
Ketika kerusuhan demi kerusuhan terjadi pada waktu kampanye, kita berharap masa kampanye segera berakhir. Kita mengira setelah pemilu, kerusuhan berhenti. Dugaan kita keliru. Kerusuhan yang sebenarnya boleh jadi justru dimulai sejak itu.
Mengapa kita keliru? Karena kita menduga berdasarkan asumsi-asumsi yang salah. Misalnya, kita menuding agitasi jurkam telah memanaskan emosi massa, sehingga mereka menjadi beringas dan brutal. Atau kita menyalahkan kampanye berupa pawai, yang cenderung unjuk kekuatan. Atau kita menduga telah terjadi penyusupan dari orang-orang yang berniat menggagalkan pemilu. Karena itu, bila jurkam sudah tidak cuap-cuap lagi, bila pawai dan arak-arakan massa tidak diperkenankan lagi, bila kegiatan penyusupan sudah dihambat, masyarakat kita kembali ke dalam situasi normal.
Peristiwa-peristiwa pascapemilu memorakporandakan bukan hanya kantor-kantor kecamatan, tetapi juga bangunan ‘pandangan dunia’ kita. Lalu, hari ini kita membuat asumsi-asumsi baru untuk menjelaskan kerusuhan-kerusuhan di berbagai tempat di Tanah Airꟷkhususnya yang paling banyak disebut media massa, di Sampang, Bangkalan, dan Jember.
Kita tidak perlu menjelaskan semua teori tentang penyebab kerusuhan. Yang kita perlukan adalah kemampuan kita untuk melihat semua asumsi dengan sikap kritis. Apa pun analisis yang kita anut, akan mempengaruhi sikap dan tindakan kita.
Kerusuhanꟷdalam sosiologi disebut riots atau violence ꟷ memang telah menjadi topik pembicaraan tersendiri dalam sosiologi tentang masalah sosial. Biasanya para ilmuwan memulai tulisan mereka dengan membongkar mitos-mitos yang dianggap menjelaskanꟷpadahal sebetulnya menyesatkanꟷanalisis sosial kita. Ilmu menyebutnya fallacies, kerancuan. Di sini, kita menyebutnya mitos. Marilah kita lihat sebagian kecil dari mitos-mitos itu.
Mitos Pertama: Kerusuhan Disebabkan oleh Rekayasa Pihak Tertentu. Ada sejumlah orang yang yakin betul bahwa berbagai kerusuhan itu digerakkan oleh pihak-pihak tertentu (sebetulnya tidak tertentu). Sebutlah ini teori konspirasi ꟷ bisa bersifat internasional, nasional, atau lokal. Seorang pejabat tinggi mengatakan bahwa kelompok tertentu ingin menjatuhkan citra Indonesia di mata dunia. Dengan begitu, para calon investor mancanegara akan berangsur-angsur mundur. Para pedagang, di mana pun, ingin mengembangkan usaha mereka dalam suasana politik yang stabil. Kelompok ini, yang sampai sekarang belum ditunjuk hidungnya, sedang berusaha menimbulkan kesan bahwa Indonesia sedang bergejolak.
Sayangnya, teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa kerusuhan belakangan ini terjadi di Jatim dan Madura, dan bukan di Jakarta atau di kota-kota besar yang menjadi surga para investor. Karena itu, seorang pakar politik menunjuk penyebab kerusuhan itu lebih spesifik. Konon, ada orang-orang, ingin yang boleh jadi berasal dari kelompok yang bermacam-macam, ingin menjatuhkan citra NU, atau mempertentangkan NU dengan pemerintah dan golongan Islam yang lain.
Menurut Menag Tarmizi Taher, dalam silaturahmi ulama pondok pesantren, pihak ketiga itu bukan hanya menjatuhkan citra NU, tetapi Islam secara keseluruhan. Mereka menghasut massa dengan memanfaatkan cap Islam. Asumsi ini dikemukakan karena pusat-pusat kerusuhan itu adalah tempat-tempat basis nahdliyin dan kantong-kantong Islam. Malangnya, walaupun sambil menyebut Malang sebagai asal kelompok perusuh ini, dengan asumsi ini kita hanya dapat menjelaskan kerusuhan di Jatim dan Madura, atau daerah-daerah NU lainnya.
Lagipula, kita sukar diyakinkan untuk menyetujui bahwa ulama besar seperti Kiai Alawy atau Kiai H.M. Nuruddin dengan mudah dipengaruhi oleh kelompok-kelompok itu. Apalagi kalau mereka berasal dari komunitas politik non-Muslim. Ataukah para ulama itu sendiri yang merekayasa kerusuhan? Bisakah kita nisbatkan aktor intelektualis itu kepada mereka? Sulit untuk kita jawab. Integritas para ulama itu dan pemihakannya kepada rakyat tidak mungkin menjadikan mereka dalang kerusuhan.
Anehnya, mitos rekayasa ini datang juga dari pihak korban kerusuhan atau yang terlibat dalam kerusuhan. Kerusuhan ini, menurut para korban, dibuat atau paling tidak dipancing oleh tindakan para aparat keamanan. Dengan merujuk pada pengalaman yang lalu, setidaknya pada masa kampanye, banyak bukti menunjukkan aparat disusupkan ke dalam massa. Mereka yang memulai dan mereka yang mengakhiri. Atau para aparat melakukan provokasi yang mengundang kemarahan massa.
Masalahnya, untuk apa aparat keamanan menyulut kerusuhan, padahal tugas mereka menjaga ketertiban dan keamanan? Untuk apa, misalnya dalam kampanye PPP, beberapa oknum polisi disusupkan dan melakukan pembakaran? Saya tidak tahu. Banyak jawaban diberikan, tetapi jawaban itu malah melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru.
Semua asumsi rekayasa hanya ditunjang oleh sebagian fakta. Kita melihat, di dalamnya ada penyederhanaan masalah yang berlebihan (oversimplifli-cation). Inilah teori kambing hitam. Lebih cocok dipakai untuk mengelabui orang daripada memberikan pencerahan. Salah satu bahaya teori ini ialah mengorbankan pihak yang dijadikan kambing hitam. Kata Emil Dofivat, pengkambinghitaman menyebabkan pengeruhan akal sehat (vernunft truebung) dan menimbulkan histeria massa.
Mitos Kedua: Kerusuhan Disulut oleh Rakyat yang tidak Mau Memperhatikan Ketentuan dan Peraturan yang Berlaku. Jadi, para perusuh sebetulnya hanyalah penjahat biasa saja. Mereka itu ‘law-breakers’, para pelanggar hukum. Mereka adalah para pengganggu keamanan yang menggunakan momen apa saja untuk melawan pemerintah. Momen itu bisa berupa pembangunan waduk atau pengumuman hasil pemilu.
Asumsi ini jelas tidak menunjukkan penyebab kerusuhan. Ia hanya menceritakan pelaku kerusuhan. Dengan mudah asumsi ini menjadi alat represif, tetapi sangat sukar untuk membimbing kita melakukan tindakan preventif. Kita dapat memperoleh pembenaran untuk mengatasi kekerasan massa dengan kekerasan lagi. “Tidak ada jalan lain yang harus dilaksanakan, kecuali menghalau para perusuh dengan kekerasan. Bila perlu, ditembak,” begitu dilaporkan dari Muspida Jawa Timur. Inilah “terapi dokter gigi”: tidak mencari penyebab penyakit, tapi langsung mencabut organ yang berpenyakit.
Cara ini bisa produktif, juga bisa kontra-produktif. Apabila organ yang sakit itu terisolisasi pada satu tempat, kita dapat menghilangkannya begitu kita membuang organ itu. Tetapi, bila penyakit itu sudah merebak ke seluruh tubuh, membabat organ-organ yang sakit berarti sekaligus membuat seluruh sistem tubuh kita. Dan itu bisa mengakibatkan kematian.
Bila diterjemahkan dalam kasus kerusuhan, kita mudah saja membabat pelaku-pelaku kerusuhan bila mereka berada hanya pada satu daerah. Tapi, apa yang menjamin kita bahwa kerusuhan itu tidak meluas kepada daerah-daerah yang lain, atau tidak muncul lagi pada waktu yang lain?
Mitos Ketiga: Kerusuhan Disebabkan oleh Satu Faktor Tunggal. Dalam literatur sosiologi, pernah bermunculan teori-teori yang menunjuk satu saja penyebab segala masalah sosial. Ada yang menunjuk bahwa perilaku manusia itu disebabkan oleh bawaan sejak lahir. Menurut kaum eugenik, berbagai kerusuhan bisa diselesaikan dengan melakukan rekayasa genetik. Orang-orang yang terlibat dalam kerusuhan sebaiknya dikebiri sehingga tidak menyebarkan keturunan yang buruk. Teori ini sudah lama dimuseumkan dan sudah tidak pantas dibicarakan lagi.
Dekat dengan penjelasan eugenik adalah penjelasan rasis. Ada ras atau suku bangsa tertentu yang mempunyai watak panas, agresif, senang tindakan kekerasan. Pernah diduga di Amerika bahwa orang Negro memang cenderung menjadi penjahat. Di Indonesia kita mendengar juga teori bahwa orang Madura memang berdarah panas. Mereka mudah sekali disulut untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan, Penjelasan seperti ini bukan saja tidak ilmiah, tetapi juga tidak bermoral. Kita melakukan stereotyping, dengan melakukan generalisasi berlebihan. Menyebut Madura berdarah panas sama saja seperti beranggapan bahwa orang Padang itu licik, orang Jawa munafik, orang Batak kasar, dan orang Sunda suka kawin.
Ada lagi orang yang menunjuk penyebab kerusuhan itu pada kurangnya iman dan ketakwaan. Kerusuhan, keberingasan, kebrutalan, hanya dapat dihilangkan dengan meningkatkan iman. Teori ini sulit dibuktikan kebenarannya dan sangat mudah dibuktikan kesalahannya.
Sangat sulit mengukur keimanan. Dengan menggunakan indikator yang bermacam-macam, para peneliti menemukan bahwa tidak ada perbedaan perilaku sosial di antara orang yang taat beragama dengan yang tidak. Lagipula, dalam sejarah, kerusuhan sosial justru banyak terjadi ketika semangat agama sedang mencapai puncaknya. Hanya semata-mata menunjuk iman sebagai faktor penyebab, mengabaikan banyak faktor yang lain.
Bila orang beragama menunjuk iman sebagai satu-satunya faktor, kaum Marxian menunjuk ekonomi sebagai satu-satunya sebab. Kerusuhan, konflik, atau masalah sosial lainnya disebabkan oleh perbedaan kepentingan ekonomi antara orang kaya dan orang miskin, antara penindas dan orang tertindas, antara majikan dan buruh, dan selanjutnya. Kita mirip Marxian, bila kita menuding penyebab berbaga kerusuhan sekrang ini hanya disebabkan oleh kesenjangan ekonomi.
Kita tidak ingin menyebut kaum Marxian, atau umat beragama, atau penafsir sosial lainnya sebagai salah total. Kita hanya menganggap keliru siapa saja yang mencari sebab masalah sosial, termasuk kerusuhan, dengan hanya melihat satu faktor saja.
Walhasil, sambil bersikap kritis pada berbagai penjelasan yang kita dengar sekarang ini, kita juga harus belajar memandang persoalan tidak sesederhana seperti yang kita inginkan. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).