Perempuan dalam Tasawuf

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran,

yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka;

lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya,

maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna,”

(QS. Maryam [19]: 16-17).

Dalam surah Maryam, Allah Swt. menghadirkan sosok perempuan Maryam dalam Al-Quran sebagai contoh manusia suci. Pada bagian lain, Allah juga memberikann contoh perempuan suci lainnya, yaitu ‘Asiyah binti Mazahim. Dilihat dari rangkaian keturunan, Maryam termasuk keturunan para rasul yang mulia. Sementara itu, ‘Asiyah binti Mazahim adalah perempuan suci yang dibesarkan di tengah lingkungan yang penuh kemaksiatan. Meskipun ia adalah istri Fir’aunꟷseorang tiran yang memusuhi setiap orang beriman, ‘Asiyah menjadi perempuan suci yang namanya disebut dalam Al-Quran.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. menunjukkan tiga perempuan suci dalam sejarah umat manusia, yaitu Maryam binti Imran, ‘Asiyah binti Mazahim, dan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah Saw. Dalam riwayat lain, Nabi Saw. mengatakan empat perempuan suci, satu lagi adalah Sayyidah Khadijah Al-Kubra.

Dalam surah Maryam ayat 16, Al-Quran bercerita tentang Maryam yang memilih kehidupan suci. Dia mengasingkan diri dalam mihrabnya untuk menjalankan ibadah setiap hari. Dahulu, ketika Maryam masih berada dalam kandungan, ibunya pernah bernazar bahwa anak yang akan dilahirkannya itu kelak ia persembahkan untuk Tuhan. Dalam benak ibunya, bayi yang dikandungnya itu laki-laki. Biasanya, laki-lakilah yang menjadi pendeta, yang berkhidmat di rumah ibadah dan mengkhususkan seluruh hidupnya untuk Allah.

Ibunya berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku nazarkan kepada Engkau anak yang berada dalam perutku untuk menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat.” Ternyata yang dilahirkan adalah seorang bayi perempuan. Ibunya kembali berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang bayi perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti perempuan. Sesungguhnya, aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak keturunannya kepada Engkau dari setan yang terkutuk,” (QS. Ali Imran [3]: 35-36).

Maryam lahir dari keluarga suci yang dipilih Allah untuk membimbing manusia kepada kesucian. Dalam Al-Quran disebutkan, “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (QS. Ali Imran [3]: 33-34).

Allah Swt. menerima Maryam dengan penerimaan yang baik dan menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik pula. Allah Swt. menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Dalam Al-Quran diceritakan, setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maryam, ia dapatkan dalam mihrab itu makanan. Ketika Zakaria menanyakan dari mana makanan itu, Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah.”

Maryam lahir dari keluarga Imran yang suci. Kesuciannya dilindungi Allah Swt. Sayyidah Fatimah sering dinisbahkan kepada Maryam karena ia juga lahir dari keluarga yang suci, yaitu dari keluarga Rasulullah Saw. Membicarakan Maryam berarti membicarakan pula Fatimah Az-Zahra. Para mufasir mengatakan bahwa Fatimah merupakan Maryam bagi umat Rasulullah Saw.

Dengan memelajari kehidupan Maryam, kita dapat mengambil pelajaran tentang kedudukan seorang perempuan dalam pencapaian ruhani menuju Allah Swt. Hikmah pertama dari kisah Maryam dan Fatimah adalah bahwa perempuan-perempuan suci biasanya lahir dengan diantar oleh doa dari orangtuanya. Ibunda Maryam berdoa untuk mempersembahkan anaknya kepada Allah Swt. Karena itu, jika ada anak atau cucu yang lahir, kita harus mengantarkannya dengan doa. Alangkah baiknya jika kita mendoakan bayi itu dengan doa Ibunda Maryam, “Sesungguhnya, aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk,” (QS. Ali Imran [3]: 36).

Menemukan Amanah Hidup

Setelah Maryam besar, ia pun mulai merintis jalan kesucian. “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,” (QS. Maryam [19]: 16).

Dalam bahasa Arab, untuk timur digunakan kata masyriq. Masyriq berasal dari kata syaraqa, yang artinya terbit matahari. Hal ini sama dengan kata maghrib (barat) yang berasal dari kata gharaba yang artinya tenggelam matahari. Orang Arab menyebut timur sebagai tempat terbit matahari dan barat sebagai tempat tenggelamnya.

