Menelisik Presisi, Keindahan Makna, dan Moderasi Beragama di Perguruan Tinggi Indonesia

Pengantar Redaksi: Al-Qur’an adalah mukjizat agung yang keindahannya tidak pernah habis digali. Melalui karya monumental Daqaiq Al-Qur’an: Menelisik Presisi dan Keindahan Makna Al-Qur’an, KH. Miftah Fauzi Rakhmat melakoni safari akademis dan spiritual menelusuri berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Serial pelaporan ini merekam jejak diskusi, dialektika keilmuan, refleksi persahabatan intelektual, serta semangat moderasi beragama yang terbangun di setiap podium kampus.
Daftar Forum Diskusi & Link Referensi Dokumentasi
Daftar Lokasi & Forum Bedah Buku Daqaiq Al-Qur’an:
- Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga, Jogja
- Pasca Sarjana UIN Sunan Gunung Djati, Bandung
- IAILM Tasikmalaya
- Masjid al-Markaz al-Islami, Makassar
- Pasca Sarjana UIN Alauddin, Makassar
- IAIN Parepare
- STAIN Majene
- Lingkar Studi Qur’an, STAIN Majene
- UI DDI Ambo Dalle, Polewali Mandar
- IAIN Manado
- MUI – ICMI – An-Naqd Institute, Manado
Link Referensi Pelaporan & Liputan Media:
- UIN Sunan Kalijaga: https://ushuluddin.uin-suka.ac.id/id/show/berita/13221/bedah-buku-daqiq-al-quran-fupi-uin-sunan-kalijaga-ajak-mahasiswa-menyelami-keindahan-makna-al-quran
- UIN Sunan Gunung Djati Bandung: https://uinsgd.ac.id/buka-ruang-dialog-perkuat-moderasi-beragama-s2-iat-uin-bandung-gelar-kuliah-umum-bedah-buku-daqaiq-al-quran/
- Tribun News Jabar (UIN Bandung): https://jabar.tribunnews.com/kampus-360/1176999/bedah-buku-daqaiq-alquran-di-uin-bandung-kh-miftah-f-rakhmat-kritik-cara-pahami-terjemahan
- Majulah IJABI: https://majulah-ijabi.org/menyingkap-presisi-dan-keindahan-mukjizat-dalam-bedah-buku-daqaiq-al-quran/?amp=1
- Facebook (Dokumentasi Muhammad Takbir): https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=28418658241083795&id=muhammad.takbir.167&seo_visit=1
- Instagram Radio Al-Markaz Official: https://www.instagram.com/radioalmarkazofficial/reel/DdMGMS7zX-L/?hl=ar
- Instagram Liputan Publikasi: https://www.instagram.com/p/DdRY2dqCQYl/?ig_mid=A2861255-44F4-4538-8617-27D8AE2573A7&utm_source=igweb&launch_app_store=true
- STAIN Majene: https://stainmajene.ac.id/berita/detail/bedah-buku-nasional-daqaiq-alquran-hadirkan-dialog-cinta-kepada-allah-dan-rasulnya
- Facebook UIDDI AD Polman: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=1642381730691637&id=uiddiad.polman&seo_visit=1
- Artikel Dr. Mukhtar (UI DDI Polman): https://www.facebook.com/share/p/1DU6i1xM5k/
Para Tokoh Pembanding Bedah Buku Daqaiq al-Qur’an di Aula Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat
– Prof. Badruddin, UIN SGD.
– Prof. Robby H. Abror, UIN Suka dan Yayasan Muthahhari
– Dr. Syahrir Nuhung, Masjid al-Markaz al-Islami, Makassar
– Prof. Dr. Muhsin Mahfudz, UIN Alauddin Makassar
– Prof. Muzdalifah Muhammadun, IAIN Parepare
– Dr. Muhammad Rais, STAIN Majene
– Prof. Dr. Ahmad Sewang, STAIN Majene
– Dr. Muhammad Dirman, M.Ag
– Dr. Muhammad Imran, IAIN Manado
– Dr. Almunawwar bin Rusli, IAIN Manado – MUI – ICMI Sulawesi Utara.
Menyelami Keindahan dan Presisi Makna di Kampus Islam
Safari bedah buku Daqaiq Al-Qur’an mengawali jejak intelektualnya di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) terkemuka, di antaranya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam setiap forum, KH. Miftah Fauzi Rakhmat mengajak para akademisi, dosen, dan mahasiswa untuk tidak sekadar membaca Al-Qur’an pada tataran permukaan atau bergantung sepenuhnya pada terjemahan tekstual.
Di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, diskusi berlangsung hangat dengan menitikberatkan pada aspek ketelitian (daqaiq) pemilihan kata dalam Al-Qur’an. Kiai Miftah memaparkan bahwa setiap struktur tata bahasa, perubahan bentuk kata, hingga susunan artikulasi kalimat mengandung kedalaman makna yang sangat presisi. Memahami Al-Qur’an secara mendalam memerlukan pendekatan linguistik modern yang dipadukan dengan khazanah klasik, sehingga keindahan mukjizat tekstual dapat dirasakan secara utuh.
Sementara itu, dalam Kuliah Umum dan Bedah Buku yang diselenggarakan oleh Program Magister (S2) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, diskusi difokuskan pada penguatan moderasi beragama. Kiai Miftah melancarkan kritik konstruktif terhadap kecenderungan sebagian kalangan yang memahami Al-Qur’an hanya lewat terjemahan harfiah tanpa menguasai alat analisis keilmuan yang memadai. Menurut beliau, pemahaman yang dangkal dan tergesa-gesa kerap menjadi pemicu sikap kaku, intoleran, dan klaim kebenaran sepihak.
| “Memahami Al-Qur’an tidak boleh terhenti pada teks terjemahan belaka. Presisi keindahan bahasa Al-Qur’an mengajarkan kita ketelitian, kerendahan hati, serta keluasan jiwa dalam memandang perbedaan.” — KH. Miftah Fauzi Rakhmat |
Dialektika Cinta, Moderasi, dan Jejak Perjalanan Kampus
Perjalanan dakwah literasi Daqaiq Al-Qur’an tidak berhenti di Pulau Jawa, melainkan merambah hingga ke pelosok Sulawesi. Di STAIN Majene dan Universitas Islam Abdurrahman Ambo Dalle (UI DDI) Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kehadiran KH. Miftah Fauzi Rakhmat disambut hangat sebagai momentum penguatan dialog interaktif dan moderasi beragama.
Dalam Bedah Buku Nasional di STAIN Majene, forum mengangkat tema sentral ‘Dialog Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya’. Diskusi ini menegaskan bahwa pendekatan linguistik Daqaiq Al-Qur’an bukan sekadar olah kecerdasan rasional, melainkan sarana menumbuhkan rasa cinta yang mendalam (mahabbah) kepada Sang Pencipta dan Nabi Muhammad SAW. Ketelitian bahasa Al-Qur’an menyingkap bagaimana kasih sayang Allah tersebar dalam tiap lekuk ayat-Nya.
Di UI DDI Polman, perhelatan bedah buku digelar atas kerja sama pengurus Ikatan Jama’ah Ahlulbait Indonesia (IJABI) bersama civitas akademika kampus yang berideologi Ahlussunnah wal Jama’ah. Pertemuan dua tradisi besar keislaman ini menjadi manifestasi nyata dari ekosistem moderasi beragama yang unggul. Di podium ini, perbedaan tidak menjadi sekat, melainkan menjadi spirit dialektika keilmuan yang memperkaya pemikiran Islam Indonesia.
Rangkaian safari akademis ini terus berlanjut melintasi Nusantara, menyapa pelataran universitas di UIN Alauddin Makassar, IAIN Pare-Pare, hingga berlanjut menuju UIN Manado dan Gorontalo. Semangat menjelajahi khazanah Al-Qur’an secara objektif dan ilmiah terus dinyalakan di kalangan generasi muda akademisi.
Tafsir Jalanan: Resensi dan Catatan Kritis Dr. Mukhtar
Salah satu catatan yang sangat berkesan dalam serial diskusi ini datang dari Dr. Mukhtar, dosen UI DDI Polman, melalui ulasannya yang bertajuk ‘Tafsir Jalanan (Bukan Tafsir Jalalain): Satu Forum dengan Putra Kang Jalal’. Dr. Mukhtar merefleksikan bagaimana aktivis mahasiswa era 98-an sepantasnya tidak melupakan rekaman pemikiran deretan cendikiawan Muslim yang pernah memetakan blantika pemikiran Islam di Indonesia.
