
Dosa adalah: 1. Perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama: Ya Tuhan, ampunilah segala dosa kami; 2. Perbuatan salah (seperti terhadap orangtua, adat, negara): Perbuatan itu dapat dianggap dosa besar terhadap nusa dan bangsa,” begitu penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus berusaha membedakan antara “dosa” dan “kesalahan.” Kerangka rujukan “dosa” adalah Tuhan atau norma agama. Anda berdosa bila Anda melanggar hukum syariat. Anda tidak berdosa bila Anda melanggar peraturan lalu-lintas. Anda berdosa ketika Anda tidak membayar zakat, tetapi Anda tidak merasa berdosa–Anda hanya melakukan kesalahan saja ketika Anda tidak membayar pajak. Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan kamus ini tidak selalu jelas. Ada banyak perbuatan yang disebut “salah” menurut agama maupun bukan agama. Menghardik orangtua dilarang oleh Al-Quran, juga oleh adat kebiasaan. Membunuh orang yang tak bersalah diberi sanksi oleh syariat maupun oleh hukum positif.
Tidak semua orang sanggup membedakan keduanya. Akan tetapi, setiap orang tahu kapan dia berdosa dan kapan dia “bersalah” saja. Dosa terasa dalam lubuk hati yang paling dalam. “Dosa adalah apa yang bergetar di dalam hati nuranimu,” sabda Nabi Muhammad saw. Kesalahan mungkin hanya mengganggu “otak” dan menimbulkan kekesalan. Dosa melukai hati dan menorehkan penyesalan. Kesalahan hanya mempunyai akibat fisis atau psikologis. Dosa merusak manusia secara fisik, kejiwaan, dan juga ruhaniah. Menarik untuk dicatat bahwa kata umum untuk dosa dalam Al-Quran adalah dzanb, yang menurut asal katanya–berarti “ekor” atau “akibat.”
“Dalam Al-Quran, kata dosa disebut beberapa kali dalam kalimat yang berbeda-beda. Setiap kata itu menjelaskan macam-macam akibat dosa atau aneka ragam bentuk dosa. Ada 17 kata yang disebutkan oleh Al-Quran mengenai dosa:
1. Dzanb: artinya akibat, karena setiap amal yang salah mempunyai akibatnya sebagai balasan, baik di dunia maupun di akhirat. Kata ini muncul 35 kali dalam Al-Quran.
2. Ma’shiyah: berarti pembangkangan atau keluar dari perintah Tuhan. Kata ini menjelaskan bahwa manusia sudah keluar dari batas abdi Tuhan (‘ubûdiyyah) jika melakukannya. Kata ini disebut 33 kali dalam Al-Quran.
3. Ism: artinya kealpaan dan tidak mendapatkan pahala. Jadi, pendosa sebenarnya adalah orang yang alpa tetapi menganggap dirinya sadar atau pintar. Kata ini disebut 48 kali dalam Al-Quran.
4. Sayyi’ah: berarti pekerjaan jelek yang menimbulkan kesedihan, lawan kata hasanah yang berarti kebaikan dan kebahagiaan. Disebut 165 kali dalam Al- Quran. Kata su’ juga berasal dari kata ini disebut sebanyak 44 kali.
5. Jurm: arti harfiahnya memetik (melepaskan) buah dari pohonnya, atau berarti rendah. Kata jarimah atau jarâ’im berasal dari kata ini. Jurm adalah perbuatan yang melepaskan atau menjatuhkan manusia dari tujuan, proses penyempurnaan, kebenaran dan kebahagiaan. Kata ini tercantum 61 kali dalam Al-Quran.
6. Harâm: berarti larangan atau ketidakbolehan. Pakaian ihrâm adalah pakaian yang dikenakan oleh jamaah haji yang membuat mereka terlarang untuk mengerjakan beberapa hal. Bulan haram adalah bulan di mana umat Islam dilarang untuk berperang, Masjid Al-Haram adalah masjid yang memiliki kesucian dan penghormatan khusus, sehingga kaum musyrik tidak berhak untuk memasukinya. Kata ini disebut sekitar 75 kali dalam Al-Quran.
