ISTIQAMAH

Istiqamah. ‘A’isyah ra. meriwayatkan: Rasulullah Saw, mempu- nyai tikar. Beliau menggelar tikar itu di malam hari dan shalat di atasnya. Beliau menghamparkannya pada siang hari dan duduk di atasnya. Ketika Nabi Saw. shalat, orang-orang mengikuti Nabi dan shalat bersama beliau, sehingga jumlah mereka makin banyak. Usai shalat, beliau menghadap mereka seraya berkata, “Wahai manusia, lakukanlah amal yang kamu mampu melakukannya. (Jangan memaksakan diri) Karena Allah tidak akan bosan melim- pahkan anugerah-Nya kepada kamu sampai kamu bosan melaku kan ketaatan kepada-Nya. Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah ialah amal yang dilakukan terus-menerus, walaupun sedikit” (Al-Targhib wa Al-Tarhib, 4: 128).

“Terus-menerus” adalah terjemahan dari mudawamah yang secara harfiah berarti “membiasakan”. Berdekatan maknanya de- ngan mudawamah adalah istiqamah. Sekali ia menetapkan pekerja- an tertentu, ia melakukannya dengan konsisten. Apa pun rintangan yang dihadapinya, ia tetap mengerjakannya. “Istiqamah-lah kamu, tentu kamu akan memperoleh kemajuan sejauh-jauhnya. Jika kamu berbelok ke kiri atau ke kanan, kamu akan sesat sejauh-jauhnya juga” (Shahib Al-Bukhari, 4: 257).

Jadi, amal saleh meningkat kualitasnya bila orang melakukan- nya dengan istiqamah. Inilah salah satu bagian dari etos kerja seorang Muslim. Konon, menurut cerita yang beredar di pesantren pesantren, ada seorang santri yang merasa jenuh belajar. Ia merasa tidak mampu lagi melanjutkan pelajarannya. Ketika pu- lang, ia melewati perbukitan. Di suatu tempat, ia melihat air meni- tik ke atas bebatuan. Air itu sedikit saja, tetapi menetes terus- menerus. Ia memperhatikan tempat tetesan air itu. Batu itu menjadi cekung. Kilasan gagasan tebersit. Jika ia tabah, betapapun sedikit- nya ilmu yang ia peroleh, pada satu saat ia akhirnya akan berilmu juga. Ia kembali lagi ke pesantrennya. Selama ratusan tahun sampai sekarang, ia dikenal sebagai ahli hadis besar, yaitu Ibn Hajar Al-‘Asqalani. Ia belajar dari batu: ia anak batu, Wallahu a’lam.

Lakukan Pekerjaan Sebaik-baiknya. Seorang mukmin bukan saja melakukan pekerjaan secara sinambung; ia juga melakukannya dengan sebaik-baiknya. Ia “perfeksionis” dalam arti tidak mau melakukan pekerjaan asal saja. Jika ia berkata, ia tidak mau asbun (asal bunyi). Jika ia bekerja, ia tidak mau asker (asal kerja).

Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang pekerja yang melakukan pekerjaan sebaik-baiknya” (Kanz Al-Ummál 3: 907). Diriwayatkan, Nabi Saw. ikut serta dalam peristiwa pemakam- an Sa’ad bin Mu’adz. la turun ke lubang lahad. Ia meratakan bebatuan di atasnya. Berkali-kali ia berkata: “Berikan padaku batu. Berikan padaku tanah yang basah.”

Dengan tanah yang basah itu Rasulullah Saw. merapatkan batu-bata. Setelah selesai, ia menginjak-injak tanah dan meratakan kuburan. Ia bersabda: “Sungguh aku tahu, jasad Sa’ad akan aus. Berbagai bala akan menimpanya. Tetapi Allah mencintai seorang hamba, yang bila ia melakukan sesuatu, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya” (Mizan Al-Hikmah 7: 29).

JR

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *