
Ikhlas berasal dari kata khalasha yang artinya bersih atau lepas dari sesuatu. Juga dapat berarti khalash yang berarti selamat atau terlepas dari bahaya.
Semua orang celaka kecuali yang beramal dan semua amal celaka kecuali yang ikhlas. Jadi, kata ikhlas di samping berarti membersihkan, juga berarti menyelamatkan. Orang biasanya sudah memahami bahwa amal yang ikhlas itu ialah amal yang semata-mata karena Allah.
Saya menemukan definisi yang singkat dari Imam Khomeini dalam buku Empat Puluh Hadis. Pernyataan itu menarik tetapi juga mengejutkan. Keikhlasan berarti beramal yang semata-mata karena Allah dan bukan membela kepentingan diri-sendiri. Orang yang ikhlas dihubungkan oleh beliau dengan ayat Al-Quran:
…Siapa yang keluar dari rumahnya dan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya… (QS 4: 100)
Itu yang disebut ikhlas. Dia telah keluar dari rumahnya, yaitu egonya.
Kita ini sering kali beramal dan tidak keluar dari rumah kita ini. Kita sering beramal untuk diri kita sendiri. Padahal itu belum termasuk ikhlas, kalau menurut Imam Khomeini. Dan yang mengejutkan, kata Imam, hal itu termasuk musyrik, karena yang disebut tauhid yang sejati adalah beramal hanya untuk Allah Swt.
Mungkin hal itu sulit dipahami. Supaya mudah dipahami, saya mempunyai bahan untuk menyederhanakan kata ikhlas ini dari pengalaman saya di rumah.
Ketika saya pergi jauh, saya menduga istri saya merindukan saya. Begitu saya datang, dia melayani keperluan saya dengan senang hati. Itu bukan karena supaya diberi uang, juga bukan karena takut kalau saya marah, tetapi itu dilakukan karena cinta.
Kalau seseorang sudah rindu untuk beraudiensi dengan Tuhan, maka seharusnya kita sudah tidak berpikir tentang pahala dan takut neraka, tetapi itu semua karena ada kenikmatan tersendiri untuk bisa berdua dengan Allah Swt. Itulah ikhlas. Orang menyembah Allah karena cinta.
Kata Sayidina Ali, “Kalau orang beribadah karena takut kepada Allah, maka itu ibadahnya hamba sahaya; dan kalau orang beribadah karena supaya ia mendapat pahala, maka itu ibadahnya pedagang; dan kalau orang beribadah karena cinta, maka itu baru ikhlas.”
Kalau kita beribadah untuk mendapatkan pahala, sebenarnya ibadah itu untuk diri kita sendiri. Karena itu, kalau kita mengharap pahala dengan sendirinya pahala itu untuk kepentingan kita, padahal ibadah yang ikhlas itu untuk Allah semata-mata. Misalnya, kalau kita beramal untuk menghindari siksaan Allah, maka sebenarnya yang dibela adalah diri kita sendiri dan bukan mencari keridhaan Allah.
Walhasil, sering kali kita ini beramal tidak keluar dari lingkungan kita. Kita tidak keluar dari ego kita. Kita beramal masih untuk kepentingan kita sendiri. Itulah yang mengejutkan dari pernyataan Imam Khomeini tersebut.
Tetapi, sekali lagi, sering kali kita ini tidak enak kalau dikatakan beramal bukan karena Allah, dan sering kali untuk membenarkannya kita gunakan rasionalisasi. Lalu saya pun mengatakan, “Ikhlas itu, ‘kan bertahap-tahap.” Bukankah Imam Al-Ghazali berkata, “Ada tiga tahap manusia. Ada tahap awam, ada tahap khusus, dan ada tahap khususnya khusus.” Tipe manusia ini semakin ke atas tingkatannya, semakin sedikit anggotanya.
Walaupun demikian, kita masih tergolong ikhlas bila kita bersedekah untuk menghindari bencana, karena hal ini juga diperintahkan oleh Allah Swt. Tetapi ini termasuk ikhlas orang awam. Dan walaupun demikian kita masih merasa sulit untuk beramal pada tingkat ini.
Ada seorang dosen, yang menurut saya apa yang beliau lakukan itu adalah sesuatu yang ikhlas. Ketika Rektor datang dan lewat di depannya, selalu saja dia ucapkan selamat pagi. Hal seperti itu terjadi setiap hari. Lalu ada seseorang menegurnya, “Kenapa Anda selalu menegurnya padahal Pak Rektor sendiri tidak pernah menjawab.” Kemudian dia katakan, “Saya ini melakukan bukan karena reaksi dia. Saya melakukan ini tidak peduli apakah dia menjawab atau tidak, tetapi saya merasa bahwa ini adalah perbuatan yang baik, dan oleh karena itu saya melakukannya.” Nah itu perbuatan yang ikhlas. Sekali lagi itu masih berada pada tingkat yang awam, sedangkan ikhlas yang dirumuskan oleh Imam Khomeini itu biarlah menjadi target kita.
Kita ingin suatu saat seperti itu. Beribadah karena Allah, bukan karena diri kita.
Sayidina Ali sendiri ketika ditanya oleh sahabatnya tentang sulitnya mencari rezeki, beliau menjawab, “Berdaganglah dengan Allah.” Dan berdagang dengan Allah salah satunya adalah sedekah.
Ada seorang pengusaha Muslim di Jakarta. Kalau dia mau ikut tender, dia kumpulkan semua karyawannya, kemudian dia mengadakan doa bersama dengan mengeluarkan sejumlah uang, supaya dapat memenangi tender. Dia mengadakan jamuan kepada karyawannya sambil berdoa. Jadi dia berdagang dengan Allah.
Tetapi menurut orang yang mengetahui agama, orang itu perlu dikasihani. Orang itu memahami agama untuk kepentingannya sendiri. Dia hanya berdoa kalau melihat ada kemungkinan menang pada tender itu. Kita pun mungkin sering melakukan seperti itu. Kita sering berdoa terus-menerus ketika ditimpa musibah, tetapi ketika kesusahan kita berhenti, maka berhenti juga doa kita. Kita berdoa hanya berdasarkan kepentingan kita.
Ada hadis Nabi tentang mengikhlaskan amal itu. Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, siapa yang berjumpa dengan Allah sambil menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan mengikhlaskannya ucapan itu, maka dia masuk surga.”
Kemudian, Ali bin Abi Thalib berdiri dan bertanya, “Ya Rasulullah bagaimana ikhlas yang tidak bercampur dengan yang lain itu? Jelaskan kepadaku kalimat ini supaya kami dapat memahaminya.” Rasulullah menjelaskan, “Betul, yang mencampuri keikhlasan itu adalah kerakusan terhadap dunia dan mengumpul-ngumpulkannya.” JR—wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.
***
KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).