Jangan Selewengkan Sejarah

Pada 19 Ramadan 40 Hijrah, Ali bin Abi thalib dibunuh ketika shalat subuh. Ia menjadi syahid mimbar yang pertama. Kekuasaan beralih ke tangan Muawiyah. Untuk menghilangkan pengaruh Ali, ia menetapkan keharusan mengutuk Ali dalam mimbar-mimbar pertemuan, khotbah-khotbah Jumat, bahkan dalam qunut subuh. Nama dan peranan Ali hendak dihilangkan dari sejarah Islam.

Orang-orang yang meriwayatkan jasa-jasa Ali dibungkam. Mereka yang pandai membuat cerita tentang dosa-dosa Ali diberi penghargaan. Nashr bin Ali meriwayatkan hadis mengenai kemuliaan keluarga Ali. Khalifah Mutawakkil mengeluarkan perintah untuk mencambuk Nashr seribu kali. Tidak henti-hentinya ia dicambuk, hingga Ja’far bin Abdul Wahid mengingatkan Mutawakkil, “Hadza min Ahlis Sunnah.” Al-Hafizh Ibn Al-Saqa dikeroyok dan dipukuli hanya karena meriwayatkan Rasulullah menjamu Ali dengan daging burung (Lihat Ibn Hajar, Tahdzib al-Tahdzib pada bagian berkenaan dengan orang-orang tersebut).

Keadaan ini berlangsung lebih dari 60 tahun, sehingga dalam satu masa, pernah sebagian kaum Muslim meragukan apakah Ali menjalankan shalat. Pada zaman Abdul Malik (khalifah V Bani Umayyah), seorang khatib di Damaskus, berusaha sedikit meluruskan kembali sejarah. Ia menceritakan sebagian jasa Ali. Abdul Malik marah, “Aneh benar, orang belum juga melupakan Ali. Potong lidah khatib itu!”.

Berkenaan dengan peristiwa ini, seorang penyair Arab menulis:

Di atas mimbar kalian nyatakan kecaman kepadanya

Padahal dengan pedangnya Tonggak-tonggak mimbar itu

Diserahkan kepadamu

Para penguasa yang mengutuk Ali di mimbar-mimbar memerintah dunia Islam. Semua orang tahu bahwa pada awalnya kekuasaan dunia Islam ditegakkan dengan pedang Ali. “Sekiranya tidak karena pedang Ali dan harta Khadijah,” kata Rasulullah saw. pada suatu saat.

Pada tahun 99 Hijrah, Sulaiman bin Abdul Malik meninggal. Ia digantikan oleh Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang terkenal adil. Ia berusaha meluruskan kembali sejarah. Ia melarang pengutukan terhadap Ali. Pada akhir khotbah, ketika sebelumnya orang mengutuk Ali, Umar memerintahkan khatib membacakan QS Al-Hasyr 10 dan QS Al-Nahl 90:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلَّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيمُ

Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-sauda kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami! Dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman. Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun dan Penyayang (QS. Al-Hasyr [59]: 10).

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَابْتَانِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menjalankan keadilan dan kebaikan, dan memberi kepada kerabat. Dan Tuhan melarang kamu berbuat keji, mungkar, dan kedurhakaan. Dan mengajari supaya kamu mengerti. (QS Al-Nahl [16]: 90)

Berkat Umar bin Abdul Aziz, sampai sekarang para khatib Jumat mengakhiri khotbahnya dengan kedua ayat di atas. Ketika ia ditanya mengapa membuat peraturan itu, ia berkata:

“Ketika kecil aku mengaji kepada Utbah bin Mas’ud. Pada suatu hari, ketika ia berada di dekat kami, kami bermain-main. Dalam permainan itu, kami mengutuk Ali. Guruku kelihatan sedih. la meliburkan kelas dan pergi ke mesjid. Ia terus menerus melakukan shalat. Aku tahu, ia marah kepada kami. Aku tanyakan apa sebabnya.

‘Anakku, sampai hari ini engkau masih melaknat Ali?”

‘Betul.’

‘Dari mana kamu tahu bahwa setelah meridai Ahli Badar, Tuhan murka kepada mereka?”

‘Ustad, apakah Ali termasuk mujahid dalam Perang Badar?’

‘Anakku tersayang, bukankah Ali pemegang bendera dalam Perang Badar? Bukankah ia pemimpin pasukan Muslim waktu itu?’

‘Kalau begitu, sejak saat ini aku tidak akan mengutuk Ali lagi.”

Setelah itu Umar menceritakan pengalaman lain. Ia pernah menghadiri khotbah Abdul Aziz, ayahnya. Khotbah itu sangat bagus tetapi, ketika sampai pada bagian yang mengutuk Ali, ia terpatah-patah. Khotbahnya menjadi kacau-balau. Ketika ia bertanya apa pasalnya, Abdul Aziz berkata, “Anakku, kaulihat orang-orang Syam dan lain-lain yang berada di bawah mimbar kita? Sekiranya apa yang diketahui bapakmu tentang keutamaan Ali diketahui mereka, tidak seorang pun di antara mereka yang akan menaati kita.” (Ibn Al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah 4:58)7. Rupanya, sejak dahulu, karena alasan politiklah orang sering memalsukan sejarah! JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *