Mari Jelajah Sejarah

Kita akan bergabung dengan kafilah umat manusia menembus ruang dan waktu. Kita akan menjelajah sejarah, kembali ke seribu empat ratus tahun yang lalu, ke zaman Rasulullah saw. Lihatlah, kafilah kita sudah memasuki kota Madinah. Pohon-pohon kurma yang hijau sudah kelihatan. Dalam naungan pohon kurma, kita melihat mesjid Kuba, mesjid yang pertama dibangun di atas dasar taqwa.

Di situlah beberapa waktu yang lalu, Nabi saw menunggu kedatangan putrinya Fathimah Az-Zahra as bersama ibu Nabi saw yang kedua, Fatimah binti Asad, serta beberapa perempuan lain. Fathimah, Qurratu ‘Aini Rasulullah, diantar Ali bin Abi Thalib hijrah ke Madinah. Dengan sabar, Nabi saw yang mulia memandang padang pasir di hadapannya. Ia tersenyum bahagia ketika debu-debu sahara lewat di depan matanya, ditiup angin Madinah yang panas. Ia tersenyum karena tiupan angin itu menyingkapkan pandangannya ke arah sosok manusia yang dicintainya. Ia berdiri menajam-kan pandangannya sambil menghapus keringat yang mengalir di dahinya. Ketika Ali datang dengan kaki telanjang yang melepuh disayat bebatuan sahara, Nabi saw menetes-kan air matanya. Ia mengusapkan ludah ke telapak kaki Ali, sementara bibirnya menggumamkan doa-doa suci. Ia mencium Fathimah di antara kedua matanya dan memeluknya erat-erat. Keluarga yang dipisahkan oleh perjuangan kini bergabung lagi.

Kafilah kita bergerak perlahan melewati tempat yang penuh berkah itu. Kita menyauk tanah yang pernah diinjak telapak kaki manusia-manusia suci, kita usapkan ke wajah kita sambil melangkahkan kaki-kaki kita ke arah Masjidil Haram. Kita sudah melewati kuburan Baqi’. Kita sudah mendengar adzan Bilal yang menyentuh hati. Kita melihat para sahabat Nabi saw bergegas untuk shalat berjamaah di belakang Nabi. Kita sudah berdiri di depan pintu mesjid Nabi. Marilah kita ucapkan salam: “Assalâmu ‘Alaika Yâ Rasûlallâh. Assalâmu ‘Alaika Yâ Habîballâh. Assalâmu ‘Alaika Yâ Nabiyar Rahmah. Assalâmu ‘Alaika Yâ Sayyidal Mursalîn. Assalâmu ‘Alaika wa ‘Ala Ahli Baitikat Thayyibînat Thâhirîn.”


Ketika kita masuk ke mesjid, kita melihat seorang Arab dari dusun menyeruak ke tengah-tengah jamaah mendekati Rasulullah saw. Nabi sudah bersiap untuk melakukan shalat, orang dusun itu bertanya, “Kapan kiamat akan terjadi ?” Nabi tidak menjawab. Kita mendengar beliau mengucap-kan takbir. Kita shalat di belakang Nabi saw. Kita merasakan hati kita bergetar, mata kita berat dengan air mata. Ketika Nabi membaca-kan ayat-ayat Al-Qur’an, suara suci dan indah itu menyayat-sayat jantung kita. Kita tidak bisa lagi menahan air mata, kita tenggelam dalam lautan keesaan Tuhan.

Usai shalat, kita mendengar suara Nabi saw yang lembut berkata, “Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat itu?” Orang dusun itu berkata dari tengah-tengah manusia: “Saya, Ya Rasulullah.” Nabi bertanya: “Apa yang sudah kamu persiapkan untuk hari kiamat?”

Kita melihat orang dusun itu tertunduk malu, dia tidak berani memandang wajah Nabi saw. Kita mendengar ia berkata dengan suara terbata-bata: “Demi Allah! Saya tidak mempersiapkan amal yang banyak. Saya tidak mempersiapkan shalat maupun puasa, tapi saya mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Suara yang penuh kasih keluar dari bibir Nabi yang mulia. Dengar, suara yang penuh kasih keluar dari bibir Nabi yang mulia. “Anta ma’a man ahbabta.” Engkau bersama orang yang engkau cintai.


