PESANTREN: SUBKULTUR YANG HAMPIR PUNAH

Saya masih terkesan dengan kegembiraan kakek saya ketika ada seorang kiai datang berkunjung ke rumahnya. Ia mencium tangan sang kiai dengan Kakek yang sangat berwibawa di mata saya sekarang kelihatan seperti anak kecil. Ketika kiai itu mengusap kepala saya, saya rasakan tangan yang sangat lembut. Serbannya menyapu leher saya dan saya mencium harum yang aneh. Kiai menjadi orang yang luar biasa bagi saya. Kiai telah menaklukkan kakek saya.

Ketika Nenek sibuk memasak, ketika Kang Surdi menyembelih ayam, ketika Mang Dori menangkap ikan yang besar, semacam perhelatan kecil terjadi: semuanya karena kehadiran sang kiai. Sejak itu, kalau ada orang yang tanya, “Kalau kau sudah besar, kau mau jadi apa?” saya tidak pernah ragu menjawab, “Aku mau jadi kiai!”

Kakek adalah pengganti ayah saya. Ayah saya hilang, menurut Kakek, ayah saya juga seorang kiai. Kisah-kisah kepahlawanan ayah saya yang diceritakan kepada saya menambah hebatnya wibawa kiai di mata saya. Ayah saya pernah memimpin para kiai yang lain beserta santrinya untuk menyerbu tangsi Belanda. Dan, pada Hari Lebaran—menurut cerita Ibu di sela-sela suaranya yang makin parau—keluarga saya berlebaran di Rutan Kebonwaru. Menurut cerita yang lain, Ayah juga seorang pendekar silat yang tangguh. Beberapa kali ia berhasil melepaskan diri dari penangkapnya.

Di zaman kemerdekaan, ayah saya menghilang. Saya tidak habis pikir, ayah saya yang pernah dikejar-kejar di zaman Belanda juga harus bersembunyi di zaman Republik. Apa pun yang terjadi, bagi saya, kiai-yang diidentifikasikan pada pribadi ayah saya tetaplah pesona yang mengagumkan, sakral, dan misterius.

Saya tidak menjadi kiai. Saya bahkan dibesarkan dalam sistem pendidikan Barat. Akan tetapi, kenangan tentang kiai masih tajam dalam bawah-sadar saya. Sekarang, dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, saya banyak bergaul dengan mereka yang disebut ulama. Anehnya, wibawa mereka tidak seperti kiai dalam benak saya. Mereka tidak lagi mempesona, sakral, dan misterius. Beberapa orang memang membuat saya takjub, tetapi ketakjuban itu belum juga menyentuh hati saya. Terlalu tinggikah citra saya tentang kiai? Apakah gambaran saya tentang kiai hanyalah sisa-sisa imajinasi kekanak-kanakan? Atau, kiai adalah sejenis Muslim Indonesia yang diancam kepunahan, sehingga harus diperlakukan sebagai “makhluk yang dilindungi”?

Kiai memang mewakili dan melambangkan suatu subkultur masyarakat Muslim yang hampir punah, yakni pesantren. Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga sebuah sistem sosial dengan seperangkat norma, pola-pola interaksi sosial, nilai-nilai dan kepercayaan serta organisasi-organisasi sosial yang khas. Kiai memegang posisi sentral. Di sekitar kiai berkumpullah inti komunitas yang disebut santri. Hubungan santri dengan kiai bukan hanya hubungan pelajar dengan guru dan bukan hanya hubungan yang terdidik dan sang pendidik. Lebih dari itu, santri juga menjadi murid dan kiai menjadi syaikh, seperti terdapat dalam hubungan tarekat-tarekat sufi; santri juga pendekar dan kiai suhu seperti dalam dunia persilatan; santri prajurit dan kiai jenderal seperti dalam asrama militer; santri abdi dalem dan kiai pangeran; tetapi juga pada saat yang sama santri pecinta dan kiai tokoh pujaan; santri sang anak dan kiai bapak yang penyantun; santri penderita dan kiai pelindung.

Agak luar dari lingkaran santri adalah lingkaran masyarakat pesantren. Di sini termasuk keluarga kiai, masyarakat yang dekat dengan masjid pesantren, santri-santri kiai yang tersebar di mana-mana, dan masyarakat pesantren di tempat lain. Secara keseluruhan, mereka membentuk komunitas pesantren.

Pesantren biasanya terletak di pedesaan. Kiai hidup di tengah-tengah rakyat kecil, mewakili mereka dalam menghadapi wakil-wakil penguasa, Kepada kiai-lah mereka mengadukan segala kesulitan hidup mereka. Dagang yang rugi, panen yang gagal, anak yang nakal, penyakit yang menahun, jin yang mengganggu, masalah agama yang tidak diketahui pun dibicarakan dengan kiai, Sebaliknya pula, perasaan syukur karena panen berlimpah, dagang berlaba, anak berhasil, penyakit yang sembuh, anak yang lahir, rumah yang baru dipindahi, kebun yang baru dibeli juga disampaikan kepada Allah dengan disaksikan dan direstui kiai. Penderitaan dan kebahagiaan dibagikan bersama.

Karena itu, derita umat dirasakan sebagai derita kiai juga. Kiai merasakan kepahitan umatnya bukan di lokakarya, seminar atau penataran. Seringkali bahkan kiai merasakannya dalam perutnya sendiri. Kalau rakyat diperlakukan zalim, kiai merintih. Pada tahun 1888, ketika rakyat Banten terhimpit pajak dan tidak sanggup membayar karena panenan yang gagal, Kiai Wasid dan Kiai Tubagus Ismail meneriakkan “Perang Sabil” kepada Belanda. Majelis-majelis zikir berubah menjadi tempat-tempat merancang perlawanan. Dan itu bukan untuk pertama kali. Kiai Embun berdiri di samping Surapati; Kiai Ageng Santika di samping Trunojoyo; Kiai Sentot dan Kiai Maja di samping Pangeran Diponegoro; Kiai Sa’id di samping Pattimura. Tidak jarang, kiai memimpin pertempuran seperti Imam Bonjol, Tengku Cik Ditiro, dan sebagainya. Kiai, seperti juga para nabi, tampil membela kelompok mustadh’afin melawan kaum mustakbirîn.

Seperti juga Nabi Muhammad Saw, kiai mempunyai tiga tugas suci (semacam Tridharma Pesantren): … menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka,… (Qs al-A’râf, 7: 157). Menganjurkan berbuat kebaikan dan mencegah dari berbuat kemungkaran (al- amr bi al-ma’ruf wa an-nahy ‘an al-munkar), menerangkan halal dan haram, dan membebaskan umat dari beban penderitaan dan dari belenggu yang memasung kebebasan umat adalah juga tugas kiai.

Untuk menganjurkan berbuat kebaikan dan mencegah dari berbuat kemungkaran, kiai mengadakan majelis-majelis taklim, mimbar-mimbar pengajian, di samping menyampaikan peringatan-peringatan kepada sasaran dakwah. Untuk mengajarkan halal dan haram, kiai membuka dan mendirikan pesantren. Untuk berjuang melawan kezaliman yang membebani umat, kiai memimpin perlawanan.

Santri adalah cikal-bakal kiai. Tiga tugas itu telah dipersiapkan buat mereka. Karena itu, di pesantren, mereka dilatih berpidato dan berdebat, dididik berdendang dan berlagu, dibimbing menghafal ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi Saw. Mereka tekun mengikuti khutbah kiai; mereka menirukan suara kiai melagukan syair-syair bahasa Arab dan nazham-nazham dalam bahasa daerah; mereka juga memainkan gerakan-gerakan silat yang diperlihatkan kiai kepada mereka. Pada saat-saat yang sunyi, di tengah-tengah keheningan alam semesta, beberapa orang di antara santri tertunduk ketika kiai mengantarkan mereka pada pengalaman batiniah yang tinggi.

Kalau santri pulang kampung, orang memandangnya dengan penuh hormat. Ia dianggap orang berilmu. Santri tidak perlu takut kehabisan bekal. Setiap Muslim yang melihatnya akan gembira untuk menyerahkan infaq membekali orang yang sedang berada di jalan Allah. Infaq itu bagi mereka bukan kewajiban. Memberi infaq kepada santri adalah suatu kehormatan. Kadang-kadang keberangkatan santri diantarkan dengan upacara meriah yang disaksikan oleh seluruh penduduk kampung (lihat karya Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren).

Kelak bila masa berguru sudah selesai, kembalilah santri dengan mengepit kitab-kitab pesantren yang klasik, buku-buku tipis dengan lembaran-lembaran yang terlepas. Mereka pulang tanpa ijazah. Mereka pun tidak berniat untuk mendatangi kantor-kantor untuk mencari pekerjaan. Dalam hatinya hanya ada satu niat suci, menyebarkan risalah Nabi Muhammad Saw. Kalau nasib beruntung, mereka disambut orang kaya di kampung, diambil sebagai menantu, dan diberi tanah wakaf. Kalau tidak, sarung mereka pakai untuk membungkus barang dagangan. Dikitarinya kampung, dijelajahinya kota demi kota, sehingga—kata Clifford Geertz—dari kelompok santrilah lahir pengusaha-pengusaha pribumi yang pertama. Bila ada waktu terluang di malam hari, dari sarung yang sama dikeluarkan kitab-kitab pesantren. Dengan kitab Ad-Dardir diajaknya orang mengikuti perjalanan Isrâ’-Mi’râj Nabi Muhammad Saw; dengan kitab Fath al-Mu’în diajarnya umat mengenal hukum-hukum Islam; dengan kitab Tijan dibersihkannya akidah dari kemusyrikan; dengan kitab Irsyad al-‘Ibâd dibimbingnya orang untuk merenungkan sabda-sabda Rasul dalam mencapai kesempurnaan seorang hamba; dengan kitab Tafsir Jalalain dikupasnya ayat-ayat Al-Quran. Kitab-kitabnya tidak banyak dan volumenya tipis-tipis sehingga kitab-kitab rujukan itu bisa dibawanya ke mana-mana; tidak jarang mereka hafal di luar kepala. Akan tetapi, dengan kitab-kitab kecil itulah mereka mempertahankan dan mengembangkan agama Islam.

Bila panggilan jihad datang, mereka lilitkan sarung di pinggangnya. Ke situ mereka masukkan pedang, dan tiba-tiba wajah-wajah yang kelihatan lesu dan pendiam berubah menjadi harimau-harimau yang garang. Gairah mencari ilmu dan tawakal dalam berdagang sekarang berubah menjadi kerinduan mencari syahid. Suara merdunya saat melagukan tarhîm menjelang subuh atau saat menyanyikan syair-syair Alfiyyah Ibn Mâlik sekarang menjadi teriakan-teriakan perang yang menakutkan. Pada diri santri yang kelihatan tenang, redup, dan pasrah, ternyata tersembunyi kekuatan yang menakjubkan. Barangkali, dalam hubungan ini, tepat juga mengutip apa yang pernah dikutip Harry J. Benda dalam The Crescent and the Rising Sun sebagai berikut:

Existe-t-il dans la population javanaise des forces latentes suffisantes pour lui permettre d’atteindre a une civilisation propre? C’est la une question a la quelle je repoderai affirmativement, et je crois que cette trasformation aura pour cause essentiele un reveil del’Islam—“Adakah pada masyarakat Jawa kekuatan tersembunyi yang cukup untuk menimbulkan suatu peradaban yang sebenarnya?” begitu ditanyakan penulis anonim di atas. “Inilah suatu pertanyaan yang dapat saya jawab tegas: Ada. Saya yakin, perubahan tersebut pastilah merupakan kebangkitan Islam.”

Pada diri santri, kalau boleh diartikan secara bebas, tersembunyi kekuatan yang mampu mengubah peradaban.

Akan tetapi, bukankah santri juga berubah karena perubahan peradaban? Betul. Arus modernisasi telah banyak mempengaruhi kehidupan kiai dan santri. Pergeseran nilai telah memorak-porandakan komunitas santri. Kini banyak kiai yang sudah meninggalkan pesantren, sibuk dalam berbagai seminar, diskusi panel, lobbying, dan sidang-sidang parlemen. Putra-putra kiai bukan lagi gus-gus yang dikenal mempunyai ilmu laduni, tetapi seperti yang lain telah menjadi mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi sekuler. Kiai tidak lagi akrab dengan rumah orang-orang fakir (fuqarâ’) dan orang-orang miskin (masâkîn), tetapi sudah hidup di sekitar pintu-pintu para penguasa (ru’asâ’) dan para sultan (salâthin). Putra-putra kiai juga sekarang makin rajin mengutip Karl Marx, Keynes, Sartre, Maslow, Freud, Durkheim. Suara-suara Al-Ghazâlî, Imam an-Nawawî, Ay-Syâfi’î, As-Suhrawardî hampir tidak terdengar lagi.

Pesantren-pesantren banyak yang berguguran. Pesantren-pesantren yang ada sebagian sudah dimodernisasikan sehingga kehilangan bentuknya yang lama. Banyak masjid pesantren sepi seperti kuburan. Tidak lagi didengar gemuruh suara santri ketika melakukan ngiyas dan ngerab di sore hari atau kor tarhîm yang menyentuh hati di waktu dini hari atau suara kecapaian setelah lelah bermain silat. Kitab-kitab kecil itu sekarang bertumpuk di mimbar masjid yang sudah berdebu. Ke situ, masuklah mungkin seorang petani kurus dengan tulang-tulang dada yang mencuat. Sarungnya yang lusuh, matanya yang cekung, punggungnya yang bungkuk seakan mengungkapkan kesan bahwa kini ia menanggung beban kehidupan itu sendirian. Ia tidak bisa lagi membagi penderitaan dengan kiai. Ia mungkin masih merasakan bagian dari masjid itu, karena bersama masjid itu ia menjadi sisa-sisa dari reruntuhan kultur pesantren.

Saya yakin, pesantren sebagai suatu keseluruhan tidak akan punah; tetapi bentuk komunitas pesantren mungkin akan banyak mengalami perubahan. Djamil Soeherman, yang di masa mudanya terkenal sebagai penulis yang banyak mengungkapkan kehidupan pesantren dalam karya-karya sastranya, melukiskan komunitas pesantren tradisional dengan cermat dan hidup. Bagi saya, Pejuang-pejuang Kali Pepe bukan saja roman perjuangan, tetapi juga sebuah catatan antropolog sosial yang manis. Pola-pola tingkah laku santri, nilai-nilai, norma, dan kepercayaan di dunia pesantren, serta hubungan santri dan kiai serta keluarganya dilukiskan seperti sebuah catatan sejarah. Tiba-tiba saya menemukan lagi citra kiai dalam hati saya.

Orang-orang yang pernah menghabiskan masa muda mereka di pesantren, anak muda yang hanya mendengar kata pesantren dari orang-orang tua mereka, peminat antropologi sosial yang tertarik dengan kultur pesantren akan menemukan sesuatu yang berharga dalam novel Djamil Soeherman ini. Kebudayaan adalah akumulasi hasil cipta, rasa, dan karsa suatu kelompok manusia. Ia tidak cukup diungkapkan dengan karya-karya ilmiah yang obyektif, rasional, dan kaku. Banyak di antara komponen-komponen kebudayaan yang hanya dapat dilukiskan lewat karya-karya sastra. Metode ilmiah hanya sampai pada bentuk-bentuk luar kebudayaan. Sastra menyentuh hal-hal yang lembut, yang tidak kentara, yang human, tetapi justru seringkali menjadi hal-hal yang esensial dalam suatu kebudayaan. Dengan kata lain, karya ilmiah memotret, sementara karya sastra melukis. Karya sastra memang bukan dimaksudkan untuk menampilkan paparan yang logis, tetapi secara fenomenologis mengajak setiap orang untuk ikut mengalami dan memberi makna dengan caranya sendiri-sendiri.

Di samping membanjirnya karya-karya tentang Islam sekarang ini, kita memerlukan buku-buku sastra Islam seperti yang dilakukan Djamil Soeherman. Sayang, seperti pesantren, karya-karya sastra Islam sekarang kurang memperoleh perhatian kita. Mudah-mudahan Pejuang-pejuang Kali Pepe mengilhami karya-karya berikutnya yang sejenis-tentu bukan harus selalu dari Djamil Soeherman. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

Bandung, 29 Rajab 1404 H

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *