
Terry Jones, pelaut muda dari Australia, meloncat dari kapal perangyang sedang bertolak ke Teluk Persia. Apa pasal? Dia menonton acara televisi yang memperlihatkan Presiden AS, George Bush, asyik bermain golf di Kennebunkport. Ketika ribuan orang tengah mempertaruhkan nyawa mereka di padang pasir yang panas-begitu pikir Jones-Bush yang mengirimkan mereka ke sana malah bersenang-senang.
Diperkirakan lebih dari 70 juta orang di seluruh dunia menyaksikan Bush main golf. Walaupun tidak semuanya meloncat ke laut seperti Jones, siaran televisi yang dipancarkan CNN (Cable News Network) memengaruhi pandangan mereka tentang Bush. Di antara jutaan pemirsa itu, ada Saddam Hussein, Presiden Irak.
Kita tidak tahu bagaimana perasaan Saddam waktu itu. Yang kita ketahui, Saddam kemudian diwawancarai Dan Rather, penyiar CNN. Selama berjam-jam, Saddam diperlihatkan sedang mengobrol dengan warga Barat di Baghdad. Dengan ramah dia bercanda dengan anak-anak sandera. (Kata Saddam, mereka bukan sandera, tetapi “tamu-tamu Irak”)
“Saya tidak melihat acara itu,” kata Bush, yang diduga hanya untuk meremehkan wawancara CNN dengan Saddam. Anehnya, Bush memperlihatkan kejengkelan juga. Dia menganggap “Saddamathon” —begitu tayangan Saddam itu kemudian disebut—telah berlaku tidak adil.
Saddam dapat berbicara kepada rakyat Amerika, tetapi Bush tidak dapat berpidato kepada rakyat Irak. Presiden Irak, lewat Menteri Penerangannya, Naji Al-Haditsi, mengundang Bush supaya berpidato di televisi Irak. Kemudian Bush mempersiapkan rekaman video untuk dikirim ke kawasan Teluk.
Sebuah proses politik yang menarik sedang berlangsung. Orang menyebutnya videopolitik. Jonathan Alter, kolumnis Newsweek, mengubah satu kata dalam pernyataan Clausewitz, ahli strategi militer abad XIX: Videopolitik telah menjadi perpanjangan perang dengan cara yang lain. Videopolitik adalah kegiatan penyampaian informasi melalui televisi untuk memengaruhi sistem politik—nasional maupun internasional.
Kini, penggunaan antena parabola telah memperluas cakupan dan signifikansi videopolitik. Penampilan Bush di depan kamera televisi bukan hanya memengaruhi David Schutz di Utah, AS, tetapi juga Terry Jones di Australia dan Kang Latief di Bandung.
Melalui siaran CNN, Saddam bukan saja dapat memonitor pertambahan tentara di Arab Saudi, jatuhnya pesawat tempur Amerika Serikat, tetapi juga kesulitan Bush untuk memperoleh dana guna menyokong perangnya di Teluk Persia. Saddam dapat mengetes reaksi rakyat Amerika ketika dia membebaskan sebagian warga Barat yang disanderanya.
Menyajikan Realitas Buatan
Salah satu kekuatan televisi adalah kemampuannya untuk menyajikan realitas kedua (second-hand reality). Lewat layar kecil, yang berfungsi sebagai jendela dunia, para pemirsa diarahkan untuk mendefinisikan situasi sesuai dengan kehendak elite pengelola informasi. Orang bertindak. mengambil keputusan, tidak berdasarkan realitas, tetapi berdasarkan makna yang diberikannya kepada realitas itu.
Boleh jadi benar tuntutan Saddam mengenai Kuwait, tetapi media—yang umumnya didominasi negara-negara Barat—telah mendefinisikan Saddam sebagai diktaktor yang haus darah, agresor yang agak sinting. Orang yang sama pernah dipuji sebagai pahlawan Arab ketika menyerbu dan menganeksasi beberapa provinsi di Iran pada 1980.
Amerika Serikat dikemas di media sebagai pelindung Arab Saudi dari invasi Irak dan penegak demokrasi. Ia tidak disebut agresor walaupun delapan bulan sebelumnya menyerbu Panama dan menawan Jenderal Noriega. Mengapa hanya Saddam yang dilukiskan sebagai Hitler? Bukankah apa yang dilakukan Inggris di Falkland (Malvinas), Prancis di Afrika Utara, Uni Soviet di Afghanistan, dan Israel di Lebanon tidak berbeda dengan apa yang dilakukan Irak sekarang?
Apa yang menyebabkan tindakan yang sama disebut agresi pada waktu yang satu dan disebut tanggung jawab moral pada waktu yang lain? Ini masalah definisi situasi. Lihatlah bagaimana A.M. Rosenthal mendefinisikan campur tangan Amerika di Timur Tengah, “Tujuan kita yang terakhir ialah memusnahkan kediktaktoran Baghdad yang keterlaluan kejamnya dengan hukuman ekonomi dan militer dari negara-negara Barat.”
Lalu, bagaimana definisi situasi versi Irak? “Irak telah dipilih Tuhan untuk menghancurkan kesombongan imperialis Amerika,” kata Saddam. Dia mengajak kaum Muslim untuk membebaskan Tanah Suci—Makkah, Madinah, dan Jerusalem—dari dominasi orang-orang kafir; sementara Arab Saudi mengimbau umat Islam untuk melindungi kota-kota suci itu.
Televisi mempunyai dampak politik lebih besar, bila definisi situasi yang ditampilkan diterima oleh para pengambil keputusan politik. Efeknya terhadap segelintir elite penguasa jauh lebih penting daripada efeknya pada ribuan khalayak ramai. Karena itu, tokoh-tokoh politik secara sepenuhnya menyadari efek videopolitik dan berupaya mengendalikannya.
Rekayasa Videopolitik
Televisi memainkan peran politik untuk pertama kalinya pada 1960. The Great Debates antara Kennedy dan Nixon bukan saja memasukkan uang berlimpah pada profesi televisi, tetapi juga memengaruhi hasil pemilu Amerika. Ketika Kennedy berada di Gedung Putih, dia betul-betul memanfaatkan televisi sebagai megafonnya. Televisi telah menjadi instrumen politik.
Pada 1963, Kennedy terbunuh. Televisi menyiarkan tragedi ini secara emosional. CBS, NBC, dan ABC mengubah durasi siaran berita malam hari dari seperempat jam menjadi setengah jam. Mulai tahun ini, dan makin lama makin kuat pada tahun-tahun berikutnya, televisi telah mengubah institusi politik, pola perilaku memilih, opini publik, dan etos politik. Pada 1976, Ford dan Carter bersaing untuk menjadi presiden.
Semalam sebelum The Great Debates—perdebatan calon presiden di televisi—polling menunjukkan Ford lebih unggul 11 persen dari Carter. Dalam perdebatan, Ford 45 persen di belakang Carter. Televisi telah merugikan Ford 56 persen poin hanya dalam waktu sehari-semalam.
Sejak saat itu semua Presiden Amerika yang berikutnya terlibat dalam videopolitik. Videopolitik—secara bercanda—telah dianggap menggeser pemegang kedaulatan. Dalam kehidupan sehari-hari, yang berkuasa adalah presiden. Tetapi, presiden dipilih rakyat. Rakyat pada gilirannya sangat dipengaruhi televisi. Televisi tentu saja bergantung pada para profesional yang mengemas acaranya. Para profesional hanya bekerja untuk mereka yang dapat membayar paling mahal. Walhasil, kedaulatan dipegang oleh para profesional media.
Di Amerika kini ada dua kelompok sehubungan dengan Perang Teluk II (2003-2011). Kelompok garis keras—di antaranya Safire, Luttwak, dan Kissinger—menginginkan tindakan cepat Amerika untuk menyerang Irak. Kelompok lunak mempersoalkan pentingnya kehadiran pasukan Amerika di Arab Saudi. “Apakah sepenting itu perlindungan terhadap Arab Saudi, sehingga Amerika harus mempertaruhkan nyawa untuk itu?” kata Mark Shields. Kedua kelompok ini berusaha meyakinkan Bush dan rakyat Amerika. Dan Rather dari CNN dapat membantu Bush atau merusaknya.
Siaran Saddamathon, walaupun tidak menampilkan Saddam dalam citra yang baik, dapat mengurangi keyakinan rakyat Amerika untuk melanjutkan peperangan. Kathleen Hall Jamieson, penulis The Interplay of Influence dan Dekan Annenberg School for Communication, menjelaskan efek psikologis Saddamathon. Kehadiran wajah para sandera, perilaku anak-anak, dan pesan para sandera untuk keluarganya telah mempersoalkan krisis Teluk Persia. Makin tampak para sandera dalam televisi, makin banyak nama dan wajah dihubungkan dengan mereka, makin besar keraguan memasuki orang Amerika untuk mempertaruhkan nyawanya.
Penampilan para sandera dan para prajurit sebagai manusia dengan segala tawa dan tangisnya, dengan ekspresi benci dan cintanya, akan menyebabkan orang bertanya-tanya: Apakah orang-orang baik seperti itu harus mati? Seperti para pendahulunya, Bush harus berhati-hati dengan videopolitik.
Tangan-Tangan Usil
Ekspresi manusiawi para sandera hanya terungkap dengan baik lewat siaran televisi, tidak lewat surat kabar atau majalah. Getaran suara orang cemas, kepayahan prajurit yang kehausan di padang pasir, isakan tangis keluarga yang ditinggal kekasihnya tampak hidup di dalam layar televisi.
Berita tidak lagi sekumpulan pesan dalam sistem piramida (terbalik atau tidak). Berita telah menjadi drama kemanusiaan. Kegiatan politik bukan lagi mekanisme abstrak yang mengolah masukan (input) menjadi keluaran (output). Kegiatan politik menjadi kisah pertarungan manusia melawan kesulitan dan upaya manusia untuk menaklukkan penderitaan.
Kathleen Hall Jamieson menyebut kekuatan televisi ini sebagai “dramatisasi dan sensasionalisasi isi pesan”. Dia mengutip Irving Kristol, “Apa yang dapat dilakukan televisi—dengan kekuatan yang luar biasa—adalah memobilisasikan emosi pemirsa di sekitar gambaran dunia politik yang hidup, disederhanakan, dan bersifat melodramatik, di mana pujaan dan kutukan menjadi kutub-kutub magnetisnya.”
Gambaran dunia di televisi sebetulnya gambaran dunia yang sudah diolah. Bukan lagi realitas tangan-kedua, tetapi mungkin sudah menjadi realitas tangan-keempat. Tangan-pertama yang usil adalah kamera. Gerak, ambilan, dan sudut kamera (camera motions, shots, and angles) menentukan kesan pada diri pemirsa. Gerak kamera yang lambat menampilkan kesan lembut dan romantis, sedangkan gerak cepat menimbulkan kesan dramatis. Bila kamera menyorot terwawancara dari atas, ada kesan bahwa terwawancara mempunyai kedudukan lebih rendah.
Reporter dan penyiar biasanya diambil dengan medium close-up atau medium shot. Ambilan seperti ini memberikan kesan objektif, netral, dan tidak memihak. Close-up dilakukan untuk menangkap reaksi emosional. Tokoh-tokoh jarang diambil dengan ambilan jauh (long shots) karena dapat mendepersonalisasikan dan mengurangi keterlibatan emosional para pemirsa. Ambilan jauh hanya dipakai untuk melukiskan latar belakang atau konteks.
Tangan-kedua masuk dalam proses penyuntingan. Dua gambar dapat dipadukan untuk menimbulkan kesan yang dikehendaki. Bush, misalnya, menyampaikan pidato. Segera setelah itu ditampilkan gambar hadirin yang memberikan tepuk tangan. Pemirsa mendapat kesan bahwa pidato Bush mendapat sambutan meriah. Padahal hadirin yang bertepuk tangan itu jauh lebih sedikit daripada mereka yang diam. Tetapi, editor membuang gambar hadirin yang diam. Belakangan editor dapat mendramatisasikan berita dengan memainkan special effects.
Tangan-ketiga masuk ketika gambar muncul dalam layar kecil televisi kita. Layar televisi mengubah persepsi kita tentang ruang dan waktu. Bangunan besar menjadi rumah-rumahan. Biduan menjadi boneka kecil. Pada saat yang sama, penyiar menjadi sebesar Gedung Putih atau medan pertempuran. Televisi mengakrabkan tokoh-tokoh dan tempat-tempat yang jauh. Saddam dan Bush datang ke kamar kita dan berhadap-hadapan dengan kita. Hubungan interpersonal kita—termasuk benci dan cinta kita—melintas batas-batas geografis.
Tangan-keempat adalah perilaku para penyiar televisi. Mereka dapat menggarisbawahi berita, memberikan makna yang lain, atau meremehkannya. Para penyiar sekarang tidak lagi berperan sebagai gate-keeper (penjaga gawang) yang objektif. Mereka telah menjadi pendukung (advocates). Mereka dapat berperan sebagai duta atau diplomat, sering lebih efektif daripada para negarawan. Walter Cronkite berjasa dalam menghubungkan Presiden Mesir, Anwar Sadat, dan PM Israel, Menachem Begin, sehingga tercapai Perjanjian Camp David (1978). Dan Rather membawa Saddam untuk berdialog dengan rakyat Amerika.
Dalam Krisis Teluk, videopolitik terus berlangsung. Kemajuan dalam teknologi komunikasi telah menjadikan videopolitik bersifat global dan universal. Di samping ditentukan oleh pergelaran senjata-senjata canggih di padang pasir, akhir Krisis Teluk juga akan ditentukan oleh penayangan televisi. Yang akan memenangi pertandingan tampaknya bukan lagi Saddam dan Bush, tetapi Dan Rather dan penyiar televisi lainnya.
JR — wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).