Duhai, betapa dahsyatnya ucapan nabi itu. Seperti bunga layu yang disiram air hujan, muka orang dusun itu merekah kembali penuh harapan, hatinya melonjak gembira. Para sahabat yang lain bertanya: “Ya Rasulullah, apakah ucapan engkau itu hanya berlaku buat diri dia saja?” Rasulullah menjawab: “Tidak, ini berlaku buat kalian dan buat orang Islam sesudah kalian.” Dengarkan-lah kata Anas bin Malik: “Aku belum pernah melihat kaum muslimin berbahagia setelah masuk Islam karena sesuatu, seperti bahagia-nya mereka ketika mendengarkan sabda Nabi saw.” Kita juga bahagia. Kita tidak berbeda dengan orang Arab dusun itu. Kita tidak mempersiapkan apa-apa buat hari kiamat nanti. Kita malas beribadah, kita tidak banyak melakukan amal shaleh, bahkan setiap hari kita menumpuk dosa dan maksiat.


Hari ini kita malu menemui Nabi saw dengan punggung yang sudah berat dengan dosa-dosa kita, tapi kita ingin memper-sembahkan kepadanya cinta kita yang tulus. Kita datang untuk melepaskan kerinduan kita kepada Nabi saw. Marilah kita sampaikan ribuan salam kepadanya seperti orang Arab itu. Marilah kita ungkapkan cinta kita kepada junjungan kita:”Innallâha wa malâikatahû yushallûna ‘alan nabi, yâ ayyuhalladzîna âmanû shallû ‘alaihi wa sallimû taslîmâ” (Al-Ahzab 56). Allahumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad.


Kita baca shalawat untuk mengungkapkan kecintaan kita pada Rasulullah saw.

“Sholâtun minallah wa alfa salâm
Alal Musthafâ Ahmad syarîfil maqâm

Ya Allah curahkan seribu salam
Bagi Musthafa Ahmad insan mulia

Salam oh salam seharum kesturi
Bagimu duhai kekasih yang mulia

Dalam gelita kami rindukanmu
Kaulah cahaya di tengah manusia

Demi Allah kau penuhi hatiku
engkaulah tujuan cita-citaku

Muliakan aku dengan cinta sucimu
Berikan padaku tempat yang mulia

Akulah hambamu duhai tercinta
Di dekatmu cintaku dan bahagia

Jangan dukakan daku tanpa dikau
Sapalah daku walau dalam mimpi

Hidupku matiku dalam cintamu
Hinaku muliaku karena dikau

Dalam dekapmu damainya jiwaku
Engkaulah selalu damba rinduku

Apa arti hidup jika hatiku
Terpisah dari tambatan jiwaku

Cintanya resapi sanubariku
Tertutup tulang dan darah dagingku

Sekarang kita berada di Madinah Al-Munawwarah. Adzan Maghrib sudah dikumandangkan. Matahari sudah tenggelam dan gemintang bermunculan di langit Madinah yang jernih. Dari penduduk Madinah kita mendengar berita yang mencemaskan. Nabi yang tercinta menderita sakit. Berkali-kali ia pingsan. Di dalam rumahnya yang sempit dan sederhana, para pelayat berdesakan.

Sejak khutbah di Arafah dan beberapa khutbah terakhir di Madinah, ia memberi isyarat bahwa sebentar lagi ia akan meninggalkan kita semua. Beliau berkata: “Aku tidak tahu, apakah aku bisa berjumpa lagi dengan kalian setelah ini. Hampir datang waktunya aku dipanggil dan berangkat menuju kekasihku. Aku titipkan kepada kalian sepeninggalku, Kitab Allah dan keluargaku”, sabda Nabi saw di hadapan para pengunjungnya. Nabi memegang tangan Ali, “Inilah Ali bersama Al-Qur’an dan Al-Qur’an bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya menemuiku di telaga akhirat nanti”.


Tapi lihatlah siapakah gerangan sosok tubuh yang menyobekkan kegelapan malam Madinah menuju kuburan Baqi’. Di belakangnya ada satu sosok lain mengikutinya. Terdengar suara lirih: “Ya Aba waihaba. Aku diperintahkan untuk memohon-kan ampunan bagi penghuni kubur Baqi’, karena itu aku memanggil engkau untuk menyertaiku”. Itu suara yang sudah kita kenal, itu suara Nabi saw. Masih dalam keadaan demam, ia berangkat ke pekuburan kaum Mukminin. Di sela-sela pusara, diremang-remang kegelapan yang mencekam, kita mendengar Rasulullah saw mengucapkan salam: ”Assalâmu ‘alaikum Yâ ahlal maqâbir. Bakal datang fitnah yang bergulung-gulung seperti gulungan malam yang gelap saling susul- menyusul. Yang kemudian lebih jelek dari yang pertama. Beruntunglah kalian yang sudah meninggalkan kami dan tidak mengalami runtunan fitnah itu.” Kita mendengar Nabi saw membaca istighfar, mendo’akan semua penghuni kubur. Fitnah apakah gerangan yang bakal menimpa umat Islam ini? Apakah gerangan ujian berat yang akan menggulung umat Muhammad saw?


