Perlunya Pulang Kampung

Apa bedanya orang kampung dengan orang kota? Untuk Ia meletakkan mobil bagus di pinggir jalan di Bronx Area, New York. Kap mobil dibuka untuk memberikan kesan mobil itu rusak. Tak ada seorang pun berada di situ. Mobil dengan keadaan yang sama diparkir di daerah pedesaan Palo Alto, California. Dari jauh, peneliti mengamati apa yang terjadi pada keduanya. Pada malam pertama, sekelompok anak muda mempreteli bagian-bagian mobil di Bronx Area. Ketika matahari terbit, mobil itu sudah tampak seperti mobil korban kecelakaan. Beberapa orang lewat, melihat mobil itu, dan merusak kaca, pintu, jendela, atau apa saja yang tersisa. Sebelum tiga hari lewat, mobil di Bronx Area sudah menjadi barang rongsokan.

Mobil yang disimpan di kampung punya nasib mujur. Selama beberapa hari tak ada seorang pun yang menyentuhnya. Kecuali ketika turun hujan, seorang penduduk yang dekat ke situ berlari menutupkan kap mobil itu untuk melindungi mesinnya.

Zimbardo, psikolog sosial ahli agresi ini, pun membuat beberapa kesimpulan. Pertama, orang kota lebih agresif, lebih galak, dan lebih jahat daripada orang kampung. Kedua, orang kota lebih agresif karena mereka hidup dalam masyarakat yang anonim. Di kota, manusia menjadi serigala bagi manusia lain. Dalam bahasa Islam, di kota silaturahmi telah terputus.

“Para ilmuwan sosial belakangan ini mendapatkan penemuan yang penting: mereka telah menemukan keburukan,” kata Montagu dan Matson dalam The Dehumanization of Man. Dulu ilmuwan tidak peduli pada baik dan buruk. Mereka konon hanya peduli pada kebenaran. Lewat penelitian Zimbardo dan lain-lain, mereka mulai tertarik pada dosa modern. Dosa modern sangat unik. Dahulu pelaku dosa adalah makhluk aneh, devian, dan berbicara dengan lidah iblis. Pendosa modern adalah makhluk yang normal, orang kebanyakan. Kata Lyman, spesialis dalam tujuh dosa sosial yang mematikan (the seven deadly sins), pendosa modern “berbicara dalam bahasa monoton, impersonal, teknis, tanpa perasaan, dan ikatan moral”.

Erich Fromm menyebutnya kepribadian nekrofil, kepribadian mayat. Seperti mayat, mereka sudah kehilangan perasaan. Mereka bisa merusak dan merampas hak orang tanpa rasa risih. Mereka menyiksa dan membunuh orang tanpa rasa iba. Mereka bisa menonton penderitaan dan tindakan kekerasan tanpa rasa simpati. Hidup mereka adalah hidup yang kosong, tanpa rasa, dan karena itu tanpa makna. Untuk mengatasi kehampaan akibat mati rasa, manusia modern mencari hiburan. Tapi hiburan hanya membuat mereka menjadi cheerful robots (robot-robot yang bersukaria dan bergembira), di samping zombi yang menakutkan.

Sebab utama dari semua dosa ini, seperti Zimbardo dalam. kasus orang kota, adalah hilangnya keakraban hubungan manusiawi. Manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sehat tanpa menyayangi dan disayangi. Ia bukan saja binatang politik atau binatang ekonomi. Ia juga a loving animal (binatang yang mencintai). Stres yang paling berat bagi manusia, kata Hans Selye, adalah kegagalan hubungan interpersonal. Tanpa topangan kasih dari orang-orang di sekitarnya, anak manusia akan rentan terhadap berbagai penyakit. Daya tahannya menurun. Dan kematian cepat menyergapnya. Lebih penting dari itu, perkembangan orang yang mengalami deprivasi kasih sayang akan terhambat secara intelektual, emosional, dan spiritual.

Al-Aqra’ bin Habis menemukan Nabi Saw. mencium putrinya. la berkata, “Aku punya sepuluh orang anak. Tapi tak seorang. pun pernah aku cium.” Nabi bersabda, “Mungkin Tuhan sudah mencabut kasih sayang dari hatimu. Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi (man làyarham, làyurham).” Kalimat Nabi inilah yang dapat menjelaskan asal-usul penyakit manusia modern. Karena mereka tidak sempat lagi menyayangi, mereka kehilangan kasih sayang. Hubungan antara manusia menjadi hubungan tanpa kasih. Manusia secara ruhaniah terasing dari manusia lain. Lebih parah lagi, ia juga terasing dari Tuhan. Dalam Al-Quran, Tuhan berfirman, “Maka apakah kiranya, jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS Muhammad [47]: 22).

