
Kira-kira enam belas abad sebelum Rasulullah saw. lahir, Cina diperintah oleh dinasti Shang, sebuah rezim militer. Kekuasaan bergantung pada kemampuan militer kaum bangsawan. Penduduk terdiri dari empat bagian: keluarga penguasa, kaum bangsawan, rakyat biasa, dan budak. Di pusat pemerintahan, kaisar berkuasa penuh, dengan dukungan para penguasa daerah. Kaum bangsawan umumnya ditunjuk sebagai pejabat dan diberikan berbagai fasilitas. Mereka tinggal di kota-kota besar, dalam rumah-rumah megah, berdinding batu-bata. Rakyat biasa bekerja sebagai petani, pedagang kecil, atau berbagai kerajinan tangan. Sesekali mereka menjadi penyedia tenaga militer, ketika diperlukan. Mereka tinggal dalam gubuk-gubuk kecil dari tanah. Budak adalah lapisan terbawah, memikul penderitaan seluruh penduduk.
Menurut dokumen kuno Shih Chi, Kaisar Shang terakhir memerintah dengan kejam. Keluarga penguasa tinggal hidup mewah dari pajak dan upeti yang makin tinggi. Para pemimpin yang jujur dipenjarakan. Walaupun kerajaan yang luas dan berbagai peperangan telah meningkatkan taraf hidup orang banyak, mereka umumnya dicengkeram ketakutan. Perasaan tidak puas menyebar luas. Masih menurut catatan Shih Chi, raja memiliki penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam: “Tangannya dapat membunuh binatang buas; pengetahuannya sangat cukup untuk menolak kritik; kemampuan bicaranya lebih dari memadai untuk menghias kesalahannya. Ia menyombongkan diri pada para menterinya tentang kemampuannya. Ia menyombongkan reputasinya pada semua orang dan yakin bahwa semua orang berada di bawah dia.”
Dalam situasi politik seperti itu, muncul kekuatan-kekuatan baru yang ingin menyelamatkan bangsa dan negara. Di antara mereka adalah Raja Wen yang tinggal di Lembah Sungai Wei. Sudah lama ia merenungkan apa yang terjadi di negerinya. Tetapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ketika ia bermaksud berburu, ia diberitahu oleh tokoh paranormal bahwa ia akan menemukan “buruan” yang sangat berharga. Di tepian utara Sungai Wei, ia memang menemukan seorang tua duduk di atas tikar rumput, sedang memancing.
Sejarah kelak mengenal orang tua itu sebagai jenderal pertama Cina, yang mewariskan kepada dunia strategi perang dan teknik memerintah. Ia bernama T’ai Kung. Jurus yang diajarkannya, T’ai Kung Liu-t’ao, “Enam Ajaran Rahasia,” kini dipelajari kembali ketika dunia mengamati kebangunan Cina sebagai ꟷdengan mengutip Huntingtonꟷ salah satu pesaing peradaban Barat.
Marilah kita simak percakapan T’ai Kung dengan Raja Wen, ketika memperbincangkan t’ao yang pertama: Jurus Memerintah! Raja Wen berkata kepada T’ai Kung, “Saya ingin belajar cara memerintah. Jika saya ingin agar penguasa dihormati dan rakyat hidup tenteram, apa yang harus saya lakukan?” T’ai Kung: “Cintailah rakyat.”
Raja Wen: “Bagaimana caranya mencintai rakyat?”
T’ai Kung: “Untungkan mereka, jangan rugikan mereka. Bantu mereka untuk berhasil, jangan kalahkan mereka. Beri mereka kehidupan, jangan bunuh mereka. Memberi, jangan merampas. Senangkan mereka, jangan membuat mereka menderita. Buat mereka bahagia. Janganlah membangkitkan kemarahan mereka.”
Raja Wen: “Bolehkah saya minta Anda menjelaskannya lebih terperinci?”
Tai Kung: “Jika rakyat tidak kehilangan pekerjaan mereka, Anda sudah menguntungkan mereka. Jika petani tidak kehilangan ladang pertanian mereka, Anda sudah mem- bantu mereka. Jika Anda mengurangi hukuman dan denda, Anda memberikan kehidupan. Jika Anda menetapkan pajak yang ringan, Anda memberi anugerah kepada mereka. Jika Anda mengurangi jumlah istana, vila dan gedung mewah, Anda menyenangkan mereka. Jika para pejabat bekerja jujur, tidak mengganggu dan menyusahkan rakyat, Anda membuat mereka bahagia.”
“Tetapi jika rakyat kehilangan pekerjaan mereka, Anda merugikan mereka. Jika petani kehilangan tanah pertani annya, Anda mengalahkan mereka. Jika Anda menghukum orang yang tidak bersalah, Anda membunuh mereka. Jika Anda menetapkan pajak yang berat, Anda merampas mereka. Jika Anda membangun banyak istana, vila dan gedung mewah, sehingga menghabiskan kekuatan rakyat, Anda membuat kehidupan yang pahit bagi mereka. Jika para pejabat korup, mengganggu dan menyusahkan rakyat, Anda membuat mereka marah.”
“Jadi orang yang berhasil memerintah dengan baik, mengatur rakyatnya seperti orang tua mengatur anak-anak yang dicintainya, atau seperti seorang kakak bertindak pada adik yang dicintainya. Ketika ia melihat mereka lapar dan kedinginan, ia ikut merasakan kesusahan mereka. Ketika ia melihat kepayahan dan derita mereka, ia berduka cita untuk mereka.”
Berkat jurus T’ai Kung, dinasti Chou berhasil menggulingkan dinasti Shang. Pemerintahan dijalankan berdasarkan “Enam Ajaran Rahasia”. Paling menarik dari semuanya ialah kenyataan bahwa revolusi Chou terjadi di tengah kemajuan ekonomi. Ini membenarkan J-curve theory of revolution dari Davies (1963): “Rakyat memberontak bukan karena kemiskinan, tetapi karena makin melebarnya kesenjangan antara apa yang mereka peroleh dengan apa yang mereka harapkan.” Sekiranya penguasa Shangꟷdan bukan Raja Wenꟷyang menemukan T’ai Kung, dan menjalankan jurusnya, revolusi itu tidak akan pernah terjadi. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).