7. Khathi’ah: kebanyakan berarti dosa yang tidak disengaja. Kadang-kadang juga digunakan untuk dosa besar, seperti dalam surah al-Baqarah 81 dan surah al-Haqqah 37. Kata ini pada mulanya berarti keadaan yang menimpa manusia setelah ia melakukan dosa atau perasaan yang timbul akibat dosa tersebut, dan yang membuat ia terlepas dari pertolongan, dan yang menutup pintu masuk cahaya hidayah ke kalbu manusia. Kata ini disebut 22 kali dalam Al-Quran.
8. Fisq: pada asalnya berarti keluarnya butiran kurma dari kulitnya. Dengan melakukan fisq, pendosa keluar dari ketaatan dan pengabdian kepada Tuhan. Seperti pecahnya kulit kurma, pendosa dengan perbuatannya ini memecahkan benteng perlindungan Tuhan, sehingga ia akhirnya tidak dijaga sama sekali. Kata ini muncul 53 kali dalam Al-Quran.
9. Fasad: artinya melewati batas kesetimbangan. Akibatnya kesusahan dan hilangnya potensi-potensi manusia. Disebut 50 kali.
10. Fujur: berarti tersingkapnya tirai rasa malu, kehormatan dan agama yang akan menyebabkan kehinaan. Kata ini hanya muncul 6 kali dalam Al- Quran.
11. Munkar: berasal dari kata inkar yang berarti tidak kenal atau ditolak, karena dosa ditolak oleh fitrah dan akal sehat. Akal dan fitrah menganggapnya asing dan jelek. Kata ini disebut sebanyak 16 kali dalam Al-Quran dan kebanyakan dipaparkan dalam bagian nahy ‘an al-munkar.
12. Fahisyah: perkataan atau perbuatan buruk yang dalam keburukannya tidak ada syak lagi. Dalam beberapa hal berarti pekerjaan yang sangat kotor, memalukan dan tabu. Disebut 24 kali dalam Al-Quran.
13. Khabth: berarti tidak adanya keseimbangan ketika duduk dan bangun. Menjelaskan bahwa dosa adalah sebuah gerakan yang tidak seimbang, yang diiringi oleh kelimbungan dan kecondongan untuk jatuh.
14. Syarr. perbuatan jelek yang seluruh manusia mempunyai rasa tidak senang terhadapnya, dan kebalikannya khair, berarti pekerjaan baik yang disukai oleh masyarakat. Dosa adalah perbuatan yang bertentangan dengan fitrah dan lubuk hati manusia yang paling dalam. Kata ini disebut seringkali berhubungan dengan kesusahan dan kesulitan. Tapi juga kadang-kadang disebut berhubungan dengan dosa. Seperti apa yang tercantum dalam surah az-Zalzalah 8.
15. Lamam: artinya dekat dengan dosa. Juga berarti barang-barang yang sedikit dan langka. Digunakan dalam penjelasan tentang dosa-dosa kecil. Kata ini hanya disebut 1 kali dalam Al-Quran, di dalam surah an-Najm 32.
16. Wizr: berarti beban. Kebanyakan disebutkan perihal orang yang menanggung atau memikul dosa orang lain. Wazir (perdana menteri) adalah. orang yang mempunyai beban dan tugas yang berat. Pendosa adalah orang lalai yang memikulkan beban berat pada pundaknya sendiri. Disebut 26 kali dalam Al-Quran. Dalam Al-Quran juga disebutkan kata lain yang sama artinya, yaitu tsiql, dan disebut dalam hubungannya dengan dosa. Seperti dinyatakan dalam surah al-‘Ankabût 13.
17. Hints: pada asalnya berarti kecenderungan dan kemauan seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan batil atau salah. Kebanyakan disebut dalam dosa-dosa yang berkaitan dengan pembatalan janji atau sumpah. Atau penyelewengan dan pengkhiatan terhadap ‘ahd (janji). Kata ini disebut dua kali dalam Al-Quran.” (Muhsin Qira’ati, Gunahsyenasi, Intisyarat Payam Azadi, hlm. 22-25).
Pada 17 kata yang didaftar Qira’ati, kita dapat menambahkan kata rijs yang secara harfiah berarti hal yang kotor, baik fisik atau ruhaniah; disebut 10 kali dalam Al-Quran. Dalam Al-Quran, rijs bukan saja perbuatan yang dipandang keji seperti khamar dan judi (Qs al-Mâ’idah, 5: 90; Qs al-An’âm, 6: 145; Qs at-Taubah, 9: 95), tetapi juga akibat dari perbuatan itu seperti siksa (Qs al- A’râf, 7: 71; Qs al-An’âm, 6: 125) dan penyakit hati (Qs at-Taubah, 9: 125). Dengan menyelusuri makna rijs dan 17 kata lainnya yang menunjukkan dosa dalam Al-Quran, kita menemukan kenyataan yang sangat mempesona. Dalam kata “dosa” selalu terkandung akibat atau balasan. Dosa adalah keadaan ketika manusia membangkang dan melanggar perintah Allah, melakukan apa yang dilarang Allah, melewati batas kesetimbangan, melupakan fitrah yang murni, atau melakukan perbuatan yang jelas keji dalam pandangan orang yang sehat akalnya. Dosa berkisar sejak getaran hati atau kemauan untuk melakukan kekejian, dosa-dosa kecil, sampai dosa-dosa besar. Dosa mengakibatkan seseorang tidak mendapat pahala, ditimpa kesusahan, dijatuhkan dari jalan mendaki menuju kesempurnaan, dikeluarkan dari benteng penjagaan Tuhan, ditutup hati sehingga cahaya hidayah tidak dapat masuk ke dalam hatinya, kehilangan potensi-potensi baik dan keseimbangan sehingga mudah sekali jatuh dalam kehinaan.
Karena itu, berdasarkan akibatnya, dosa berarti kejatuhan, kehinaan, kelimbungan, dan kekotoran jiwa. Membersihkan diri dari dosa berarti bangun dari kehinaan, tegak kokoh dalam kemuliaan, dan bergerak menuju kesempurnaan. Dalam bahasa Arab, zakkâ berarti menyucikan, juga mengembangkan; dassa berarti mengotori, meracuni, dan juga membenamkan di bawah tanah (Taj al-Arus dalam kata “dasasa”). Qad aflaha man zakkâ-hâ wa qad khâba man dassaha (“Berbahagialah orang yang menyucikan dirinya dan celakalah orang yang mencemari dirinya”).
Seperti “kotoran,” dosa berkisar sejak tingkat sedikit kotor sampai paling kotor. Makin tinggi tingkat kekotorannya, makin besar tingkat dosa; dan makin dalam kejatuhan manusia, makin berat akibat yang ditimbulkannya. Dosa yang paling kotor disebut kabâ’ir (dosa besar). Tidak mungkin manusia menghindari semua dosa; tetapi ia bisa menghindari semua dosa besar. Allah berfirman: Jika kalian menjauhi kabâ’ir, yang kalian dilarang melakukannya, maka Kami akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosamu yang kecil) dan memasukkan kalian ke tempat masuk yang mulia (Qs an-Nisâ’, 4: 31).
Lalu, apa yang disebut kabâ’ir? Syaikh Baha’i menjelaskan, “Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan kabâ’ir. Sebagian mengatakan bahwa kaba’ir adalah dosa yang diancam Allah dengan siksa seperti tercantum di dalam Al-Quran. Yang lain mengatakan kabâ’ir adalah dosa yang mempunyai batasan yang sudah ditetapkan oleh Pembuat Syariat atau apa-apa yang sudah dijelaskan sanksinya. Ada kelompok yang mendefinisikan kaba’ir sebagai perbuatan maksiat yang dilakukan karena pelakunya kurang memperhatikan agama. Yang lain berpendapat: kabâ’ir adalah apa yang diancam dengan ancaman yang keras dalam Al-Quran dan Sunnah. Ibn Mas’ûd pernah diriwayatkan berkata, “Bacalah dari awal surah an-Nisa’ sampai ayat: Jika kalian menjauhi kabâ’ir yang kalian dilarang melakukannya, maka Kami akan menghapus kesalahan kalian yang mulia (dosa-dosa kalian yang kecil) dan memasukkan kalian ke tempat masuk yang mulia (Qs an-Nisâ’, 4: 31). Apa-apa yang dilarang di dalam surah ini sampai ayat ini adalah dosa besar.” Sebagian lagi mengatakan, “Semua dosa adalah kabâ’ir, karena semuanya mempunyai ciri yang sama, yakni membantah perintah dan melakukan larangan. Sementara itu, pembagian dosa menjadi kecil dan besar itu relatif terhadap dosa yang di atasnya dan di bawahnya. Ciuman adalah dosa kecil jika dibandingkan dengan zina dan besar jika dibandingkan dengan pandangan yang disertai syahwat. Syaikh ath-Thabarsî dalam tafsirnya Majma’ al-Bayân, setelah mengutip riwayat tadi mengatakan, “Karena itulah, para. sahabat kita berpendapat bahwa maksiat seluruhnya adalah dosa besar-hanya saja, sebagian ada yang lebih besar dari yang lain. Tidak ada dosa kecil-disebut kecil hanya karena dihubungkan dengan dosa yang lebih besar dan lebih bera siksanya.” (Sayyid al-Majlisî, Mir’ah al-‘Uqûl, Teheran: Bazar Sulthani, 1404 10: 1-2).
Pendapat Syaikh ath-Thabarsî lebih mencerminkan kehati-hatian orang yang sudah dekat dengan Allah ketimbang berdasarkan dalil. Banyak ayat Al- Quran dan riwayat dari Nabi Saw dan para Imam berkenaan dengan pembagian dosa besar dan dosa kecil. Walaupun jumlah dosa besar itu tidak disepakati di antara ulama karena perbedaan hadis yang dirujuk, semua sepakat ada sejumla dosa yang disebut kaba’ir.
Pada suatu hari ‘Amr bin ‘Ubaid berkunjung ke rumah Imam Ja’far ash Shâdiq. Setelah mengucapkan salam dan duduk, ia membaca ayat Al-Quran: (Yaitu) orang yang menjauhi kabâ’ir (dosa besar) dan perbuatan keji yang selain dakesalahan-kesalahan kecil…. (Qs an-Najm, 53: 32). Lalu, ia berhenti. Imam Shadiq bertanya, “Mengapa engkau berhenti?” Amr menjawab, “Aku ingin mengetahui apa yang disebut kaba’ir dalam Kitabullah.” Kemudian Imam ash-Shadiq berkata, “Baikhlah, ya ‘Amr. Pertama, sesungguhnya kaba’ir yang paling besar adalah syirik dan menyekutukan Allah, sebagaimana difirmankan oleh Allah: Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,… (Qs al- Ma’idah, 5: 72). Setelah itu, kedua, yang terbesar adalah putus asa dari rahmat dan kasih Tuhan, seperti difirmankan Allah: Sesungghnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (Qs Yûsuf, 12: 87). Lalu, yang ketiga adalah merasa aman dari azab Allah: … Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi (Qs al-A’râf, 7: 99). Dan, keempat, yang juga termasuk ke dalam dosa besar adalah durhaka kepada orangtua, karena Allah menyebut orang yang durhaka kepada orangtua sebagai jabbâran syaqiyya [suka memaksakan kehendak dan celaka] (Qs Maryam, 19: 32); kelima, membunuh apa-apa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, Allah Swt berfirman, … Maka, balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya… (Qs an-Nisâ’, 4: 93); keenam, menuduh berzina kepada perempuan yang bersih, karena Allah Swt berfirman:… Mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar (Qs an-Nûr, 24: 23); ketujuh, memakan harta anak yatim, sebagaimana disebutkan:… Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (Qs an-Nisâ’, 4: 10); kedelapan, lari dari medan pertempuran, Allah Swt berfirman: Barangsiapa membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhurya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam, dan amat buruklah tempat kembalinya (Qs al-Anfal, 8: 16); kesembilan, memakan riba, Allah Swt berfirman: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila (Qs al-Baqarah, 2: 275); kesepuluh, sihir, karena Tuhan telah menyatakan, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat (Qs al-Baqarah, 2: 102); kesebelas, berzina, karena Allah berfirman: … Barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa-(nya), yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina (Qs al-Furqån, 25: 68-69); keduabelas, sumpah palsu untuk membela kedurhakaan, karena Allah berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka tidak akan mendapat bagian pahala di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak pula akan menyucikan mereka, bagi mereka azab yang pedih (Qs Ali Imrån, 3: 77); ketigabelas, berkhianat dalam urusan harta (rampasan perang), karena Allah berfirman, … Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan harta (rampasan perang) itu, maka pada Hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu (Qs Ali Imran, 3: 161); keempatbelas, tidak membayar zakat yang diwajibkan, karena Allah berfirman,… Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka lalu dikatakan kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri. Maka rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan itu” (Qs at-Taubah, 9: 35); kelimabelas, kesaksian palsu dan menyembunyikan kesaksian, karena Allah berfirman, … Dan barangsiapa menyembunyikan kesaksian, maka ia sesungguhnya adalah orang yang berdosa hatinya (Qs al-Baqarah, 2: 283); keenambelas, minum khamar, karena Allah melarangnya sama seperti Allah melarang penyembahan berhala (Qs al-Ma’idah, 5: 90); ketujuhbelas, meninggalkan shalat atau meninggalkan apa saja yang diwajibkan Allah dengan sengaja, karena Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, maka ia sudah terlepas dari perlindungan Allah dan Rasul-Nya”; kedelapanbelas, memutuskan janji dan silaturrahmi, karena Allah berfirman, Bagi mereka laknat dan tempat kembali yang seburuk-buruknya (Qs at-Taubah, 9: 26). Maka, keluarlah ‘Amr sambil menangis keras. Ia berkata, “Celakalah orang yang berkata dengan pendapatnya sendiri dan menandingi Anda semua dalam keutamaan dan pengetahuan.” (Mir’ah al- ‘Ugül, 10: 45-64).
Inilah delapan belas dosa besar dengan akibat-akibat yang sangat besar juga. Hasyim ar-Rasuli al-Mahallati, dalam buku ini, menjelaskan macam-macam akibat yang terjadi karena dosa besar, antara lain berbuat zalim, berzina, durhaka kepada orangtua, memutuskan silaturrahmi, minum khamar, berjudi. Perbuatan zalim berakibat pada kehancuran bangsa atau umat. Berzina, memutuskan silaturrahmi, dan durhaka kepada orangtua memendekkan umur dan mempercepat kebinasaan. Minum khamar dan berjudi meruntuhkan penjagaan manusia. Kita tentu saja dapat membuktikan kebenaran pernyataan ini dengan analisis sosiologis. Tirani dan penindasan pada jangka lama akan melahirkan perlawanan. Sekelompok orang akan bangkit untuk menumbangkan para tiran. Penindas dan yang tertindas akan berdiri bertentangan. Terjadilah unsur-unsur disintegratif dalam masyarakat. Karena kezaliman, suatu sistem sosial (umat atau bangsa) jatuh ke dalam kehancuran. Lalu apa hubungannya berzina dan memutuskan silaturrahmi dan pemendekan umur? Sederhana saja. Bukankah kebiasaan berzina (yang oleh orang modern disebut promiskuitas) memudahkan pelakunya menderita penyakit yang fatal? Pemutusan silatur rahmi (yang oleh psikolog mutakhir disebut sebagai kegagalan hubungan interpersonal) kini diketahui sebagai penyebab stres, dan dari stres bermula berbagai penyakit yang mematikan. Terakhir, benarkah minum khamar dan judi melepaskan manusia dari penjagaan dirinya? Salah satu hal yang menjaga manusia adalah akalnya. Bila orang sudah menjadi alkoholik atau kecanduan judi, ia tidak dapat lagi menggunakan akal sehatnya.
Penjelasan tadi semuanya bersifat sosiologis. Buku ini menjelaskan akibat- akibat dosa dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Quran dan Sunnah Nabi Saw. Akibat dosa dianalisis berdasarkan dalil tekstual (nashsh) dan bukan karena pembuktian empiris. Yang menakjubkan kita ialah kenyataan bahwa kedua cara ini membawa kita pada kesimpulan yang sama. Ini membawa kita pada pandangan dunia menurut ajaran Islam. Islam menyatakan bahwa sebagaimana Tuhan adalah “Yang Mahalahir” (azh-Zhâhir) dan “Yang Mahabatin” (al- Bâthin), maka alam ini pun terdiri dari dua dimensi, yakni dimensi lahir (alam syahadah) dan dimensi batin (alam gaib). Sebab-akibat melibatkan kedua dimensi ini sekaligus. “Sebab dapat terjadi pada alam akibat dan melibatkan kedua dimensi ini sekaligus. “Sebab” dapat terjadi pada alam syahadah, juga alam gaib. Begitu pula akibat. Perbuatan dosa dapat tampak di dunia lahir– seperti minum khamar dan berjudi–atau ada di dunia batin-seperti dengki dan takabur. Akibat suatu dosa-seperti durhaka pada orangtua–dapat terjadi di dunia empiris (seperti stres, kegagalan bisnis, kecelakaan) atau di dunia gaib (seperti terhalangnya doa atau dijauhkan dari rahmat Tuhan).
Akibat dosa di alam gaib jauh lebih mengerikan daripada akibatnya di alam lahir. Akibat dosa pada tubuh kita lebih ringan daripada akibatnya pada ruh kita. Alam gaib jauh lebih luas dari alam lahir, alam ini merentang panjang sejak dunia yang kita hadapi sekarang sampai kepada akhirat nanti. Tubuh kita hancur bersama dengan kematian, tetapi ruh kita ada dan terus berkembang sampai tingkat tak terhingga. Ruh kita berubah-ubah, apakah naik ke arah kesempurnaan atau jatuh kepada keburukan. Akibat gaib dari amal saleh ialah mengantarkan ruh kita kepada kesempurnaan. Akibat gaib dari dosa ialah menjatuhkan ruh kita kepada keburukan atau dalam bahasa Al-Quran- “membenamkannya ke bawah tanah”- (dassåhá). Qad aflaha man zakkâ-ha wa gad khâba man dassâhâ.
Ditawarkan kepada kita dua pilihan ini. Secara akliah, dan mengikuti hati nurani, kita pasti memilih untuk menyucikan diri kita agar terus naik kepada Yang Mahasuci. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak selalu berhasil mempraktikkan apa yang kita pilih. Dosa, yang menjatuhkan kita, justru itu yang kita lakukan ̶ mungkin karena kita tidak menyadari akibat-akibat buruk yang ditimbulkannya atau kita tahu tetapi tidak seburuk seperti yang pernah kita pikirkan. Buku ini, dengan merujuk pada Al-Quran dan Sunnah Nabi Saw, memberikan kepada Anda pengetahuan tentang akibat dosa. Pada saat yang sama, lewat riwayat-riwayat yang ilustratif, Anda disadarkan akan akibat dosa pada kejatuhan Anda.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban berat sebagaimana yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami pikul. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami, Engkau Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (Qs al-Baqarah, 2: 286). JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).