Erat kaitannya dengan makanan syarqiya adalah maqam pertama dalam tasawuf, yaitu maqam al-yaqzhah, yang harus dilewati oleh setiap penempuh perjalanan menuju Tuhan. Arti al-yaqzhah adalah bangun dari tidur. Dalam maqam ini, kita disadarkan dari kealpaan kita selama ini. Tiba-tiba, kita merasakan dilahirkan sebagai makhluk yang baru. Kita memulai lembaran-lembaran baru dan menutup buku lama. Seakan kehidupan kita diawali dari nol lagi, seiring dengan kesadaran yang baru tumbuh.

Kesadaran itu lahir karena berbagai hal, salah satu di antaranya adalah dengan musibah. Apabila orang terkena musibah, ia akan merenungkan kehidupan ini semua. Kehidupan yang ia jalani secara rutin tiba-tiba tampil dalam bentuk yang baru. Terkadang, ia tidak paham untuk apa semua ini. Maka, mulailah ia berpikir. Lalu, ia akan menemukan amanah hidup yang dipikulnya; misi hidup yang diembannya. “Sesungguhnya, Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab [33]: 72).

Manusia seringkali tidak tahu untuk apa kehidupan yang ia jalani itu sebenarnya. Ia tidak begitu jelas ke mana tujuan hidupnya; ia hanya mengikuti rutinitas sehari-hari. Jika ia telah terbangun dari semua ini, dan disadarkan akan pencerahan, dalam tasawuf, ia dikatakan telah memasuki makanan syarqiya.

Menurut Al-Quran, umumnya manusia tidak tahu amanah apa yang ia pikul. Al-Quran menyebutnya jahûla, atau sangat bodoh, karena manusia menjalani kehidupannya tidak sesuai dengan amanah yang dibebankan Allah Swt. kepadanya. Maryam menemukan amanahnya sejak kecil, bahwa ia harus mempersembahkan seluruh kehidupannya untuk berkhidmat kepada Allah Swt.

Stretegi Tuhan untuk memanggil seseorang ke hadirat-Nya adalah dengan memberinya penderitaan. Melalui penderitaan, orang akan merenung dan memikirkan seluruh kehidupannya. Ketika kita tertawa terbahak-bahak, saat tengah menikmati aneka macam hiburan, kita tidak pernah memikirkan diri kita. Karena itu, kita menyebut orang yang tertawa terbahak-bahak sebagai orang yang lupa diri. Kita tidak pernah menyebut orang yang menangis sebagai orang yang lupa diri. Justru, saat mencucurkan air mata itulah, biasanya kita akan meninjau kembali seluruh perjalanan hidup kita.

Jalaluddin Rumi bersyair, “Lihatlah taman bunga mawar itu. Ia belum menerbitkan bunga-bunganya sebelum langit mencurahkan tangisannya. Anak kecil saja tahu bahwa ibunya hanya akan datang setelah ia menangis. Maka, menangislah kamu supaya sang Perawat Agung datang memberikan Susu Keabadian kepadamu.”

Tangisan menjadi penting, karena ia menyadarkan kita kepada amanah kehidupan. Ketika orang sudah mengetahui untuk apa hidupnya, semuanya akan berubah. Dunia akan dipandang berbeda dari sebelumnya. Dia melihat segalanya berbeda. Seluruh kehidupannya seakan sudah diarahkan oleh Allah Swt. kepada satu tujuan yang ingin ia capai.

Pernah, seorang ibu datang kepada saya dan menceritakan kisahnya. Ia sekian lama membina rumah tangga dengan penuh rukun dan damai. Namun, setelah suaminya memiliki wanita lain, ia berubah menjadi seseorang dengan sikap dan kepribadian yang berbeda. Ia menjadi sangat kasar, bengis, dan lebih mudah marah. Suatu saat, terjadilah pemukulan pada anaknya, sehingga membuat anak itu shock berat. Betapa tidak, selama ini ia menganggap ayahnya sebagai seorang idola yang sangat dicintainya. Tiba-tiba, bapaknya itu berubah menjadi seorang monster.

Setelah itu, suaminya pergi meninggalkan keluarga. Tidak hanya kaget dan pingsan, ibu itu pun mengalami luka batin yang sangat dalam. Luka itu terus menerus mengganggu hatinya. Setiap hari, ia mengisi waktu-waktunya dengan linangan air mata.

Singkat cerita, beberapa tahun kemudian saya berjumpa lagi dengan ibu ini. Kini, keadaannya jauh berbeda dengan saat pertama kali berjumpa. Ia terlihat lebih tegar, lebih bercahaya, dan lebih yakin akan jalan hidupnya. Ia bercerita tentang keberhasilannya menyekolahkan anak-anaknya sampai lulus dari perguruan tinggi tanpa bantuan seorang bapak. Ibu itu bekerja keras membina anak-anaknya seorang diri sampai berhasil.

Saya dapat mengatakan bahwa sebenarnya ibu itu sudah menemukan amanah, atau misi yang dibebankan Allah kepadanya. Sesungguhnya, Allah Swt. menitipkan anak-anak itu kepada pemeliharaan ibunya. Ia pun berhasil menjalankan amanah itu dengan baik. Bukankah misi dari seorang ibu adalah membesarkan anak-anaknya, dan membawa mereka pada tingkat kesempurnaan? Itulah yang menyebabkan wajahnya lebih bercahaya dari sebelumnya, karena ia sudah berhasil menemukan amanah hidupnya.

Periode itulah yang disebut Maryam sebagai makanan syarqiya, tempat yang memberikan pencerahan pemikiran; tempat yang menyebabkan ia menemukan jati dirinya dan menemukan amanah yang harus dipikulnya. Setelah menemukan tempat itu, Maryam lalu “membuat suatu tirai (yang melindunginya) dari diri mereka,” (QS. Maryam [19]: 17).

Tirai dapat diartikan ke dalam dua makna. Makna pertama adalah tirai lahiriah dalam bentuk gorden. Makna kedua adalah tirai batiniah dalam bentuk penjagaan diri dari perubahan masyarakat di sekitar kita. Seseorang yang menjalani kehidupan tasawuf adalah orang yang tidak terlalu terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Lingkungan sekitar kita bisa berubah kapan saja, dan kita tidak bisa mengendalikan perubahan- perubahan tersebut. Kalau kita mencoba agar lingkungan itu berjalan seperti yang kita kehendaki, pastilah sepanjang hidup kita akan selalu kecewa.

Buatlah tirai antara diri kita dengan segala sesuatu di sekeliling kita. Kita membangun tirai ruhaniah agar lingkungan sekitar tidak memengaruhi kita. Saya teringat dengan kisah seorang sufi perempuan, Rabi’ah Al-Adawiyah. Suatu hari pada saat musim semi, seorang pembantu Rabi’ah keluar dari kemahnya dan menyaksikan bunga-bunga yang mulai merekah diterpa cahaya matahari. Takjub akan semua keindahan itu, pembantu Rabi’ah berteriak, “Nyonya, keluarlah dan lihat keindahan musim semi ini!” Rabi’ah menjawab, “Tidak. Masuklah ke dalam dan engkau akan lihat keindahan tanpa tirai.” Ketika ada perubahan lingkungan di sekitarnya, seorang sufi tidak akan terpukau dengan perubahan-perubahan itu. Ia akan melihat ke dalam batinnya dan menemukan keindahan yang sesungguhnya.

Kedudukan Perempuan terhadap Laki-Laki

Dalam Al-Quran, Allah Swt. berfirman, “… dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” (QS. Al-Baqarah [2]: 228).

Ayat ini seringkali dipakai untuk merendahkan derajat kaum perempuan. Alasannya, karena Al-Quran menyebutkan bahwa laki-laki itu lebih tinggi derajatnya dari perempuan. Menurut Ibnu ‘Arabi, yang dimaksud dengan kedudukan laki-laki lebih tinggi dari perempuan, ialah bahwa perempuan memiliki fungsi reseptif (fungsi menerima) dan laki-laki memiliki fungsi aktif. Laki-laki itu lebih tinggi satu derajat karena ia memiliki kewajiban untuk memberikan mahar, memberikan nafkah, memelihara dan mengurus istrinya. Kedudukan yang dimaksud bukanlah kelebihan derajat secara ruhaniah. Karena laki-laki dan perempuan bisa mencapai kedudukan ruhani yang sama.

Ada ayat lain yang menunjukkan laki-laki sebagai seorang pemimpin di atas perempuan. Allah Swt. berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka,” (QS. An-Nisa’ [4]: 34).

Kata qawwâmûna (pemimpin) yang dipakai dalam ayat ini juga dapat diartikan dengan “berdiri”. Dalam bahasa Arab, kata qaim-satu asal kata dengan qawwâmûna-berarti pula yang mengurus dan yang menjaga. Kita menyeru Allah sebagai Hayyul Qayyum, artinya Yang Maha Memelihara dan Maha Menjaga. Terjemahan yang pas untuk ayat ini adalah “laki-laki itu berkewajiban untuk menjaga, memelihara, dan mengurus perempuan.”

Pada zaman Rasulullah Saw., sebagian perempuan datang kepada beliau setelah mendengar ayat-ayat Al-Quran yang menggunakan kata “kum“. (Dalam bahasa Arab, kum adalah dhamir atau kata ganti untuk laki-laki. Misalnya, pada Surah Al-Baqarah ayat 183, “Kutiba ‘alaikumush shiyâm, diwajibkan atas kamu berpuasa.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa hanya laki-laki saja yang disebut?”

Setelah itu, turunlah ayat Al-Quran yang menegaskan bahwa kaum laki-laki dan perempuan, jika mereka berbuat baik dan beramal saleh, akan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Sesungguhnya, Dia tidak membeda-bedakan mereka sama sekali. Memang tidak ada perbedaan dalam pencapaian derajat keruhanian antara laki-laki dan perempuan. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya, laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar,” (QS. Al-Ahzab [33]: 35).

Sifat Allah dalam Perempuan

Kelebihan perempuan adalah mereka dapat mencapai derajat keruhanian yang tinggi secara lebih cepat daripada laki-laki. Dalam buku The Tao of Islam, Sachiko Murata menjelaskan tentang kelebihan perempuan dalam hal pencapaian ruhani ini. Salah satu sumber yang dikutip Murata dalam bukunya adalah penjelasan Ibnu ‘Arabi dalam kitab Fushûs Al-Hikâm dan Futûhat Al-Makiyyah.

Dalam bahasa Inggris, perempuan disebut woman, artinya man yang punya womb, atau laki-laki yang memiliki rahim. Allah telah berfirman dalam hadits qudsi, “Aku adalah Ar- Rahim dan Aku menciptakan engkau, hai rahim. Aku nisbahkan kepadamu nama-Ku sendiri. Barang siapa yang menyambungkan rahim, dia menyambungkan hubungannya dengan-Ku; dan barang siapa memutuskan rahim, dia memetuskan hubungannya dengan- Ku.” Mengacu pada hadits ini, kata rahim yang semula berarti “kasih sayang” kemudian bermakna “kekeluargaan”. Dengan demikian, hadits ini bisa diterjemahkan, “Barang siapa yang menyambungkan kekeluargaan, dia menyambungkan diri kepada Allah.”

Menurut Ibnu Arabi, alam semesta dan seluruh isinya adalah penampakan Allah Swt. Tetapi, penampakan-Nya lebih banyak ada pada diri perempuan. Sesungguhnya, Allah memiliki dua sifat, yaitu jalâliyyah dan jamâliyyah. Allah sangat berat siksa- Nya; Allah sangat adil dalam menjatuhkan hukuman; Allah Mahaperkasa; kehendak-Nya tidak bisa ditolak. Tetapi, pada saat yang sama, Allah juga memiliki sifat jamâliyyah. Allah Mahabesar kasih sayang-Nya; Maha Pengampun; dan lebih cepat ridha-Nya daripada marah-Nya.

Sifat kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Ketika menceritakan kemarahan Allah, Al-Quran selalu menyebutkan alasannya. Al-Quran selalu menjelaskan sebab mengapa Allah murka. Misalnya, “… lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat- ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas,” (QS. Al-Baqarah [2]: 61). Tetapi, ketika menceritakan sifat kasih sayang-Nya, Al-Quran tidak selalu menyebutkan sebabnya. Allah mewajibkan diri-Nya untuk menyayangi seluruh makhluk. Allah Swt. berfirman, “Kataba ‘ala nafsihir rahmah; Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang,” (QS. Al-An’am [6]: 12).

Allah Swt. tidak mewajibkan diri-Nya untuk marah. Dia hanya akan marah kalau ada suatu sebab yang kita lakukan. Misalnya dalam ayat, “Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan,” (QS. Ash-Shaff [61]: 3). Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan marah kalau manusia mengatakan apa-apa yang tidak mereka perbuat.

Rahmat Allah itu meliputi segala sesuatu. Ternyata, rahmat Allah paling banyak ditempatkan dalam diri perempuan. Oleh karena itu, dalam bahasa Arab, kata “rahmat” memiliki bentuk perempuan (muannats). Bahasa Arab menambahkan ta marbuthah untuk mengubah bentuk laki-laki (muadzakkar) menjadi bentuk perempuan. Misalnya, kata mar’un yang berarti laki-laki, kalau ditambah ta marbuthah dan menjadi mar’atun yang berarti perempuan. Muslimun berarti Muslim laki-laki dan Muslimatun berarti Muslim perempuan.

Sifat jamaliyyah Allah lebih tampak pada diri perempuan daripada laki-laki. Perempuan lebih menonjol dengan sifat kasih sayangnya, penyantunnya, dan pemaafnya. Jika kita ingin mendekati Allah Swt., kita harus menyerap sifat Allah itu ke dalam diri kita. Sifat-sifat Allah paling banyak kemiripannya dengan sifat-sifat perempuan. Oleh karena itu, seorang perempuan akan lebih mudah untuk berakhlak dengan akhlak Allah.

Dalam konsep tasawuf, Allah bersifat feminin. Berbeda dengan konsep fikih di mana Allah bersifat sangat maskulin. Dalam paradigma fikih, Allah selalu menghukum kita kalau kita melakukan pelanggaran. Kalau kita memenuhi kewajiban, Allah akan memberi kita pahala. Kita sangat terpengaruh dengan konsep ini sehingga kita sering mendoakan orang-orang yang meninggal dengan doa, “Semoga Allah memberi ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya.” Padahal, kita akan celaka jika dibalas sesuai dengan amal yang kita lakukan. Perbuatan baik kita jauh lebih sedikit daripada amal buruk kita.

Cinta Perempuan dan Cinta Allah

Cinta seorang perempuan berbeda dengan cinta seorang laki-laki. Cinta perempuan itu lebih dekat dengan cinta-Nya. Ketika perempuan menghabiskan satu malam dengan laki-laki, kemudian ia mengandung, ia akan memikul buah satu malam itu selama sembilan bulan. Ada sesuatu yang tumbuh dalam kehidupannya, yang tidak pernah berpisah dari dirinya. Walaupun anaknya meninggal dunia, ia akan tetap menjadi ibu karena satu saat dalam hidupnya ia pernah menempatkan anak itu di bawah jantungnya.

Karena cintanya, seorang ibu tidak akan pernah bisa melupakan anaknya. Itulah kecintaan luar biasa yang hanya ada pada hati seorang ibu. Kecintaan seperti itulah yang akan menghantarkannya pada jalan ruhani yang tinggi.

Ketika mengajarkan tentang tulusnya kecintaan Tuhan kepada hamba-Nya, Rasul memberikan contoh berupa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan ada seorang anak yang tertinggal di medan perang. Ibunya panik dan lari ke tengah peperangan untuk mengambil anaknya. Keduanya pun sampai pada satu tempat yang terasa sangat panas. Ibu itu lalu menutupkan punggungnya ke arah sinar matahari, melindunginya dari panas terik, lalu menyusui- nya. Melihat peristiwa itu, Rasul meneteskan air mata.

Lalu, Rasul bertanya kepada para sahabat, “Menurut kalian, mungkinkah ibu itu akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Mereka menjawab, “Jangankan melempar ke dalam api, sinar matahari saja ia tutupi dengan punggungnya demi anak yang dicintainya.” Beliau lalu bersabda, “Kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya jauh lebih besar daripada kecintaan seorang ibu terhadap anaknya.”

Tentu saja, hadits ini sangat membahagiakan. Artinya, karena cinta-Nya yang besar-jauh lebih besar dari cinta seorang ibu kepada anaknya-tidak mungkin Allah melemparkan hamba-Nya ke neraka, sebagaimana tidak mungkinnya seorang ibu melemparkan anaknya ke dalam kobaran api. Namun, tidak semua manusia merasa diri mereka sebagai hamba Allah, sebagian besar masih menganggap diri mereka sebagai hamba nafsu mereka sendiri. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *