
Al-Manshûr adalah salah seorang pendiri Dinasti ‘Abbasiyyah. Ia pernah memasukkan lawan-lawan politiknya hidup-hidup ke dalam pilar-pilar istana yang sedang dibangunnya. Tetapi, dengan segala kekejamannya, al-Manshûr terkenal sebagai penguasa yang mau mendengarkan nasihat ulama.
Pada suatu hari, ia memanggil al-Awza’i, ahli hadis dan fiqih yang terkenal salih. “Aku ingin mendengar nasihatmu dan mengambil faedah darinya.” “Kalau begitu, perhatikan pembicaraanku, wahai Amirul Mukminin. Janganlah satu pun lolos dari perhatianmu.” “Bagaimana mungkin aku tidak memperhatikan. Aku yang memintamu. Aku telah menghadapkan wajahku kepadamu dan aku telah memintamu menasihatiku.” “Aku takut engkau mendengarkannya, tetapi tidak mengamalkannya.”
Mendengar itu, ar-Rabi’, pengawal raja, membentak al- Awza’i. Ia bermaksud mengambil pedangnya, tetapi al-Manshûr mencegahnya. Al-Awza’i melanjutkan pembi-caraannya: “Nabi saw. bersabda, ‘Kalau seorang hamba didatangi nasihat dari Allah dalam urusan agamanya, ia mendapat nikmat Allah.bila menerimanya dengan penuh terima kasih. Jika tidak mene rimanya, nasihat itu akan menambah dosanya dan menumpuk kemurkaan Allah atas dirinya.’
“Wahai Amirul Mukminin, Nabi saw. juga berkata, ‘Bila seorang penguasa mati dalam keadaan sedang mengkhianati rakyatnya, Allah akan mengharamkan baginya surga.”
“Wahai Amirul Mukminin, siapa saja yang membenci kebenaran, ia telah membenci Allah; karena Allah adalah Kebenaran Yang Nyata. Tuhan yang telah melembutkan hati rakyat kepadamu, ketika engkau merebut kekuasaan, adalah Tuhan yang sangat mengasihi dan menyayangi mereka. Sudah sepantasnyalah engkau menegakkan kebenaran dan keadilan di tengah-tengah mereka dan melindungi mereka dari hal-hal yang mempermalukan mereka. Janganlah engkau menutup pintumu dari rakyat. Janganlah membuat jarak dengan mereka. Berbahagialah jika mereka mendapat kesenangan. Berdukacitalah jika mereka mendapat kemalangan.’
“Wahai Amirul Mukminin, engkau mendapat kepercayaan untuk mengurus mereka, yang berada di bawah kekuasaanmu, yang berkulit merah dan hitam, yang Muslim dan yang kafir. Semua berhak engkau perlakukan dengan adil. Apa yang terjadi pada dirimu jika manusia antre di hadapanmu, kelompok demi kelompok, semuanya mengadukan derita yang telah engkau timpakan kepada mereka, atau kezaliman yang telah Anda lakukan?
“Wahai Amirul Mukminin, pernah di tangan Nabi saw. ada sebatang pelepah kurma. Beliau menggunakannya untuk menjaga kebersihan dan menakut-nakuti orang munafik. Malaikat Jibril datang dan berkata, ‘Hai Muhammad, untuk apa pelepah kurma ini, untuk menyakiti hati umatmu dan memenuhi jantung mereka dengan rasa takut?’
Renungkanlah ucapan Jibril ini, apa gerangan yang akan terjadi kepada orang yang menggunakan kekuasaan untuk menjatuhkan kehormatan rakyat, menumpahkan darah mereka, menghancurkan rumah-rumah mereka, mengusir mereka dari tanah miliknya, atau membuat mereka lari ketakutan?
“Wahai Amirul Mukminin, pernah Nabi saw. tanpa sengaja memukul seorang Arab dusun. Jibril berkata, “Ya Muhammad, Allah tidak mengutusmu sebagai pelaku tindak kekerasan dan tidak sebagai tiran.’ Nabi saw. segera meminta orang Arab itu untuk menuntut balas.
“Wahai Amirul Mukminin, sekiranya kekuasaan itu kekal pada orang sebelummu, tentulah kekuasaan itu tidak akan beralih kepadamu. Karena itu, kekuasaan ini pun tidak akan abadi sebagaimana juga terjadi pada orang selainmu.
“Wahai Amirul Mukminin, tahukah engkau apa makna ayat ini: Hai Dawid, sesungguhnya kami menjadikan kamu penguasa di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah,… (QS 38:26). Allah berfirman dalam Zabur: “Hai Dâwûd, di hadapanmu duduk dua pihak yang bertikai. Jika kamu cenderung mengalahkan salah satu di antara keduanya, dan tidak ingin kebenaran ada di pihaknya sehingga menang terhadap pihak yang lain, maka Aku akan menghapuskan kenabian darimu. Kamu tidak lagi menjadi khalifah-Ku, dan tidak memperoleh kemuliaan. Hai Dawud, sesungguhnya Aku menjadikan para rasul-Ku untuk memimpin hamba-hamba-Ku seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya. Ia mengobati yang terluka, memapah yang lemah ke padang gembala dan sumber air.’
“Wahai Amirul Mukminin, yang paling berat dari segala yang berat ialah memenuhi kewajiban kita kepada Allah. Orang yang paling mulia adalah yang paling takwa. Siapa yang mencari kekuasaan dengan ketaatan kepada Allah, Allah akan meninggikannya dan memuliakannya. Siapa yang mencari kekuasaan dengan maksiat kepada Allah, Dia akan menghinakannya dan menjatuhkannya. Inilah nasihatku kepadamu. Salam bagimu.”
Al-Awza’i bangkit meninggalkan tempat pertemuan. “Mau ke mana kamu?” kata al-Manshûr. “Aku ingin menemui anak-anakku dan kampung halamanku, dengan izin Amirul Mukminin, insya Allah,” jawab al-Awza’i. “Terima kasih atas nasi- hatmu. Janganlah engkau bosan memberikan hal semacam ini. Nasihatmu akan selalu diterima tanpa tuduhan apa pun.” Ketika al-Manshûr bermaksud memberikan hadiah kepadanya, al-Awza’i menolaknya, “Aku tidak memerlukannya. Aku tidak ingin menjual nasihatku dengan harta dunia.”
Manakah yang paling mengagumkan dari keduanya: al-Manshûr, penguasa yang menerima kritik dengan penuh rasa terima kasih, atau al-Awza’i, ulama yang memiliki keberanian menyampaikan kebenaran, apa pun risikonya? Al-Manshûr yang memberikan hadiah kepada orang yang mengkritiknyakah atau al-Awza’i yang menolak hadiah penguasa demi integritas dirinya? JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).