Menjaga Kesucian Pasca Ramadhan

Sudah kita tinggalkan bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah. Imam ‘Ali Zainal Abidin as. Cucu Rasulullah Saw selalu meninggalkan bulan Ramadhan dengan penuh kesedihan. Dengan air mata yang tidak henti-hentinya membasahi wajah yang mulia, beliau mengucapkan salam perpisahan pada bulan Ramadhan. Ia berpisah dengan bulan yang telah menyertainya dalam mengabdi kepada Allah. Bulan yang menebarkan …

MEMAHAMI DEFINISI CINTA

Saya tertarik untuk mengutip pembahasan kata cinta dari Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah yang terdapat dalam kitab Madarij Al-Salikîn bain Manâzil lyyaka Na’budu wa Iyyaka Nastaîn. Kitab setebal tiga jilid ini hanya membahas ayat lyyāka na’budu wa iyyaka nastaîn. Pembahasannya itu, ia sebut sebagai madarij al-sâlikîn, tahapan-tahapan yang ditempuh oleh para musafir yang menuju Tuhan; bagaimana bergerak …

ANTARA IBADAH DAN MUAMALAH

Pada suatu hari, salah seorang sahabat Rasulullah Saw, lewat di sebuah lembah yang bermata air dengan air yang jernih dan segar. Lembah itu sangat memesona, sehingga sahabat itu berpikir untuk mengasingkan diri dari masyarakat dan menghabiskan waktu untuk beribadah di lembah itu. la datang memberitahukan maksudnya kepada Rasulullah Saw. Rasul yang mulia berkata, “Janganlah engkau …

Jangan Mengurai Setelah Merajut

Seorang lelaki mengadu kepada orang saleh dari keluarga Nabi Saw, Ali Zainal Abidin. “Aku mudah tergoda sama perempuan,” kata lelaki itu. “Aku berzina satu hari dan esoknya aku berpuasa. Bisakah yang ini (puasa) menebus yang ini (zina).” Imam Ali Zainal Abidin menariknya ke dekatnya dan memegang tangannya, lalu berkata, “Kamu lakukan amal ahli neraka dan …

Kaifa Shabruk, Sanggupkah Kamu Bersabar Menanggungnya?

“Aku tidak meninggalkan Madinah karena ingin merebut kekuasaan atau ingin menyombongkan diri. Aku tidak meninggalkan Madinah untuk menimbulkan kerusakan dan melakukan kezaliman. Aku berangkat untuk memperbaiki agama kakekku yang sudah disimpangkan orang. Aku ingin memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran. Pada suatu dini hari di alam nasut, dalam perjalanan mi’raj di malam kudus, Al-Mushtafa sampai ke alam jabarut. Batas ruang dan waktu membaur menyabur. Pada alam “qaaba qawsaini aw adnaa”, pada jarak dua busur panah bahkan lebih dekat lagi, Al-Mushtafa bersimpuh dalam balutan Cahaya langit dan bumi. Ia tenggelam jauh menukik ke dasar samudra ketunggalan Ilahi. Ia hanya setetes embun yang bergabung dengan gelombang lautan kasih sayang rabbani. Dari kemilau cahaya yang mengalir dari alam lahut bergetar suara penuh cinta:“Allah yang Mahamulia dan Mahatinggi akan menguji kamu dengan tiga ujian. Bersediakah kamu bersabar menanggungnya. Kaifa Shabruk?”Kaifa Shabruk… Kaifa Shabruk… Kaifa Shabruk? Seluruh alam semesta, seluruh galaksi, seluruh gemintang, seluruh planet menggemakan firman Tuhan. Sejak butir-butir pasir yang terhampar di sahara yang tak terkira, sampai tata-tata surya yang menyebar di galaksi-galaksi yang tak terhingga, …