
Pada suatu hari di Madinah, para sahabat mendengar suara Bilal memanggil mereka untuk berkumpul di masjid. Kecemasan tampak pada wajah-wajah mereka. Mereka tahu bahwa sudah beberapa hari ini Nabi yang mulia jatuh sakit. Segera setelah mereka berada di masjid, Nabi keluar dari hujrah-nya—ruang keci tempat tinggal Nabi di samping masjid. Beliau dipapah Fadhl dan Ali. Wajahnya pucat, dan dahinya dibalut kain. Perlahan-lahan beliau berjalan menuju mimbar.
Beberapa orang sahabat sudah mulai terisak. Sebagian besa berusaha menahan air mata. Abu Muwaihibah mengenang peristiwa beberapa hari yang lalu: Dia dipanggil Nabi di tengah malam, untuk mengantarnya ziarah ke pekuburan Baqi’. Di situ, Nabi berdiri, mengucapkan salam kepada ahli kubur, “Assalamu’alaikum, wahai ahli kubur. Mudah-mudahan apa yang kalian alami lebih menyenangkan daripada yang dihadapi manusia selain kalian. Fitnah akan datang kepada mereka secara beruntun, seperti beruntunnya potongan-potongan malam yang gelap. Yang terakhir menyusul yang terdahulu, dan yang terakhir lebih jelek dari yang sebelumnya.” Kemudian selesai menyampaikan salam, Nabi menoleh kepada Abu Muwaihibah, “Ya Aba Muwaihibah, baru saja ditawarkan kepadaku seluruh kunci perbendaharaan dunia, yang aku akan kekal di dalamnya, kemudian surga, dan pertemuan de ngan Tuhanku dan surga. Aku memilih pertemuan dengan Tuhanku dan surga.” Abu Muwaihibah berkata, “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, ambillah kunci-kunci perbendaharaan itu, baru sesudah itu surga.” “Tidak, demi Allah, ya Aba Muwaihibah, aku lebih baik memilih pertemuan dengan Tuhanku.” Setelah membacakan istighfar untuk penghuni kubur, Nabi kembali ke rumah. nya. Sejak itulah, ia sakit. Ketika melihat dahi Nabi yang dikompres itu, sadarlah Abu Muwaihibah bahwa ajal Nabi sudah mendekat.
Di samping Abu Muwaihibah, sahabat-sahabat Anshar mulai tak sanggup lagi menahan air mata. Mereka teringat ketika beberapa hari sebelumnya, Nabi khusus mengumpulkan mereka. Waktu itu, Fadhl melaporkan bahwa orang-orang Anshar tidak henti-hentinya menangis di masjid, mencemaskan sakit Nabi. Pada hakikatnya, mereka mencemaskan kehidupan mereka sepeninggal Nabi. Setelah menyampaikan pujian kepada Allah, Nabi berkata, “Wahai manusia, bagaimana mungkin kalian menolak kematian Nabimu. Bukankah telah kuberitahukan kepada kalian ajalku, seperti kalian juga akan memberitakan kematian kalian. Seandainya ada orang sebelumku yang hidup kekal, aku akan hidup kekal bersama kalian. Ketahuilah aku akan menemui Tuhanku. Sudah aku tinggalkan bersama kalian, yang bila kalian berpegang teguh padanya kalian tidak akan sesat; yakni Kitabullah, yang kalian baca pagi dan sore. Janganlah kalian saling menohok, jangan saling mendengki, dan jangan saling membenci. Jadilah kalian bersaudara seperti yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sudah aku tinggalkan juga kepada kalian keluargaku, ahlu-bayt-ku; aku wasiatkan kalian untuk mengikuti mereka. Kemudian (kepada semua yang hadir), aku wasiatkan juga untuk berbuat baik kepada orang-orang Anshar yang masih hidup. Kalian tahu mereka telah mengalami berbagai ujian untuk membela Allah, rasul-Nya dan kaum Mukmin. Bukankah mereka telah membukakan rumah mereka. untuk kalian, bukankah mereka telah membagikan kurmanya untuk kalian, bukankah mereka dahulukan kalian walaupun diri mereka dalam kesusahan? Barangsiapa di antara kalian yang memegang kekuasaan yang mendatangkan mudarat atau manfaat, terimalah kebaikan orang-orang Anshar dan maafkanlah kejelekan mereka.”
Sekarang, orang yang begitu sayang kepada mereka telah menunjukkan tanda akan meninggalkan mereka. Dengan penuh penyesalan, mereka teringat peristiwa seusai perang Hunain. Waktu itu, Nabi membagikan ghanimah (pampasan perang) kepada kaum mu’allaf lebih banyak daripada apa yang diberikannya kepada orang Anshar. Ada orang Anshar yang berkata bahwa Nabi kini melupakan Anshar dan mengutamakan sahabat dan kerabat sekampungnya (orang-orang Makkah). Mendengar itu Nabi berkata, “Wahai orang-orang Anshar, bukankah aku dapatkan kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah memberimu petunjuk? Bukankah kalian dahulu bercerai-berai, kemudian Allah mempersatukan kamu melaluiku? Bukankah kalian dahulu berkekurangan, kemudi an Allah mencukupkanmu dengan kehadiranku? Mengapa kalian tidak memenuhi panggilan Rasulullah.” Setiap kali Nabi berkata sepatah kalimat, orang-orang Anshar berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih besar karunianya dari siapa pun.” Kemudian Nabi melanjutkan, “Tidakkah kalian lebih senang melihat mereka mem bawa kambing dan unta, sedangkan kamu membawa Nabi ke tempat tinggal kamu. Seandainya tidak ada hijrah, pastilah aku menjadi salah seorang Anshar. Seandainya seluruh manusia memasuki jalan atau lembah yang satu, sedangkan orang-orang Anshar memasuki jalan dan lembah yang lain, aku akan memasuki jalan dan lembah orang-orang Anshar…. Sepeninggalku, kalian akan menghadapi cobaan berat. Bersabarlah sampai kalian menghadapku di telaga Al-Kautsar pada hari kiamat nanti.”
Nabi sudah berada di mimbar. Dia kedengaran berkata, “Hadirin, mendekatlah, dan berilah tempat kepada yang di belakang kalian.” Orang-orang merapat. Mereka melihat ke belakang. tetapi tidak ada orang lagi. Nabi masih menyuruh agar orang-orang merapatkan tubuhnya. Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, untuk siapa kami harus memberi tempat.” Nabi berkata, “Untuk para malaikat! Bila mereka beserta kamu; mereka tidak berada di depan atau di belakang kamu. Mereka berada di samping kanan. dan kirimu.” Seorang sahabat berdiri, “Apakah karena malaikat lebih tinggi daripada kami atau kami lebih tinggi dari mereka.” “Kalian lebih tinggi daripada mereka. Duduklah!” Orang itu pun duduk. Nabi mulai berkhutbah:
“Alhamdulillah. Kita memuji Dia dan memohon pertolong an-Nya. Kita beriman dan berserah diri kepada-Nya. Kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah. Yang Esa. Tidak ada sekutu baginya. Kita bersaksi juga bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kita dan keburukan amal kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak seorang pun dapat menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan Allah, tidak seorang pun dapat memberinya petunjuk.
“Wahai manusia, akan ada di kalangan umat ini tiga puluh pendusta (yang mengaku sebagai Nabi). Yang pertama di antara mereka adalah orang San’a dan orang Yamamah (Musaylamah). Wahai manusia, siapa pun di antara kamu yang menemui Allah dengan membawa kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah—kesaksian yang ikhlas yang tidak dicampuri dengan selain —itu pastilah ia masuk surga.”
Ali bertanya, “Ya Rasul Allah, demi ayah dan ibuku, apa yang dimaksud dengan mengucapkan syahadat tanpa dicemari oleh yang lain itu. Jelaskanlah kepada kami supaya kami memahaminya.” “Baiklah,” kata Nabi saw.,
“Yang mencemari akidah itu adalah kerakusan pada dunia, mengumpulkan dunia bukan secara halal, dan bersenang-senang dengan harta yang haram. (Termasuk yang akidahnya tercemar adalah) kaum yang berbicara dengan perkataan orang-orang baik, tetapi berperilaku seperti perilaku para tiran. Barangsiapa yang menghadap Allah dengan tidak membawa hal-hal tersebut sedikit pun, dan mengucapkan la ilaha illallah, baginya surga. Barangsiapa mengambil dunia dan meninggalkan akhirat, baginya neraka. Siapa saja yang membantu permusuhan para penindas dan membantunya untuk melakukan penindasan, maka malaikat pencabut nyawa akan datang membawa berita kepadanya—ia mendapat laknat Allah, kekal di neraka, dan tempat kembali yang paling jelek. Siapa yang melangkahkan kaki kepada penguasa yang zalim untuk memenuhi kebutuhannya, ia akan menyertai penguasa itu di neraka. Siapa yang menunjuki jalan kepada penguasa untuk melakukan penindasan, ia akan dihimpunkan bersama Haman (penasihat Fir’aun). Ia, Haman dan penguasa yang zalim itu, akan mendapat siksa yang paling berat di neraka. Barangsiapa memuliakan pemilik dunia dan mencintainya karena ia mengharapkan dunianya, Allah murka kepadanya. Ia akan ditempatkan di neraka paling bawah bersama Qarun. Barang- siapa membangun rumah hanya untuk kemegahan dan kesombongan, maka pada hari kiamat ia akan dibawa ke tujuh bumi; kemudian dibelenggu dengan api yang bernyala di lehernya, dan dilemparkan ke neraka.”
Para sahabat berkata, “Ya Rasul Allah, apa artinya membangun rumah untuk kemegahan dan kesombongan itu?”
“Membangun rumah lebih dari keperluannya atau membangun untuk menyombongkan dirinya di atas orang lain. Barang siapa yang membayar upah buruhnya secara zalim (tidak membayarnya dengan upah yang layak), Allah akan menghapuskan seluruh amal salehnya dan ia tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium dari jarak limaratus tahun. Siapa yang mengkhianati tetangganya dengan sejengkal tanah saja, ia akan dibelenggu api sampai ke tujuh petala bumi sehingga ia dimasuk kan ke neraka.
“Barangsiapa menikahi seorang perempuan dengan harta yang halal, tetapi karena menginginkan kemegahan dan kesombongan, Allah tidak akan memberinya bekal kecuali kehinaan dan kerendahan. Sesuai dengan kadar kesenangannya, Allah akan menyuruhnya berdiri di tepian jahanam dan kemudian jatuh ke dalamnya sejauh tujuh puluh kharif (ukuran panjang). Siapa yang merampas mahar istrinya (atau tidak membayarnya) di sisi Allah, ia menjadi penzina. Allah akan berkata kepadanya di hari kiamat: ‘Aku menikahkan kamu kepada hambaku dengan perjanjian-Ku. Engkau tidak memenuhi perjanjian itu.’ Allah akan menagih hak istrinya dan bila ia tidak sanggup membayar dengan seluruh kebaikannya, ia dilemparkan ke neraka.
“Siapa yang menyakiti tetangganya tanpa hak, Allah akan melarangnya mencium bau surga dan menempatkannya di neraka. Ketahuilah, Allah akan meminta pertanggungjawaban atas hak tetanggamu. Barangsiapa yang melalaikan hak tetangganya, ia bukan golongan kami. Siapa saja yang merendahkan orang miskin Muslim karena kemiskinannya dan memandang rendah kepadanya, ia sudah memandang rendah hak Allah. Ia akan terus menerus berada dalam kemurkaan Allah, sampai si miskin itu ridha kepadanya.
“Barangsiapa yang mampu berbuat maksiat dengan seorang perempuan, tetapi kemudian meninggalkannya karena takut kepada Allah, Allah mengharamkan neraka baginya dan memberinya kedamaian pada hari yang sangat mengerikan dan Ia memasukkannya ke surga. Tetapi bila ia melakukan maksiat dengan perempuan itu, Allah mengharamkan surga baginya dan memasukkannya ke neraka.
“Barangsiapa memperoleh harta secara haram, Allah tidak akan menerima sedekah, pembebasan, haji dan umrahnya. Allah menuliskan dosa untuk setiap pahala dari perbuatannya itu. Dan perbekalan yang tinggal baginya setelah itu mengantarkannya ke neraka. Barangsiapa meninggalkan harta yang haram padahal ia sanggup memperolehnya karena takut kepada Allah, ia akan selalu berada dalam kecintaan Allah dan kasih-Nya serta ia diperintahkan untuk memasuki surga.
“Barangsiapa menipu orang Islam dalam jual-belinya, ia bukan umatku. Pada hari kiamat, ia akan digabungkan bersama orang-orang Yahudi. Ketahuilah, siapa yang menipu orang, ia bukan Muslim. Barangsiapa menahan kebutuhan pokok dari tetangganya ketika memerlukannya, Allah akan menahan anugerahnya pada hari kiamat. Allah akan menyuruh ia meminta bantuan pada dirinya sendiri. Barangsiapa meminta bantuan hanya pada dirinya saja, ia binasa. Allah tidak akan menerima alasan dari orang itu.
“Barangsiapa mempunyai istri, kemudian istrinya menyakiti suaminya, Allah tidak akan menerima shalat perempuan itu, dan segala kebaikan yang dilakukannya sampai ia membantu dan menyenangkan suaminya kembali, walaupun ia berpuasa terus-menerus, dan shalat malam, membebaskan budak, dan menginfakkan hartanya di jalan Allah. Begitu pula suami akan mendapat dosa dan siksa yang sama jika ia menyakiti dan berbuat zalim terhadap istrinya.
“Barangsiapa tidur dan dalam hatinya ada niat untuk mengkhianati (menipu) orang Islam, ia tidur dalam kemurkaan Allah. Ia memasuki waktu subuh juga dalam kemurkaan Allah kecuali bila ia mati atau bertobat. Jika ia mati dalam keadaan itu, maka ia mati bukan dalam agama Islam. Ketahuilah siapa yang mengkhianati kami, ia bukan golongan kami (Nabi saw. menyebutkan hal ini sebanyak tiga kali).
“Barangsiapa menggunjingkan saudaranya yang Muslim, batallah puasanya dan rusaklah wudhunya. Bila ia mati dalam keadaan itu, ia mati dengan menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Barangsiapa berjalan untuk mengadu-domba orang, Allah akan memenuhi kuburannya dengan api, yang membakarnya sampai hari kiamat. Barangsiapa mengendalikan amarahnya dan memaafkan saudaranya yang Muslim, Allah akan memberikan kepadanya pahala syahid.
“Ketahuilah, barangsiapa mendengar kekejian kemudian menyebarkannya, maka ia seperti orang yang melakukannya. Barang siapa mendengar kebajikan kemudian ia menyebarkannya, ia mendapat pahala seperti orang yang mengamalkannya.
“Barangsiapa menjadi imam bagi suatu kaum dengan seizin mereka, serta mereka pun ridha kepadanya; kemudian ia menyederhanakan (meringankan) kehadiran, bacaan, ruku, sujud, duduk, dan berdirinya, maka ia memperoleh pahala seperti mereka. Barangsiapa menjadi imam bagi suatu kaum, tetapi tidak meringan. kan kehadiran, bacaan, ruku, sujud, duduk, dan berdirinya, maka Allah menolak shalatnya dan shalatnya tidak melebihi tenggorokannya. Kedudukannya di hadapan Allah seperti kedudukan penguasa yang zalim, yang tiran, yang tidak menyejahterakan rakyatnya serta tidak menegakkan perintah Allah.”
Ali bin Abi Thalib berdiri: “Ya Rasulullah, demi ayah ibuku, apa kedudukan penguasa zalim dan tiran, yang tidak menyejahterakan rakyatnya di hadapan Allah.” Nabi berkata:
“Ia termasuk yang keempat di antara orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat, yaitu, Iblis, Fir’aun, pembunuh dan penguasa tiran.”
“Barangsiapa berusaha mendamaikan dua orang, para malakat akan membacakan doa baginya sampai ia menyelesaikan usahanya itu; ia diberi pahala malam qadar. Barangsiapa berusaha memutuskan persaudaraan di antara dua orang, ia mendapat dosa sebesar pahala yang diterima oleh orang yang mendamaikan tadi. Ditetapkan laknat Allah baginya. Ia masuk ke neraka jahanam dengan siksa yang berlipat ganda.
“Barangsiapa berusaha membela dan memberi manfaat kepada saudaranya maka baginya pahala para mujahid di jalar Allah. Barangsiapa berjalan menyebarkan aib saudaranya (sesama Muslim) dan mengungkapkan hal yang mempermalukannya, maka langkahnya yang pertama adalah langkah pertama ke neraka. Allah akan mempermalukan ia di hadapan seluruh makhluk.
“Barangsiapa membimbing orang buta sampai ke masjid atau ke rumahnya untuk memenuhi keperluannya, Allah akan memberikan pahala untuk setiap langkahnya (mengangkat dan meletakkan kakinya) sama dengan membebaskan budak. Malaikat tidak henti-hentinya berdoa baginya sampai ia berpisah dengan orang buta itu. Barangsiapa mencukupi keperluan orang buta sampai ia memenuhinya, Allah membebaskannya darinya dua hal: neraka dan kemunafikan. Allah akan memenuhi 70 ribu keperluannya di dunia. Ia tidak henti-hentinya berada dalam naungan rahmat Allah sampai ia kembali.
“Barangsiapa berusaha memenuhi keperluan orang sakit, kemudian memenuhinya, ia keluar dari dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan dari perut ibunya.”
Seorang Anshar bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana bila yang sakit itu keluarganya sendiri?” Nabi saw. menjawab: “Manusia yang paling besar pahalanya adalah yang berusaha memenuhi keperluan keluarganya. Barang siapa melalaikan keluarganya, memutuskan kasih-sayangnya, Allah akan mengharamkan balasan yang baik baginya pada hari ketika ia membalas orang-orang baik. Allah akan melalaikannya. Barang- siapa yang Allah lalaikan pada hari akhirat, ia akan berada di antara orang-orang yang celaka; sehingga ia berusaha mencari jalan keluar tetapi tidak dapat keluar.”
Tidak semua khutbah Nabi kita kutipkan di sini. Waktu itu, Rasulullah mengakhiri khutbahnya dengan berkata, “Wahai manusia, sudah tua usiaku, sudah rapuh tulangku, sudah lemah tubuhku, sudah siap diriku, sudah besar kerinduanku untuk menemui Tuhanku. Saya kira inilah hari terakhir antara aku dan kalian. Selama aku hidup, kalian menyaksikanku. Sesudah aku mati, Allah akan menjadi khalifahku bagi setiap Mukmin, laki-laki dan perempuan. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.”
Begitu selesai Nabi berkhutbah, para sahabat memburunya. Mereka merintih: “Ya Rasulullah. Biarlah kami menjadi tebusan- mu. Siapa yang membela kami menghadapi zaman yang berat nanti. Bagaimanakah jadinya kehidupan setelah ini?” Pertemuan Nabi dengan sahabat-sahabatnya hari itu berakhir dengan tangisan.
Beberapa hari setelah itu, Nabi berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib untuk memandikan dan mengafaninya bila ia telah berangkat menemui Sahabat Agung. Nabi memanggil Bilal untuk sekali lagi mengumpulkan orang di masjid. Sambil bersandar pada tongkatnya, dan masih dikompres dengan serbannya, Nabi saw. berkata, “Wahai sahabat-sahabatku, menurut kalian Nabi macam apakah aku ini? Bukankah aku berjuang bersama kalian, bukankah pernah sobek bahuku, bukankah dahiku pernah berdebu, bukankah darah pernah mengalir di wajahku dan membasahi janggutku, bukankah telah kutanggung duka dan derita menghadapi kaumku yang bodoh, bukankah pernah kuikatkan batu di perutku untuk menahan rasa lapar?” Para sahabat serentak berkata, “Benar, wahai Rasulullah. Anda sudah memikul semuanya dengan tabah. Anda telah menolak kemungkaran sehingga Anda menghadapi cobaan-cobaan karena Allah. Semoga Allah membalas kebaikan Anda dengan pahala yang paling utama.”
“Semoga Allah juga memberikan pahala kepada kalian!” kata Rasulullah saw. Selanjutnya beliau berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menetapkan bahwa tidak boleh orang datang kepada-Nya dengan membawa kezaliman. Demi Allah, siapakah di antara kalian yang pernah disakiti Muhammad, berdirilah, dan balaslah sekarang (lakukan qishash). Qishash di dunia lebih aku sukai daripada qishash di hari akhirat nanti di hadapan para malaikat dan para Nabi.”
Seorang laki-laki berdiri dari tengah-tengah hadirin. Namanya Sawda bin Qais. Ia berkata, “Semoga orangtuaku menjadi tebusanmu, ya Rasul Allah. Ketika Anda kembali dari Tha’if, saya menjemput Anda. Anda mengendarai unta Anda Al-Ghadhba dan pada tangan Anda ada tongkat kecil. Anda mengangkat tongkat itu ketika Anda bermaksud untuk menggerakkan unta Anda. Tongkat itu mengenai perutku. Saya tidak tahu apakah Anda melakukannya dengan sengaja atau tidak.”
“Saya berlindung kepada Allah kalau saya lakukan dengan sengaja. Hai Bilal, pergilah ke rumah Fathimah dan ambil tongkat kecilku itu.” Bilal keluar sambil berseru: “Wahai manusia, siapa yang akan meng-qishash Rasulullah, lakukanlah sebelum hari kiamat nanti.”
Bilal mengetuk pintu Fathimah, “Wahai Fathimah, ayahandamu meminta tongkat kecil itu.” “Apa yang akan kalian lakukan dengan tongkat ini?” tanya Fathimah. “Tidakkah Anda ketahui, hai Fathimah. Ayahmu berada di mimbar dan dia mengucapkan selamat tinggal pada ahli agama dan ahli dunia,” Bilal menjelaskan. Fathimah menangis, “Oh, derita di atas deritamu, Ayah. Bila engkau tiada, siapa lagi yang membela orang sengsara dan malang, serta para perantau. Oh, kekasih Allah dan kekasih semua hati.”
Bilal membawa tongkat itu dan menyerahkannya kepada Nabi saw. Rasulullah saw. berseru: “Mana orangtua itu?” “Ini saya, ya Rasul Allah,” kata Sawda bin Qais. “Bukalah perutmu, ya Rasul Allah!” Nabi Sawda mulia membuka perutnya. yang memeluk Nabi dan memohon izin untuk mengecup perutnya. Sesudah Nabi mengizinkannya, ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari api neraka dengan meletakkan mulutku pada tempat qishash di perut Rasul.”
Nabi saw. bertanya, “Hai Sawda bin Qais. Engkau lakukan qishash atau engkau maafkan.” “Aku maafkan, ya Rasul Allah.” “Ya Allah, ampunilah Sawdah bin Qais sebagaimana telah engkau ampuni Nabi-Mu Muhammad.”
Tidak lama setelah peristiwa itu, pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal 11 Hijriah, manusia mulia itu mengembuskan napasnya yang terakhir. Madinah berkabung. Mereka menangisi kepergian Nabi. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).