PESANTREN: SUBKULTUR YANG HAMPIR PUNAH

Saya masih terkesan dengan kegembiraan kakek saya ketika ada seorang kiai datang berkunjung ke rumahnya. Ia mencium tangan sang kiai dengan Kakek yang sangat berwibawa di mata saya sekarang kelihatan seperti anak kecil. Ketika kiai itu mengusap kepala saya, saya rasakan tangan yang sangat lembut. Serbannya menyapu leher saya dan saya mencium harum yang aneh. …

ZAWAWI IMRON: PENYAIR DESA

Waktu itu, Taufiq Ismail punya “hajatan” aneh. Ia mengumpulkan para mubalig untuk menyampaikan puisi-puisi mereka. “Mubalig sama dengan penyair, bergulat dengan kata-kata. Karena itu, mereka pasti mahir bersyair-syair,” katanya, ketika ia mengundang saya untuk membacakan puisi-puisi saya di Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya memang suka menulis puisi, tetapi untuk keperluan sendiri. Tidak pernah dipublikasikan, apalagi …