
Nabi Muhammad saw. sering menyuruh sahabat-sahabatnya untuk membacakan Al-quran baginya. Ia mendengarkannya baik-baik. Para sahabat menyaksikan, perlahan-lahan air mata berkumpul di sudut mata Rasulullah; kemudian melimpah mengaliri wajahnya. ‘A’isyah r.a. bercerita tentang peristiwa yang disebutnya sebagai “yang paling mempesona dari kehidupan Nabi.” Nabi bangun tengah malam, mengambil wudhu, melakukan salat malam. Baru saja ia sampai pada bacaan Alquran, ia terisak-isak. Ia menangis sepanjang salatnya, sehingga ‘A’isyah melaporkan, “Ia menangis sampai janggutnya basah oleh air matanya.”
Pada suatu hari, Nabi sendiri membacakan akhir surat az-Zumar ayat 71 ke hadapan sekelompok orang Anshar: Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan,… (QS 39:71). Mereka menangis, kecuali seorang pemuda di antara mereka. Ia berkata, “Saya berusaha untuk menangis, tapi air mataku tak keluar.” Nabi bersabda, “Siapa yang menangis, tetapi air matanya tidak keluar, baginya surga.” Kepada Abû Dzarr dan sahabat-sahabat yang lain, ia berkata, “Jika kamu mampu menangis, menangislah. Jika tidak, rasakanlah dalam hatimu kesedihan. Berusahalah untuk menangis, karena hati yang keras jauh dari Allah.”
Tabaki, berusaha untuk menangis, dianjurkan Nabi untuk melembutkan hati. Tuhan sendiri menggambarkan orang-orang salih dengan menyebutkan:… Bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka rebah bersujud dan menangis. (QS 19:58); mereka merebahkan diri atas muka mereka sambil menangis dan bertambahlah kekhusyukan mereka. (QS 17:109). Mereka dengan mudah menangis, karena hati mereka sudah sangat lembut. Tetapi kepada orang biasa, yang sukar menangis, Nabi menasihatkan untuk tabaki.
Apakah dengan demikian Islam mengajarkan kecengengan, keputusasaan, ketidak-berdayaan? Apakah Islam menanamkan pesimisme dari Schopenhauer dan bukan ketabahan, kesabaran, dan keuletan? Karena rentetan pertanyaan ini, sebagian ulama, seperti as-Sakhawî, mem-bid’ah-kan tabáki. Namun, Sayyid Rasyid Ridhâ, yang dikenal sebagai penentang bid’ah yang paling militan, menolak anggapan ini. Ia menyatakan bahwa menangis dan merekayasa diri supaya menangis sehingga khusyuk sangat baik dilakukan. Ia mengutip sabda Nabi saw., “Sesungguhnya Alquran ini diturunkan dengan kesedihan dan kepedihan. Jika kamu membacanya, menangislah. Jika tidak mampu menangis, berusahalah untuk menangis.” Yang buruk ialah menangis atau berusaha untuk menangis karena riya“. Anda menangis atau pura-pura menangis buat memberi kesan kepada orang lain bahwa Anda orang yang khusyuk (Tafsir Al- Manár, juz VIII: 31).
Dalam Islam, menangis bukan lambang keputusasaan. Menangis mengungkapkan kelembutan hati untuk menerima petunjuk Tuhan. Diriwayatkan, Syibli pernah mendengar ayat: … Dan ingat kepada Tuhanmu ketika Engkau lupa,… (QS 18:24). Ia berkata, “Ingat kepada Allah membuat orang lupa kepada dirinya. Seluruh dunia berhenti ketika mengingat-Nya.” Ia berteriak, menjerit, dan pingsan. Ketika siuman lagi, ia berkata, “Aku heran pada pendosa yang mendengar kalam Allah tetapi hatinya tak tergetar.”
Selain mengungkapkan kelembutan hati, tangisan juga menunjukkan kasih sayang pada sesama manusia, keterlibatan pada tragedi kemanusiaan, dan kepekaan kepada penderitaan orang lain. Ketika Nabi saw. ditegur karena menangisi kematian putranya, Ibrâhîm, ia bersabda, “Tangisan ini tangisan kasih sayang.” Ketika Ja’far gugur sebagai syahid dengan tubuh yang tercabik-cabik, Rasulullah saw. memerintahkan, “Buat orang seperti Ja’far hendaklah orang-orang menangis.” Inilah tangisan untuk melibatkan diri dalam perjuangan membela kebenaran. Ketika Sa’ad bin Mu’adz al-Anshârî memperlihatkan tangannya yang melepuh karena memecah batu sebagai mata pencahariannya, Nabi saw. meneteskan air matanya. Ia mengambil tangan kasar itu dan menciumnya, seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka.” Nabi menangis karena kepekaannya kepada penderitaan orang-orang kecil. Tangisan Nabi saw. dalam salat mendekatkannya kepada Allah. Tangisannya di tengah-tengah masyarakat mendekatkannya kepada umat manusia. Karena itulah ia mengajarkan kita untuk belajar menangis. Tetapi, mengapa kita perlu menangis sekarang ini?
Kebudayaan kita ditegakkan di atas komedi. Kita menyewa orang supaya bisa tertawa. Kita membeli literatur yang membuat kita terpingkal-pingkal. Kita mengidolakan pejuang-pejuang dagelan. Kebudayaan kita menunggu The Birth of Tragedy. Dalam bahasa Nietszche, kita merindukan kedatangan kembali kebudayaan Diaposian, yang melihat tragedi sebagai cara untuk meningkatkan kualitas ruhani kita. Di sini, tangisan adalahꟷsekali lagi dalam bahasa Nietszcheꟷoptimisme tragis. Kita sekarang sedang tenggelam dalam budaya Apolonia, dan mendewakan kegersangan intelektual dan perhitungan untung-rugi. Kita mengejar-ngejar kesenangan yang menyedihkan, sebutlah, dalam bahasa kita sendiri, pesimisme komedis. Demi kemanusiaan kita, marilah kita belajar menangis di tengah gelak-tawa. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).