Jadi, apa bedanya orang kampung dan orang kota? Orang kampung masih berhubungan dengan Tuhan dan Tuhan masih berhubungan dengan mereka. Maka bergunalah sekali-kali kita pulang kampung dan mudik untuk menemukan kembali kasih sayang.

Bekal “Mudik” ke Kampung Abadi

Marilah kita melihat ke kiri dan ke kanan kita. Mari kita periksa orang-orang yang kita cintai: ayah bunda kita, saudara kita, kekasih, tetangga, sahabat atau handai taulan kita. Adakah di antara mereka yang tidak dapat bergabung bersama kita saat ini? adakah di antara mereka yang sudah meninggalkan kita untuk kembali kepada Allah Swt.? Ke mana ayah dan ibu kita yang tahun lalu menyambut uluran tangan kita dengan tetesan air mata dan kasih sayangnya? Ke mana kakak, adik, dan saudara-saudara yang pada Lebaran lalu gelak tertawa berbagi bahagia bersama kita? Ke mana tetangga kita dan sahabat dekat kita yang dahulu memeluk kita dan mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri.

Mereka telah kembali kepada Allah, mereka telah “mudik” ke kampung halaman yang abadi. Ya Allah, terimalah mereka di sisi-Mu, radhiyatan mardhiyyah. Engkau senang menyambut mereka dan mereka senang berjumpa dengan-Mu. Seperti doa Nabi kepada Thalhah, pemuda yang mencintainya, “Sambutlah Rabbana, Engkan tersenyum kepada mereka dan mereka tersenyum kepada-Mu.” Curahkan kasih sayang-Mu kepada ayah bunda kami, saudara kami, sahabat kami, yang sudah mendahului kami menghadap-Mu. Gabungkanlah mereka dengan orang-orang yang Engkan anugerahkan kenikmatan kepada mereka, bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan shalihin.

Ya Allah, mereka tidak dapat berlebaran bersama kami. Tidak bisa kami ulurkan tangan kami untuk meminta maaf. Tidak bisa kami ajak untuk berbagi bahagia bersama kami, tidak bisa kami undang mereka untuk berkumpul bersama di rumah kami. Ya Allah masukkanlah rasa bahagia kepada seluruh penghuni kubur, harumkanlah kuburan mereka dengan wewangian doa-doa kami. Sampaikan salam kami yang tulus sebelum kami berziarah kepada pusara mereka. “Assalamu’alaikum ya ahlad-diyar minal muslimin, antum lana salaf wa inná insya Allah bikum lähiqun” (Salam bagi kalian wahai penghuni kubur). Kalian sudah mendahului kami dan dengan kehendak Allah kami akan segera menyusul kalian. Sesungguhnya kami semua kepunyaan Allah dan kepada-Nya kami semua kembali.

Menurut para sahabat Nabi, ketika Rasulullah Saw. menunaikan shalat ‘Id atau shalat Jumat, Nabi senang membaca Surah Al-A’la dan Surah Al-Ghasyiyah. Pada Surah Al-A’la Tuhan memuji orang yang berzakat, kemudian berzikir kepada Allah dan melaku-

kan shalat. Qad aflaha man tazakka, wa dzakarasma rabbihi fashallà. Kata sebagian ahli tafsir, ayat ini berkaitan dengan orang yang shalat Idul Fitri.

Pada Surah Al-Ghasyiyah, diceritakan manusia ketika mudik kepada Allah Swt. Surah itu ditutup dengan ayat Inna ilaina iyábahum, tsumma inna ‘alaina hisabahum. Kepada kamilah mereka kembali, kewajiban kamilah untuk memeriksa mereka semua.

Selain dalam Surah Al-Ghásyiyah, berulang-ulang dalam Al-Quran Allah mengingatkan kita bahwa Dialah tempat mudik kita. Kepada Allah-lah tempat mudik kalian, Ilayya marji’ukum, fa’unabbi’ukum bima kuntum ta’malin. Kalimat seperti ini sampai disebut enam belas kali di dalam Al-Quran.

Tahun ini mungkin ada banyak di antara kita yang tidak bisa mudik ke kampung halamannya, karena tekanan ekonomi, dan terutama karena kita tidak mempunyai bekal untuk berbagi kekayaan dengan orang-orang di kampung kita. Hari ini kita tidak punya bekal, untuk itu kita memutuskan untuk tidak mudik. Tapi nanti pada suatu saat, punya bekal atau tidak, kita harus mudik. Kita harus kembali kepada Allah Swt. Mungkin nanti ketika kita mudik ke hadapan Allah Swt., ke kampung halaman yang abadi, menemui Allah yang kita cintai, kita akan membawa beban dosa di atas punggung kita, untuk kemudian diperiksa dalam timbangan keadilan Tuhan, “Inna ilainà iyabahum, tsumma inna ‘alaina hisabahum”.

Setiap saat, ketika maut menjemput kita, seperti telah menjemput saudara-saudara kita yang lain, kita harus pergi dengan terpaksa. Punya bekal ataupun tidak, kita akan menempuh perjalanan yang panjang dan mengerikan.

Imam ‘Ali Zainal Abidin a.s., cucu Rasulullah Saw. mengatakan, “Ada tiga saat yang paling menakutkan yang harus dialami manusia. Pertama, saat ketika ia harus menyaksikan malaikat maut. Kedua, saat ia bangun dari kubur. Dan ketiga, saat ketika

ia berdiri di hadapan Allah Swt. Tidak jelas apakah ia akan masuk ke surga atau ke neraka.”

Itulah perjalanan mudik kita. Stasiun yang pertama adalah stasiun kematian, yaitu saat malaikat maut menjemput kita. Pada saat itu, kita akan dihadapkan pada kekayaan kita. Kita akan berkata: Demi Allah, dahulu aku mengumpulkan kamu dengan rakus dan pelit. Sekarang apa yang akan kamu berikan dalam perjalananku yang terakhir ini? Harta kita akan menjawab pendek: “Khudz minni kafanak, ambilah dariku kain kafanmu.” Kemudian kita akan dihadapkan dengan seluruh saudara-saudara kita di alam malakut nanti. Kita memandangi mereka. Kita akan berkata: “Demi Allah dahulu aku sangat mencintai kalian dan memelihara. kalian dengan susah payah. Apa yang akan kalian antarkan kepadaku pada perjalanan terakhir ini?” Keluarga kita akan menjawab: “Kami akan antarkan jenazahmu. Kami akan kuburkan kamu.”

Setelah itu, kita akan melirik kepada amal kita, lalu kita ber kata: “Demi Allah dahulu aku malas sekali untuk melakukan kamu. aku melihat kamu sebagai beban yang berat. Apa yang akan kamu berikan kepadaku?” Amal itu berkata: “Aku akan menjadi sahabatmu dalam kuburmu pada hari kamu dihimpunkan dan sampai kamu dihadapkan bersamaan dengan Tuhanmu. Bila orang yang mati itu adalah pencinta Allah, yang akan menjemputnya ialah makhluk yang paling harum wewangiannya, paling indah wajahnya, paling bagus pakaiannya. la membawa kabar gembira tentang surga di ujung perjalanan. Ketika mayat itu bertanya kepadanya: “Siapa kamu?” Penjemput itu akan berkata: “Aku amal salehmu.”

Bila yang mati itu adalah seorang musuh Tuhan, yang mengisi hidupnya dengan maksiat dan dosa, datanglah kepadanya seorang penjemput yang paling menakutkan, dengan bau yang paling busuk, yang membawa kabar tentang neraka di ujung perjalanannya. Ketika ia bertanya: siapakah penjemputnya, penjemput itu berkata: “Aná amaluk al-qabih, akulah amal jelekmu.”      

Ketika kita dikuburkan nanti, kita akan berkata kepada lubang lahat: Hai rumah yang dipenuhi cacing, hai rumah kesunyian, hai rumah kegelapan. Lalu lubang lahat akan berkata kepada kita: Inilah yang memang aku persiapkan untukmu, lalu apa yang telah kamu persiapkan untuk pertemuan denganku sekarang ini?

Jawablah pertanyaan lubang kubur itu. Pertanyaan itu nanti akan kita dengar menghantam dada dan mengiris hati nurani kita. Itulah yang bakal kita alami ketika kita mati. Kisah itu adalah kisah nyata yang sudah dialami oleh keluarga dan sanak saudara, handai taulan yang sudah mendahului kita.

Allah menceritakan ada dua kematian: satu kematian mukmin yang disambut oleh Nabi Saw, dan orang-orang saleh. Para malaikat berkata-seperti disebutkan dalam Surah Al-Nahl (16): 32 Salamum ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan. Rasulullah akan datang menjemputnya dan memberikan kepadanya minuman dari Telaga Al-Kautsar yang menyebabkan dia tidak akan haus selamanya.