Pulang dari Baqi’, Nabi saw jatuh sakit lagi. Ia menderita demam dan sakit kepala. Para pelayat bergantian menemui Nabi saw. Tidak seorang pun berbicara keras di hadapannya. Semua mata memandang wajah putih bersih. Nabi menarik nafas perlahan-lahan, seakan-akan mengikuti detak jantung para pelayatnya. Tiba-tiba bibir yang suci itu terbuka: “Ambillah kitab dan tinta supaya kutuliskan untuk kalian, tulisan yang tidak akan sesat sepeninggalku.” Suara itu disusul oleh suara gemuruh. Seorang pelayat ber-teriak: “Biarkan, Nabi saw sedang menggigau. Nabi diserang penyakit panas, cukuplah bagi kita Kitabullah.” Perempuan-perempuan berteriak, “Tidakkah kalian mendengar sabda Rasul Allah?” Kita mendengar suara keras menghardik ibu-ibu kaum mukminin. Kita mendengar suara keras itu menghardik ummahâtul mu’minîn. “Ah kalian sama saja dengan perempuan-perempuan sahabat Yusuf. Jika ia sakit, kalian berduka cita. Jika ia sembuh, kalian bertengger di lehernya.” Dengarkan Nabi saw bersabda: “Biarkan perempuan-perempuan itu, mereka lebih baik dari kamu. Enyahlah kalian dari sini!” Ya Nabiyar Rahmah, inikah fitnah besar itu? Di depan manusia yang tidak berbicara dari hawa nafsunya tetapi selalu berdasarkan wahyu yang diterimanya (QS Al-Najm 3-4), ada orang yang berani menyebut bahwa Nabi meracau karena sakit panas. Di depan orang yang sakit, apalagi yang sakit itu manusia mulia junjungan alam, orang-orang bersuara keras. Ya Rasulullah inikah fitnah besar itu?


Lihatlah, Ibnu Abbas menyebut peristiwa itu sebagai tragedi hari Kamis. Setiap kali mengenang hari itu, ia menangis. Kita juga ingin menangis, kita tidak tahu apa gerangan yang ingin diwasiatkan Nabi saw. Kita tidak ingin tersesat sepeninggal beliau. Kita ingin memeluk agama Islam yang sebenarnya. Kita ingin mendengar dan membaca wasiat Nabi saw yang terakhir. Hampir saja Rasulullah memberikan anugerah besar yang akan menjadi pedoman kita sesudah sepeninggalnya.


Mengapa orang-orang itu mengabaikan permintaan Nabi yang mulia? Padahal penjahat yang akan dihukum mati pun dipenuhi permintaannya yang terakhir. Mengapa tidak kita penuhi permintaan seorang manusia yang suci dan agung? Maafkan kami Ya Rasulullah, kami umat yang tidak tahu berterima kasih. Kami ini umat yang tidak beradab di hadapan Nabi-Nya. Ampuni kami Ya Abal Qasim, Ya Nabiyar Rahmah.


Siapa pula yang kita lihat datang ke rumah Nabi saw dengan membawa kedua putranya. Langkahnya gontai, tubuhnya lunglai, dan wajahnya sayu. Ia menjatuhkan dirinya ke tubuh Nabi saw. Air matanya membasahi dada Rasul yang mulia seraya berkata: “Wa kurbah wakurbi li kurbik yâ abah. Duhai deritaku, deritaku karena deritamu ya Abah.” Dialah Fathimah yang jiwanya tidak dapat dipisahkan dari jiwa Nabi saw.


Dialah Ummu Abîha yang pernah menemui Rasul Allah di tengah para sahabatnya. Dia berdiri menyambutnya. Dia menciumi tangan Fathimah seraya berkata: “Fathimah belahan jiwaku. Siapa yang menyakiti Fathimah, ia menyakitiku. Siapa yang membuat Fathimah marah, ia juga membuat aku marah.” Inilah putri Rasul, Al-Batul. Bila Nabi saw merindukan semerbak harum surga, ia mencium leher Fathimah. Pernah satu saat Fathimah datang menemui ayahnya membawa potongan roti seraya berkata, “Ini potongan roti, hatiku tidak tenang sebelum kuberikan roti ini padamu.” Nabi saw menjawab, “Inilah makanan pertama yang masuk ke mulut ayahmu sejak tiga hari yang lalu.”


Nabi saw memandang dengan penuh rasa sayang dan iba kepada putrinya yang tercinta. Nabi melihat putrinya sudah seperti seonggok daging tanpa kehidupan. Dalam linangan air mata yang deras mengalir membasahi janggutnya, ia menghibur putrinya sambil berkata: “La kurba ‘ala abi ba’da al-yaum.” Tidak akan ada derita lagi bagi ayahmu setelah hari ini. Mendengar ucapan itu Fathimah menjerit. Ia tahu sebentar lagi ayah tercintanya akan meninggalkannya. Nabi saw berkata: “Wahai anakku Fathimah, janganlah Engkau menangis bila aku mati. Ucapkanlah, Inna lillâhi wa innâ ilaihi râjiûn. Fathimah memegang tangan kedua putranya Hasan dan Husayn lalu berkata, “Ini kedua putramu Ya Aba, berikan warisan kepadanya.” Masih dalam linangan air matanya, kita mendengar Rasul saw bersabda, “Hasan akan mewarisi wibawa dan kekuasaanku. Husayn akan mewarisi keberanianku dan kederma-wananku.”


Ketika melihat Husayn, Nabi saw segera memeluknya erat-erat. Dalam derita penyakit yang makin berat, Nabi saw menahan jeritan pilu seraya berkata: “Biarkan aku berhadapan dengan Yazid. Semoga Allah tidak memberkati Yazid. Ya Allah aku serahkan Yazid pada-Mu.” Belum selesai Nabi saw bicara, ia tidak sadarkan diri lagi. Nabi saw pingsan lama sekali. Ketika siuman, ia merebut lagi tubuh Husayn dan memeluknya. Air matanya membasahi wajah Husayn. “Biarkan aku dan pembunuhmu berhadapan di hadapan Allah Azza Wajalla.” Ketika Hasan dan Husayn merapatkan tubuh mereka yang kecil pada tubuh Rasul yang agung, mereka tidak henti-hentinya menangis. Dalam kedalaman hati anak yang bening, mereka merasakan sebentar lagi kakek yang sangat penyayang itu akan meninggalkan mereka. Amîrul Mu’minin Ali bin Abi Thalib ingin memisahkan mereka supaya tidak meng-ganggu Nabi saw yang sedang sakit. Tapi, dengarlah bibir yang mulia itu bergerak lagi, “Biarkan mereka bersenang-senang denganku dan aku bersenang-senang dengan mereka, karena keduanya nanti akan ditimpa bencana sepeninggalku.”


Kepada para pelayatnya, Nabi saw bersabda: “Aku sudah tinggalkan bagi kalian Kitab Allah dan keluargaku. Siapa yang melalaikan Kitab Allah, ia sudah melalaikan sunnahku. Dan barangsiapa yang melalaikan sunnahku sama seperti melalaikan keluargaku, karena keduanya tidak akan pernah berpisah sampai keduanya datang menemuiku di Telaga Hari Kiamat nanti.”


Kepada pintu kota ilmunya, kepada Bâbul Madînatul ‘Ilmi, kepada Imam Ali yang ditunjuk sebagai pembawa wasiat sesudahnya, Nabi saw bersabda: “Hai Ali, letakkanlah kepalaku di pangkuanmu. Sudah datang perintah Allah. Kalau napasku sudah berakhir, usap wajahku dan usapkanlah ke wajahmu. Kemudian hadapkan aku ke arah kiblat. Jadilah engkau orang yang pertama menshalatkanku. Jangan tinggalkan aku sampai engkau menguburkanku. Minta tolonglah kepada Allah.” Dalam pangkuan Ali bin Abi Thalib, roh suci itu meninggalkan tubuh yang mulia naik ke langit tinggi, menemui kekasih sejati, Allah swt. Fathimah menjerit pilu, “Ya Aba, Ya Rasulullah, Ya Nabiyar Rahmah. Sekarang wahyu tidak akan datang lagi, Jibril tidak akan turun lagi. Ya Allah, ambillah rohku untuk menyusul rohnya. Tolonglah aku untuk selalu memandang wajahnya. Ya Allah jangan haramkan kepada kami syafaatnya pada hari kiamat.”


Fathimah menjerit. Seluruh penduduk Madinah menangis. Langit Yatsrib menggemakan seluruh tangis itu ke seluruh penjuru dunia. Ya Rasulullah, fitnah apalagi yang lebih besar dari kepergianmu? Musibah apa lagi yang lebih berat dari kehilanganmu?


Lihatlah, putrimu setiap hari menjenguk pusara sucimu. Ia menyauk tanah kuburmu dan mengusapkannya kewajahnya seraya merintih, “Telah menimpa daku musibah, yang dapat mengubah siang menjadi gelita.”

Kita datang ke Madinah untuk berziarah kepada Rasul yang agung. Tapi masih sanggupkah kita mengucapkan shalawat dan salam kepadanya, sedangkan duka nestapa mengiris-iris jantung kita. Masih mungkinkah kita tertawa, padahal putri Rasul tidak pernah tersenyum lagi setelah itu.

Dalam jelajah waktu, kafilah kita dihadapkan lagi kepada hari-hari sepeninggal Rasul saw. Kita melihat Imam Husain menghardik orang tua yang berdiri di mimbar ayahnya. Kita juga melihat orang bergerombol di depan pintu rumah Fathimah. Ke arah pintu rumah itulah dahulu, Rasulullah membukakan jendelanya dan mendendangkan kalimat suci, “Innamâ yurîdullâhu liyudzhiba ‘ankumur rijsa ahlal bayti wa yuthahhirukum tathhîrâ.” (Al-Ahzab 33). Kini di depan rumah itu, berkumpul wajah-wajah garang dan bengis. Tidak henti-hentinya mereka berteriak memerintahkan Imam Ali untuk keluar. Seseorang yang terkenal berhati kasar memerintahkan agar rumah Fathimah dibakar. Tapi, bukankah di situ ada putri Rasulullah? Walaupun di situ ada putri Rasulullah.


Api diletakkan di depan pintu rumah putri Nabi saw. Lewat pintu itulah, dulu Rasulullah menjenguk keluarga tersayang. Lewat pintu itulah, dulu Nabi datang menemui keluarga yang dicintainya. Pernah lewat pintu itu, ia datang dan menemukan Ali sedang tertidur. Fathimah ingin membangunkan suaminya, tapi Nabi yang mulia berkata: “Biarkan, jangan ganggu Ali. Karena sepeninggalku, Ali hampir tidak ada waktu untuk tidur lagi.”

Kini mereka datang seperti diramalkan Rasulullah saw, menyalakan api di depan keluarga suci itu. Di balik pintu, Sayyidah Fathimah tidak henti-hentinya merintih dan memanggil Rasulullah, ”Ya Abatah, Ya Rasulullah”. Pintu dibanting, manusia berhati kasar itu mendorong putri Rasulullah dengan sarung pedangnya. Ia terjatuh, “Ya Abatah, Ya Rasulullah”. Lalu cemeti diayunkan dan menyobekkan luka besar di tangan Qurrata’Ayni Rasulillah. Ali meloncat, ia memegang ubun-ubun si muka kasar, menimpuk hidungnya. “Sekiranya Rasulullah saw tidak menyuruhku bersabar, aku bunuh kamu, hai Ibnu Sa’ad.” Puluhan orang merangsek rumah Ahli Bait Nabi, tempat persinggahan para malaikat. Mereka melemparkan tali ke kuduk Amir al-Mukminin. Mereka menyeret pahlawan Islam itu, yang dengan pedangnya ditegakkan tonggak-tonggak keislaman, yang tubuhnya penuh dengan tikaman pedang ketika menegakkan agama Islam saat-saat awal. Kini ia diseret seperti unta yang sakit. Ya Rasulullah, apakah ini fitnah besar yang kausebutkan di pekuburan Baqi’ itu? Ketika Ahli Bait yang kauamanatkan untuk dipegang teguh oleh kaum muslimin, bukan saja ditinggalkan, tapi dianiaya dan dihinakan. Ya Rasulullah, ketika Al- Qur’an mengadu di hari kiamat nanti dan menyatakan bahwa umatmu telah meninggalkan dia, kami takut Ya Rasulullah, Ahli Bait akan mengadu di depanmu menunjukkan betapa kami telah mengabaikan mereka selama berabad-abad. Betapa kami telah menganiaya dan menyengsarakan mereka. Betapa kami telah melemparkan mereka dalam onggokan sejarah yang tidak bermakna. Ya Rasulullah, maafkan kami. Ampuni kesalahan-kesalahan kami.


Maafkan pengabaian kami selama ini. Sekarang ini bimbinglah kami untuk mengikuti Ahli Baitmu dan melanjutkan kafilah ini, mengantarkan keluargamu yang suci dari Madinah menuju ke tanah Karbala.


Kafilah kita sekarang berada di padang Karbala. Pagi hari matahari terbit cerah di ufuk timur; sinarnya menyapu padang Karbala yang tandus. Kita melihat Al-Husayn mengatur pasukannya. 32 orang berkuda, 40 orang pejalan kaki, dan selebihnya anak-anak beserta perempuan. Sementara itu di hadapan Imam Husayn, ada Umar bin Sa’ad dengan 5000 anggota tentaranya, dilengkapi persenjataan yang jauh lebih lengkap. Bila matahari itu sanggup berbicara, ia akan mengatakan, “Ini bukan peperangan, ini pembantaian besar-besaran.”


Kita melihat musuh mulai mendekat. Zainab melihat kakaknya maju ke depan. Kita melihat Imam Husayn menyongsong musuh-musuh itu sambil mengangkat tangannya seraya berdoa: “Ya Allah, Engkaulah sandaranku dalam kesulitan. Tumpuan harapan dalam kesusahan. Engkau sajalah kepercayaan dan kekuatanku, apa pun yang menimpa diriku; betapa pun lemah hatiku; betapa pun tipu daya telah menghilangkan harapanku; betapa pun kawan-kawan telah menjauhiku dan musuh-musuh bergembira pada deritaku. Aku sampaikan doaku pada-Mu. Aku mengadu kepada-Mu, dengan mengharapkan-Mu sendiri. Engkau telah menghiburku. Engkau telah membukakan nikmat bagiku. Engkaulah pemilik segala kebaikan, Tujuan akhir segala pengharapan.”


Kita melihat Al-Husayn meloncat menaiki kudanya. Ia melarang pengikutnya menyerang terlebih dahulu. Untuk terakhir kalinya, ia memperingatkan orang-orang Kufah yang menyerangnya. Ia mengingatkan mereka bahwa ialah Al-Husayn yang di pundak Rasulullah pernah berdiri dan menyebabkan Rasulullah menahan sujudnya dalam waktu yang lama. Ialah Al-Husayn yang ditangisi Rasulullah saw ketika beberapa saat sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia menasehati musuh-musuhnya untuk kembali ke jalan Rasul yang suci. Tetapi seluruh ucapannya tidak mempengaruhi tentara-tentara kezaliman itu. Tiba-tiba seekor kuda mendongak, dan penunggangnya dengan cepat mengarahkan kuda itu ke arah Al-Husayn. Kita menarik nafas panjang. Semua mata memandang ke arah penunggang kuda itu. Setelah dekat, jelaslah siapa penunggang kuda itu -Al-Hurr bin Yazid, yang menggiring rombongan Al-Husayn ke arah Kufah. Itulah Al-Hurr bin Yazid yang membawa rombongan Al-Husayn ke padang pasir Karbala dengan puluhan pedang di belakang mereka. Al-Husayn berdiri tegak, siap menyambut serangan Al-Hurr. Tapi dengarkan kata Al-Hurr: “Wahai putra Rasulullah! Inilah orang yang telah menzalimi engkau. Inilah orang yang telah menggiringmu ke tempat ini dan menyebabkan begitu banyak penderitaan kepadamu. Sudilah engkau, wahai putra Rasulullah, memaafkan orang durhaka seperti aku? Demi Allah, aku tidak menduga orang-orang ini akan bergerak sampai menumpahkan darah keluarga Rasulullah. Sekarang jalan damai sudah tertutup. Aku tidak mau membeli neraka dengan kesenangan dunia. Maafkan kesalah-anku, wahai cucu Rasulullah. Izinkanlah aku berkorban sebagai tebusan atas dosa-dosaku yang telah aku lakukan kepadamu.”


Al-Hurr menaiki kudanya, meng-hentakkan kendalinya, dan meloncat menyerbu orang-orang Kufah, yang pernah menjadi anak buahnya. “Hai, orang-orang Kufah, kalian biarkan orang-orang Yahudi, Nasrani, anjing, dan babi meminum air sungai Eufrat, tapi kalian biarkan keluarga Rasulullah kehausan. Semoga Allah tidak melepaskan dahaga kalian pada Hari Pembalasan nanti.


Ratusan orang mengepungnya. Kuda Al-Hurr roboh diserang anak panah. Tanpa kendaraan, Al-Hurr masih mengamuk seperti singa yang terluka. Akhirnya ia gugur juga. Tubuhnya dicincang ratusan pedang. Ia telah memilih surga dengan darahnya.

Pertempuran pun kemudian ber-kecamuk. Tujuh puluh dua orang pengikut Al-Husayn satu demi satu tersungkur dan darahnya menggenangi padang Karbala. Kita lihat, pasir-pasir yang semula kemuning sekarang memerah. Tinggallah Al-Husayn beserta beberapa orang keluarganya. Ali Akbar, putra Al-Husayn yang berusia sembilan belas tahun, maju menjaga ayahnya. Ia menghantamkan pedangnya ke kiri dan ke kanan, menyeruak ke tengah-tengah musuh. Luka-luka telah mengoyak tubuhnya, sementara kerongkong-annya kering karena kehausan. Al-Husayn menghiburnya, “Sabarlah wahai anakku, sebentar lagi kakekmu Rasulullah akan memberimu minum dengan air surga.”


Sebuah anak panah melesat dan menembus jantung Ali Akbar. Ia jatuh tersungkur. Sambil tetap melihat musuh-musuhnya, Al-Husayn membelai kepala putranya, “Semoga Allah membunuh orang yang membunuhmu.” Ali Akbar gugur, disaksikan ayahnya sendiri. Zainab, yang terus mengawasi pertempuran itu, meloncat dari kemahnya. Tanpa meng-hiraukan bahaya ia menuju ke tempat Ali Akbar. Teriakannya menggema di seluruh Karbala, “Ya Allah, anakku sayang.” Ia mengangkat kepala Ali Akbar yang berlumuran darah, membelai-belainya, menciumnya, dan tidak henti-hentinya meratap dan menangis. Ia sudah tidak memperhatikan suasana sekitarnya. Menyadari bahaya yang mengancam adiknya, Al-Husayn menarik tangan Zainab, mem-bawanya kembali masuk ke dalam kemah.


Di dalam kemah itu, kita mendengar rintihan anak-anak yang kehausan. Kita melihat Al-Husayn memandang putranya. Ali Asghar menggelepar karena haus yang mencekik lehernya. Ia tidak dapat menahan perasaan ibanya. Diangkatnya bayi kecil itu ke luar kemah. Ia mengacungkan bayi itu supaya jelas kelihatan oleh lawan-lawannya. “Hai orang-orang Kufah, apakah kalian tidak takut kepada Allah? Adakah padamu setetes air minum untuk bayi kecil ini? Tidakkah kalian merasakan derita anak kecil yang tidak berdosa ini?”


“Inilah air minumnya!”, kata seorang pasukan ‘Umar bin Sa’ad. Ia merentang busur dan anak panah melesat tepat menembus perut bayi yang berada di tangan Al-Husayn. Alangkah terkejutnya Al-Husayn. Ia tidak mengira musuhnya akan sekejam itu. Sejenak ia terpaku, menyaksikan bayi kecil itu menggelepar-gelepar di ujung jarinya, dan darah yang suci membasahi tangan dan pakaiannya. Kita mendengar lagi jeritan Zainab dari dalam kemah. Al-Husayn perlahan-lahan meletakkan jenazah putranya di samping jenazah-jenazah syuhada lainnya.

Seorang demi seorang keluarga Imam Husain gugur. Putra-putra Aqil berjatuhan. Begitu pula Awn dan Muhammad. Dua orang putra Zainab, dibunuh di hadapan ibunya. Pasukan musuh mengepung Imam Husain dengan ketat. Pikiran Zainab kalut. Ia hampir tidak dapat menahan prahara yang bertubi-tubi menghantamnya. Tanpa diketahuinya, Al-Qasim, putra Al-Hasan, sudah keluar dari kemah. Ia masih sangat muda. Wajahnya molek, jernih, dan menampakkan kesegaran anak remaja. Ia memakai sarung dan sepasang sandal yang sebuah talinya sudah putus. Dengan berani ia menentang orang-orang yang haus darah itu. Tapi, apa artinya perlawanan anak kecil itu? Sebentar kemudian sebuah pedang mengenai kepalanya. Anak itu menjerit, “Aduh Paman….” Zainab terkejut, ia mendekati Al-Qasim.

