Haji: Keberangkatan Sukarela Menuju Allah Swt.

Para ulama mengatakan bahwa ketika kita melaksanakan ibadah haji, sebenarnya kita meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan tetangga untuk pergi. Ke mana? Kita pergi menuju Rumah Allah yang dalam bahasa Arab disebut Baitullah.

Sebetulnya haji merupakan geladi resik (latihan) untuk kembali kepada Allah Swt. Haji adalah latihan kematian kita, karena kita meninggalkan tanah air, meninggalkan keluarga, meninggalkan tetangga dengan niat yang satu: ingin menemui Allah Swt.

Kita ingin bersimpuh di rumah-Nya yang suci. Kita ingin membasahi pipi kita dengan tangisan permohonan ampunan dari Allah Swt.

Kita semua lahir di dunia ini. Jauh di lubuk hati kita, kita sebenarnya mempunyai kerinduan untuk kembali kepada Allah Swt. Sebab kita berasal dari sana. Tanah air kita yang sejati berada di sana, yaitu berada pada Allah Swt. Karena itu, Allah disebut Al-Mashir. Dalam sebuah ayat Al-Quran, Allah berfirman, wa ilayyal mashir (Dan kepada-Ku-lah kembalimu semua).

Menurut Ibn ‘Arabi, dalam Al-Futuhat Al-Makkiyyah (Keterbukaan di Makkah), kita akan kembali kepada Allah dengan cara yang berbeda. Ada yang kembali dengan cara terpaksa, yang disebut ruju’ idhthirari. Setuju atau tidak setuju, kita semua akan kembali kepada Allah. Dan itu yang kita sebut mati.

Ada pula cara kembali yang lain. Yaitu kita disuruh kembali kepada Allah dengan cara yang tidak terpaksa. Kita kembali dengan sukarela. Dan kembali seperti ini disebut dengan ruju’ ikhtiyari. Kembali seperti inilah yang dilakukan oleh para jamaah haji.

Akan tetapi ̶ ini bukan menakut-nakuti para jamaah haji ̶ sekali lagi bayangkanlah bahwa ibadah haji adalah sebagai latihan untuk ruju’ idhthirari nanti. Sementara ini, dalam melaksanakan ibadah haji, kita kembali dengan sukarela untuk memenuhi panggilan Allah Swt.

Siapakah yang disuruh kembali oleh Allah dengan perasaan senang hati? Al-Quran menyebut mereka ini adalah nafsul muthma innah, yaitu jiwa-jiwa yang tenang.

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kamu semua kepada Tuhanmu. Tuhan kamu ridha kepada kamu dan kamu pun ridha kepada Tuhanmu. (Kamu kembali dengan ridha dan Aku memanggilmu juga dengan ridha). Maka mulailah bergabung dengan hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam kelompok hamba- Ku dan kemudian masuklah ke dalam surga-Ku. (QS 89:27)

Kalimat di atas dimulai dari “masuklah ke golongan hamba-hamba-Ku”, dan baru sesudah itu “masuklah ke dalam surga-Ku”. Inilah kenikmatan besar yang dianugerahkan oleh Allah kepada para jamaah haji.

Haji merupakan latihan kematian. Haji memang merupakan cara berangkat menuju Tuhan dengan sukarela.

Bagi mereka yang ditinggalkan, yaitu orang-orang yang belum mampu untuk berangkat haji, ada satu riwayat di zaman Nabi Saw. yang pantas didengarkan. Dahulu ada suatu rombongan menemui Nabi Saw. Seperti biasa, Nabi menanyakan bagaimana keadaan mereka. Lalu kabilah itu menjawab dengan bercerita penuh kegembiraan. Mereka bercerita kepada Nabi bahwa ada kawannya di sana yang kerjanya hanya beribadah saja. Mungkin kita pun senang kalau mempunyai tetangga yang saleh seperti itu. Kita senang menceritakan kesalehannya karena kita sendiri tidak bisa sesaleh dia.

Mendengar cerita itu, Rasulullah Saw. bertanya, “Lalu siapa yang mengurusi keluarga, anak-anak, dan istrinya?” Rombongan tersebut menjawab, “Ya, kami ini ya Rasulullah.” Mendengar hal itu, Rasulullah kemudian berkata, “Kamu lebih baik daripada dia.” Mengapa tetangga itu lebih baik daripada orang saleh yang melaksanakan ibadah haji? Karena berkat tetangganyalah dia bisa beribadah dengan tenang, lantaran keluarga yang ditinggalkannya diurus oleh tetangganya.

Akhirnya, ada sebuah doa yang biasa diamalkan untuk setiap orang yang mau naik haji. Doa itu disunatkan untuk dibaca sesudah shalat fardhu di bulan Ramadhan. Doa itu berbunyi demikian:

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami pada tahun ini, kesempatan untuk berhaji ke rumah-Mu yang suci. Pada tahun ini, dan kalau bisa setiap tahun, selama Engkau berikan kepadaku kemudahan, kesehatan, dan kelapangan rezeki. Dan jangan sampai kami ini tidak sempat menjenguk tempat-tempat yang mulia. Dan janganlah kami tidak diberi kesempatan untuk berziarah ke kuburan Nabi-Mu.

Jadikanlah dalam apa yang Kau tetapkan pada Laylatul Qadr, berupa qadar yang tak bisa diubah atau diganti. Tuliskanlah kami, di antara orang-orang yang berhaji ke rumah-Mu yang suci, yang hajinya mabrur, yang sa’inya masykur, yang diampuni dosa-dosanya, yang dihapuskan kesalahan-kesalahannya.

Itulah doa yang mesti kita mohonkan kepada Allah Swt. kalau kita ingin naik haji. Kalau doa itu kita baca, lalu kita meninggal dunia sebelum kita sempat naik haji, dan belum sempat berziarah lantaran belum ada rezeki dan lain hal, maka kita akan dihitung oleh Allah sebagai orang yang berziarah ke tanah suci. Doa itu adalah penghibur bagi kita yang ditinggalkan yang belum dapat menunaikan ibadah haji.

Saya akan mengakhiri uraian ini dengan sebuah doa, yang secara khusus saya tujukan untuk para jamaah haji:

Ya Allah, berkatilah orang yang berhaji sekarang ini dengan perbekalan yang cukup. Bantulah mereka supaya bisa melaksanakan seluruh kewajiban haji dan umrah dengan anugerah dan karunia-Mu. Wahai Yang Pengasih dari segala yang mengasihi. JRwa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum.

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *