
Di kaki pegunungan Auvergne, Perancis, di tempat yang dikenal sebagai surga para geolog, ia lahir. Keluarga dan lingkungan alam di sekitarnya mencetaknya menjadi peneliti alam sejak kecil. Ibunya sangat religius. Ayahnya sangat ilmuwan. Bahkan ia meninggal dalam ekspedisi ilmiah di tepi sungai Kuning di Cina.
Dari ibunya yang religius ia mewarisi darah Voltaire yang memuja rasionalitas dan metode ilmiah. Melalui bapaknya, silsilahnya bersambung sampai ke Pascal, ahli matematika, fisikawan, dan sekaligus mistikus. Dari kedua belah pihak, ia memperoleh kecintaan kepada penelitian empiris dan pengamatan ilmiah, serta kesanggupan untuk menjadikan sains sebagai wahana untuk menemukan Tuhan.
Bila Pascal terpengaruh oleh ordo Jansenis, ia bergabung dan menjadi anggota setia seumur hidup dari ordo Jesuit. Betapapun pendapatnya tentang evolusi dan pandangan dunianya bertentangan dengan Gerejanya, ia tidak mau keluar dari ordonya. Ia pengikut teori evolusi. Tetapi bila Darwin menemukan natural selection (seleksi alam) dalam evolusi, di tempat yang sama ia menemukan “a universe charged with love,” alam semesta yang dipenuhi cinta.
Minatnya terhadap batuan tidak menyebabkan ia lupa kepada Tuhan. Begitu pula, pengabdiannya kepada Tuhan tidak membuatnya mengabaikan batuan. Pada dirinya ada visi mistikal-sintetis yang sebenarnya dan pengalaman keduanya ̶ Tuhan dan benda. Ia menulis bahwa ‘Kecintaan kepada yang gaib tidak henti-hentinya hidup dalam dirinya.’ Ia percaya bahwa getaran mistis tidak bisa dipisahkan dari getaran ilmiah. “Kelak, ia mengembangkan sistem pemikiran yang menggabungkan kedua getaran ini: asumsi tentang ‘yang lahir’ dan ‘yang batin’ dari segala sesuatu ̶ aspek realitas yang noumenal dan fenomenal,” ujar J. Chetany dalam The Future of Man.
Di tempat lain, dengan bagus Chetany mengikhtisarkan pandangan tentang manusia dari filosof yang sedang kita kisahkan ini. “Manusia berdiri di atas bumi, tetapi kepalanya menjulang ke langit. Ia produk bumi, tetapi ia juga anak Tuhan. Ia sepenuhnya material dan juga sepenuhnya spiritual. Ia produk masa lalu, tetapi juga pengarah masa depan. Ia dibentuk oleh tak terhitung peristiwa masa lalu, tetapi kini ia secara sadar membentuk masa depan dunia dan nasibnya sendiri. Ia adalah bagian integral dari kosmos, tetapi juga sepenuhnya berbeda dari mereka. Inilah visi Teilhard tentang fenomena manusia.”
Paragraf ini juga mencerminkan kehidupan Teilhard de Chardin. Hidupnya dibaktikan untuk dua hal: kecintaan kepada Tuhan dan kecintaan kepada sains. Ia tidak pernah tinggal lama di tempat kelahirannya, bahkan meninggal jauh dari tanah airnya. Ia menyelidik setiap sudut bumi. Ia paleontolog, geolog, arkeolog, biolog. Pekerjaanya setiap hari bergulat dengan hard sciences, dengan hard facts. Itulah bumi tempatnya berpijak. Pada saat yang sama, pandangannya selalu terpaut pada Cinta Dia yang berada di balik semuanya. Ia melihat semuanya ̶ batuan, pepohonan, gemintang, binatang, dan juga manusia ̶ bergerak menuju kesatuan dan berpuncak pada kesatuan dengan Dia. Inilah langit. Ke sana kepalanya senantiasa menjulang. Sebagai pengikut ordo Jesuit yang keras, ia sangat setia menjalankan ritus-ritus keagamaan. “Minatnya terhadap batuan tidak menyebabkan ia lupa kepada Tuhan. Begitu pula, pengabdiannya kepada Tuhan tidak membuatnya mengabaikan batuan.”
Lalu mengapa kita harus memperbincangkan Teilhard de Chardin? Bukankah kita mempunyai Ibn Sina, raksasa ilmu di dunia Islam, dan sekaligus seorang Sufi? Bukankah gagasan-gagasan Teilhard sudah lama dibicarakan Ibn Sinâ dan juga fi- losof Islam lain? Bukankah Al-Fârabî, bapak filsafat Islam dan ilmuwan besar, berpandangan dan hidup sebagai mistikus juga? Bukankah anggota-anggota Ikhwan ash-Shafä selalu sibuk dalam penelitian ilmiah, sambil menjalankan riyadhah keagamaan yang sangat keras, boleh jadi lebih keras dari ordo mana pun dalam dunia Katolik? Kita dapat mendaftar lebih panjang lagi nama-nama besar yang kehidupannya seperti itu.
Tetapi, kita tidak lagi menjadikan nama-nama besar itu sebagai rujukan: terlalu jauh, sudah kabur, tidak lagi sesuai dengan realitas kini. Saya baru menyadari hal ini ketika kawan saya berbicara tentang fungsi mitos dalam kehidupan beragama. Ia menunjuk mukjizat Nabi Muhamad saw. sebagai mitos yang dibuat umatnya kemudian hari. Dalam dunia modern, mitos-mitos itu tidak perlu lagi. Dengan “analisis fungsional,” ia juga memandang ritus-ritus keagamaan dalam Islam sudah anakronis. Katanya, ia mengerti mengapa para ilmuwan Barat tidak menghiraukan agama.
Saya terkesan betul. Seakan-akan di depan saya duduk Levi Strauss membacakan empat jilid Mithologiques, atau Roland Barthes, naratolog, menjelaskan Mithologies, atau “embahnya” strukturalis Ferdinand de Saussure bercerita tentang bahasa diakronis dan sinkronis. Saya tidak menolak kegunaan strukturalisme untuk analisis. Tetapi, bila kesimpulannya ialah tinggalkan ritus-ritus dan mitos-mitos keagamaan bila kita ingin menjadi ilmuwan tulen, saya ucapkan, “Adieu, mon ami!” Pengalaman ilmiah yang sangat empirik tidak harus bertentangan dengan pengalaman keagamaan yang sangat mistis. Kepiawaian dalam ilmu berkembang lebih kaya dan lebih indah dengan kesalihan dalam agama.
Maka, ketika nama-nama strukturalis yang Perancis itu muncul dalam benak saya, saya ingin menghadirkan orang Perancis lain. Teilhard de Chardin. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).