
Pada masa pemerintahan ‘Abdul Mâlik bin Marwân, al-Hajjaj sudah terkenal sebagai panglima yang sangat kejam. Ia memasukkan ribuan orang ke penjara tanpa pengadilan. Tangannya bergelimang darah orang-orang yang tak bersalah. Tapi, dengan tangan itu pula, ia menegakkan tonggak-tonggak kekuasaan ‘Abdul Mâlik. Ia berhasil memadamkan berbagai kerusuhan yang mengancam stabilitas negara. Di antara kerusuhan yang paling besar ialah pemberontakan penduduk Hijaz di bawah pimpinan ‘Abdullah bin Zubayr.
‘Abdullah berlindung di Masjidil Haram, di dekat Ka’bah. Al-Hajjaj mengepungnya berhari-hari. Pada suatu hari, al-Hajjaj menyerbunya dan berhasil membunuh ‘Abdullah di dekat Ka’bah, di hadapan ibunya sendiri. ‘Abdulláh adalah putra Asma’ binti Abu Bakar, perempuan yang berjasa dalam peristiwa Hijrah Rasulullah saw. Ia cucu dari Khalifah pertama. Ia juga terkenal salih. Bila ia salat di Masjidil Haram, ia berdiri lama sekali, sehingga burung-burung hinggap di pundaknya. Ketika al-Hajjaj membunuh ‘Abdullah, Makkah bergemuruh dengan suara tangisan.
Al-Hajjaj mendengar tangisan itu. Ia tahu rakyat menangisi kematian ‘Abdullah. Ia buru-buru menemui ibu ‘Abdullah. “Anakmu telah berbuat kekafiran di Baytullah,” kata al-Hajjaj menjelaskan, “Tuhan sudah memberinya siksa yang pedih.” Asma’ meradang, “Bohong. Ia orang yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Ia banyak puasa dan salat. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Akan muncul dari Tsaqif dua orang pendusta; yang terakhir lebih jelek dari yang pertama karena ia selalu menghancurkan. Dan yang terakhir itu kamu, hai al-Hajjaj.’”
Al-Hajjaj tidak menyahut. Ia menyuruh orang-orang berkumpul di masjid. Ia naik mimbar, berkhotbah, “Hai ahli Makkah, aku mendengar kalian membesar-besarkan kematian Ibn Zubayr. Memang benar ia orang yang paling baik di tengah-tengah umat ini. Tapi itu dulu, sebelum ia melakukan makar untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Lalu ia tidak taat kepada Allah dan melakukan yang haram. Adam ditempatkan Tuhan di surga, malaikat disuruh sujud kepadanya. Tetapi ia kemudian bersalah. Tuhan mengeluarkannya dari surga karena kesalahannya. Ketahuilah, Adam lebih mulia dari Ibn Zubayr, dan surga lebih mulia dari Ka’bah. Ingatlah kalian kepada Tuhan.”
Al-Hajjaj bukan hanya penghancur yang pandai. Ia juga pintar memberikan legitimasi pada perbuatannya. Ketika masih muda, bersama bapaknya, ia tiggal di Mesir. Pada suatu hari, Salim bin ‘Anz lewat ke hadapan mereka. Ayah al-Hajjaj berdiri menghormatinya, “Saya akan menemui Amirul Mukminin. Apakah ada pesan?” Salim berkata, “Ada. Mohonkan kepada beliau agar aku diberhentikan dari jabatanku sebagai Hakim Agung.” Ayah al-Hajjaj berkata, “Subhanallah, aku tidak mengenal hakim yang lebih baik dari Anda.” Al-Hajjaj menegur ayahnya, “Mengapa ayah berdiri menghormatinya. Orang-orang seperti dia membahayakan negara. Ia mengumpulkan manusia, lalu berbicara tentang keadilan Abu Bakar dan ‘Umar. Akhirnya rakyat merendahkan Amirul Mukminin karena tidak berakhlak seperti akhlak Abu Bakar dan ‘Umar. Nanti mereka melakukan kerusuhan, menentangnya, memusuhinya, dan tidak mentaatinya. Demi Allah, jika aku mempunyai kekuasaan, akan aku tebas leher-leher mereka.” (Ibn Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, 9:138).
Al-Hajjaj memenuhi sumpahnya. Begitu ia memegang komando, ia membabat semua orang yang dianggap menyebarkan kebencian kepada raja. Salah seorang ulama yang tidak disukainya ialah Ma’bad al-Juhani. Ia terkenal sebagai ahli ibadah dan zuhud. Ia ikut dalam perang Shiffin dan menyaksikan peristiwa “Tahkim.” Al-Hajjaj membencinya karena ia mengajarkan bahwa manusia dapat memilih takdirnya. Ia memiliki kemauan bebas. Ma’bad dicap sebagai pendiri mazhab Qadariyyah. Paham ini dianggap berbahaya bagi kekuasaan. Pemerintah menetapkan Qadariyyah sebagai aliran terlarang. Sebagai gantinya, disebarkanlah paham Jabariyyah.
Syibli Nu’man, ahli ilmu kalam, menegaskan bahwa asal-usul paham Jabariyyah itu secara politis. Bani Umayyah memerintah dengan keras dan kejam. Rakyat menderita dan ingin memberontak. Penguasa segera mengalihkan persoalan kepada takdir. Bila mereka kehilangan hartanya atau nyawanya, yang dijadikan kambing hitam adalah takdir. Seseorang berkuasa atau jatuh juga karena takdir. Salah satu tanda keimanan ialah menerima takdir dengan ridha. Tiba-tiba Ma’bad datang. Ia bertanya kepada Hasan al-Bashrî, “Sejauh mana kebenaran Umawiyyin tentang qadha’ dan qadar?” Hasan al-Bashri menjawab singkat, “Mereka pendusta.”
Ma’bad pindah dari Bashrah ke Madinah. Di situ ia menyebarkan pahamnya. Manusia diberi kebebasan untuk memilih (ikhtiyar). Ia dapat menentukan nasibnya. Seseorang berkuasa bukan karena diridhai Allah. Ia berkuasa karena berhasil merebut kekuasaan, dengan cara apa saja. Al-Hajjaj memburunya ke Madinah. Ia ditangkap dan disiksa. Menurut suatu riwayat, ia diserahkan kepada raja ‘Abdul Mâlik. Ia dihukum mati, disalib di Damaskus (Az-Zarkali, Al-Alam, 8:176).
Kepada Ma’bad kemudian dinisbahkan berbagai cerita rekaan. Konon, ia belajar paham Qadariyyah dari orang Nashrani. Para ulama mengutuknya di mimbar-mimbar. Sebagian ahli hadis memasukkannya ke dalam kelompok orang yang tidak dipercaya. Adz-Dzahabi menyebutnya dalam Mizan al-I’tidal dengan segenap celaan kepadanya. Ad-Dâruquthni memberikan komentar moderat, “Ma’bad itu hadisnya bagus, hanya mazhabnya yang jelek.”
Sejak itu, umat Islam dikuasai dengan dua hal: kekerasan dan dongeng. Kekerasan perlu untuk membinasakan mereka secara fisik; dongeng penting untuk melumpuhkan mereka secara ruhaniah. Seringkali kita ridha menerima kekerasan, sambil mengulang-ulang dongeng yang dibuatkan orang untuk kita. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).