Joseph Goebbels

“Kebanyakan massa lebih mudah jatuh menjadi korban kebohongan besar daripada kebohongan kecil,” ujar Hitler. Atas saran Joseph Goebbels, penasihat pimpinan Nazi dalam bidang propaganda, Hitler menegakkan kekuasaannya di atas kebohongan. Propaganda politik tak boleh terikat dengan kebenaran. Masih kata Goebbels, “Kebenaran ialah apa saja yang saya bikin sebagai kebenaran… Kebenaran yang agung dan mutlak ialah bahwa Partai dan Fuehrer selalu benar.”

Goebbels dipandang sebagai “the man who created Hitler.” Penulis biografinya menunjukkan, di antara para pemimpin Nazi, Goebbels termasuk orang yang terpelajar. Ia lahir sebagai orang Katolik. Orang tuanya berharap ia menjadi seorang romo, tetapi ia memutuskan untuk menjadi ilmuwan. Dengan bantuan organisasi Katolik, ia berhasil menyelesaikan studinya di Heidelberg dan memperoleh gelar doktor di bawah bimbingan dua orang profesor Yahudi. Ketika Perancis menduduki Ruhr pada tahun 1923, ia menawarkan diri untuk membantu kelompok yang melakukan perlawanan. Ia diterima sebagai agitator dan propagandis. Kemudian, ia bergabung dengan Hitler (yang juga dibesarkan sebagai Katolik). Keduanya yakin bahwa organisasi dan ritualisme Katolik dapat digunakan untuk menegakkan agama sekular yang bernama Nazisme.

Goebbels menyebut misa, upacara untuk mengenang makan malam terakhir Kristus, sebagai “sampah yang paling tendensius yang pernah dijejalkan kepada kecerdasan manusia, namun mungkin sangat berguna dalam membuktikan kemampuan manusia untuk menyerap omong-kosong.” Sepanjang sisa hidupnya, Goebbels membantu Hitler menciptakan isu, merekayasa peristiwa, membuat skenario, menciptakan “kebenaran mutlak” setiap hari. Ia menjadikan fiksi sebagai fakta, dan sebaliknya; ia dapat mengubah pahlawan menjadi penjahat, atau sebaliknya; ia menjadikan peristiwa-peristiwa biasa menjadi drama nasional yang mencekam.

Banyak orang menuding Goebbels sebagai pelanjut Machiavelli yang pernah berkata, “Massa manusia dipengaruhi oleh hal-hal lahiriah… Penipu selalu menemukan orang untuk ditipu.” Banyak politisi atau pemegang otoritas sesudahnya, termasuk otoritas keagamaan, melanjutkan tradisi Goebbels: “Kuasailah massa dengan menciptakan kebohongan!” “Every government is run by liars,” tulis Stone, penulis ilmu politik. Maka, politik kemudian menjadi panggung teater dan para politisi menjadi aktor.

Naskah ditulis dengan bagus. Para pemain bermain dengan serius. Tata panggung, tata ruang, tata rias, semua dirancang dengan apik. Jadi, siapa saja yang bermain politik—baik politisi sekular maupun profan—harus mengatur perilakunya sesuai dengan naskah dan situasi panggung. Selama adegan berjalan mulus, massa akan menerimanya dengan suka hati. Begitu terjadi penyimpangan dari “pakem,” panggung menjadi acak-acakan. Tetapi tontotan biasanya jadi makin menarik.

Karena itulah, kita ikuti dengan penuh perhatian lakon Iwik dan kisah pembunuhan Udin, jawaban wartawan Der Spiegel dalam kasus Uskup Belo, penjelasan Komnas HAM dan peristiwa kematian Tjetje, atau penjelasan Gus Dur dalam kasus Situbondo. Salah satu hal yang menarik ialah pertukaran skenario. Bila satu skenario gagal, diciptakanlah skenario baru. Begitu seterusnya. Kebohongan memang hanya dapat dipertahankan dengan kebohongan lagi. Sebagai warga negara yang berakal sehat, bagaimana caranya menepis dan menapis kebohongan?

Pertama, kita harus mengerti dulu apa yang disebut dengan kebohongan itu. Sissela Bok, dalam Lying: Moral Choice in Public and Private Life, memberikan takrif kebohongan sebagai “mengkomunikasikan pesan yang dimaksudkan untuk menyesatkan orang lain, untuk membuat orang lain itu percaya apa yang kita sendiri tidak percayai.” Kebohongan bukan hanya misinformasi atau pelaporan yang tidak cermat. Kebohongan meliputi segala pernyataan atau perbuatan yang direkayasa untuk menyesatkan, mengecoh, atau membingungkan.

Kedua, kita harus meneliti apa yang menyebabkan orang atau lembaga harus berbohong. Sebuah kitab akhlak menyebutkan tiga sebab orang harus berbohong: kebiasaan, kerakusan, dan kedengkian. Tentang kebiasaan berbohong, para ulama berkata, “Siapa saja yang menyusui kebohongan akan sukar menyapihnya.” Kerakusan atau ambisi yang berlebihan terhadap apa saja akan melahirkan kebohongan. Kedengkian, berbarengan dengan permusuhan kepada golongan lain, mendorong orang untuk menjatuhkan orang lain itu dengan kebohongan.

Apa pun sebab kebohongan, tak ada pembenaran moral buat berbohong untuk menguasai orang secara zalim. Kebohongan menjauhkan orang dari petunjuk Tuhan, mendatang. kan kecelakaan, dan menunjukkan tak beriman kepada ayat- ayat Allah:… Sesungguhnya Allah tak akan memberikan petunjuk kepada orang yang keterlaluan dan suka berbohong (QS 40:28); Kecelakaanlah bagi setiap pembohong yang berdosa (QS 45:7); Sesungguhnya yang berbuat bohong itu hanyalah orang-orang yang tidak percaya kepada ayat-ayat Allah,… (QS 16:105).

Kebohongan boleh jadi dapat mendatangkan sukses sementara. Tetapi, sejarah hampir selalu menunjukkan akhir yang menyedihkan. Inilah akhir kisah Goebbels, Menteri Propaganda Nazi yang menjadikan kebohongan sebagai jalan hidupnya. Ia membunuh enam orang anaknya yang sedang tidur dengan suntikan, istrinya dengan racun, dan dirinya sendiri dengan tembakan. Tubuhnya dibakar untuk menghilangkan jejak—ia berbohong bahkan ketika sudah menjadi mayat. Dunia mengenangnya sebagai pelajaran bahwa pembohong tak pernah beruntung. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb.

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum

***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *