkrak di belahan bumi sebelah Barat.
Jaringan telekomunikasi—telepon, teleks, faksimili, radio, televisi, kompunikasi (gabungan antara komputer dengan telekomunikasi)—secara eksponensial memperbanyak frekuensi kontak kita. Kita dapat berhubungan dengan lebih banyak orang pada lebih banyak tempat dengan waktu yang lebih singkat daripada yang dilakukan oleh para pendahulu kita. Dua orang yang tinggal di belahan bumi yang berbeda dapat berpacaran, dan bahkan menikah lewat telepon.
Akibatnya, bangsa-bangsa secara ekonomis, sosial, dan kultural menjadi interdependen. Apa yang terjadi di Wallstreet mempengaruhi para pedagang di Tanah Abang. Mode baru dipertunjukkan hari ini di Paris, dan esok hari sudah dipakai Mbak Sri di Pasar Kliwon, Solo. Pagi hari Tuan Jujur ditangkap di Jalan Diponegoro, Jakarta, dan sore hari Amnesti Internasional mengirim surat kepada Pemerintah Indonesia.
Pertukaran informasi di antara penduduk dunia berlangsung dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak. Manusia harus bereaksi dengan cepat juga, padahal alternatif yang tersedia sangat beragam. Karena luasnya perubahan yang terjadi, seluruh aspek kehidupan kita terpengaruh keluarga, pekerjaan, pendidikan, rekreasi, bahkan kehidupan beragama. Manusia harus terus-menerus melakukan penyesuaian baru. Banjir informasi (“over- loading”) dapat menjadi sumber stres yang kronik, penyebab penyakit adaptasi (diseases of adaptation).
Penyakit Adaptasi
Manusia dikatakan sehat secara psikologis bila ia dapat memberikan reaksi yang tepat pada lingkungannya; bila ia “well-adjusted”. Kemampuan beradaptasi memberikan kesan bahwa ia mampu memahami dan mengendalikan lingkungannya. Ia memiliki keterampilan menanggulangi (coping skill), yang ditandai dengan pengambilan keputusan yang tepat.
Pada suatu hari Nina melihat tonjolan kecil pada buah dadanya. Tak ada rasa sakit. Semula ia mengabaikannya. Tetapi, setelah seminggu ia masih melihat tonjolan itu, ia mulai cemas. Nina dapat memutuskan untuk menghubungi dokter dengan maksud mengetahui dengan pasti, berusaha melupakannya, atau mencemaskan berbagai kemungkinan tanpa bertindak apa-apa. Bila Nina memilih yang pertama, ia bertindak tepat. Ia dikatakan “well-adjusted”. Bila ia memilih dua yang terakhir, ia menderita penyakit adaptasi. Ia mengalami stres.
Beban psikologis yang ditanggung manusia pascamodern timbul bukan karena teknologi komunikasi per se, tetapi karena kecepatan perubahan yang ditimbulkannya. Salah satu di antara beban itu ialah berkurangnya kemampuan manusia untuk memahami dan menguasai lingkungannya. Puluhan tahun yang lalu, Tibor Scitovsky menulis, “… kita dikelilingi peralatan rumah-tangga yang dapat kita jalankan, tetapi tidak kita ketahui prinsip-prinsip yang menjalankannya; kita makin lama makin bingung ketika harus menjawab pertanyaan yang paling sederhana dari anak-anak kita tentang ihwal objek sehari-hari di sekitar kita. Manusia merasa sangat bergantung pada organisasi sosial dan teknik yang mekanismenya, di luar bidangnya yang sempit, umumnya tidak ia pahami. Ini menimbulkan perasaan tidak berdaya dalam hubungannya dengan masyarakat.” Menurut Samar Amin, makhluk-makhluk pascaindustri tidak lagi mampu bicara— tidak ada yang mereka bicarakan, karena tidak ada yang mereka pikirkan atau mereka rasakan.
Boleh jadi Scitovsky dan Amin terlalu ekstrem. Namun banyak psikolog sepakat dengan mereka bahwa salah satu ciri penyakit adaptasi pascamodern adalah alienasi. Manusia dipisahkan dari pengalaman manusiawinya. Individu menjadi otomat- otomat yang kehilangan spontanitas, kreativitas, dan individualitas. Perilakunya menurut—Yablonsky dalam Robopaths— Menjadi robopatis. Manusia berperan sebagai robot yang bergerak secara monoton, tanpa emosi, tanpa nilai, tanpa makna. “Manusia robot,” kata Yablonsky selanjutnya, “bangun pada waktu yang sama, makan pagi secara ritual, menghidupkan mesin di tempat kerja, menonton TV, bermain cinta secara ritualistik pada malam tertentu, berlibur seminggu—dan makin lama makin frustrasi dan bosan dengan kehidupan rutin mereka. Lama kelamaan gairah hidup mereka, kemampuan untuk berperilaku spontan dan kreatif, diturunkan sampai ke tingkat nol. Akibat dari derita ini ialah merasuknya secara perlahan-lahan rasa permusuhan dan agresi pada orang lain. … Inilah ongkos yang harus dibayar untuk kemajuan teknologis.”
Gejala yang diceritakan di atas didasarkan pada trend-trend masyarakat industri di Barat. Mereka sampai pada masyarakat pascaindustri setelah melalui tahap-tahap historis yang sinambung — agrikultural, industrial, dan pascaindustrial. Kebanyakan bangsa-bangsa di dunia ketiga sampai ke sana dalam proses yang lebih cepat. Mereka melakukan lompatan historis yang mereka sebut “pembangunan”. Tidak jarang mereka terkatung-katung dalam tiga dunia sekaligus. Dalam situasi seperti itu, beban psikologis yang harus mereka tanggung jauh lebih berat. Masuknya teknologi komunikasi akan menghilangkan banyak pekerjaan, pada saat pengangguran membengkak. Pemilikan teknologi komunikasi yang tidak merata akan menimbulkan konflik antara si kaya informasi dengan si miskin informasi. Keresahan sosial akan meledakkan kejahatan, kekejaman, tindak kekerasan, histeria massa, dan penyakit-penyakit sosial lainnya.
Apa yang harus dilakukan para da’i? Untuk mengatasi penyakit adaptasi, para da’i harus mampu melakukan gerakan dakwah yang terapeutis (bersifat menyembuhkan). Dakwah bukan saja harus memberikan wawasan keislaman yang lebih luas (yang bersifat kognitif), bukan hanya memberikan hiburan untuk melupakan persoalan dan meredakan tekanan psikologis; dakwah juga harus membantu orang-orang modern dalam memahami dirinya. Para da’i harus mampu membimbing umat untuk memahami realitas, memaksimalkan potensi yang mereka miliki dan akhirnya mengembangkan kepribadian mereka (menurut Al-Quran: Berbahagialah orang yang mensucikan dirinya. Celakalah orang yang mencemarinya).
Karena penyakit adaptasi itu juga menimbulkan alienasi (keterasingan orang dari dirinya), da’i harus mengembalikan mereka kepada dirinya. Pengembalian kepada sang diri hanya dapat dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Allah. Untuk ini, mungkin para da’i dapat mengambil pelajaran dari metode-metode para sufi. Riyadhah (latihan-latihan keruhanian), misalnya, dapat digunakan untuk tindakan-tindakan terapeutis. Walhasil, para da’i, selain sebagai pendidik, adalah juga dokter jiwa. Para pasiennya adalah korban-korban globalisasi.
Globalisasi
John Naisbitt dan Patricia Aburdene, dalam Megatrends 2000, menunjukkan kesamaan gaya hidup di seluruh dunia pada abad XXI. Dari gejala sekarang ini, Naisbitt dan Aburdene meramalkan globalisasi dalam 3F: food, fashion, dan fun (makanan, mode dan hiburan). Saya akan menyebutkan 5F lagi: faith, fear, facts, fiction, dan formulation. Marilah kita lihat contohnya satu demi satu.
