
Dahulu, ia mubaligh populer di kalangan anak muda. Suaranya keras, baik volume maupun isinya. Kini, ia datang kepada saya dengan terseok-seok, hampir seperti “rongsokan tubuh”. Wajahnya muram. Kekecewaannya begitu besar, sehingga tidak menyisakan sedikit pun ruang pada air mukanya untuk harapan. Ia kecewa kepada pemerintahnya, karena tidak memelihara “fakir miskin dan anak-anak terlantar.” Ia kecewa kepada jamaahnya. Dulu, mereka mengelu-elukannya. Kini, tak seorang pun di antara mereka menegurnya. Mereka ribut mengumpulkan dana untuk memperbaiki pengeras suara masjid, tapi tak seorang pun memperhatikan tenggorokannya yang rusak. Ia kecewa kepada organisasinya. Hanya karena sakit, bukan saja tidak dibantu, ia malah dicoret dari daftar anggota.
Dari seorang “somebody,” sekarang ia dijatuhkan menjadi “nobody“. Dari seorang tokoh yang selalu disapa, menjadi bukan siapa-siapa. Ia kecewa kepada agamanya. Agama tidak membantunya mengatasi kesulitan hidupnya. Akhirnya, ia kecewa kepada Tuhan.
“Aku lakukan salat malam. Aku amalkan doa dan wirid. Aku hanya meminta Dia membebaskan. ku dari ketergantungan terhadap obat. Aku muakdengan pil, injeksi, atau obat-obat kimia lainnya. Karena tergantung kepada obat, setiap bulan aku harus mengemis bantuan kepada orang-orang yang sudah bosan melihatku. Karena biaya pengobatan yang mahal, aku telah menyengsarakan keluargaku. Cuma satu aku minta, ‘Tuhan, sekiranya Engkau tidak mau menyembuhkanku, bebaskan aku dari ketergantungan kepada obat.’ Itu saja. Tapi, sudah puluhan tahun aku berdoa, Tuhan tidak menjawab doaku. Mungkin doaku tidak dikabulkan karena dosa. Aku sadar, aku mempunyai banyak dosa. Tapi, siapa di antara kita yang tidak berdosa. Kalau begitu, apa gunanya aku berdoa. Toh, doaku tidak akan didengar.”
Tentu, banyak orang seperti dia. Semula, ia kecewa kepada kehidupan kemudian kecewa kepada Tuhan. Orang miskin yang selalu diperlakukan tidak adil oleh masyarakat di sekitarnya; mahasiswa cerdas yang dijatuhkan dosen yang iri akan kecerdasannya; perempuan berjilbab yang dikhianati suaminya, yang dahulu terkesan saleh dan alim; profesor yang memilih “kafir” karena ditipu puluhan juta oleh seorang kiai; pemikir Islam yang kecewa dengan keadaan umat Islam yang miskin dan terbelakang. Mereka semua sampai pada kesimpulan: berdoa tidak perlu. Ada dua alasan utama mengapa mereka sampai pada kesimpulan itu.
Pertama, kesulitan hidup tak pernah selesai dengan doa; Kedua, bila doa kita tidak dikabulkan karena gelimang dosa, sedang semua orang pasti berdosa, apa perlunya berdoa.
Sayang sekali. Pasalnya, mereka lupa untuk meninjau kembali konsep doa. Kita bisa saja memandang doa sebagai mantra magis untuk mengendalikan alam semesta, namun Tuhan tidak bisa dilihat sebagai kekuatan gaib yang harus tunduk kepada kemauan kita. Jika demikian, doa kita mirip lampu Aladin dan Tuhan menjadi jin. Ketika kita berdoa, Tuhan harus keluar untuk bersimpuh di depan kita, “Tuan, katakan kehendak Tuan.” Karena itu, ketika Tuhan tidak memenuhi kehendak kita, kita marah kepada-Nya. Kita kecewa dan segera membuang lampu Aladin itu.
“Bila Anda ingin tahu posisi Anda di sisi Tuhan, lihatlah di mana posisi Tuhan di hati Anda,” ujar Imam Ja’far al-Shadiq. Alangkah rendahnya kita di mata Tuhan bila memperlakukan Dia hanya sebagai jin dalam lampu Aladin. Kita mungkin bisa berdalih, doa adalah ungkapan cinta. Masalahnya, kita hanya berdoa kepada-Nya ketika memerlukan-Nya. Cinta masa puber. Kita mencintai-Nya karena kita memerlukan-Nya. Erich Fromm, seorang pakar psikoanalisis, menulis, “Immature love says, ‘I love you because I need you.’ Mature love says, ‘I need you because I love you.””
Dua Raja dan dua Nabi Mulia: Zakaria dan Musa a.s.
Saya ingin menyebutkan dua hadis qudsi yang sangat menyentuh. Pertama, hadis qudsi yang mengisahkan dua raja: dulu ada seorang raja yang sepanjang hidupnya hanya berbuat maksiat dan zalim. Kemudian, ia jatuh sakit. Para tabib meminta agar ia berpamitan saja kepada keluarga, sebab ia tidak bisa disembuhkan kecuali dengan sejenis ikan. Dan, sekarang ini bukan musimnya ikan itu muncul di permukaan laut. Namun, Tuhan mendengar itu, dan memerintahkan para malaikat untuk menggiring ikan-ikan agar muncul ke permukaan laut. Singkat cerita, akhirnya raja dapat memakan ikan itu. Ia pun sembuh seperti sedia kala.
Pada saat yang sama, di negeri lainnya ada seorang raja yang adil dan saleh jatuh sakit. Para tabib juga mengatakan bahwa obatnya adalah ikan yang sama. Tapi jangan khawatir, sekarang ini musim ikan itu muncul di permukaan laut. Sangat mudah memperoleh ikan itu. Namun, Tuhan justru memerintahkan para malaikat untuk menggiring ikan-ikan itu masuk ke sarang-sarangnya. Akhir cerita, raja yang adil itu mengembuskan nafasnya yang terakhir.
Seperti kita di bumi, konon, di alam malakut sana para malaikat bingung. Mengapa doa raja yang saleh itu tidak dipenuhi, sementara justru doa raja yang zalim itu dipenuhi? Kemudian Tuhan berfirman, “Walaupun yang zalim ini banyak berbuat dosa, pernah juga dia berbuat baik. Demi kasih sayang-Ku, Aku berikan pahala amal baiknya. Sebelum meninggal dunia, masih ada amal baiknya yang belum Aku balas. Maka Ku-segerakan membalasnya, supaya dia datang kepada-Ku hanya dengan membawa dosa-dosanya.” Artinya, sudah tidak ada lagi amal salehnya yang harus dibalas. “Demikian juga dengan raja yang saleh itu. Walaupun ia banyak berbuat baik, ia pernah juga berbuat buruk. Aku balas semua keburukannya dengan musibah. Menjelang kematiannya masih ada dosanya yang belum Kubalas. Maka, Aku tolak doanya untuk mendapatkan kesembuhan, supaya bila ia datang kepada-Ku, ia hanya membawa amal salehnya.
Kedua, hadis qudsi ini sangat erat hubungannya dengan salah satu episode dalam hidup saya. Makanya, ia menjadi pegangan hidup saya hingga kini. Begini ceritanya:
Pada zaman orde baru saya mendapat beasiswa dari presiden untuk belajar di Australia. Dengan bekal janji akan mendapatkan kiriman beasiswa saya berangkat ke Australia. Tetapi, sampai sebulan di sana, beasiswa tidak kunjung datang. Maka, saya mulai rajin salat malam dan hampir setiap ba’da maghrib membaca Alquran. Karena panik, esoknya saya juga berdoa. Begitu terus. Saya melakukannya dengan rutin. Bagaimana saya bisa hidup di luar negeri tanpa kiriman tersebut. Besoknya saya mengecek uang itu di bank. Saya ingin membuktikan efek doa itu. Ternyata, rekening masih tetap seperti semula. Belum bertambah sepeser pun.
Ketika akhirnya sudah sampai pada tahap gawat, saya menghubungi keluarga di Indonesia. Kebetulan di rumah saya tinggalkan kendaraan, sebuah mobil. Tetapi ternyata mobil itu dipinjam teman saya. Apesnya, di jalan tol Cikampek ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobil saya remuk. Waktu itu saya mengadu kepada-Nya, “Tuhan, Engkau ini bagaimana? Saya mohon bantuan-Mu, tapi malah mobil yang telah Kauberikan, Kau ambil juga.” Seperti biasa kalau doa kita tidak dikabulkan, kita mesti bertanya-tanya dan protes. Ah, tentu ini karena dosa-dosa saya, pikir saya. Dosa-dosa itulah yang menghambat doa kita sampai kepada Allah. Tapi, siapa sih di dunia ini yang tidak berdosa? Bukankah hanya para nabi yang dijamin tidak berdosa? Kita semua berdosa. Kalau dosa menghalangi terkabulnya doa, kita tidak usah berdoa saja.
Kebetulan waktu itu saya mengaji sampai pada surah Maryam yang bercerita tentang Nabi Zakaria yang berdoa ingin punya anak. Setelah menikah pada usia 20 tahun, setiap hari ia berdoa. Meski terus berdoa sampai berusia 80 tahun, doanya tidak juga terkabul. Berhentikah beliau berdoa? Kecewakah beliau kepada Tuhan? Tidak. Beliau justru terus berdoa. Makanya, Tuhan memuji Zakariyyâ, setelah Zakariyyâ memuji Tuhan. Ingatlah rahmat Tuhanmu untuk hamba-Nya Zakaria. Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara lembut. Ia berkata, “Tuhanku, sungguh sudah rapuh tulang ku, sudah berkilauan kepalaku dengan uban, tetapi aku belum pernah kecewa untuk berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku” (QS 19: 2-4).
Membaca ayat itu saya tersentak. Nabi Zakaria seorang nabi yang tidak berdosa, tapi Tuhan tidak menyegerakan mengabulkan doanya. Saya baru berdoa beberapa minggu saja sudah menggerutu seperti itu. Kebetulan Alquran yang saya baca ada tafsirnya (Tafsir Al-Muin). Di bawahnya ada hadis-hadis yang menjelaskan ayat-ayat di atas. Saat itulah saya menemukan hadis qudsi ini, “Tuhan berfirman kepada para malaikat: ‘Di sebelah sana ada seorang hamba-Ku yang fasik, banyak berbuat dosa, berdoa kepada-Ku. Segera penuhi permintaannya. Aku bosan mendengar suaranya. Di tempat yang lain ada seorang hamba-Ku yang saleh sedang berdoa kepada-Ku. Tapi, tangguhkan permintaannya. Aku senang mendengar rintihannya.”
Selesai membaca hadis itu, saya segera sujud seraya berkata: Tuhan, bila Engkau senang mendengar rintihanku, terserah Engkau kapan saja Kau penuhi permintaanku.” Setelah itu baru saya tenang dan tidak mengecek-ngecek lagi ke bank. Tapi, tak lama kemudian saya dapat juga kiriman beasiswa itu. Meskipun demikian, saya sudah pasrah. Asal Tuhan senang pada rintihan doa saya, tidak apa-apa.
Ada juga kisah mengenai kekasih Tuhan yang lain, Nabi Mûsâ a.s. Ia berjuang dan berdoa untuk kejatuhan Fir’aun dalam waktu yang tidak sebentar. “Ada rentang waktu empat puluh tahun antara permulaan doa Mûsâ a.s. dengan tenggelamnya Fir’aun,” ujar Imam Ja’far. Nabi Mûsâ yang tak berdosa saja mau menunggu selama empat puluh tahun untuk menggulingkan Fir’aun; masak kita yang, katanya, mencintai para nabi tidak bisa mengikuti jejaknya. Tidak dalam artian waktu mesti empat puluh tahun, tentu saja. Namun, bersabar dalam proses.
Jadi, Bapak mubaligh, jika Anda mencintai Tuhan dan Dia mencintai rintihan Anda, berdoalah terus, merintihlah terus di depan kekasih Anda. JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).