Dalam tulisannya, Dr. Mukhtar memetakan tipologi pemikiran Islam Indonesia secara komprehensif:
- Islam Rasional: Gagasan Prof. Harun Nasution yang diteruskan oleh murid-muridnya seperti Prof. Qasim Mathar, Dr. Arifuddin Cawidu, dan Prof. Jalaluddin Rakhmat dari UIN Makassar.
- Islam Inklusif-Pluralis: Lokomotif gagasan Nurcholish Madjid (Cak Nur) dengan jargon legendarisnya ‘Islam Yes, Partai Islam No’.
- Islam Pribumi / Nusantara: Semangat pelembagaan nilai lokal yang diusung KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di mana bersama Cak Nur dikategorikan oleh Greg Barton sebagai kelompok neo-modernis.
- Islam Mustad’afin & Epistemologi Irfani: Tipologi pemikiran KH. Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) yang menjadikan Islam sebagai fondasi perjuangan kaum tertindas, menggabungkan epistemologi Burhani (rasional) dan Irfani (spiritual/cinta).
Dr. Mukhtar menyoroti bagaimana Kang Jalal—meski kerap menerima stigma negatif dari kelompok yang membaca agama secara harfiah—tetap disikapi secara bijak dan moderat oleh insan akademis kampus sebagai spirit dialektika keilmuan. Popularitas Kang Jalal sebagai Guru Besar tidak menghalanginya untuk terus menimba ilmu hingga meraih gelar doktor dalam bidang ilmu Hadis di UIN Alauddin Makassar di bawah bimbingan dan pengujian pakar seperti Prof. Komaruddin Amin, Ph.D.
Mewarisi Tahta Pengetahuan: Sosok Kiyai Miftah yang Tawadhu
Dalam babak penutup catatannya, Dr. Mukhtar melukiskan kesan mendalam saat bersua langsung dengan KH. Miftah Fauzi Rakhmat. Kiai Miftah dipandang sebagai anak biologis sekaligus intelektual yang tidak hanya mewarisi gestur dan kecerdasan almarhum Kang Jalal, tetapi juga menghidupkan kembali roh pemikiran sang ayah dalam wujud yang segar dan santun.
Pengembaraan intelektual Kiai Miftah yang melalang buana menimba ilmu ke berbagai negara—mulai dari Australia, Jerman, hingga Iran sebagai pusat tradisi keilmuan Mullah—telah memformat pikirannya menjadi salah satu cendikiawan muda Muslim yang sangat diperhitungkan di Indonesia.
Namun, hal yang paling menyentuh hati Dr. Mukhtar bukanlah deretan gelar atau petualangan akademis tersebut, melainkan kerendahan hati (tawadhu) yang ditunjukkan Kiai Miftah. Saat Dr. Mukhtar menyambut kedatangan beliau di kampus sederhana UI DDI Polman dan berusaha mencium tangannya sebagai penghormatan kepada ulama, Kiai Miftah justru membalas dengan mencium tangan Dr. Mukhtar. Sikap tawadhu ini serta-merta meruntuhkan rasa cemas dan kecanggokan, membuka ruang ‘pertemanan kritis’ yang hangat di forum diskusi.
| “Betapa tinggi akhlak dan tawadhu seorang Kiyai Miftah membuat kecemasanku runtuh… Semangatnya mendiskusikan Al-Qur’an dari sudut pandang linguistik membuatnya merelakan tenaga, pikiran, dan materi mengelilingi kampus-kampus di Indonesia.” — Dr. Mukhtar (Dosen UI DDI Polman) |
Kini, jejak-jejak diskusi Daqaiq Al-Qur’an telah tertanam kuat di kampus-kampus Nusantara. Civitas akademika UI DDI Polman dan berbagai perguruan tinggi lainnya menaruh harapan besar agar KH. Miftah Fauzi Rakhmat berkenan kembali menularkan pengetahuan tafsir linguistik, serta memberikan dorongan pada karya-karya akademis lanjutan seperti kajian elemen linguistik modern dalam amsal Al-Qur’an. Dokumen pelaporan ini menjadi saksi atas ikhtiar mulia menjaga presisi mukjizat Al-Qur’an dan menyebarkan risalah kasih sayang di persada Nusantara.