Lalu ada kematian yang kedua. Inilah kematian orang yang durhaka. Surah Muhammad (47): 27-28 mengabadikannya, Bagaimanakah keadaan mereka ketika malaikat maut mematikan mereka, meremuk-rendamkan tulang mereka dan punggung mereka. Yang

demikian itu karena mereka mengikuti apa yang dimurkai Allah Swt. dan membenci keridhaan-Nya. Lalu Allah hapuskan semua amalnya.

Kita tidak tahu pada kematian yang mana kita akan berada. Apakah kita akan mati dalam pelukan kasih sayang Allah Swt. Ataukah kita akan mati dalam deraan malaikat maut dan kemurkaan Tuhan. Kita juga tidak tahu apakah kita akan bangkit dari kubur kita dengan wajah yang penuh ketakutan atau wajah berseri-seri penuh kegembiraan. Yang pasti, yang akan kita ketahui adalah bahwa satu saat kita akan masuk di antara kedua golongan itu.

Kita sudah bekerja sepanjang tahun. Mengumpulkan bekal untuk mudik yang hanya beberapa hari. Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk pulang yang jangkanya tidak terhingga? Kita sudah bekerja puluhan tahun menghabiskan masa muda kita untuk mempersiapkan masa tua kita yang berlangsung beberapa tahun saja. Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk perjalanan yang sangat panjang setelah kematian kita. Pernahkah saudara dengar Rasulullah Saw. bersabda bahwa orang yang paling malang yang kembali kepada Allah Swt., adalah orang-orang yang ketika ia diadili Allah, orang-orang yang pernah dizaliminya, orang-orang yang pernah disakiti hatinya, orang-orang yang pernah disiksa tubuhnya, bergelantungan di tangan si malang. Mere-

ka semua mengadukan kezaliman yang pernah diperbuatnya dihadapan Allah Swt. Mereka akan mengambil seluruh amal salehnya: shalat, puasa, haji, dan membebankan seluruh dosanya diatas punggung mereka.

Orang yang paling malang ketika nanti kembali kepada Allah ialah orang yang mempergunjingkan orang lain, senang menyakiti hati mereka, yang banyak membuat mereka teraniaya. Itulah yang akan merampas seluruh amal saleh yang kita lakukan. Mereka akan menertawakan kita ketika malaikat Zabaniyyah menyeret ubun-ubun kita dan melemparkan kita ke neraka.

‘Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: “Bi’sal-zád ilal-ma’ad azh-zhulmu ‘alal-‘ibad. Bekal yang paling buruk buat mudik hari kiamat adalah berbuat zalim kepada sesama manusia.”

Lalu, apakah bekal yang paling baik buat hari kiamat nanti?

Pada suatu hari Rasulullah Saw, bercerita bahwa nanti pada Padang Mahsyar ada seorang mukmin dibangkitkan. Lalu bersama dia bangkit juga seorang manusia yang lain, yang wajahnya ceria penuh kegembiraan. Orang itu menuntun tangan si mukmin,

menghibur dia sepanjang jalan. Kalau di akhirat itu dia menyaksikan hal-hal yang mengerikan, dia menenteramkan hatinya dan berkata: Itu tidak disediakan bagimu. Ketika dia berdiri di hadapan Allah, orang itu menjadi pembela dia. Sampai Allah Swt. berfirman, “Masukkan si mukmin ini ke surga.” Dan orang itu jugalah yang mengantarkan si mukmin sampai di surga. Ketika si mukmin bertanya, “Siapa kamu ini sebenarnya, begitu baik kamu memperlakukan aku?” Lalu orang itu berkata: “Aku adalah kebahagiaan yang pernah engkau masukkan kepada sesama manusia. Di dunia

dahulu ketika engkau membahagiakan orang lain. Allah ciptakan seorang makhluk sepertiku yang bertugas untuk membahagiakan kamu pada hari ini.”

Mari kita isi sisa hidup kita di dunia ini dengan sedapat mungkin meninggalkan upaya untuk menyakiti hati orang lain. Tinggalkanlah gerakan-gerakan lidah yang mempergunjingkan dan menjatuhkan kehormatan orang lain. Hindarkanlah segala perbuatan tangan dan kaki kita dari berbuat sesuatu yang dapat menganiaya mereka. Karena kezaliman yang kita lakukan akan menghapus seluruh amal saleh kita.

Marilah kita mulai hidup kita ini sekarang dengan berusaha untuk membahagiakan orang lain, membahagiakan orang-orang di sekitar kita. Maafkanlah kesalahan yang pernah mereka lakukan. Marilah kita berkhidmat kepada mereka sedapat mungkin supaya Allah menganugerahkan bekal “mudik” yang paling baik pada hari kiamat nanti. JR

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *