
Pada majelis Nabi Saw di Madinah. “Ya Ra sulullah, ada orang yang ibadahnya membuat kami sungguh takjub,” lapor para sahabat. Beliau tidak memberi komentar. Beliau tidak mengenalnya. Para sahabat menyebutkan namanya dan gambaran dirinya. Nabi tidak juga mengenalnya.
Di tengah-tengah perbincangan, orang itu muncul. “Inilah dia, ya Rasul Allah!” Beliau memandang orang itu sebentar, kemudian berkata, “Kalian sampaikan kepadaku orang yang di mukanya aku lihat sentuhan setan!”
Orang itu datang, duduk bersama mereka tanpa mengucapkan salam. Rasulullah Saw bertanya kepadanya, “Aku minta kamu bersumpah dengan nama Allah. Benarkah apabila engkau duduk di dalam majelis, kamu berkata dalam hatimu, ‘Di tengah-tengah orang banyak ini tidak ada orang yang lebih mulia dan lebih baik dariku’?.” “Memang begitu, ya Allah!”
Ia berdiri lagi dan masuk ke masjid untuk melakukan salat. Tiba-tiba Rasul yang sangat pengasih itu berkata, “Siapa yang mau membunuh lelaki itu?” “Saya,” kata Abu Bakar. Abu Bakar mendapati orang itu sedang rukuk dengan sangat khusyuk. Ia berkata, “Subhânallâh, mana mungkin aku membunuh orang yang sedang salat, padahal Rasulullah Saw melarang membunuh orang-orang yang salat.” Abu Bakar kembali tanpa berbuat apa-apa.
“Siapa yang mau membunuh lelaki itu?” tanya Nabi lagi. Umar berdiri dengan tekad untuk menjalankan perintah Nabi. Ia mendapati lelaki itu sedang meletakkan mukanya di atas tanah dengan sangat khusyuk. “Abu Bakar lebih baik dariku dan ia tidak membunuhnya,” gumam Umar.
“Siapa yang mau membunuh lelaki itu?” Nabi bersikukuh. “Saya,” kata Ali sambil berdiri. Nabi berkata, “Jika kamu mendapati dia, bunuhlah!”
Ali berlari ke Masjid. Namun orang itu sudah keluar dari masjid. Lalu Ali pulang dengan pedang yang masih bersih. “Jika kamu bunuh orang itu, baik sekarang maupun nanti, umatku tidak akan terpecah-belah,” pungkas Nabi.
Tentu saja hadis ini tidak boleh diartikan perintah membunuh orang yang salat. Rasulullah Saw mengajarkan tentang bahaya munculnya orang atau kelompok yang merasa paling benar, paling saleh, paling beragama. Sesudah itu, ia mengkafirkan, memusyrikkan, bahkan menghalalkan darah orang yang tidak sepaham dengannya. Sikap “holier than thou” pasti menimbulkan perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Inilah akar radikalisme yang harus dipangkas sejak awal.
Al-Quran mendeinisikan takabur dengan ucapan iblis ketika ia tidak mau bersujud kepada Nabi Adam As. Allah berirman, “Apa yang membuat kamu tidak mau bersujud seperti yang Aku perintahkan?” Iblis berkata, “Aku lebih baik dari dia. Kauciptakan aku dari api dan Kauciptakan dia dari tanah.” (Qs al-A‘râf [7]: 12).
Tuhan yang Mahatinggi memerintahkan Musa As untuk datang menghadap bersama hamba Tuhan, yang dibandingkan dengan dia, Musa lebih baik. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan orang tua yang tampaknya hanya menggunakan waktunya untuk bersantai-santai. “Apakah aku lebih baik dari dia? Tidak! Ia lebih tua dariku. Pastilah dia lebih banyak beramal ketimbang aku,” gumam Musa.
Ia lalu mendapati anak muda yang sedang bersukaria dengan kemudaannya. “Apakah aku lebih baik dari dia? Tidak! Ia lebih muda dariku. Pastilah dosanya lebih sedikit dariku,” Musa berbicara dalam hatinya.
Akhirnya, di sudut jalan yang sempit, tergeletak anjing yang sakit. Tubuhnya kotoran baunya menusuk. Hampir-hampir Musa merasakan dalam hatinya bahwa dirinya lebih baik daripada anjing itu. “Tidak,” bisiknya dalam hati, “Lihat, anjing itu dirundung penyakit sekian lama, dijauhi banyak orang, tapi ia tidak pernah mengeluh kepada Tuhannya sedetik pun!”
Musa tersungkur di hadapan Tuhan. “Semua makhluk lebih baik dariku,” bisiknya. Alhasil, iblis tidak berhasil menyentuhnya. Maka, dari langit datang panggilan mesra, “Sekarang… sekarang… hai Musa, kamu sudah layak menemui-Ku.” JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).