PRINSIP-PRINSIP EPISTEMOLOGI ISLAM

Seorang profesor, yang sedang naik namanya, tiba-tiba dilanda keresahan. Ia memutuskan untuk meninggalkan karirnya yang cemerlang dan mencari hal lain yang didambakannya —jawaban kepada guncangan batinnya. Ia jatuh sakit, mulutnya membisu, tetapi pikirannya terus bergejolak. Ia menyedekahkan seluruh hartanya, kecuali sedikit saja buat keperluannya dan keluarganya.

Kota yang memberikan keharuman namanya, ia tinggalkan. Ia mengasingkan diri untuk menjawab pertanyaan besar yang sedang merisaukan hatinya—cara apakah yang dapat ditempuh hingga sampai kepada pengetahuan yang benar?

Pertama, ia menduga bahwa pengetahuan yang benar hanya dapat diperoleh lewat pencerapan indera. Yang benar ialah yang dapat dilihat, didengar, atau diraba. Segera ia menemukan bahwa persepsi indera juga tidak dapat sepenuhnya dipercaya. Ia bertanya kepada dirinya— atas dasar apa harus mempercayai keterangan persepsi Indera? Matanya melihat bahwa bayangan tongkat itu tidak bergerak, padahal orang tahu bahwa bayangan itu bergerak perlahan sekali mengikuti bayangan matahari. Dan matahari kelihatan kecil, padahal lewat perhitungan geometris, matahari lebih besar daripada bumi. Kekeliruan indera dibetulkan oleh akal. Sekarang, ia mencurahkan harapannya kepada akal. Tapi, ia segera membayangkan bahwa persepsi indera yang ditinggalkannya menghujatnya dengan keras: “Apakah Anda tidak mengira bahwa kepercayaan Anda pada akal akan mengalami hal yang sama seperti kepercayaan Anda pada persepsi indera? Anda lalu mempercayai saya. Lalu datanglah akal, dan saya terbukti salah. Kalau tidak ada akal, Anda akan selalu menganggap saya benar. Barangkali di balik pemahaman akal, ada lagi hakim lain yang, bila menampakkan dirinya, dapat menunjukkan kesalahan akal dalam menetapkan keputusan, seperti ketika akal muncul, akal memperlihatkan kekeliruan indera. Kenyataan bahwa pemahaman supraintelektual itu belum muncul, tidaklah dapat dijadikan bukti bahwa hal itu tidak ada.”

Selama berbulan-bulan, profesor ini merenungkan masalah ini. Ia hampir-hampir putus asa. Pemecahan masalah ternyata tidak datang lewat berpikir dan merenung. Ia bercerita, “Penyelesaian masalahku tidaklah datang karena pembuktian yang sistematis dan argumentasi yang dikemukakan, tetapi karena cahaya yang dimasukkan Allah Ta’ala ke dalam dadaku. Cahaya itu merupakan kunci menuju bagian pengetahuan yang lebih besar. Cahaya itu sendiri bukanlah ungkapan kebenaran.”

Kebenaran harus dicari, tetapi kini ia telah menemukan keterbatasan akal. “Dia telah menguras kekuatan intelektualnya, namun berakhir dalam keputusasaan, ketika sentuhan gaib Tuhan menyelamatkannya. Dorongan mendadak keimanan ini tampak olehnya berasal dari pencerahan ilahi sebagai suatu cahaya pembawa harapan. Baginya, hal itu berarti bahwa ilham dan wahyu ilahi adalah riil. Terlebih-lebih, hal itu berarti bahwa pengetahuan manusia tentang kebenaran bergantung sekali pada sesuatu yang berada di luar nalar dan aturan-aturan penalaran. Sesuatu yang lebih tinggi daripada nalar sebagai alat penghubung dengan kenyataan, mesti ada pada manusia, dan meskipun aktivasinya bergantung pada bunga api ilahi, toh ia sendiri memampukan pencari yang gigih mencapai pengetahuan tentang kenyataan dan tentang Tuhan.”

Kita semua sudah tahu bahwa profesor ini adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali. Yang meresahkannya adalah masalah epistemologi, yang mengobatinya adalah “sentuhan Allah” atau “sinar ilahi”. Al-Ghazali boleh disebut sebagai salah seorang pemikir Islam yang merintis peng kajian epistemologi dalam perspektif Islam. Tulisan ini tidak mungkin menyajikan epistemologi Islami sedalam yang dilakukan al-Ghazali. Tetapi, seperti al-Ghazali, tulisan ini berusaha mengkaji epistemologi dengan merujuk “sinar ilahi”, yakni Al-Quran. Pendekatan saya jelas lebih bersifat normatif daripada hasil pemikiran. Sekali-sekali saya menyajikan pandangan beberapa pemikir Islam tentang konsep yang terkandung dalam ayat Al- Quran. Secara rinci, di sini akan diuraikan tentang prinsip-prinsip pengkajian ilmiah, cara memperoleh pengetahuan, obyek pengetahuan, tujuan memperoleh pengetahuan. Yang pertama dan kedua adalah epistemologi, yang ketiga adalah ontologi; dan yang keempat adalah aksiologi.

Prinsip-prinsip Pengkajian Ilmiah

Ilmu didasarkan pada asumsi-asumsi yang harus kita percayai. Ilmu hanya dapat dijalankan bila kita menerima asumsi-asumsi itu. Asumsi-asumsi inilah yang menunjukkan apakah pengetahuan yang kita peroleh itu benar atau salah. Goode dan Haft menyebut prinsip-prinsip ini nonscientific bases of science. Dalam filsafat, prinsip-prinsip ini tidaklah diterima oleh setiap filsuf. Epistemologi justru mempersoalkan keabsahannya. Di antara asumsi-asumsi ini ialah: (1) ada realitas di luar pikiran kita; (2) kita dapat mengetahui realitas ini, (3) fenomena di dalam alam berkaitan secara kausal. Pada prinsip-prinsip ini, Al-Quran menambahkan prinsip tauhid dan prinsip keterbatasan pengetahuan manusia.

Prinsip Tauhid

“Keesaan Allah adalah prinsip pertama agama Islam dan prinsip setiap yang Islami. Itulah prinsip bahwa Allah adalah tunggal secara mutlak, dan tertinggi secara metafisis dan aksiologis; bahwa setiap sesuatu selain Dia, adalah, terpisah dan berbeda dari Dia, serta merupakan ciptaan-Nya. Dialah Sang Pencipta, dengan perintah-Nya segala sesuatu dan peristiwa telah terjadi,” tulis Ismail Raj’i al-Faruqi. Ia kemudian menjabarkan dari prinsip tauhid kesatuan alam semesta, kesatuan kebenaran, dan dari kesatuan pengetahuan, kesatuan hidup, dan kesatuan umat manusia. Prinsip-prinsip ini dipandangnya harus diterima dahulu sebelum melakukan Islamisasi pengetahuan.

Dalam Al-Quran, fenomena alam sering dilukiskan sebagai tanda-tanda Allah; bahwa semua yang terjadi, pada akhirnya menuju kepada satu Pencipta, Pengatur, dan Penggerak. Di alam semesta itu, semuanya menunjukkan keteraturan, suatu sistem tunggal, karena berasal dari Pencipta yang tunggal. Kesatuan sistem di alam semesta bersumber pada Allah sebagai Al-Khaliq Tunggal (at-Tauhid fil Khaliqiyah) dan Al-Rab tunggal (at-Tauhid fil Rububiyah).

“Katakanlah: Allah adalah pencipta segala sesuatu, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, lagi Maha Perkasa.” (QS 13:16)

“Allah menciptakan segala sesuatu, dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS 39:62)

“Yang demikian itu adalah Allah, Pemeliharamu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan melainkan Dia.” (QS 40:62)

“Itulah Allah, Pemeliharamu, tiada Tuhan melainkan Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” (QS 6:102)

“Dia-lah Allah, Pencipta yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang paling baik.” (QS 59:24)

“Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah atas kamu. Adakah sesuatu Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia.” (QS 35:3)

“Sesungguhnya, Tuhan kamu ialah Allah, yang telah mencipta- kan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikuti nya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta Alam.” (QS 7:54)

“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy, serta menundukkan matahari dan bulan, Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan-(mu) dengan Tuhan-mu.” (QS 13:2)

“Sesungguhnya, Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun akan memberi syafa’at, kecuali sesudah ada keizinan- Nya. (Zat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS 10:3)

Ketika membahas ayat-ayat yang berkenaan dengan kesatuan penciptaan dan kesatuan pengaturan, As-Syaikh Ja’far as-Subhani menjelaskan, “Sesungguhnya, keteraturan dan hukum-hukum yang terjadi pada maujud alam bersifat total dan komprehensif, sehingga jika ditakdirkan seseorang ꟷdengan eksperimenꟷ menyingkap. kan sebuah sunnah pada sebuah titik tertentu di antara titik-titik alam semesta, ia mungkin dapat menyingkapkan sebuah hukum yang umum dan menyeluruh, dan membawanya kepada sunnah kauniah yang umum. Ini adalah petunjuk yang paling utama tentang kesatuan aturan yang mengatur alam semesta. Sesungguhnya, kesatuan peraturan alam, universalisasi sunnah dan hukum. hukum alam, membawa kita kepada dua hal: (1) bahwa di alam ini hanya ada satu Pencipta… (2) hanya ada satu pengatur di alam semesta.”

Dalam hubungannya dengan asumsi ilmu, Dr. Mahdi Gulshani menulis:

“Suatu keyakinan kokoh pada prinsip tauhid membuat sang peneliti melontarkan pandangan menyeluruh kepada alam, bukannya hanya melihat alam secara sepotong-potong. Hal ini membuatnya mampu menerangkan keselarasan dan tatanan dunia fisik. Tanpa suatu keyakinan kokoh pada kehadiran tatanan dan koordinasi pada alam, penelitian ilmiah tidak akan memiliki makna universal; dan paling banyak nilainya hanya bersifat sementara. Beberapa ilmuwan percaya pada keberadaan tatanan dan koordinasi pada alam, tanpa mempercayai atau memperhatikan prinsip tauhid; namun, menurut kami, tanpa mempercayai at-tauhid, tidak akan ada keterangan memuaskan tentang tatanan kosmis.”

Ada Realitas di Luar Pikiran Kita

Walaupun pernyataan ini tidak akan pernah diragukan oleh orang awam, namun dalam kenyataannya, para filsuf seperti Locke, Berkeley, Hume dan Kant, telah mempertanyakan, dan bahkan meragukan kebenarannya. Beberapa ayat Al-Quran menunjukkan alam realitas yang terlepas dari pikiran kita:

“Dan di bumi, ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS 51:20, 21)

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al-Quran itu?” (QS 7:185)

“Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang yang telah terdahulu sebelum mereka. Katakanlah: “Maka tunggulah, sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kamu.” (QS 10:102)

Berpikir atau Tidak, Realitas Tetap Ada

Memang, berulang kali Al-Quran menunjukkan bahwa di alam semesta ini terdapat sumber pengetahuan yang menunggu untuk diamati dan dikaji. Tidak ada yang lebih tepat melukiskan prinsip kedua ini seperti yang dilakukan Dr. Muhammad Iqbal.

“Al-Quran melihat ayat-ayat Realitas Puncak pada matahari, bulan, dan bintang, memanjangnya bayang-bayang, pergantian siang dan malam, aneka ragam warna dan lidah manusia, pergiliran hari-hari keberhasilan dan kegagalan di antara manusia ꟷmalah pada keseluruhan alam sebagaimana terungkapkan bagi persepsi inderawi manusia. Dan tugas Muslim ialah menafakuri ayat-ayat ini, bukan mengabaikannya sehingga ‘seolah-olah ia tuli dan buta, sebab barangsiapa tidak memperhatikan ayat-ayat ini dalam kehidupan ini, maka ia akan tetap buta terhadap kenyataan-kenyataan kehidupan mendatang. Dorongan ke yang kongkret ini, dipadu dengan kesadaran lamban bahwa, menurut ajaran-ajaran Al-Quran, sejak semula alam semesta bersifat dinamis terbatas, dan dapat meningkat, akhirnya membawa para pemikir Muslim berkonflik dengan pemikiran Yunani yang, dalam permulaan. perjalanan pemikiran mereka, telah mereka pelajari dengan penuh gairah. Karena tidak menyadari bahwa api Al-Quran, pada hakikatnya, bersifat antiklasikal, dan karena benar-benar mempercayai pemikir-pemikir Yunani maka pada awalnya mereka terdorong untuk memahami Al-Quran dengan bimbingan falsafah Yunani. Dalam wawasan kongkret Al-Quran, dan sifat spekulatif falsafah Yunani, dengan teori yang diya. kini, dan mengabaikan kenyataan, maka upaya ini dipastikan akan mengalami kegagalan. Melewati kegagalan inilah mereka melahirkan api sejati budaya Islam, dan meletakkan sebagian segi paling penting atas budaya modern.”

Kita dapat Mengetahui Realitas

Banyaknya perintah dalam Al-Quran untuk merenungkan ayat-ayat Allah di alam semesta menunjukkan kemungkinan kita untuk mengetahui realitas. Jika kita tidak mungkin mengetahui realitas, Al-Quran tidak akan menyuruh kita menafakuri apa-apa yang di langit dan di bumi, merenungkannya dan mengambil pelajaran darinya. Beberapa ayat secara eksplisit menunjukkan kemungkinan mengetahui realitas:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran adalah benar, apakah Tuhan-mu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS 41:53)

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (QS 6:75)

“Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memper lihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS 27:93)

Fenomena di dalam Alam Berkaitan secara Kausal

Prinsip kausalitas menyatakan bahwa setiap peristiwa harus ada sebabnya. Prinsip ini mengandung dua pengertian: prinsip determinisme —setiap sebab mempunyai akibat, dan setiap akibat tidak mungkin terjadi tanpa sebab dan prinsip keseragaman alam—sebab yang sama menimbulkan akibat yang sama.

“Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak pula akan menemui pe nyimpangan bagi sunnah Allah.” (QS 35:43)

Dalam Al-Quran, perkataan sunnah disebut 16 kali, 14 di antaranya dalam bentuk mufrad (tunggal). Sunnah menunjukkan hukum-hukum yang terjadi secara berulang-ulang dan tidak berubah-ubah di dalam alam semesta. Kita dapat mengatakan bahwa sunnah adalah hukum sebab dan akibat, Rangkaian hukum sebab-akibat ini, pada akhirnya, bermuara kepada Allah sebagai sebab yang pertama. Dalam ilmu kalam, terjadi perdebatan antara kelompok Mu’tazilah dan Asy’ariah tentang hukum sebab-akibat ini, yang tidak akan kita bicarakan di sini. Dengan memperhatikan ayat-ayat Al-Quran, kita akan melihat bahwa di satu pihak, Al-Quran menyebut Allah sebagai sebab dan, di pihak lainnya me nujukan sebab itu kepada selain Allah:

1. Pada sebagian ayat disebutkan bahwa Allah-lah yang mengambil nyawa, tetapi pada ayat lain, yang mewafatkan manusia adalah malaikat utusan-Nya:

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya, dan (me megang) jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya, maka dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematian nya, dan melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS 39:42)

“… sehingga apabila datang kematian pada salah seorang di antara kamu, hal itu diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami.” (QS 6:61)

2. Allah menyuruh agar kita hanya minta tolong kepada Allah saja (QS 1:5), tetapi juga memerintahkan agar kita minta tolong dengan sabar dan salat (QS 2:45)

3. Allah memberikan contoh dengan doa Ibrahim, bahwa Dia-lah yang memberikan penyembuhan (QS 26:80), tetapi juga menyebutkan bahwa pada madu ada obat bagi manusia (QS 16:69), dan dalam Al-Quran pun ada yang berupa obat (QS 17:82)

4. Allah adalah yang, memberi rizki (QS 51:58) tetapi Allah memerintahkan orang-orang yang mempunyai kelebihan harta untuk memberi rizki kepada kaum dhu’afa (QS 4:5)

5. Pada satu ayat, Allah-lah yang mencatat amal hamba-hamba- Nya (QS 4:8), tetapi pada ayat yang lain, malaikatlah yang diperintahkan untuk mencatat amal hamba-hambanya (QS 43:81)

6. Allah memberikan contoh dengan menunjukkan ucapan orang bahwa Dia-lah yang mengatur segala urusan (QS 10:31), tetapi pada ayat yang lain, Allah menyebutkan para pengatur urusan dunia (QS 79:5)

Bila dua rangkaian ayat ini digabungkan, kita dapat menyimpulkan bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah, tetapi lewat media tertentu. Seperti telah disebutkan di atas, ter dapat perbedaan pandangan mengenai hukum sebab-akibat ini antara mazhab Asy’ariah dan Muta’zilah. Yang menarik kita adalah mazhab pertama yang menolak adanya hubungan kausal yang deterministis. Akibat hanyalah terjadi setelah sebab, dan tidak selalu harus berkaitan dengan sebab. Pandangan ini seakan-akan mendapatkan topangan yang kuat ‘ketika muncul teori kuantum dalam fisika dan prinsip ketidakpastian Heisenberg. Walaupun kebanyakan ahli fisika menerima teori ini, yakni bahwa hukum-hukum fisika hanyalah menunjukkan kemungkinan-kemungkinan statistik saja, beberapa ilmuwan besar seperti Einstein dan Planck tidak dapat menerima proposisi bahwa hukum probabilitaslah yang mengatur alam semesta. Dalam suratnya yang ditujukan untuk Born dalam bulan Desember 1926, Einstein menulis:

“Mekanika kuantum tentu mengesankan. Namun suara batin mengatakan kepadaku bahwa hal itu bukanlah hal yang sejati. Teori mengatakan banyak, tapi sungguh tidak membawa kita lebih dekat dengan rahasia ‘yang lama’. Betapapun saya yakin bahwa Dia bukan sedang bermain dadu.” JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb, Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *