WIN/WIN

Dzûn-Nûn al-Mishri sedang berlayar di Sungai Nil bersama para santrinya. Tak jauh dari mereka, berlayar juga banyak perahu; semua mengangkut orang yang sedang melakukan rekreasi. Salah satu di antara perahu itu dipenuhi orang-orang yang suka berhura-hura. Mereka berteriak-teriak, memetik kecapi, dan melontarkan kata-kata yang memuakkan. Para santri meminta Dzûn-Nûn berdoa agar perahu yang memuat orang- orang “preman” itu ditenggelamkan. Biar mereka tidak mengganggu orang lain lagi. Dzûn-Nûn mengangkat tangan berdoa, “Ya Allah, sebagaimana Engkau memberikan kepada mereka kesenangan hidup di dunia ini, berikan juga kepada mereka kesenangan hidup di akhirat nanti.” Para santrinya tentu saja terkejut. Ketika perahu yang didoakan itu mendekat, para penumpangnya melihat wajah sang Sufi. Entah bagaimana, wajah itu mengingatkan mereka kepada Tuhan. Mereka menyesal, minta maaf, dan bertobat. Dzûn-Nûn berkata, “Dengan bertobat orang ini memperoleh kesenangan di hari akhirat. Kalian dan mereka semua puas. Tak ada yang dirugikan.”

Sebelas abad kemudian, ajaran Dzûn-Nûn dirumuskan oleh Stephen R. Covey, dan menyebutnya sebagai Win/Win: salah satu dari tujuh kebiasaan orang yang sangat efektif. “Win/Win,” kata Covey, “adalah kerangka pikir dan hati yang selalu berusaha memperoleh keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Win/Win berarti kesepakatan atau penyelesaian yang menguntungkan dan memuaskan kedua belah pihak. Dengan pemecahan Win/Win, semua pihak merasa enak dengan keputusan dan merasa terlibat dalam rencana kerja. Win/Win melihat hidup sebagai arena kerja sama, bukan-arena kompetisi.”

Dalam arena kompetisi, falsafah yang berlaku adalah Win/ Lose. Anda berusaha mengalahkan orang lain. Anda menganggap mereka sebagai musuh. Misi Anda ialah memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya bagi Anda, dengan menguras habis kekayaan lawan. Kehidupan Anda lihat sebagai pertarungan terus-menerus untuk menghasilkan orang yang paling kuat. Inilah Darwinisme sosial dalam bentuknya yang paling telanjang: survival of the fittest.

Dalam bisnis, Win/Lose ditampakkan dalam nafsu yang tak pernah terpuaskan untuk menguasai pasar, dengan membunuh para pesaing. Dalam politik, Win/Lose adalah pandangan hidup zoon politicon, yang memangsa siapa saja dengan cara apa saja untuk memenangkan dirinya. Dalam kehidupan masyarakat, Win/Lose ditunjukkan dengan filsafat sang kancil: Langkahilah tubuh-tubuh buaya supaya Anda bisa menyeberang ke tempat lain.

Dalam kehidupan beragama, Win/Lose adalah prinsip yang dipegang teguh oleh orang yang merasa dirinya sebagai wakil-wakil Tuhan. Mereka merasa terpanggil untuk menyelamatkan umat dari “kesesatan” sekelompok orang yang berbeda pendapat dengan mereka. Mereka memonopoli jalan menuju Tuhan. Mereka mengambil-alih posisi Zabaniyyah, malaikat penjaga neraka. Mereka melihat keragaman dalam pemahaman agama sebagai bencana. Jika segenggam kekuasaan mereka pegang, mereka akan menggunakannya untuk memaksakan satu versi keberagamaan dan mengeliminasi keragaman. Seperti santri-santri Dzûn-Nûn, mereka berusaha supaya perahu orang lain tenggelam. Tetapi Dzûn-Nûn tidak mengikuti prinsip murid- muridnya. Ia mengikuti contoh Rasulullah saw. Sebelum Isra’ dan Mi’raj, Nabi saw. kehilangan dua orang manusia yang paling dicintainya: Khadijah dan Abû Thâlib. Beliau menyebut tahun itu sebagai tahun duka-cita. Dengan masih menyimpan kepiluan, beliau berangkat ke Thâif. Diserunya mereka ke jalan kebenaran. Ia dikejar-kejar, diburu sebagai mangsa, dan dilempari dengan batu. Di kebun ‘Utbah ia mengadukan deritanya kepada Tuhan. Malaikat penjaga bukit datang menawarkan bantuan. Bukit-bukit akan dijatuhkan ke tengah-tengah orang Thâ’if, sebagai hukuman karena melecehkan Rasul yang agung. Beliau menolak tawaran itu, karena beliau masih berharap dari keturunan Tha’if akan lahir orang-orang yang mengikuti ajarannya. Beliau bahkan berdoa, “Allahummahdi qawmi fa innahum layalamûn-Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka belum mengetahui kebenaran.” Malaikat berkata, “Engkau seperti yang disebut oleh Tuhan-penyantun dan penyayang.”

Prinsip Win/Win memang prinsip penyantun dan penyayang. Dan inilah prinsip hidup yang diajarkan Alquran. Lihat lah bagaimana Al-quran mengatur bisnis, politik, dan kehidupan sosial dan keagamaan kita. Dalam bisnis, setiap transaksi dimaksudkan sebagai upaya menyenangkan semua pihak. Alquran menyebutnya dengan indah: tijarah ‘an tarâdhin minkum. Tarddhin artinya “semua pihak merasa senang, suka, ridha.” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama kamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang menyenangkan semua pihak. Jangan membunuh sesama kamu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu (QS 4:29). Dalam politik, setiap penggunaan kekuasaan ditujukan untuk meneakkan keadilan. Kepada semua politisi, Tuhan memperingatkan: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi- saksi keadilan. Dan janganlah sekali-kali kebencian kamu kepada suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat dengan takwa (QS 5:8). Dalam kehidupan sosial dan keagamaan, semua orang dipandang sebagai mitra dalam kafilah menuju Tuhan. Kalau ada persaingan, maka persaingan itu haruslah dalam memberikan kontribusi kebaikan…. Berlomba-lombalah kamu dalam memberikan kebaikan,… (QS 2:148). Adapun prinsip kehidupan sosial dan keagamaan adalah:… Dan hendaklah kamu saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan. Janganlah kamu saling membantui dalam dosa dan permusuhan,… (QS 5:2). JR Wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *