
Andalusia ditimpa musim kemarau panjang. Tanaman sudah menguning. Dan hewan-hewan sudah kurus-kering. Raja mengadakan salat Istisqa, memohon kepada Tuhan agar hujan segera diturunkan. Ketika datang waktu berkhutbah, seorang tokoh ulama berdiri di mimbar. Aneh sekali, ia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Mulutnya terkunci dan tubuhnya berguncang. Ia turun, dan raja naik. Seperti ulama, raja pun terpaku di mimbar. Ia tiba-tiba bisu. Akhirnya ia pun turun.
Mimbar kosong. Tak seorang pun berani menggantikan raja. Setelah hening beberapa lama, seorang pemuda tampil. Setelah membaca tahmid, shalawat, dan salam, dengan fasih ia menyampaikan nasihatnya. Yang pertama kali dinasihatinya adalah raja. Menurut pemuda itu, semua bencana terjadi karena kezaliman penguasa. Penguasa sudah tidak dapat lagi mendengar jeritan orang banyak. Ia terasing dari lautan rakyat dalam sebuah pulau yang dihuni hanya oleh para penjilat, tukang cari muka. Raja sudah kehilangan pandangan pada keadaan yang sebenarnya. Tuhan murka. Tuhan ingin menunjukkan bahwa kesalahan seorang raja mengakibatkan derita jutaan manusia.
Mendengar itu, raja tak sanggup menahan air matanya. Sementara itu, para pendengar yang lain ketakutan. Mereka yakin, pemuda itu sedang berbicara untuk terakhir kalinya. Mereka mengira, jika beruntung, pemuda itu dapat mengisi sisa hidupnya di penjara yang pengap. Biasanya ia akan segera kehilangan seluruh hidupnya. Melihat raja menangis, pemuda itu melanjutkan khutbahnya, “Bila penguasa bumi sudah ada rasa takut, maka akan ridhalah Penguasa Langit.” Belum selesai kalimat yang ia ucapkan, hujan turun dari langit, makin lama makin deras. Penguasa langit tampaknya sudah ridha.
Cerita itu saya dengar dari guru saya. Konon, ia mengutipnya dari sebuah buku tarikh. Buat saya, sumber itu tidak penting. Ia telah memberikan pelajaran yang berharga. Sejarah sering dibentuk oleh beberapa orang, atau bahkan hanya satu orang. Orang itu tak mesti berasal dari kelompok sosial tinggi, atau dari kalangan orang-orang terkenal. Tetapi ia mestilah seseorang yang berani bersuara ketika semua orang mulutnya terkunci. Ia seharusnya seseorang yang mengisi mimbar dengan bebas, ketika tak ada lagi orang berani berdiri di mimbar itu. Ia seyogyanya penyanyi solo, betapapun aneh lagu yang dinyanyikannya.
Kisah itu mengingatkan kita pada Abu al-A’la al-Mawdûdî. Ketika ia berdiri di mimbar, terdengar tembakan ke arahnya. Hadirin panik. Sebagian merundukkan tubuhnya, bertiarap. Al-Mawdûdî tetap tegak di mimbar. Setelah itu, ketika ia ditanya mengapa tidak meninggalkan mimbar, ia berkata, “Kalau aku pergi, siapa lagi yang berbicara di sini.” Jadi, ketika suara mesiu membungkam semua mulut, sebuah suara tetap terdengar.
Menyanyi solo tidaklah gampang. Kalau suaranya sumbang, ia tak dapat menyalahkan siapa pun. Ia bertanggung-jawab sepenuhnya atas apa pun yang terjadi di panggung. Jika tariannya jelek, ia tak dapat mengatakan lantai berjungkat. Ia juga harus mengeluarkan suara lebih keras. Di atas itu semua, ia harus melepaskan ketergantungan pada dukungan kawan-kawan sekelompok (seperti dalam paduan suara).
Dalam pandangan Islam, ia harus bergantung hanya kepada Allah saja. Ia harus berangkat dari basmalah. Ia tidak boleh berangkat dari kepentingan egonya, kelompoknya, atau apa pun. Ia bergerak hanya “dengan nama Allah, Mahakasih, Maha sayang.” Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Bismillahirrahmanirrahim lebih dekat dengan nama Allah Yang Mahaagung dari dekatnya hitam mata dengan putihnya.” Menurut seorang Sufi, hadis ini menunjukkan bahwa bila seorang manusia mengucapkan basmalah dengan sebenarnya, ia hanya bersandar kepada Allah saja. Ia tidak mengandalkan kekuatan luar, atau sebab-sebab lahir, atau kekuatan pribadinya. Ia bertawakal mutlak kepada Allah. Dalam keadaan seperti itu, ia menggenggam kekuatan basmalah, kekuatan nama Allah Yang Mahaagung. Dalam hadis lain, Nabi saw. bersabda, “Bismillahirrahmanirrahim dari seorang hamba sama kedudukannya dengan ‘Kun’ dari Mawla-nya ̶ yakni, Allah SWT.” (Kitâb Isyrâqât Qur’âniyyah).
Masih menurut Sufi itu, salah seorang di antara sahabat Nabi saw. yang mencapai martabat ini adalah Abû Dzarr. Ketika ia tertinggal sendirian di sahara, Rasulullah melihat kepulan debunya. Beliau bersabda, “Abû Dzarr datang sendirian. Ia akan hidup sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan pada Hari Kiamat sendirian juga.” Sejarah hidupnya memang kemudian membenarkan sabda Nabi.
Mengapa Abû Dzarr harus terasing sendiri? Rasul yang mulia menjawabnya, “Di bawah langit yang hijau, di atas permukaan bumi, tak ada lidah yang lebih jujur selain lidah Abû Dzarr.” Ketika seluruh bumi sudah tak jujur, lidahnya masih menyuarakan kebenaran. Abû Dzarr hidup dan mati sendirian. Bahkan, kabilah Ghifari, kabilah asal-usulnya, tidak menyaksikan hari-hari terakhir hidupnya.
Tentu tak semua sahabat Nabi memilih hidup seperti Abû Dzarr. Ada juga yang berjuang bersama kawan ̶ tak sendirian, tetapi berduaan. Semuanya mengikuti perintah Nabi saw. Allah SWT menyuruh Nabi-Nya: Katakanlah, “Aku hendak memberikan nasihat kepadamu satu perkara saja, hendaklah kamu berdiri menegakkan kebenaran karena Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian berpikirlah yang matang.” (QS 34:46). Walhasil, bernyanyi solo atau duet diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).