Food. Orang tidak lagi makan makanan dari daerahnya. Banyak makanan dan minuman disajikan secara sama di seluruh dunia. Resep Kolonel Sanders dari Kentucky Fried Chicken dinikmati baik oleh penduduk Chicago maupun penduduk Cikaso. Produk-produk makanan termasuk minuman dan buah-buahan—berasal dari berbagai bagian dunia. Pada waktu ibadat haji, kita menyaksikan para jamaah memakan pisang dari Amerika Latin, minum air mineral dari Eropa Timur, mengisap apple juice dari Swedia dan shalat di atas sajadah buatan Taiwan.
Globalisasi makanan sepatutnya merisaukan kaum Muslim. Banyak di antara makanan itu mungkin merupakan makanan (atau dicampur dengan bahan-bahan) yang haram. Untuk memisahkan yang halal dari berbagai makanan itu, kitab-kitab kuning tidak lagi memadai. Yang diperlukan bukan lagi penelitian nash-nash Al- Quran atau sanad dan matan hadis, tetapi penelitian lapangan tentang komposisi kimiawi makanan. Para dai secara keseluruhan ditantang untuk bukan saja melindungi konsumen dari bahaya keracunan fisik tetapi juga mencegah pelanggaran Syariat. Para da’i harus sanggup menunjukkan makanan yang “halalan thayyiban”.
Fashion. Sekarang ini di dunia ada kota-kota yang menentukan perkembangan busana untuk seluruh dunia. Majalah mode Prancis Elle dicetak dalam enam belas edisi internasional. Wanita-wanita Kuwait dan Arab Saudi termasuk di antara para pelanggan majalah itu, CNN, stasiun televisi internasional, melaporkan mode-mode baru dari New York, Tokyo, Milan dan Paris. Dengan bantuan teknologi komunikasi modern, busana-busana rancangan baru disebarkan ke seluruh dunia.
Di dalam Islam, busana harus mencerminkan kesederhanaan di samping harus menutup aurat. Ini tidak berarti bahwa mode pakaian itu harus tetap sepanjang masa. Islam menghargai keindah- an. Karena itu, para da’i harus menghadapi globalisasi fashion bukan hanya dengan mempertahankan busana lama. Mereka dituntut untuk bersama para perancang busana menciptakan dan memopulerkan busana Muslim(ah). Ketika para santri mengganti sarungnya dengan blue jeans, ketika para ustadzah mengubah bentuk kerudungnya, para da’i harus memberikan respons yang konstruktif.
Gerakan jilbab di dunia Islam sekarang ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh arus globalisasi. Lihatlah bentuk kerudung yang sama sejak para demonstran mahjubah di Paris sampai mahasiswi berjilbab di Bandung. Sebagaimana terjadi globalisasi mode dalam pakaian yang membuka aurat, terjadi juga globalisasi hijab.
Fun. Hiburan sekarang menjadi bisnis internasional. Film, musik, dan macam-macam kegiatan hiburan lainnya dikelola secara internasional. Buku-buku komik Tintin, He-Man, Superman di baca oleh anak-anak Jepang di Tokyo, dan juga oleh anak-anak Indonesia di Solo. Cerita The Sleeping Beauty difilmkan dengan menggunakan berpuluh-puluh bahasa nasional.
Hiburan bukan hanya pelepas lelah atau pengisi waktu santai. Dalam hiburan— apa pun bentuknya—selalu terkandung nilai-nilai. Hiburan dapat mendorong demoralisasi, agresi, dan despiritualisasi. Ketika banyak anak Islam menjadikan Oshin sebagai idolanya dan sama sekali tidak mengenal Fathimah putri Rasulullah saw., kita melihat salah satu dampak negatif dari hiburan internasional.
Pada da’i adalah agen sosialisasi nilai-nilai Islam. Mereka ditantang untuk bersaing dengan agen-agen hiburan yang global. Sekarang para kiai tidak cukup hanya membacakan kisah-kisah dari Al-Quran, Sirah Nabi atau buku-buku seperti Durratun Nashihin; mereka harus mengemasnya dengan memanfaatkan teknologi informasi mutakhir. Penggunaan media massa oleh para da’i menjadi sangat vital.
Faith. Menarik sekali bahwa bersamaan dengan globalisasi gaya hidup, kita sekarang menyaksikan bangkitnya kembali kehidupan beragama. Naisbitt dan Aburdene menyebut juga kebangkitan umat Islam. Di mana-mana Islam sedang menghadirkan identitasnya. Di Iran telah berdiri Republik Islam dengan usaha besar-besaran untuk melakukan Islamisasi dalam berbagai bidang. Di Aljazair, Front Keselamatan Islam (Al-Jabhah Al-Islamiyyah li Al-Ingadz) untuk pertama kalinya memenangkan pemilihan umum. Di Yordania, mayoritas anggota parlemen direbut oleh kelompok Al-Ikhwan Al-Muslimun. Di Turki, walaupun kecil, partai Islam memegang posisi yang menentukan.
Globalisasi kebangkitan Islam sekarang ini ditandai dengan makin mengecilnya sekat-sekat mazhab. Kemenangan Abbas Madani, pengikut Sunni Maliki, disambut dengan gembira oleh Hashemi Rafsanjani, pengikut Syi’i Ja’fari. Protes terhadap buku Salman Rushdie dilakukan baik oleh Sunni maupun Syi’ah. Begitu pula, kehadiran tentara Amerika di Hijaz ditentang oleh gerakan-gerakan Islam di dunia—apa pun mazhabnya.
Islam sekarang bukan lagi Islam yang sektarian. Kaum Muslim tidak lagi melihat mazhabnya. Mereka melihat dunia Islam yang tunggal. Dalam suasana seperti ini, para da’i harus siap membuka diri terhadap pandangan-pandangan yang bermacam-macam. Menutup diri dalam ta’ashshub mazhab akan menyebabkan kita terasing dari pergolakan Islam internasional. Setiap hari ribuan buku Islam lahir di seluruh dunia. Setiap hari pemikiran Islam berkembang. Teknologi informasi akan memungkinkan semua orang Islam di bagian dunia mana pun dapat mengakses informasi itu.
Para da’i harus mengembangkan sistem informasi. Harus di lakukan koordinasi antar lembaga dakwah untuk mengembangkan berbagai data base systems—untuk perkembangan dakwah dan pemikiran Islam. Laboratorium dakwah, yang menghimpun data tentang khalayak dan materi dakwah, harus didirikan dengan menggunakan teknologi komunikasi mutakhir.
Fears. Karena negara-negara di dunia ini sekarang sudah saling bergantung (interdependent), maka masalah-masalah besar yang dihadapi umat manusia menjadi masalah semua orang. Pencemaran lingkungan, kejahatan, resesi ekonomi, ledakan penduduk, perang mempengaruhi kita semua. Hancurnya hutan di Kalimantan dapat berakibat global, begitu pula menipisnya lapisan ozon karena penggunaan berbagai gas di negara-negara maju. Anjloknya bursa saham di New York akan menghantam kegiatan ekonomi di Indonesia. Perang Teluk tidak hanya melibatkan Irak dan Arab Saudi saja. Penyakit-penyakit, seperti AIDS, dapat menyebar ke seluruh dunia dalam waktu yang cepat.
Menurut kaum environmentalis, sekarang ini kita harus think globally and act locally. Masalah-masalah dunia itu harus kita pikirkan, tetapi bertindaklah pada batas-batas lokal kita. Pesantren harus memahami masalah-masalah besar umat manusia itu. Sungguh malang bila kaum Muslim menderita karena sebab global yang tidak kita ketahui. Salah satu ciri faqih ialah mengetahui tanda-tanda zaman. Ia harus memberikan jawaban terhadap kekuatiran dan kecemasan umatnya. Ia memberikan makna kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi. Pemaknaan hanya dapat dilakukan bila orang memperoleh informasi tentang peristiwa yang dimaknakannya.
Facts, Fictions, dan Formulations. Kejadian di bagian dunia. mana pun sekarang dapat disiarkan secara segera, meluas, dan serentak. Pertandingan sepakbola di Roma dapat disaksikan oleh jutaan penduduk bumi di mana pun. Anda dapat mendengar sesumbar George Bush dan jawaban Saddam Hussein sekaligus. Anda dapat melihat tank-tank baja Amerika merangkak di padang pasir Arabia. Anda dapat melihat kaum Hindu militan menerobos memasuki Masjid Babri di India. Seandainya kilang-kilang minyak di Hijaz terbakar, apinya akan disaksikan oleh seluruh penduduk bumi dalam waktu yang sama.
Namun teknologi komunikasi bukan hanya menyajikan realitas. Dengan menggunakan teknik-teknik presentasi (seperti ambilan dan special effects), media massa dapat menyajikan realitas buatan. Bila kita menerima realitas itu tanpa kritis, kita akan membentuk gambaran dunia yang keliru. Yang kita jadikan rujukan bukan lagi facts tetapi fictions. Bukan tidak mungkin kaum Muslim membenci saudara-saudara mereka seagama, sambil mendukung sepenuhnya musuh-musuh Islam. Apa yang kita lihat sudah dirancang oleh musuh-musuh kita.
Informasi yang kita terima tidak pernah netral. Dalam informasi itu sudah terkandung nilai-nilai, misi, dan pandangan hidup. Informasi selalu merupakan perumusan realitas dari perspektif tertentu. Informasi adalah formulasi. Bila kita tidak menyadari hal ini, kita dapat terjebak pada pandangan dunia yang salah. Tindakan kita akan salah juga.
Karena itu, para da’i harus melatih para pengikutnya untuk mengembangkan kemampuan menerima, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi. Pada kurikulum dakwah harus ditambahkan keterampilan komunikasi. Tidak mungkin kita merebut jaringan informasi dunia sekarang ini. Tetapi sesuai dengan prinsip “berpikir global bertindak lokal”, kita dapat malatih para da’i kita untuk paling tidak menguasai media lokal. Pada kurikulum selain manthiq, harus juga ditambahkan keterampilan praktis seperti berbicara dan menulis. Bila memungkinkan, mereka harus diperkenalkan pada penggunaan komputer. Cepat atau lambat, komputer akan masuk ke dalam lingkungan kita.
Penutup
Para dai, para pelanjut Rasulullah saw., tidak boleh bertindak pasif. Mereka harus menyambut tantangan-tantangan di hadapannya dengan perencanaan yang baik. Kecintaan kita kepada peninggalan para ulama salaf sepatutnya tidak menyebabkan kita buta melihat masa depan. ‘Ali bin Abi Thalib r.a. memberikan nasihat kepada kita, “Siapa yang merasa aman menghadapi zaman, zaman akan menipunya. Siapa yang tinggi hati menghadapinya, ia akan merendahkannya. Siapa yang bersandar pada tanda-tanda zaman, zaman akan menyelamatkannya.” Cucunya, ‘Ali Ridha r.a., yang menghindari penguasa yang zalim, dengan menyebarkan ajaran Islam ke sebelah timur, menutup tulisan ini dengan syairnya:
Manusia mencela zaman
Padahal tak ada cela pada zaman selain pada diri kita
Kita kecam zaman padahal kecaman itu ada pada kita
Sekiranya zaman dapat berkata
Ia akan menggugat kita
JR — wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).