Di situ Al-Husain sudah tegak berdiri sambil bergumam, “Kau panggil pamanmu. Tetapi aku tidak sempat menjawab panggilan-mu. Semoga pembunuhmu akan berhadapan dengan kakekmu, Rasulullah, pada hari pembalasan nanti.” Ia mengangkat tubuh Al-Qasim dengan kedua tangannya, dan membaringkannya di samping jenazah-jenazah syuhada yang lain.

Segera sesudah itu, Abdullah, saudara Al-Qasim, juga berlari dari tenda. Zainab tidak dapat menahannya. Ia jauh lebih muda dari Al-Qasim. Dengan gagah dan polos, ia berdiri di samping pamannya. Abjar, dari pasukan orang Kufah, menyerbu untuk menyerang Al-Husayn. Remaja itu dengan berani meng-halanginya. Abjar menebaskan pedangnya. Abdullah berusaha menangkisnya dengan tangan kanannya. Pedang memutuskan tangan kecil itu, sehingga sebelah tangannya bergelantung, berayun-ayun karena tertahan kulit yang masih menyambungkannya dengan bahu anak itu. “Aduh Ibu…!” jerit Abdullah. Al-Husayn segera memeluknya. Abdullah akhirnya gugur dalam pelukan pamannya.


Walaupun hampir seluruh anggota keluarganya sudah gugur, Al-Husayn masih memberikan perlawanan, seperti singa yang tangguh. Tubuhnya yang penuh debu bermandikan keringat dan darah. Ketika kehausan dirasakan begitu berat, kita lihat Al-Husayn merangkak berusaha mendekati sungai Eufrat. Tapi dari jauh Umar bin Sa’ad membidikkan anak panahnya, tepat mengenai bahu kiri Al-Husayn. Zar’ah bin Syarik segera mendekatinya, mengayunkan pedang ke arah kepalanya. Al-Husayn berusaha menangkisnya,tapi ia harus kehilangan tangan kanannya. Ketika Al-Husayn dalam keadaan luka parah, Sinan bin Anas menusuknya. Cucu Rasulullah, yang digelari penghulu para syuhada itu, akhirnya tersungkur. Syamir Zul Tawisyan Laknatullahi Alaih memenggal kepalanya yang mulia.


Hari itu, 10 Muharram 61 Hijriah, peperangan dramatis itu berakhir. Musuh yang tidak berperikemanusiaan mengakhiri perang dan mengerahkan pasukan berkuda untuk menginjak-injak tubuh Al-Husayn, kekasih Rasulullah saw. Kita mendengar Zainab meraung keras. Kita mendengar keluarga Al-Husayn menangis memenuhi Karbala dengan tangisan yang memilukan. Pandangan mata Zainab gelap, tertutup air mata yang deras mengalir.


“Duhai Muhammad, duhai Muhammad. Ya Rasulullah, mudah-mudahan malaikat di langit menurunkan rahmat bagimu. Tapi lihatlah ini, Al-Husayn, begitu terhina dan teraniaya, penuh darah dan terpotong-potong. Duhai Muhammad, putrimu kini sudah menjadi tawanan. Keluargamu yang dibantai sekarang akan tertutup debu angin Timur.”


Kita dengar Zainab terus merintih. Kita lihat Ali Zainal Abidin dan sisa-sisa keluarganya yang masih hidup dibelenggu dan diseret sebagai tawanan. Zainab belum mati. Tugasnya belum berakhir. Ia masih harus mengawal Ali Zainal Abidin, salahseorang keturunan Rasul yang akan melanjutkan kepemimpinan Ahli Bait.


Kita meninggalkan tanah Karbala dan kembali ke tempat kita saat ini. Mereka sudah menumpahkan darahnya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Para cucu Rasulullah saw, para keluarga suci sudah mengorbankan kehidupannya untuk menegakkan Islam yang sejati, Islam Muhammadiy. Marilah kita bertekad sekarang ini untuk melanjutkan perjuangan mereka. Menegakkan kebenaran dan keadilan. Marilah kita bertekad berbai’at kepada Rasulullah saw dan keluarganya yang suci, untuk menegakkan ajaran agama Islam yang ditegakkan di atas Kitabullah dan sunnah Rasulullah yang dibawa oleh keluarganya yang suci.

Marilah kita membawa sebuah tekad yang suci untuk melanjutkan perjuangan suci ini sampai akhir zaman! JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *