Lapar Bagi Perkembangan Ruhani

Jalaluddin Rumi pernah bercerita tentang keledai yang terus-menerus mengeluh karena perutnya yang lapar. Banyak manusia yang juga mengeluh karena lapar. Untuk keledai dan manusia yang seperti keledai, Rumi menggoreskan bait-bait puisinya dalam Matsnawi, 5: 2829-2839:

Sekiranya tidak ada lapar, selain kegagalan pencernaan

Ratusan musibat lainnya akan muncul di permukaaan

Sungguh musibat lapar lebih baik dari semua musibat

Lapar melembutkan, meringankan, dan memudahkan taat

Musibat lapar lebih jernih dari semua musibat

Di dalamnya ada ratusan faidah dan manfaat

Lapar itu raja segala obat, dengarkan

Simpan lapar dalam hatimu, jangan kau hinakan

Karena lapar, menjadi manis semua yang tak enak

Kalau tak lapar semua yang manis terasa apak

Seseorang makan roti yang bulukan

Orang tanya, “Mengapa yang seperti ini kau makan?”

Ia menjawab, “Ketika lapar bertambah karena puasa

Aku pikir roti kasar lebih manis dari halwa”

Sebenarnya tidak semua orang dalam lapar bisa bertahan

Karena di dunia makanan datang berlimpahan

Lapar hanya anugerah Tuhan bagi orang istimewa

Dengan lapar mereka menjadi singa yang berwibawa

Mana mungkin lapar diberikan kepada setiap gelandangan

Karena di hadapan matanya teronggok banyak makanan

Menurut Rumi, dalam lapar ada ratusan faidah dan manfaat. Selain menyehatkan secara fisik, lapar juga menyembuhkan penyakit-penyakit jiwa dan membersihkan kotoran-kotoran batin. Ratusan tahun yang lalu, Al-Ghazali dengan sangat mengagumkan menunjukkan ketiga manfaat itu, yaitu fisik, psikologis, dan spiritual. Secara fisik, kata Al-Ghazali, puasa menyehatkan tubuh dan menolak penyakit. Pernyataan Al-Ghazali ini, yang didasarkan pada sabda Nabi Saw., dibuktikan dalam kedokteran modern.

Saya ingin melengkapi komentar Al-Ghazali dengan hasil penelitian mutakhir tentang manfaat puasa bagi kesehatan. Manfaat pertama puasa ialah membersihkan tubuh dari racun. Puasa adalah teknik detoksifikasi yang paling murah dan paling efektif. Detoksifikasi adalah proses mengeluarkan atau menetralkan racun dalam tubuh (toksin) melalui usus, hati, ginjal, paru-paru, dan kulit. Bukan hanya racun yang terbentuk karena kelebihan makanan, tetapi juga racun yang diserap dari lingkungan. Seorang dokter yang menganjurkan puasa, mengetes urin, feces, dan keringatnya pada waktu puasa. Ia menemukan “jejak-jejak” DDT yang diserap dari lingkungan.

Manfaat kedua puasa ialah menjalankan proses penyembuhan alami. Ketika puasa energi untuk mencerna makanan dialihkan ke metabolisme dan sistem imun. Pada saat yang sama, dalam tubuh kita terjadi sintesis protein yang sangat efisien dan memungkinkan tumbuhnya sel-sel dan organ-organ yang lebih sehat.

Karena produksi protein yang lebih efisien, tingkat metabolisme yang lebih lambat, dan sistem imun yang lebih baik, orang yang berpuasa memperoleh manfaat yang ketiga: awet muda dan panjang usia. HGH atau the human growth hormone (hormon untuk pertumbuhan manusia) dikeluarkan lebih sering dalam keadaan berpuasa. Dalam sebuah eksperimen cacing tanah diisolasi dan ditempatkan dalam siklus puasa dan tidak —puasa semacam satu harti puasa satu hari buka. Cacing itu terbukti bertahan hidup sampai 19 generasi dengan karakteristik tubuh yang tetap muda. Ini berarti telah terjadi perpanjangan hidup cacing yang setara dengan perpanjangan umur manusia sampai 600 atau 700 tahun.

Secara psikologis, menurut Al-Ghazali, kebiasaan melaparkan diri berfaidah untuk mengurangi mu’nah, atau dengan istilah mutakhir, menyembuhkan penyakit konsumerisme. Orang yang terbiasa makan sedikit akan puas dengan kehidupan yang sederhana. Dari kebersahajaan dalam makanan, ia akan melanjutkannya ke dalam kebersahajaan dalam pakaian, rumah, kendaraan, dan hajat-hajat hidup lainnya. Sudah terbukti secara ilmiah, tetapi tetap saja tidak dipercayai orang, bahwa orang yang hidup sederhana jauh lebih bahagia dari orang yang hidup mewah. Al-Ghazali menulis hampir 900 tahun yang lalu seperti para ahli psikologi positif pada abad ini:

“Secara singkat, penyebab kehancuran manusia ialah kerakusannya terhadap kesenangan dunia. Kerakusan terhadap dunia disebabkan oleh syahwat farji dan syahwat perut. Dengan mengurangi makan, kita menutup pintu neraka dan membuka pintu surga, sebagaimana disabdakan Nabi Saw., “Biasakan mengetuk pintu surga dengan lapar.” Jika orang sudah merasa cukup dengan makan sekadarnya, ia juga akan merasa cukup dengan keinginan-keinginan yang sekadarnya juga. Ia akan merdeka dan mandiri. Ia akan hidup tenteram. Ia akan mempunyai waktu lebih banyak untuk beribadah dan berdagang untuk Hari Akhir. Ia akan termasuk “orang yang perda- gangan dan jual beli tidak melalaikannya dari berzikir kepada Allah,” (QS. An-Nûr [24]: 37).

Bersamaan dengan kebiasaan hidup bersahaja, kita mempunyai peluang untuk memberikan kelebihan harta buat membantu kaum lemah—fakir miskin dan anak-anak yatim. Semua agama sepakat, kita hanya dapat mendekati Tuhan dan menyempurnakan perjalanan ruhaniah kita dengan memberi, dengan ber- bagi, dengan berkhidmat kepada sesama.

Pada satu sisi, lapar mendorong perbuatan baik. Pada sisi lain, lapar mematikan keinginan untuk berbuat maksiat dan mengalahkan nafsu amarah (diri yang memerintahkan keburukan). Dalam keadaan kenyang, kita punya kekuatan untuk melakukan kemaksiatan. Makan dan minum adalah bensin yang menggerakkan mobil hawa nafsu kita. Kata Al-Ghazali, kenyang dapat menggerakkan dua syahwat (keinginan) yang berbahaya, yaitu syahwat farji dan syahwat bicara. Pada saat yang sama perut lapar dapat mendorong kita untuk mengurangi tidur dan membiasakan jaga. Kurang tidur sering dipraktikkan orang untuk mempertajam pengalaman ruhaniah. Dengan perut lapar, kita mudah bangun tengah malam. Dahulu, kalau para guru sufi menyajikan makanan untuk para muridnya, mereka berkata, “Jangan berikan ilmu kepada perut-perut yang kenyang, karena mereka akan mengubahnya menjadi mimpi. Jangan berikan sajadah kepada mereka, karena mereka akan mengubahnya menjadi kasur.”

Jadi lapar secara ruhaniah memudahkan menjalankan ibadah. Untuk makan dan mempersiapkan makan kita memerlukan waktu. Waktu adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga. Jika perhatian kita terpusat pada makanan, kita akan menghabiskan waktu untuk mencari tempat makan, menunggu makanan terhidang, dan menikmati makanannya. Perhatikan ketika kita berpuasa. Pada waktu pagi, kita bisa pergi ke kantor dengan segera tanpa harus makan pagi lebih dahulu. Pada waktu istirahat tengah hari, kita bisa melanjutkan kerja atau membaca Al-Quran, karena kita tidak keluar untuk makan siang. Abu Sulayman Ad-Darani berkata, “Dalam keadaan kenyang, dalam diri kita masuk enam penyakit, yaitu hilangnya kelezatan munajat, berkurangnya kemampuan menyimpan hikmat, memudarnya empati pada penderitaan rakyat, tubuh akan terasa berat untuk melakukan ibadah, bertambahnya gelora syahwat, dan ketika kaum Mukmin bolak-balik ke masjid, mereka bolak-balik ke toilet.  JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *